Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Ardi duduk dengan santai di kursi kulit kebesaran milik Direktur Utama di ruangan paling mewah di lantai tiga puluh.
Herman berdiri kaku di depan meja kerjanya sendiri sambil memegang sebuah map laporan keuangan dengan tangan gemetar.
"Duduklah Pak Herman, lehermu bisa kaku kalau berdiri terus seperti itu," ucap Ardi sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih Tuan Ardi, Anda sangat baik sekali," jawab Herman sambil duduk perlahan di kursi tamu.
"Jadi, ada masalah apa dengan keuangan perusahaan ini sampai wajahmu pucat begitu?" tanya Ardi langsung ke intinya.
Herman menghela napas panjang dan meletakkan map tebal itu ke atas meja kerja.
"Maafkan saya Tuan, tapi manajemen lama meninggalkan lubang hutang yang sangat besar akibat proyek gagal bulan lalu," lapor Herman dengan nada bersalah.
"Mereka menggelapkan dana operasional dan sekarang kita tidak punya kas untuk membayar pemasok minggu ini," lanjut Herman menjelaskan situasi genting tersebut.
"Berapa banyak lubang defisit yang ditinggalkan para tikus itu?" tanya Ardi santai sambil bersandar nyaman di kursinya.
"Sekitar dua puluh miliar rupiah Tuan," jawab Herman menundukkan kepalanya dalam-dalam karena takut dimarahi oleh bos barunya.
"Jika lusa kita tidak membayar tagihan bahan baku utama, perusahaan ini terancam bangkrut dan digugat ke pengadilan," tambah Herman dengan suara bergetar ketakutan.
Ardi hanya tertawa pelan mendengar jumlah uang yang bagi Herman adalah masalah hidup dan mati itu.
"Hanya dua puluh miliar?" ejek Ardi sambil menggelengkan kepalanya pelan seolah mendengar harga kacang goreng.
"Tuan, jumlah itu sangat besar untuk ukuran kas perusahaan kita yang sedang sekarat saat ini," sanggah Herman yang kebingungan melihat reaksi super santai bosnya.
"Berikan aku nomor rekening utama perusahaan ini sekarang juga," perintah Ardi tanpa basa-basi sedikit pun.
Herman dengan sigap menuliskan sederet angka di selembar kertas memo dan menyerahkannya kepada Ardi.
Ardi mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi perbankan digital miliknya yang menampilkan saldo fantastis.
Jari-jarinya bergerak lincah mengetikkan nominal transfer ke rekening perusahaan tanpa keraguan sama sekali.
"Sudah aku transfer lima puluh miliar rupiah ke rekening utama perusahaan," ucap Ardi sambil meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
"Tutup semua hutang itu dan gunakan sisanya untuk bonus akhir tahun semua karyawan," lanjut Ardi sambil tersenyum penuh wibawa.
"Tentu saja bonus itu dikecualikan untuk si pengkhianat Bagas yang baru saja kita tendang tadi," tambahnya dengan nada mengejek.
Mata Herman membelalak sangat lebar seakan bola matanya mau melompat keluar dari rongganya.
Pria paruh baya itu buru-buru mengecek tablet kerjanya untuk memastikan ucapan gila pemuda di depannya ini.
Dia melihat notifikasi uang masuk dari bank pusat yang nominalnya benar-benar membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak.
"Lima puluh miliar rupiah tunai langsung masuk detik ini juga?" gumam Herman dengan mulut menganga lebar tidak percaya.
"Terima kasih banyak Tuan Ardi, Anda benar-benar dewa penyelamat bagi ribuan karyawan di perusahaan ini!" seru Herman sambil berdiri dan membungkuk berkali-kali.
"Sudahlah, aku mau pulang sekarang karena urusanku di sini sudah selesai," ucap Ardi sambil berdiri dan merapikan setelan jas mahalnya.
"Mari saya antar langsung sampai ke depan pintu mobil Anda Tuan," tawar Herman dengan sigap langsung membukakan pintu ruangan CEO tersebut.
Ardi dan Herman berjalan beriringan menyusuri lorong panjang menuju lift khusus eksekutif.
Saat pintu lift terbuka di lobi lantai dasar yang luas, keributan besar langsung menyambut telinga Ardi.
Suara teriakan seorang wanita melengking tinggi beradu mulut dengan para petugas keamanan di dekat pintu masuk utama.
"Lepaskan tanganku, aku ini pacar barunya Bagas sang manajer pemasaran!" teriak wanita itu dengan sangat arogan dan keras kepala.
"Kalian semua ini cuma satpam rendahan yang gajinya sebulan tidak cukup untuk membeli sepatuku, berani-beraninya melarangku masuk!"
Ardi menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum sinis melihat siapa sosok wanita pembuat onar di tengah lobi itu.
Itu adalah Siska, mantan pacarnya yang sangat materialistis dan tidak tahu malu.
Siska masih memakai gaun merah elegan yang sama seperti saat dia mencampakkan Ardi di dalam kafe tadi pagi.
"Ada apa ini ribut-ribut seperti di pasar hewan di dalam lobi perusahaanku?" tanya Ardi dengan suara lantang dan berat menggema ke penjuru lobi.
Semua orang di lobi langsung menoleh serempak ke arah sumber suara tersebut.
Para petugas keamanan langsung melepaskan cengkeraman mereka pada lengan Siska dan menunduk hormat ke arah Ardi.
"Maafkan kelalaian kami Tuan Ardi, wanita gila ini memaksa masuk ingin bertemu dengan mantan manajer Bagas," lapor salah satu satpam dengan sangat sopan.
Mata Siska langsung tertuju pada sosok pria tampan berjas biru dongker yang berdiri didampingi Direktur Utama di sana.
"Ardi?" panggil Siska dengan suara bergetar hebat karena terkejut setengah mati melihat penampilan memukau mantan pacarnya.
"Sedang apa kau di sini Ardi, dan kenapa satpam galak ini memanggilmu Tuan?" tanya Siska kebingungan melihat pemandangan yang merusak akal sehatnya.
Ardi melangkah maju dengan sangat tenang dan berhenti tepat dua langkah di depan wajah kebingungan Siska.
"Tentu saja mereka memanggilku Tuan, karena gedung pencakar langit ini dan seluruh isinya adalah milikku sekarang," jawab Ardi dengan nada sombong yang mematikan.
"Milikmu?" ulang Siska dengan mata terbelalak lebar dan wajah seketika berubah pucat pasi.
"Jangan bercanda Ardi, kau itu cuma staf administrasi miskin yang tidak punya masa depan!" bentak Siska masih mencoba menolak kenyataan pahit itu.
Pak Herman yang berdiri di belakang Ardi langsung maju dengan wajah marah mendengar hinaan sembarangan itu.
"Jaga mulut kotormu itu Nona, Anda sedang berhadapan dengan bos besar kami!" bentak Herman dengan suara menggelegar menyela ucapan Siska.
"Tuan Ardi adalah pemilik baru dan pemegang saham mayoritas mutlak di perusahaan ini mulai hari ini!" tegas Herman memberikan tamparan kenyataan yang sangat keras pada Siska.