Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Si Kembar Rahasia Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:Mafia / Berbaikan / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Lobelia

Lima tahun lalu, Victoria kabur dari pelukan suaminya yang paling ditakuti di pesisir timur—seorang Capo mafia berdarah dingin—sambil menyembunyikan sebuah rahasia di dalam rahimnya. Kini ia hidup sederhana di sebuah kota pesisir kecil, menjahit seragam dan menjual pai lemon, membesarkan dua putra kembar yang… terlalu istimewa. León, si sulung, punya tatapan sedingin es dan naluri seorang pemangsa. Cristo, si bungsu, mampu membaca manusia semudah membaca buku. Mereka rupawan. Mereka jenius. Dan mereka adalah salinan sempurna pria yang paling ingin Victoria lupakan.

Namun sebuah mobil hitam kembali muncul di ujung jalan.

Dante Moretti tak pernah berhenti mencari. Dan ketika ia akhirnya menemukan bukan hanya istri yang meninggalkannya, tapi dua pewaris darah dagingnya yang tak pernah ia tahu ada—dunia yang sudah susah payah dibangun Victoria runtuh dalam semalam. Ia diseret kembali ke istana kaca penuh bayangan, ke dalam perang antara cinta dan kuasa, antara seorang ibu yang bersumpah melindungi anak-anaknya dari kegelapan, dan seorang ayah yang bertekad merebut kembali segala yang menjadi miliknya.

Tapi musuh sesungguhnya bukan hanya di antara mereka berdua. Ada rahasia keluarga yang lebih kelam dari yang Dante kira, pengkhianat di balik setiap pintu, dan sepasang bocah kembar yang—tanpa disadari siapa pun—mulai menyusun langkah mereka sendiri di papan catur para raja.

Antara peluru dan gairah, dendam dan penebusan, satu pertanyaan tersisa: bisakah cinta yang lahir dari kegelapan akhirnya memutus lingkaran itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lobelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam tak memberi jeda. Setelah kilas balik yang membuatnya terkuras secara emosional, Victoria tak sanggup lagi berpura-pura. Ia berada di balkon suite, merasakan udara dingin dini hari menampar wajahnya, ketika pintu kaca bergeser terbuka. Dante muncul, kemejanya masih terbuka akibat semalaman berjaga, tatapannya sarat perpaduan lelah dan sebuah kelembutan yang tak lagi bisa Victoria cerna.

"Masuklah, Victoria. Kau bisa jatuh sakit," ujar Dante, mencoba menyampirkan jasnya ke bahu Victoria.

Victoria mengelak dengan gerakan kasar, berbalik menghadapinya. Matanya, memerah tetapi menyala oleh percik keadilan yang terlalu lama ditunda, menghunjam ke mata lelaki itu.

"Kenapa kau begitu membenciku, Dante?" tanyanya, suaranya nyaris hanya bisikan yang mengiris angin. "Kenapa kau memperlakukanku seolah aku satu-satunya pengkhianat dalam kisah ini?"

"Kau pergi," jawab Dante, suaranya mengeras. "Kau meninggalkanku sendirian di makam ini. Kau bawa anak-anakku ke lumpur, kau rampas dariku langkah pertama mereka, kata pertama mereka… Kau membuatku percaya bahwa aku tak cukup untuk melindungimu."

"Aku tidak pergi karena kau tak cukup, Dante." Victoria melangkah mendekat, menyerobot ruangnya, telunjuknya menekan dada suaminya. "Aku pergi karena ayahmu, lelaki yang sampai sekarang masih kaupuja lewat potretnya itu, memerintahkan eksekusiku. Aku pergi karena aku mendengar dengan telingaku sendiri bagaimana mereka merencanakan 'kecelakaan melahirkan' untukku, supaya Alessandra bisa membesarkan anak-anakku menjadi mesin perang tanpa seorang ibu yang 'mencemari' mereka dengan belas kasihan."

Dante terpaku. Waktu seakan membeku di balkon itu. Tawa kering yang getir lolos dari kerongkongannya, sebuah reaksi bertahan menghadapi hal yang mustahil.

"Itu bohong," ucapnya, meski suaranya goyah. "Ayahku menyayangimu. Kau ibu dari para pewarisnya. Ia tak akan pernah…"

"Ia tak pernah mengatakannya padamu, Dante," potong Victoria, air matanya kini mengalir bebas. "Karena ia tahu kau akan membunuhnya demi melindungiku. Lorenzo bukan seorang ayah, ia seorang penyusun siasat. Ia memandangku sebagai wadah, sebuah bejana bagi darah Moretti yang harus dibuang begitu selesai menjalankan fungsinya. Aku pergi untuk menyelamatkan mereka, dan untuk menyelamatkanmu agar tak menjadi lelaki yang menggenggam tangan pembunuh istrinya sendiri."

Dante mundur, tersandung sebuah kursi rotan. Bayangan Don Lorenzo — pilar moralnya, lelaki yang mengajarinya segalanya tentang kehormatan — mulai retak. Ia teringat tatapan dingin ayahnya kepada Victoria, pertemuan-pertemuan tertutup yang selalu berakhir begitu ia masuk, desakan Lorenzo bahwa "seorang istri adalah kewajiban, bukan takdir".

"Dia… dia bersumpah kita akan mencarimu bersama," Dante tergagap, wajahnya berubah menjadi topeng kengerian. "Waktu kau menghilang, dia memelukku saat aku menangis seperti anak kecil. Dia bilang kau labil, bahwa kau kabur bersama seorang kekasih…"

"Itu hadiah terakhirnya untukmu, Dante: menanamkan kebencian supaya kau tak akan pernah mau mencari kebenaran." Victoria mendekat dan, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, meletakkan tangannya di pipi Dante. Itu bukan gerakan cinta, melainkan belas kasihan yang menghancurkan. "Aku tak menyalahkanmu karena tak tahu. Tapi aku menyalahkanmu karena mengikuti jejaknya tanpa mempertanyakan ke mana jalan itu menuju."

Dante jatuh berlutut di lantai balkon. Sang Capo agung dari New York, lelaki yang membuat para dermaga gemetar, kini remuk oleh pengkhianatan seorang mendiang. Kenyataan lima tahun terakhirnya — amarahnya, pencariannya yang tak kenal lelah, kurungan yang ia paksakan pada Victoria begitu berhasil merebutnya kembali — terungkap sebagai perpanjangan dari rencana Lorenzo. Ia telah menjadi alat sang ayah bahkan setelah lelaki itu tiada.

"Maafkan aku…" bisik Dante, membenamkan wajah ke kedua tangannya. "Ya Tuhan, Victoria… apa yang telah kuperbuat padamu… apa yang telah kuperbuat pada mereka dengan membawa mereka kembali ke sarang ular ini…"

Victoria berlutut di hadapannya. Ia tak memeluk Dante, tetapi ia juga tak menjauh. Di ruang ambang antara malam dan fajar itu, sesuatu berubah. Udara yang tadinya penuh muatan listrik kepemilikan berubah menjadi gencatan senjata yang rapuh dan menyakitkan.

"Kita tak bisa mengubah masa lalu, Dante. Tapi hari Kamis Enzo akan datang untuk kita," ujar Victoria, mengingatkannya pada kegentingan masa kini. "Ada seseorang di dalam rumah ini yang masih setia pada ayahmu, bukan padamu. Seseorang yang percaya bahwa anak-anak itu harus menjadi 'Moretti murni'."

Dante mengangkat pandangannya. Rasa sakit itu masih ada, tetapi sepercik sifat mematikannya yang dulu kembali ke matanya, kali ini terarah pada hantu-hantu dari darahnya sendiri.

"Kalau benar apa yang kaukatakan… kalau Alessandra tahu soal ini…" Dante berdiri, suaranya kini adalah auman yang terkendali. "Rumah ini akan dibersihkan sampai ke akar-akarnya. Kau bukan tahananku, Victoria. Kau seharusnya tak pernah menjadi itu. Kau istriku. Dan kalau kau ingin pergi setelah kita menuntaskan Enzo… aku sendiri yang akan membukakan pintu untukmu."

"Jangan bicara soal akhir, Dante," potong Victoria, menatap ke arah kamar tempat anak-anak tertidur. "Mari bicara soal bertahan hidup. León dan Cristo sudah menggerakkan bidak-bidak mereka sendiri. Kau harus percaya pada mereka. Kau harus percaya padaku."

Dante mengangguk, menggenggam tangan Victoria. Itu bukan genggaman kepemilikan, melainkan sebuah pakta di antara dua orang yang sama-sama karam. Mereka masuk ke dalam kamar dan duduk di meja tempat Cristo meninggalkan tabletnya.

Untuk pertama kalinya, Dante tak memberi perintah. Ia mendengarkan. Ia mendengarkan saat Victoria menjelaskan bagaimana anak-anak menyadap komunikasi Silvio, bagaimana mereka merencanakan umpan hari Kamis, dan bagaimana Rosa membantu mereka. Sang Capo menemukan bahwa putra-putranya bukan sekadar pewarisnya; mereka adalah sekutunya yang paling cerdas.

Gencatan senjata itu setipis kertas, sarat dengan tuduhan yang tak terucap dan ketegangan gairah yang kini bercampur dengan rasa hormat yang getir. Mereka tak berciuman, tak ada rekonsiliasi ala film; hanya beban yang mereka pikul bersama atas sebuah kebenaran yang membebaskan mereka sekaligus membuat mereka lebih rentan dari sebelumnya.

Dante menatap potret ayahnya di koridor sementara ia berjalan untuk menyusun pertahanan. Dengan satu gerakan tegas, ia menurunkan lukisan itu dan meletakkannya di lantai, menghadap dinding. Kekuasaan Don Lorenzo telah berakhir di dalam benaknya. Perang yang sesungguhnya melawan Enzo Baratti akan segera dimulai, dan untuk pertama kalinya, keluarga Moretti bertempur di bawah panji yang sama: panji seorang ibu yang menolak mati dan seorang ayah yang akhirnya memutuskan untuk terbangun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!