Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The White Daughter
Deru ombak yang memecah dermaga Pelabuhan Evelia mengiringi langkah kaki yang begitu senyap. Selepas turun dari kapal dagang yang sama, wanita berambut putih panjang dengan ikatan ekor kuda itu tidak membuang waktu. Ia berjalan meninggalkan keramaian pelabuhan, menyusuri jalanan setapak yang semakin lama semakin sepi, hingga ia tiba di sebuah kawasan pinggiran kota yang dikelilingi pepohonan rindang.
Di hadapannya berdiri sebuah rumah tua berarsitektur klasik yang tampak usang dan dikelilingi semak belukar. Cat kayunya sudah banyak yang mengelupas, dan jendela-jendelanya tertutup rapat oleh debu tebal. Itulah rumah mendiang ibunya—tempat yang sudah sangat lama ia tinggalkan dan telantarkan dalam ingatan.
Wanita berambut putih itu berhenti sejenak di depan pintu utama. Ia meraba kunci perak usang yang tergantung di saku roknya, lalu memasukkannya ke dalam lubang kunci.
Ceklek.
Pintu kayu itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara deritan berat yang memecah keheningan sore. Begitu ia melangkah masuk, aroma debu dan kenangan masa lalu langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan tamu itu tampak suram, tertutup kain putih lusuh di atas perabotan yang mulai dimakan usia.
Tanpa ragu, wanita itu meletakkan barang bawaannya di sudut ruangan. Ia melepas mantel luarnya, melipat lengan kemeja cokelat mudanya, lalu menarik napas panjang untuk mempersiapkan diri.
Ia memulai pekerjaannya seorang diri. Dengan gerakan yang cekatan dan tanpa suara, ia membuka lebar-lebar jendela depan agar udara segar dan cahaya matahari sore bisa masuk mengusir bau apak.
Ia mulai memunguti debu, mengganti kain penutup perabotan, menyapu lantai kayu yang kotor, hingga menata kembali barang-barang peninggalan ibunya yang berserakan. Di tengah kesibukannya menyeka bingkai foto tua sang ibu di atas meja rias, ia sempat terdiam sejenak. Sorot mata ungunya yang tajam dan dingin mendadak melunak, memperlihatkan secercah kerinduan yang teramat dalam.
"Aku akhirnya pulang, Ibu..." bisiknya pelan pada angin sore yang berembus masuk melalui jendela, memecah kesunyian rumah yang kini perlahan kembali hidup berkat jerih payahnya seorang diri.
Sembari menyapu debu yang menempel di sudut-sudut ruangan, pandangan wanita berambut putih itu menyapu setiap jengkal interior rumah sederhananya. Cahaya matahari sore yang menyusup lewat celah jendela menyoroti lantai kayu yang kini mulai tampak bersih. Suasana sunyi di dalam rumah itu membawanya hanyut jauh ke dalam pusaran kenangan masa lalu, ketika dinding-dinding ini masih dipenuhi oleh gelak tawa dan kehangatan keluarga.
Dengan sapu yang masih tergenggam erat di jemarinya, ia berhenti tepat di tengah ruang keluarga. Tatapannya menerawang kosong menembus dinding kayu, sementara bibirnya bergetar pelan saat ia mulai berbicara seorang diri di tengah kesunyian rumah tersebut.
"Ibu... Ayah..." bisiknya parau, suaranya terdengar begitu rapuh di ruang yang kosong. "Kalian ingat bagaimana kita biasa menghabiskan sore di dekat perapian itu? Dulu, sebelum hari terkutuk itu datang... sebelum pasukan penjajah menghancurkan segalanya tanpa belas kasihan."
Bayangan kelam dari masa kecilnya mendadak berkelebat di pelupuk matanya. Hari di mana kekacauan meletus, suara jeritan ketakutan, kobaran api yang melahap desa mereka, hingga detik-detik mengerikan yang memaksanya harus lari melintasi perbatasan dan menyebrang jauh ke Negara Hikari demi menyelamatkan nyawanya. Semua memori pahit itu tumpah ruah di dalam benaknya, membuat napasnya terasa sesak.
Ia memejamkan mata sejenak, meneguk ludahnya yang terasa pahit untuk meredam gejolak emosi di dadanya, lalu kembali membuka mata. Sorot matanya yang dingin kini dipenuhi oleh kegetiran yang mendalam.
"Aku sudah kembali ke sini, ke tempat di mana semuanya bermula dan berakhir," lanjutnya dengan nada berbisik, berbicara pada bayangan mendiang orang tuanya. "Negara Hikari tempat aku melarikan diri dulu kini telah runtuh, terbakar oleh revolusi dan darah. Tapi luka yang mereka tinggalkan di negeri ini... dan di dalam hatiku... tidak akan pernah bisa terhapus begitu saja."
Ia menghela napas panjang, melepaskan beban emosi yang sempat menyesakkan dadanya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan gerakan tangan yang kembali cekatan, ia menyeka meja kayu terakhir di dekat sudut ruangan, meneguhkan tekadnya untuk hidup seorang diri di dalam rumah masa kecilnya, menghadapi sisa hidup di bawah langit Evelia yang tenang namun menyimpan sejuta rahasia masa lalu.
Hari semakin beranjak sore, namun semangat wanita berambut putih itu tidak sedikit pun kendur. Ia melanjutkan kegiatannya dengan tekun, memindahkan berbagai perabotan rumah yang sudah lama lembap ke halaman depan. Sambil membawa tumpukan kain penutup dan bantal-bantal usang, ia berjalan pelan ke bawah sinar matahari yang mulai meredup untuk menjemurnya agar kembali layak pakai.
Tantangan terbesar muncul ketika ia harus mengeluarkan kasur tua milik mendiang ibunya yang terasa begitu berat dan kaku karena bertahun-tahun terperangkap di dalam ruangan yang tertutup rapat. Dengan napas yang mulai terengah-engah dan peluh yang membasahi pelipisnya, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong serta menyeret kasur tebal itu melewati pintu depan rumah.
"Hah... huff..." suaranya terdengar tercekat di tengah usaha kerasnya menahan beban kasur yang hampir terjatuh ke tanah.
Melihat perjuangannya yang cukup berat seorang diri, seorang wanita paruh baya tetangga sebelah rumah yang kebetulan sedang melintas di jalan setapak seketika menghentikan langkahnya. Dengan senyuman ramah, tetangga itu segera mendekat untuk memberikan uluran tangan.
"Eh, nak? Kau sudah kembali rupanya," sapa tetangga itu dengan nada terkejut bercampur iba melihat gadis berambut putih tersebut kerepotan. "Berat sekali kelihatannya. Biar Bibi bantu dorong ujung yang satu itu, ya?"
Wanita berambut putih itu terkesiap kecil. Ia menegakkan tubuhnya sejenak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menatap sang tetangga dengan sorot mata yang tetap tenang dan dingin, namun menyiratkan sedikit rasa terima kasih yang tertahan.
"Tidak perlu repot-repot, Bibi," jawab wanita itu dengan suara datar namun sopan. "Aku bisa melakukannya sendiri."
Tetangga itu menggelengkan kepala sambil tersenyum maklum, tetap memegang sisi kasur tanpa meminta persetujuan lebih lanjut. "Ah, jangan sungkan begitu. Rumah ini sudah bertahun-tahun kosong, dan tiba-tiba saja kau datang seorang diri untuk membereskannya. Mana mungkin Bibi membiarkan gadis sepertimu mengangkat kasur seberat ini sendirian. Ayo, angkat bersama-sama ke hitungan ketiga."
Menyadari bahwa menolak pertolongan itu hanya akan memperlambat pekerjaannya, wanita berambut putih tersebut akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah... terima kasih banyak atas bantuannya, Bibi."
"Sama-sama, Nak. Selamat datang kembali di lingkungan ini ya," balas tetangga itu ramah.
Dengan koordinasi yang sigap, mereka berdua akhirnya berhasil membentangkan dan menjemur kasur tua tersebut di bawah sinar matahari sore. Selepas pekerjaannya selesai, wanita itu kembali masuk ke dalam rumah, melanjutkan sisa tugas bersih-bersihnya dalam keheningan, membangun kembali benteng kehidupannya seorang diri di tanah kelahiran yang penuh kenangan.
Ketika malam mulai menyelubungi kawasan permukiman yang tenang itu, ketukan pelan terdengar di pintu depan rumah tua yang baru saja selesai dibenahi. Wanita berambut putih itu—yang baru saja duduk beristirahat di kursi kayu sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku—berjalan perlahan menghampiri pintu dan membukanya.
Di ambang pintu, berdiri sang tetangga paruh baya tadi dengan senyuman hangat, membawa sebuah nampan kecil tertutup kain bersih yang mengepulkan aroma makanan sedap.
"Maaf mengganggu malam-malam, Nak," sapa Bibi ramah saat wanita itu membuka pintu lebih lebar. "Bibi tahu kau pasti lelah seharian membereskan rumah besar ini sendirian. Bibi masak sedikit lebih banyak malam ini, jadi Bibi mengundangmu untuk datang makan malam bersama keluarga kecil Bibi di sebelah."
Wanita berambut putih itu menatap nampan dan senyuman tetangganya dengan sorot mata yang tetap datar dan waspada. Ia menggelengkan kepala pelan, menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan penolakan.
"Terima kasih atas kebaikan dan undangannya, Bibi," jawab wanita itu dengan nada tenang namun kaku. "Tapi aku tidak ingin merepotkan. Aku bisa menyiapkan makan malamku sendiri di sini. Lagipula, aku terbiasa mengurus segala sesuatunya seorang diri."
Bibi sama sekali tidak terlihat tersinggung. Sebaliknya, wanita paruh baya itu menghela napas lembut, menatap lurus ke dalam manik mata ungunya dengan tatapan penuh keibuan yang sarat akan makna mendalam.
"Bibi tahu kau akan menolak, Liini," ucap Bibi dengan suara yang begitu lembut, menyebut nama kecil yang sudah bertahun-tahun tidak terdengar di dinding rumah tua itu.
Wanita berambut putih tersebut—Liini—tertegun seketika. Tubuhnya sedikit menegang, dan matanya melebar sesaat mendengar namanya disebut begitu akrab.
Bibi melangkah maju selangkah, menaruh sebelah tangannya dengan lembut di atas lengan Liini yang terbungkus kemeja. "Dulu, sebelum kedua orang tuamu pergi meninggalkan rumah ini untuk urusan mendesak... mereka sempat berpesan kepada Bibi," lanjut Bibi dengan nada menerawang. "Mereka bilang, jika suatu hari nanti putri kesayangan mereka kembali ke rumah ini dalam keadaan seorang diri, tolong bantu ia. Mereka tahu betul sifat keras kepalamu—bahwa kau pasti akan bersikeras menolak setiap uluran tangan karena tidak ingin merepotkan orang lain."
Liini terdiam membeku. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat mendengar kalimat-kalimat yang seolah hidup kembali dari masa lalunya yang terkubur.
Bibi tersusun melanjutkan penjelasannya dengan senyuman tipis yang menenangkan. "Mereka berpesan agar Bibi tetap menjagamu, karena di balik sikap dingin dan keras kepalamu itu... kau sebenarnya adalah anak yang sangat rapuh, Liini. Kau memikul beban yang terlalu berat seorang diri."
Pertahanan mental Liini yang selama ini dijaga ketat di balik kesendirian dan sikap dinginnya seketika runtuh perlahan. Manik mata ungunya berkaca-kaca, memantulkan kehangatan tulus dari seorang tetangga yang masih mengingat pesan mendiang orang tuanya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Liini menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan pertahanannya melebur di hadapan kebaikan yang tak berpamrih itu. Ia menarik napas panjang, menelan sisa-sisa egonya, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Baiklah, Bibi..." bisik Liini pelan, menyerah pada ketulusan tersebut. "Terima kasih... aku akan ikut denganmu."