Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit Baru
Keesokan harinya di sekolah, jarum jam dinding menunjukkan tepat pukul sepuluh pagi. Jam pelajaran kedua baru saja hendak dimulai ketika suasana kelas mendadak diwarnai kepanikan kecil. Kania mengubrak-abrik isi tas seragamnya dengan raut wajah panik luar biasa.
"Sera, mati aku..." bisik Kania memegangi kepalanya. "Tugas makalah aku ketinggalan di meja belajar!"
Tanpa membuang waktu, Kania merogoh ponselnya dan menelepon ayahnya, memohon agar makalah itu bisa diantarkan sebelum guru mata pelajaran masuk ke kelas. Namun, dari seberang telepon, ayahnya mengaku sedang sangat sibuk dan tidak bisa ditinggal. Ayahnya lantas menyuruh Kania untuk menelepon Mas Adrian saja.
Tak ada pilihan lain, Kania terpaksa menelepon Adrian. Adrian setuju untuk mengambilkan makalah di rumah dan mengantarkannya ke sekolah, tetapi ia memberikan satu syarat mutlak: Kania harus membawa Sera ikut ke gerbang sekolah saat menyerahkan makalah itu.
Demi menyelamatkan nilainya, Kania terpaksa menyetujui syarat tersebut. Namun, Kania sengaja menyembunyikan kenyataan itu dariku.
"Sera, temenin Nia ke gerbang sekolah sebentar yuk? Ayah ngantarin makalah Nia yang ketinggalan," bujuk Kania menarik lenganku.
Aku mengangguk ragu. Sepanjang melangkah menyusuri koridor menuju gerbang depan, dadaku mendadak berdebar teramat kencang. Ada desiran ganjil yang membuat langkah kakiku terasa berat, meski aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi.
Begitu kami tiba di dekat pagar gerbang sekolah, langkahku terhenti seketika.
Bukan ayah Kania yang berdiri di sana. Sosok pria berpostur tinggi dengan jaket denim yang teramat kukenali sedang menyandarkan badannya di dekat motor besar hitam. Adrian.
Aku membatu. Kania menunduk seraya menyerahkan makalah yang diulurkan Adrian dari celah pagar.
"Sera... tolong bicara sebentar sama Mas," ucap Adrian langsung memotong jarak, menatapku dengan mata yang menuntut dan terdesak.
Sakit hati dan rasa dikhianati yang sempat kukubur seketika membuncah menjadi amarah yang dingin. Aku menatap Adrian dengan tatapan acuh dan sengit.
"Maksud Mas apa sih?!" tanyaku dengan suara tertahan namun tajam. "Mas masih jalan sama cewek lain, tapi Mas masih berani ngomong sama Sera? Sera bukan mainan, Mas!"
"Sera, Mas enggak pernah anggap kamu mainan!" potong Adrian cepat, suaranya terdengar begitu parau dan memohon.
Tepat di tengah perdebatan tegang itu, sebuah langkah kaki terdengar mendekat dari arah koridor dalam.
"Sera, Kania, masuk," suara tenang Joan mendadak memecah ketegangan. Joan berdiri beberapa langkah di samping kami. "Guru mata pelajaran udah datang ke kelas."
Seketika itu juga, pandangan Adrian beralih pada Joan. Di udara yang mendadak mendingin, Adrian dan Joan bertatap muka secara langsung. Tatapan mata mereka berdua begitu tajam, dingin, dan sarat akan permusuhan,seolah-olah ada masa lalu kelam dan dendam lama yang membuat mereka sudah saling mengenal sejak lama.
"Ayo, Ser," ajak Kania merasa makin bersalah.
Aku memutar tubuhku tanpa memandang Adrian lagi, melangkah kembali ke dalam gedung sekolah bersama Kania dan Joan.
Di dalam kelas, suasana terasa hening saat pelajaran berlangsung. Kania memutar badannya sedikit ke arahku, menatapku dengan raut wajah yang teramat merasa bersalah.
"Sera... maafin Nia ya udah bohongin kamu tadi," bisik Kania pelan dengan mata berkaca-kaca. "Mas Iyan yang maksa, kalau Nia enggak bawa kamu, dia enggak mau ngantarin makalahnya."
Aku menghembuskan napas panjang, menepuk pelan punggung tangan Kania. "Iya, Nia. Enggak apa-apa, aku udah maafin kok."
Ketika bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, para siswa berhamburan keluar kelas.
Aku sengaja merapikan buku-bukuku dengan sangat lambat. Langkah kakiku menyusuri koridor sekolah terasa teramat pelan dan ragu. Ada ketakutan tersendiri di dalam dadaku, aku takut jika Adrian masih menunggu di luar, atau takut jika Kania akan dijemput olehnya lagi hari ini.
"Sera?"
Aku menoleh. Joan berdiri tak jauh di belakangku, memperhatikan gerak-gerikku yang sengaja melambat.
"Kok jalannya pelan banget?" tanya Joan seraya tersenyum tipis. "Gak mau langsung pulang, kan? Ikut gue sebentar yuk, ke ruang ekskul band."
Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju. Menghabiskan waktu sejenak di ruang band sekolah terasa jauh lebih aman daripada harus buru-buru keluar ke gerbang depan.
Joan menuntunku menuju sebuah ruangan kedap suara di sudut belakang sekolah. Saat pintu terdorong terbuka, aroma kayu dan logam menyapa indra penciumanku. Di dalam ruangan itu, terikat berbagai jenis alat musik, set drum, bass, amplifier, hingga beberapa gitar listrik yang terpajang di dinding.
Namun, menatap deretan gitar itu tak lagi memantik gairah di dalam dadaku. Kenangan saat Adrian menyetelkan gitarku dulu telah merusak kenyamanan itu.
Joan melangkah mendekat, memandangi gitar akustik di pojok ruangan lalu menatapku. "Gue sebenarnya mau nawarin lo buat jadi gitaris di band gue, Ser. Gimana?"
Aku mengoles senyum tipis, menggeleng pelan. "Maaf ya, Joan... gue lagi enggak ada gairah main gitar lagi."
Joan tidak memaksaku. Ia mengangguk paham seraya menduduki salah satu amplifier besar, sementara aku menduduki kursi kayu di dekatnya. Ruangan itu mendadak hening dan tenang.
"Ser..." panggil Joan pelan, menatapku dengan raut wajah yang berubah serius dan halus.
"Gue mau ngaku sesuatu soal Adrian."
Aku mendongak, menyimak keterangannya.
"Kakak gue... Kak Nabila... itu mantan pacarnya Adrian," tutur Joan jujur.
Aku tertegun di tempat dudukku.
"Wanita berambut pendek yang waktu itu gue liat sama Adrian di kafe... itu Kak Nabila,"lanjut Joan dengan nada suara yang memelan. "Dulu, waktu mereka masih pacaran, Adrian sering banget main ke rumah gue. Dia sering berpapasan sama gue. Malahan... Adrian berani berduaan di dalam kamar Kak Nabila."
Dada ini rasanya kembali dihantam oleh fakta pahit tentang sosok Adrian.
Dada ini seketika berdegup kencang. Di dalam hatiku, rasa syok yang teramat sangat menyusup tanpa permisi. Selama dekat denganku, Adrian tidak pernah bertindak macam-macam atau sejauh itu. Selama ini, ia paling-paling hanya memelukku, mencium dahi atau pipiku, dan memegang tubuhku dalam batas wajar, pernah sekali ia mencium bibirku. Aku benar-benar kaget dan tidak menyangka bahwa Adrian ternyata bisa seliar dan sebebas itu pada wanita lain di balik pintu kamar.
"Tapi seiring berjalannya waktu," sambung Joan seraya mengepalkan tangannya pelan, "Adrian kedapatan selingkuh dan menelantarkan Kak Nabila gitu aja. Kakak gue sedih banget, dia ngurung diri di kamar berhari-hari tanpa mau makan. Tapi parahnya, Adrian itu tipe cowok yang suka datang lagi tiba-tiba, narik-ulur perasaan kakak gue seenaknya sendiri."
Joan menatap mataku lekat-lekat dengan binar keprihatinan yang tulus.
"Makanya dari awal..." bisik Joan pelan, "...gue sama sekali enggak suka liat lo dekat-dekat sama Adrian. Gue gak mau lo nasibnya berakhir hancur kayak Kak Nabila."
Pengakuan tulus dari Joan sore itu melengkapi seluruh puzzle tentang siapa sosok Adrian yang sebenarnya. Di dalam ruang ekskul yang hening, aku menyadari satu hal: Tuhan benar-benar telah melindungiku dengan menjauhkan pria itu dari kehidupanku.