Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biarkan Saja
Kami kembali ke istana.
Teh melati dari Permaisuri diseduh oleh Dayang.
Wanginya semerbak.
Jendela terbuka menghembuskan angin dingin yang sejuk.
Sejak kejadian terakhir, Kerajaan Zink lebih tenang.
Mungkin saatnya aku pamit pulang.
"Mayanza kapan kalian datang? " Putri Rena datang kegirangan.
Mengenggam kedua tanganku senang.
Aku membalas genggaman tangannya.
"Subuh" kataku sambil tersenyum.
"Pasti perjalanan kalian sangat melelahkan" kata Putri Rena.
Aku hanya tersenyum melihat awan biru cerah. Akhirnya semuanya selesai pikirku.
"Aku punya hadiah untukmu" Putri Rena menyerahkan pakaian sutra berwarna merah jambu.
"Terima Kasih" aku menerimanya dengan tulus.
"Kalau kamu pergi nanti, apakah akan kembali kesini lagi" kata Putri Rena.
"Lihat saja nanti.. Banyak tugas yang harus aku lakukan di duniaku" kataku.
**
Aku pergi berkuda sore hari yang sejuk.
Bunga-bunga bermekaran.
Kulihat pemandangan hutan tenang...
Kuikat kudaku di pinggir danau.
Aku akhirnya masuk ke mobil yang sudah lama kutinggalkan.
Kulentikan jari memutar membentuk gerbang melingkar aku tiba di samping kediaman kakek. Tempat teraman untuk menyimpan mobil penuh lumpur.
Aku keluar dengan piyama navi biru berlari ke kediaman kakek, mengetuk pintu. Bibi sarah keluar kuserahkan kunci mobil.
Bibi Sarah mengerti aku meminjam kembali mobil rolls-royce kakek berwarna abu.
Berangkat mampir ke toko untuk membeli pakaian.
"Sayang... Kapan kamu kembali" tanya Ibu.
Menyambut kedatanganku.
Aku membawakan satu kotak coklat yang kubeli di perjalanan.
"Baru saja... "
**
Aku masuk ke kamarku kuminta pelayan membersihkan barang-barang yang ada serta merapikan isi lemariku.
Buku Tua itu benar-benar hilang dan aku tidak akan kembali kesana.
**
Sebulan berlalu, hidupku yang tenang.
Handponeku berdering.
"Nona Mayanza, kapan nona kesini" tanya Bibi Sarah dari kediaman kakek.
"Astaga aku belum sempat mengembalikan mobil kakek" kataku.
"Tidak nona, mobil nona sudah selesai di perbaiki apa tidak diambil?"
"Baiklah siang ini aku akan menukar mobil sepulang dari Rumah Sakit" jawabku.
"Baik, Nona" kata Bibi Sarah.
Aku melintasi lorong rumah sakit terasa sepi.
Udara sore ini sedikit berangin.
Aku masuk ke mobil berkendara.
Lampu merah di persimpangan.
Aku lihat ada seorang yang aku kenal.
Tapi mungkin orang yang mirip.
Mirip Raja Yuko, mengenakan kaos putih, celana panjang hitam berjalan di zebra cross, lampu hijau menyala.
Aku menuju kediaman kakek, mobil sport merahku sudah terparkir rapi di depan rumah.
Bumper depan mobil sudah diperbaiki.
"Terima kasih bi.." kataku pada Bibi Sarah.
Bibi tersenyum menyerahkan kunci.
"Minum dulu teh nya" kata BIbi
"Apakah Paman ada berkunjung selama ini?" tanyaku.
"Tidak ada" kata Bibi Sarah.
Aku meminum teh hijau manis yang di suguhkan Bibi Sarah.
Fokus ku ke arah foto keluarga yang ada di dinding, disana ada foto Kakek dan Nenek.
Foto kami sekeluarga lengkap, ada Paman dan Istrinya berserta kedua anaknya, Ayah serta Ibu dan Aku yang berusia 10 Tahun saat itu berserta Kakek dan Nenek.
Bibi Sarah melihatku,
"Foto itu selalu saya bersihkan Nona..." kata Bibi Sarah.
"Bibi, apa yang bibi tau tentang kakek selain yang bibi ceritakan sebelumnya" tanyaku.
"Tidak ada, Tuan Besar selalu tertutup. Kemungkinan dia menyimpan Rahasia itu untuk dirinya sendiri dan Nona" katanya.
Memang aku cucu perempuan satu-satunya yang paling dekat dengan kakek.
Kakek paling suka berdongeng, suatu saat dongengnya sangat menarik tentang Dunia Zink.
Bagaimana orang-orang disana tinggal di Istana penuh dengan kedamaian, rakyatnya sangat bahagia dan tenang.
Mereka juga memiliki Teratai Emas sebagai tanaman ajaib pembawa keberuntungan.
"Baiklah, aku akan pulang" kataku
"Iya Nona"
Aku meninggalkan kediaman kakek berkendara kurang lebih lima kilometer kembali ke rumah.
Di halaman depan terparkir sebuah mobil limousin putih, mungkin tamu ayah.
**
Aku masuk melalui pintu samping langsung ke kamarku di atas.
Aku duduk merapikan beberapa berkas,
Kudengar ketukan pintu.
"Mayanza..." panggil Ibu
"Iya bu..." aku membuka pintu.
"Makan malam sudah siap bisa makan bersama?"
"Oh, iya bu...
Aku belum mandi, bisa menunggu sebentar atau makan malam duluan?"
"Baiklah, Cepat mandinya sayang..." kata Ibu.
**
Aku menuju ruang makan kudengar suara sangat ramai.
Sepertinya tamu Ayah ikut makan malam.
Aku menuju meja makan.
"Maaf terlambat" kataku.
Aku tercekat dengan Pria Paruh baya dihadapanku, piring yang kusentuh hampir saja aku jatuhkan.
"Ini Putriku, Namanya Mayanza dia berkerja sebagai Dokter di Rumah Sakit Permata" kata Ayah memperkenalkan.
"Mayanza, dia adalah teman sekolah ayah bernama Yuko, Yuko ini adalah pemilik Yayasan Rumah Sakit Permata, baru datang dari luar negeri" kata Ayah.
Kenapa wajah dan nama sama persis dengan Raja Yuko VII.
Aku terdiam, menunduk memberi hormat.
Kami menikmati makan malam, lalu aku temani Ayah dan Ibu ke Ruang Tamu.
Aku mulai waspada, teringat lagi kalimat Raja Yuko, keluargaku akan mendapat bahaya jika aku kembali sebelum waktunya.
"Kami akan keluar negeri bersama, dunia ini sempit sekali kamu tau tunangan Abangmu Ray? Judith?" tanya ibu padaku.
"Dia Putri pamanmu Yuko" kata Ibu.
Aku tersenyum, dalam hati apakah ini hanya kebetulan. Tentu tidak, memang mereka bisa menipuku dengan wujud lain disini tapi aku sangat mengenalnya.
"Aku pamit, terima kasih makan malamnya, kita akan sering bertemu Mayanza" kata Paman Yuko teman Ayah.
Pria itu berpamitan, mobil putihnya keluar dari halaman.
"Kamu kenapa Mayanza? Tidak sehat?" Ibu menyentuh keningku.
"Tidak baik-baik saja" kataku
"Sejak makan tadi Ayah lihat kamu banyak diam dan wajahmu pucat" kata Ayah.
"hanya kecapekan" aku tersenyum agar Ayah dan Ibu tidak khawatir.
"Ayah dan Ibu kapan ke luar negeri?" tanyaku
"Lusa setelah semuanya siap, pamanmu juga ikut serta"kata Ibu.
"Jangan berangkat" aku mencegah.
"Jangan khawatir, kamu kan baru kembali dari luar negeri. Masa ayah dan ibu tidak boleh berangkat liburan" kata Ibu.
"kalau begitu, aku ikut" kataku.
"ya ampun sayang... Tumben mau ikut? Bukannya perkerjaanmu banyak?" tanya ibu
"Aku akan usahakan meminta cuti" kataku.
Ayah mengusap rambutku.
"Kali ini harus tinggal, Ayah dan Ibu mau berlibur sendiri" kata Ayah
"Yah... Apa aku menggangu?" aku merengek seperti anak kecil.
Ayah dan Ibu malah tertawa meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.
Bagaimana caraku menjelaskan.
**
Aku merasa tidak enak, hari ini keberangkatan Keluargaku.
Cutiku tidak diberikan karena lama bolos, mangkir berkerja, aku mencari cara setelah selesai operasi aku segera menuju mobil melaju menyusul ke bandara, pesawat sudah berangkat.
Aku hubungi nomor telepon ayah dan ibu semuanya tidak dapat dihubungi.
**
Aku menunduk berjongkok di Bandara.
Berpikir apa yang harus aku lakukan, aku haus melangkah ke mesin penjual air minum.
"Maaf Nona, itu minumanku" aku mengambil minuman orang lain.
"Oh, maaf" aku menunduk malu aku tidak fokus.
Menyerahkan sebotol air mineral itu dan memencet minuman yang akan kubeli dan membayar langsung di mesin.
Aku mengangkat wajahku kembali.
"Yuko" mataku terbelalak.
"Ma...maaf..." katanya terkejut.
Pria ini bingung.
"Jangan berpura-pura kamu Yuko kan kalian mengikutiku sampai kesini bukan?" tanyaku mendekat marah.
Dia mengangkat kedua tangan didada.
"Maaf, Nona salah orang, saya bukan orang yang anda maksud" katanya.
Seorang security mendekat,
"Ada Apa?" tanyanya.
"Tidak masalah" kata Pria itu lalu menyeret Koper Silvernya menuju Taksi yang terparkir di depan.
Aku menuju parkiran mobil, aku berusaha menyusul kecepatan Taksi yang membawa Raja Yuko.
Taksi tu berhenti di Rumah Sakit Permata.
Ini tempatku berkerja.
Kukejar turun dari mobil, dia masuk ke IGD membawa tas kopernya masuk ke Ruang Pegawai.
Kususul, mempercepat langkahku.
"Dokter Mayanza," kata salah satu perawat pria. Aku masuk ke ruangan.
Raja Yuko berbalik sudah dengan jas putihnya. Terkejut aku menyusulnya dari bandara.
kami berpandangan.
"Bertemu lagi, Namaku Yuki" dia menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Dokter Mayanza, Spesialis Bedah, ini Dokter Yuki, Spesialis Neurologi, hari ini beliau piket di IGD" Perawat ikut memperkenalkan kami berdua.
Kami berdua saling memandang, aku terkejut namun Yuki tersenyum santai.
" Kalau kamu mau kamu juga boleh memanggilku Yuko" katanya tertawa aku menyambut tangannya bersalaman.
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...
𝙴𝚙𝚒𝚕𝚘𝚐
𝙰𝚔𝚞 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒 𝚔𝚎 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚘𝚛𝚎 𝚒𝚗𝚒.
𝙺𝚞𝚕𝚎𝚙𝚊𝚜𝚔𝚊𝚗 𝙶𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 𝙶𝚒𝚘𝚔 𝙿𝚞𝚝𝚒𝚑 𝚙𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒𝚊𝚗 𝚁𝚊𝚓𝚊 𝚈𝚞𝚔𝚘.
𝙺𝚞𝚕𝚎𝚝𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚊𝚝𝚊𝚜 𝚖𝚎𝚓𝚊 𝚍𝚒 𝚊𝚝𝚊𝚜 𝚝𝚊𝚜 𝚜𝚎𝚛𝚞𝚝 𝚋𝚎𝚛𝚠𝚊𝚛𝚗𝚊 𝚑𝚒𝚓𝚊𝚞 𝚋𝚞𝚗𝚐𝚊 𝚖𝚎𝚕𝚊𝚝𝚒.
𝙿𝚊𝚔𝚊𝚒𝚊𝚗 𝚓𝚞𝚋𝚊𝚑 𝚎𝚖𝚊𝚜 𝚔𝚞𝚕𝚒𝚙𝚊𝚝 𝚛𝚊𝚙𝚒 𝚍𝚒 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊.
𝚃𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚞𝚛𝚊𝚝, 𝚊𝚙𝚊𝚙𝚞𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚝𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 .
𝙺𝚞𝚋𝚞𝚗𝚐𝚔𝚞𝚜 𝚋𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚋𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚛𝚝𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚊𝚜𝚞𝚔𝚊𝚗 𝙿𝚊𝚔𝚊𝚒𝚊𝚗 𝙹𝚞𝚋𝚊𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚠𝚊𝚛𝚗𝚊 𝚖𝚎𝚛𝚊𝚑 𝙹𝚊𝚖𝚋𝚞 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝙿𝚞𝚝𝚛𝚒 𝚁𝚎𝚗𝚊 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚒𝚗 𝚜𝚞𝚝𝚛𝚊 𝚙𝚞𝚝𝚒𝚑, 𝚔𝚞𝚒𝚔𝚊𝚝 𝚍𝚒 𝚋𝚊𝚑𝚞𝚔𝚞.
𝙼𝚎𝚗𝚐𝚊𝚖𝚋𝚒𝚕 𝙺𝚞𝚍𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝙸𝚜𝚝𝚊𝚗𝚊 𝚃𝚒𝚖𝚞𝚛.
𝙺𝚞𝚕𝚒𝚑𝚊𝚝 𝚜𝚎𝚔𝚎𝚕𝚒𝚕𝚒𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚒𝚑𝚊𝚝 𝚜𝚒𝚊𝚙𝚊𝚙𝚞𝚗.
𝙺𝚞𝚗𝚊𝚒𝚔𝚒 𝚔𝚞𝚍𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚓𝚞 𝚔𝚎 𝚑𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚝𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝 𝚊𝚔𝚞 𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚖𝚊 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐.
**
𝚁𝚊𝚓𝚊 𝚈𝚞𝚔𝚘 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚎 𝙺𝚎 𝙺𝚊𝚖𝚊𝚛 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚔𝚘𝚜𝚘𝚗𝚐...
𝚖𝚎𝚖𝚊𝚗𝚍𝚊𝚗𝚐 𝙱𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚋𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚞𝚜𝚞𝚗 𝚛𝚊𝚙𝚒 𝚍𝚒 𝚖𝚎𝚓𝚊.
𝙼𝚎𝚗𝚊𝚝𝚊𝚙 𝚐𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚕𝚎𝚝𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒 𝚖𝚎𝚓𝚊.
"𝙱𝚊𝚐𝚒𝚗𝚍𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚔𝚊𝚖𝚒 𝚔𝚎𝚓𝚊𝚛? " 𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝙿𝚊𝚗𝚐𝚕𝚒𝚖𝚊.
𝚁𝚊𝚓𝚊 𝚈𝚞𝚔𝚘 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚎𝚗𝚢𝚞𝚖 𝚙𝚎𝚗𝚞𝚑 𝚊𝚛𝚝𝚒.
"𝙱𝚒𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚓𝚊"
𝚁𝚊𝚓𝚊 𝚈𝚞𝚔𝚘 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚗𝚝𝚞𝚑 𝚐𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚍𝚊 𝚍𝚒 𝚖𝚎𝚓𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚠𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚊𝚛 𝚒𝚝𝚞, 𝚔𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒 𝚍𝚒 𝚝𝚞𝚝𝚞𝚙 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚜𝚎𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐𝚙𝚞𝚗 𝚋𝚘𝚕𝚎𝚑 𝚖𝚊𝚜𝚞𝚔 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚔𝚎 𝚛𝚞𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚒𝚝𝚞.