Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Udara di bawah tanah Blackwood Manor tidak mengenal musim. Ia selalu terasa sama, dingin, lembap, dan beraroma karat serta minyak pelumas senjata yang mengendap di dinding-dinding beton tebal.
Tempat ini dibangun sepuluh meter di bawah struktur utama gedung, terisolasi dari dunia luar hingga jeritan sekeras apa pun tidak akan pernah menembus marmer aula di atas.
Evangeline tergantung dengan kedua pergelangan tangan terikat rantai baja tebal yang dikaitkan ke langit-langit beton. Ujung sepatu botnya hampir tidak menyentuh lantai yang dingin.
Seragam pelayannya yang abu-abu kini terkoyak di beberapa bagian akibat paksaan para pengawal saat memborgolnya.
Namun, meski posisi tubuhnya sangat tidak menguntungkan dan memar kebiruan mulai membayang di pergelangan tangannya, tidak ada satu pun guratan rasa takut di wajahnya.
Eva memejamkan mata, mengatur ritme napasnya untuk menghemat energi. Di The Crow's Veil, interogasi dan penyiksaan fisik adalah bagian dari pembelajaran wajib.
Silas telah melatihnya menahan rasa sakit hingga titik di mana tubuhnya bisa memisahkan persepsi fisik dari fokus mentalnya.
Klek. Srrrrt.
Pintu besi seberat dua ton di ujung lorong terbuka. Langkah kaki tunggal yang berat bergaung pelan, menyusuri lorong beton menuju sel penahanan Eva.
Eva membuka matanya. Sepasang mata hazelnya langsung terkunci pada sosok yang melangkah masuk melintasi remangnya penerangan lampu neon sel.
Dominic Blackwood.
Pria itu telah melepas jas tuxedo mahalnya. Kini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya telah digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawah yang kokoh dengan urat-urat menonjol.
Dua kancing teratas kemejanya sudah terbuka dan di lengannya terdapat bekas sabetan pisau serat karbon Eva beberapa jam lalu. Di tangan kanannya, Dominic membawa sebuah sarung tangan kulit hitam tebal.
Dua pengawal bertubuh tegap berdiri di luar pintu sel yang terbuka, menjaga jarak atas perintah sang bos.
Dominic melangkah hingga berhenti tepat satu meter di depan Eva. Pria itu menatap Eva dari ujung rambut cokelatnya yang mulai berantakan hingga ke ujung sepatunya. Tatapan matanya memancarkan intensitas perhitungan yang sangat dingin dan berbahaya.
"Empat puluh delapan jam yang lalu, sistem kami mencatat namamu sebagai Evie Thorne," suara Dominic bergaung rendah di antara dinding beton.
"Seorang anak yatim piatu dari distrik luar tanpa catatan kriminal. Dokumentasi yang sangat rapi."
Dominic menarik sebuah kursi kayu tua dari sudut sel, meletakkannya tepat di hadapan Eva, lalu duduk bersandar dengan santai seraya memutar sarung tangan kulit di jemarinya.
"Namun caramu melompat dari lemari buku, caramu memotong udara dengan pisau serat karbon tanpa logam, dan refleksmu saat menahan tendanganku..." Dominic memicingkan matanya. "Itu bukan teknik bertarung jalanan. Kau adalah produk dari The Crow's Veil."
Eva tidak bereaksi. Wajahnya tetap seperti topeng porselen yang dingin dan membisu.
"Silas yang mengirimmu?" tanya Dominic dingin. "Berapa banyak faksi rival membayarmu untuk mengambil kepala seorang Blackwood malam ini?"
Eva menyunggingkan senyum tipis. "Pembunuh profesional tidak pernah membeberkan nama kliennya, Blackwood. Kau bisa menyiksaku seminggu, tapi kau tidak akan mendapat satu nama pun dari mulutku."
Dominic berdiri perlahan dari kursinya. Sebuah senyuman kejam dan berbahaya terukir di bibirnya. "Pertahanan yang mengagumkan. Mari kita lihat seberapa lama kau bertahan di ruangan ini."
Dominic mengisyaratkan salah satu pengawalnya untuk melangkah maju. Pria berbadan tegap itu membawa sebuah ember seng berisi air es bercampur garam pekat dan sebuah selang bertekanan tinggi. Tanpa peringatan, air es garam yang menusuk itu disemprotkan tepat ke wajah dan tubuh Eva.
Sensasi dingin yang membekukan bercampur perihnya garam menghantam luka-luka sayatan tipis di kulit Eva. Tubuhnya bergetar hebat secara refleks, napasnya tercekat sejenak oleh guncangan suhu yang ekstrem.
Namun, saat air berhenti mengalir, Eva mendongak kembali. Matanya menatap Dominic dengan pendar kebencian yang makin tajam. Tidak ada jeritan. Tidak ada rintihan.
Dominic melangkah lebih dekat, meletakkan sarung tangan kulitnya di atas meja kecil. Ia mengambil sebuah alat pemantik listrik.
"Pilihan ada di tanganmu, Pelayan," bisik Dominic, suaranya berada tepat di depan telinga Eva. "Satu nama, dan kau bisa tidur di ranjang empuk."
Zrrtttt!
Dominic menempelkan benda berarus listrik itu ke rusuk kiri Eva. Sengatan bertegangan tinggi menjalar pada saraf dan otot-otot dadanya. Rasa sakitnya bagaikan ditarik dan dibakar dari dalam secara bersamaan. Buku-buku jari Eva yang terikat rantai memutih, urat-urat di lehernya menegang keras menahan gelombang rasa sakit yang dahsyat.
Darah merembes dari bibir bawah Eva yang ia gigit sendiri demi mengunci suaranya. Ketika sengatan listrik dilepas, kepalanya terkulai lemas dengan napas terengah-engah, peluh bercampur air garam menetes dari dagunya.
Dominic mencengkeram rahang Eva dengan jemarinya yang terbalut sarung tangan, memaksa wajah gadis itu terangkat menghadapnya. "Siapa klienmu?"
Eva membuka matanya yang mengabur, menatap lurus ke dalam pupil mata kelam Dominic dari jarak beberapa sentimeter. Sensasi hangat darah di bibirnya diusapnya dengan tawa kecil yang parau.
"Hanya itu yang kau punya Blackwood?" bisik Eva terkekeh rapuh namun penuh cemoohan.
Dominic menyipitkan matanya. Kemarahan dingin berdesir di dadanya. Pria ini telah menginterogasi ratusan musuh, dan biasanya pria-pria kekar sekalipun runtuh dalam sepuluh menit pertama.
Namun wanita di depannya, seorang pembunuh bayaran bertubuh kecil ini menatap alat siksa dengan tatapan dingin seolah rasa sakit adalah kawan lamanya.
Dominic melepaskan cengkeramannya pada rahang Eva. Ia mematikan alat pemantik listrik dan melemparkannya ke atas meja.
"Kau punya ketahanan tubuh yang luar biasa," kata Dominic datar, merapikan kembali gulungan kemeja putihnya. "Tapi setiap manusia punya batasnya. Kita punya seluruh malam ini, dan aku tidak punya alasan untuk terburu-buru."
Dominic membalikkan badan dan melangkah keluar menuju lorong, meninggalkan dua pengawal di ambang pintu sel.
"Biarkan dia tergantung di sana. Jangan beri minum. Kita lanjutkan sesi berikutnya subuh nanti," perintah Dominic sebelum pintu besi tebal tertutup kembali dengan dentuman berat.
...Bersambung... ...