Indonesia
NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Mikael

“Maaf, aku tidak....”

Suara Aiden berhenti sebelum kalimatnya selesai. Dmitri masih memenuhi ambang pintu dengan kedua bahu, membuat jalan keluar dari kamar tampak jauh lebih sempit daripada sebelumnya.

Tatapan pria itu turun pada mobil merah di tangan Aiden. Tidak ada kemarahan yang terlihat pada wajahnya, tetapi Aiden segera meletakkan mainan tersebut kembali di tempat semula.

“Ikut aku.”

Dmitri berbalik tanpa menunggu jawaban. Langkahnya bergerak sepanjang koridor dengan kecepatan yang memaksa Aiden berlari kecil untuk segera menyusul.

Aiden mengikuti beberapa langkah di belakang sambil terus melihat punggung pria itu. Kemeja hitam Dmitri tertarik rapat pada bahu, sedangkan kedua tangannya bergerak tenang pada sisi tubuh.

Ketenangan tersebut membuat Aiden semakin cemas. Ia tidak dapat menebak apakah Dmitri akan kembali memukul seseorang atau hanya memanggil penjaga untuk membawanya turun.

Rasa bersalah mulai menekan perutnya. Ia telah memasuki kamar tanpa izin, menyentuh barang di atas meja, dan berkeliaran sendirian pada hari pertamanya sebagai tamu.

Dmitri mungkin akan menyuruhnya membersihkan lantai atau mengangkat barang sampai tangannya sakit. Ia juga dapat mengadukannya kepada Marcus, memberinya pekerjaan selama berminggu-minggu, atau membatalkan keputusan dan mengusir mereka dari Empire.

Kemungkinan terakhir membuat langkah Aiden melemah. Jika mereka diusir karena dirinya, Robin harus kembali tidur di bangunan kosong dan Marcus akan membawanya menyeberangi kota tanpa mengetahui tempat tujuan berikutnya.

Dmitri berhenti pada sebuah pintu beberapa langkah dari kamar besar tadi. Pintu tersebut lebih kecil, cat putihnya telah menguning, dan pada bagian bawahnya terdapat bekas benturan yang tidak pernah diperbaiki.

Ia membuka pintu dan masuk. Aiden berhenti di ambang, tetapi satu gerakan kepala Dmitri menyuruhnya menyusul.

Ruangan di dalam jauh lebih kecil daripada kamar Dmitri dan Selma. Sebuah ranjang pendek berada pada sisi dinding dengan busa tipis, bantal kecil, dan selimut yang dilipat rapi pada bagian kaki.

Mainan memenuhi hampir seluruh tempat yang tersisa. Kereta-keretaan disusun pada rel kayu di atas lantai, beberapa robot berdiri pada rak, dan mobil-mobilan dengan bentuk serta warna berbeda memenuhi dua kotak dekat ranjang.

Ada mainan yang dibuat dari kayu dan potongan logam. Beberapa lainnya tampak berasal dari masa sebelum Red Winter, dengan bagian-bagian kecil yang terlalu halus untuk dibuat menggunakan perkakas di Haven.

Debu tipis menutupi rak paling atas, tetapi lantai dan ranjang tetap bersih. Tidak ada pakaian di lemari terbuka dan tidak ada sepatu di bawah ranjang.

Dmitri berdiri dekat pintu setelah Aiden masuk. Ia menyilangkan kedua lengan pada dada, membuat otot di bawah kemeja hitamnya kembali menarik kain.

“Aku minta maaf.”

Aiden mengucapkannya sambil menunduk. Kedua tangannya bertemu di depan perut dan jemarinya saling meremas.

“Lupakan itu.”

Aiden mengangkat wajah perlahan. Jawaban tersebut tidak sesuai dengan semua hukuman yang sudah dibayangkannya sepanjang koridor.

Dmitri menunjuk tumpukan mainan menggunakan dagu. Wajahnya tetap keras, tetapi suaranya tidak lagi terdengar seperti perintah di gerbang.

“Kau menyukai mainan? Ambil salah satu yang kauinginkan.”

Mata Aiden melebar. Ia memandang Dmitri, lalu melihat kotak-kotak di dekat ranjang untuk memastikan dirinya tidak salah memahami.

Tidak ada anak lain di ruangan tersebut dan tidak ada mainan rusak yang dipisahkan untuk dibuang. Semua yang ditunjuk Dmitri tampak masih dapat digunakan.

“Ayo. Tidak perlu malu.”

Aiden berjalan mendekati kotak pertama. Ia berjongkok dan menggerakkan beberapa mobil menggunakan ujung jari, terlalu takut mengambil satu sebelum mengetahui apakah Dmitri akan berubah pikiran.

Ada truk dengan roda besar, kendaraan lapis baja tanpa salah satu pintu, serta mobil kecil berwarna hijau yang catnya hampir habis. Di bawah semuanya, Aiden menemukan sebuah sedan biru dengan badan logam dan kaca bening pada jendela.

Ia mengangkat sedan tersebut menggunakan kedua tangan. Keempat rodanya berputar saat disentuh, dan pintu depannya bahkan dapat dibuka menggunakan kuku.

Aiden berdiri sambil menggenggam mobil itu dekat dada. Tatapannya kembali kepada Dmitri dengan keraguan yang belum hilang.

“Kau yakin?”

Dmitri memandang sedan biru tersebut. Rahangnya bergerak pelan sebelum ia melepaskan kedua lengan yang bersilang pada dada.

“Itu milik Mikael.”

Ia melihat seluruh ruangan, dari rel kereta di lantai sampai robot pada rak. Suaranya turun ketika melanjutkan.

“Atau semua ini pernah menjadi miliknya.”

Nama itu membuat Aiden teringat ucapan Selma. Dia juga seharusnya seusiamu.

“Mikael?”

Dmitri menarik napas melalui hidung. Ia menatap ranjang kecil yang kosong dan tidak segera memindahkan pandangannya.

“Anakku. Sepupumu.”

Aiden memandang mainan di tangannya. Ia baru mengetahui mempunyai seorang paman beberapa jam sebelumnya, dan kini sebuah hubungan keluarga lain muncul dari kamar yang tidak lagi digunakan.

“Di mana dia sekarang?”

Dmitri mengusap janggut tipisnya. Ujung jarinya berhenti pada rahang sebelum tangan itu kembali turun.

“Mikael meninggal tiga tahun lalu.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Aiden mengendurkan genggaman pada sedan biru karena takut jarinya meninggalkan bekas pada benda milik anak yang sudah meninggal.

“Maaf. Aku tidak tahu.”

“Kau memang tidak mungkin tahu.”

Dmitri meninggalkan tempatnya dekat pintu. Ia berjalan menuju ranjang, duduk pada tepinya, lalu menatap mainan-mainan yang memenuhi lantai.

Rangka ranjang mengerang menahan berat tubuhnya. Kedua lutut Dmitri berada jauh di atas permukaan busa pendek, membuat tempat tidur itu tampak semakin kecil.

“Seperti ibumu, raider yang menyebabkannya.”

Aiden memeluk mobil biru lebih erat. Kata raider kembali membawa panas ke dalam dadanya, sama seperti ketika Marcus mengucapkannya di ruang kerja Dmitri.

“Usianya baru tujuh tahun. Saat itu aku belum menjadi tetua Empire. Aku masih memimpin para penjaga.”

Dmitri menunduk dan menyatukan kedua tangan di antara lutut. Buku-buku jarinya yang memukul Marcus masih menyimpan warna merah.

Aiden memandang tangan tersebut. Sulit membayangkan seseorang sebesar Dmitri tidak mampu melindungi anaknya, tetapi ranjang kecil yang kosong menunjukkan bahwa kekuatan tubuh tidak selalu cukup.

“Apa yang kaulakukan setelahnya?”

Dmitri mengangkat wajah. Tatapannya berubah lebih keras, dan garis pada dahinya kembali terlihat di bawah cahaya lampu.

“Aku menemukan salah satu markas mereka.”

Ia mengusap kedua telapak tangan, seakan masih ada sesuatu yang melekat pada kulitnya. Gerakan itu berhenti ketika jari-jarinya kembali saling mengunci.

“Aku mendatanginya seorang diri dan menghabisi semua orang di dalamnya.”

Dmitri menyampaikan kalimat tersebut tanpa kebanggaan. Tidak ada senyum atau gerakan besar, hanya suara datar yang membuat Aiden membayangkan darah di ruangan gelap dan pria itu berdiri sendirian di tengahnya.

“Sesudah itu, warga mengangkatku menjadi tetua. Di bawah pimpinanku, para penjaga Empire berhasil membunuh banyak raider.”

Sedan biru terasa dingin pada telapak Aiden. Ia melihat wajah Dmitri, tubuh besar yang pernah memasuki markas musuh sendirian, dan buku-buku jari yang masih memerah.

Bayangan para raider mulai terbentuk di dalam kepalanya meskipun ia tidak mengetahui wajah mereka. Mereka membawa Miranda dari ladang, meninggalkan gelangnya, kemudian melakukan sesuatu yang bahkan Marcus tidak sanggup bayangkan.

Keinginan untuk melihat mereka terluka muncul begitu cepat hingga Aiden terkejut pada dirinya sendiri. Panas itu bergerak dari dada menuju kedua lengan dan membuat jemarinya mengeras di sekeliling mobil.

“Aku juga ingin membunuh raider.”

Dmitri mengangkat satu alis. Ia berdiri dari ranjang, mendekati Aiden, lalu berjongkok sampai wajah mereka berada pada ketinggian yang sama.

Posisi tersebut tidak membuat tubuhnya tampak kecil. Salah satu lututnya menyentuh lantai, sedangkan bahunya masih hampir memenuhi pandangan Aiden.

“Kenapa?”

Aiden mencoba menjawab tanpa membiarkan suaranya berubah. Tenggorokannya terasa sempit dan panas kembali memenuhi kedua matanya.

“Karena Mom.”

Air menggenang pada kelopak bawahnya. Sebelum sempat jatuh, ibu jari Dmitri menyentuh pipinya dan menghapus satu tetes yang terlepas.

Aiden tidak menjauh. Ia memandang mata pamannya sambil berusaha mempertahankan keberanian yang baru saja muncul.

“Ajari aku, Dmitri.”

Nama tersebut terasa terlalu jauh setelah segala hal yang baru diketahuinya. Aiden menelan ludah, lalu mengulang permintaan itu dengan sebutan yang masih terasa asing.

“Paman.”

Senyum tipis muncul pada wajah Dmitri. Tangannya berpindah dari pipi Aiden menuju bahu dan menahannya di sana.

“Dengarkan aku, Aiden. Apa kau pernah membunuh sesuatu?”

Aiden menggeleng. Matanya sempat turun pada ketapel yang mencuat dari saku kemeja, kemudian kembali kepada Dmitri.

“Dad tidak pernah mengajariku menggunakan senapan.”

Rasa marah yang belum selesai membuat kalimat berikutnya keluar sebelum Aiden mempertimbangkannya. Jemarinya menekan atap sedan biru sampai terasa sakit.

“Aku membenci Dad.”

Dmitri tidak melepaskan bahunya. Senyum pada wajahnya menghilang, tetapi ia tetap menunggu Aiden menyelesaikan ucapan.

“Dia merahasiakan kematian Mom dariku.”

“Dia melakukan hal yang benar.”

Aiden mengerutkan kening. Ia mencoba menarik bahu dari tangan Dmitri, tetapi genggaman pria itu hanya mengendur tanpa benar-benar terlepas.

“Tapi aku tetap ingin membunuh raider.”

Dmitri memandangnya cukup lama. Setelah itu, ia melepaskan bahu Aiden dan duduk pada tumitnya.

“Membunuh tidak semudah yang kaupikirkan.”

Ia mengangkat satu tangan sebelum Aiden sempat membantah. Telapak tangannya terbuka di antara mereka, dipenuhi kapalan serta bekas luka lama.

“Membunuh Remnant akan membuatmu mual karena bau busuk yang keluar ketika tubuh mereka terbuka.”

Dmitri menurunkan satu jari. Tatapannya tidak berpindah dari wajah Aiden.

“Membunuh binatang membuatmu mendengar suaranya setelah senjata sudah diturunkan. Kadang-kadang rasa bersalahnya bertahan lebih lama daripada rasa lapar yang membuatmu membunuhnya.”

Ia berhenti. Tangan yang terbuka perlahan mengepal, menyembunyikan seluruh garis dan luka pada telapaknya.

“Namun, manusia berbeda.”

Suara Dmitri menjadi lebih rendah. Aiden harus menahan napas agar tidak kehilangan satu kata pun.

“Begitu kau melewati batas itu, kau tidak dapat kembali menjadi orang yang belum pernah membunuh manusia. Tidak peduli siapa yang kaubunuh atau seberapa pantas dia menerimanya.”

Aiden tidak menjawab. Ia melihat wajah pamannya dan berusaha menemukan penyesalan, tetapi yang terlihat hanya garis-garis keras serta tatapan yang tidak berubah.

Dmitri berdiri perlahan. Tubuhnya kembali menjulang di atas Aiden, menutup sebagian cahaya lampu.

“Tapi aku akan mengajarimu.”

Wajah Aiden langsung terangkat. Rasa senang mendorong kesedihan dari dadanya begitu cepat hingga sebuah senyum muncul sebelum dapat ditahan.

Dmitri menunjuknya menggunakan satu jari. Senyum tipis masih tertinggal pada wajah pria itu, tetapi nada suaranya kembali tegas.

“Kau tidak akan langsung memegang senjata. Tubuhmu harus dilatih lebih dahulu sampai kau dapat berlari, jatuh, bangkit, dan tetap berpikir saat napasmu habis.”

Aiden mengangguk cepat. Sedan biru tetap digenggam pada satu tangan, sementara tangan lainnya mengepal seakan latihan itu akan dimulai saat itu juga.

Ia kemudian teringat Robin. Gadis itu mungkin masih mengikuti Selma menuju taman bunga tanpa mengetahui apa yang baru dijanjikan Dmitri.

“Bagaimana dengan Robin?”

Dmitri tidak perlu memikirkan jawabannya. Ia berjalan menuju kotak mainan dan menggunakan ujung sepatu untuk mendorong sebuah robot yang terjatuh kembali mendekati rak.

“Kami tidak melatih perempuan untuk bertarung.”

Aiden melihat sedan dalam genggaman sebelum kembali memandang pamannya. Ia teringat Robin memanjat bangunan bersamanya, berjalan dua hari tanpa mengeluh, dan tetap berdiri meskipun kedua orang tuanya meninggal dalam satu malam.

“Tapi Robin kuat.”

“Tentu.”

Dmitri menjawab tanpa mengejek atau meragukan ucapan tersebut. Ia membungkuk dan mengambil kereta kecil yang keluar dari jalurnya, kemudian meletakkannya kembali di atas rel.

“Selma akan mengajarinya hal-hal lain yang lebih pantas baginya.”

Dmitri berdiri dan memandang pintu. Setelah itu, ia menunjuk kotak kedua yang berisi mainan dengan warna lebih cerah.

“Ambil satu lagi untuk Robin.”

Ia mengarahkan tatapannya kembali kepada Aiden. Ekspresi pada wajahnya menunjukkan bahwa pembicaraan mereka telah selesai.

“Lalu kembalilah kepada ayahmu.”

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!