Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK YANG HILANG DI UJUNG KOTA

Di sebuah rumah bergaya klasik modern berukuran megah di kawasan elit Menteng, ketegangan yang pekat menyelimuti ruang keluarga. Jarum jam antik di dinding menunjukkan pukul delapan malam, namun Bramantyo Adriana ayah Ziva, seorang diplomat senior berwibawa yang baru saja menyelesaikan masa tugas panjangnya terus berjalan mondar-mandir dengan wajah kusut dan rahang mengeras. Di atas sofa beludru impor, Ajeng, ibu Ziva, tampak gelisah luar biasa sambil meremas selembar tisu di tangannya. Sorot matanya berkaca-kaca menatap layar ponsel di atas meja yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda panggilan masuk.

"Sudah tiga minggu sejak Ziva mendarat kembali di Jakarta dari London, Mas," suara Ajeng bergetar hebat, sangat sarat akan kepanikan dan kekhawatiran seorang ibu yang dilanda gundah. "Anak itu sempat menelepon dan bilang ingin langsung beristirahat di apartemen pribadinya karena kelelahan akibat jet lag perjalanan panjang. Tapi setelah malam itu? Ponselnya sama sekali tidak aktif, dihubungi tidak pernah membalas, dan tadi sore saat aku meminta tolong pihak sekuritas apartemen mengecek langsung ke unitnya, kata mereka unit itu sudah kosong. Seluruh barang-barang pribadinya sudah tidak ada!"

Bramantyo menghentikan langkah mondar-mandirnya, lalu menghela napas panjang untuk meredam gejolak emosi yang membakar dadanya. Sebagai seorang diplomat senior yang telah menghabiskan hampir dua tahun terakhir bertugas di Kedutaan Besar Republik Indonesia di London tempat di mana ia mengawasi langsung keselamatan putrinya ia sangat mengenal tabiat Ziva. Gadis itu tidak mungkin pergi begitu saja tanpa pamit atau memberi kabar pada orang tuanya.

"Aris juga sudah dihubungi berulang kali, tapi ponselnya tidak bisa diakses, kan?" ujar Bramantyo dengan suara rendah namun tajam. "Katanya pemuda itu sedang mendapat tugas mendadak ke Eropa Timur. Situasi ini sama sekali tidak wajar, Ajeng. Ziva tidak mungkin menghilang tanpa jejak kecuali ada sesuatu yang memaksa atau menyembunyikannya."

"Apa sebaiknya kita lapor pihak berwajib saja?" isak Ajeng tertahan, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi. "Atau... atau kita datangi langsung kediaman Jenderal Gibran Mahendra? Bukankah Aris itu keponakan kesayangannya? Mungkin saja Jenderal Gibran tahu di mana keberadaan tunangan keponakannya sendiri."

Mendengar nama Gibran disebut, rahang Bramantyo serta-merta mengeras kuat. Hubungan antara keluarga mereka dan sang Letnan Jenderal komando itu memang selalu terjaga dalam koridor yang kaku, formal, dan berjarak, terlebih setelah skandal perceraian sensasional Gibran dengan Anindita mencuat ke permukaan beberapa waktu lalu. Namun, insting kebapakan mendesak Bramantyo untuk mengambil langkah konkrit.

"Besok pagi-pagi sekali, saya akan mendatangi Markas Besar," tegas Bramantyo dengan nada absolut. "Saya harus menemui Jenderal Gibran secara langsung. Pasti ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi di balik semua kejanggalan ini."

Jauh dari jangkauan kepedihan dan pencarian kedua orang tuanya di luar sana, Ziva justru sedang terkurung dalam sunyi yang mencekam di dalam benteng kediaman Dharmawangsa.

Malam itu, rintik hujan gerimis turun membasahi kawasan ibu kota. Di dalam kamar utama yang luas, Ziva duduk bersimpuh di atas lantai marmer dingin dekat jendela kaca besar, memandangi pantulan bayangan suram dirinya sendiri. Kejadian sore tadi di ruang kerja Gibran masih meninggalkan denyut nyeri dan trauma di dadanya. Ponsel pintarnya telah disita kembali oleh sang Jenderal, membuatnya benar-benar terisolasi dari dunia luar. Tidak ada jalan keluar, tidak ada komunikasi dengan siapa pun, dan tidak ada secercah harapan.

Pintu kamar terdorong terbuka dengan pelan. Sosok Gibran Mahendra melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu baru saja pulang setelah seharian penuh memimpin operasi di Markas Besar, mengenakan mantel panjang yang masih basah oleh terpaan air hujan, sementara topi dinasnya ia letakkan begitu saja di atas meja nakas. Wajah tegasnya tampak menyuratkan kelelahan fisik yang nyata, namun di balik manik mata hitamnya, pendar kepemilikan dan gairah posesif menyala tanpa ampun.

Gibran melepas mantel luarnya, menyisakan kaos hitam ketat berbalut otot lengan yang kokoh. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Ziva, menyamakan tinggi tubuh mereka.

"Kenapa kamu kembali melewatkan makan malammu, Ziva?" suara Gibran terdengar rendah, bernada sabar namun bermuatan mutlak. "Mbok Nah melapor kalau porsi makananmu di bawah sama sekali tidak disentuh."

Ziva mendongak perlahan. Manik mata indahnya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria di depannya tanpa secercah rasa takut yang tersisa di sana hanyalah bara kemarahan dan keputusasaan yang mendalam. "Untuk apa aku makan? Supaya aku punya cukup tenaga untuk terus hidup sebagai boneka pajangan di rumah ini? Om sudah merampas seluruh kebebasanku, Om menyekap aku di tempat terkutuk ini!"

"Saya tidak sedang menyekapmu, Ziva. Saya sedang melindungimu," sanggah Gibran dengan tenang. Jemari kekarnya terulur hendak menyentuh pipi Ziva, namun Ziva langsung menepis tangan itu dengan kasar.

"Melindungi dari siapa?! Dari orang tuaku sendiri?!" suara Ziva meninggi, napasnya memburu tak beraturan. "Ayah dan ibuku pasti sedang mencariku setengah mati sekarang! Sudah tiga minggu aku tidak memberikan kabar ke rumah sejak kepulanganku dari London! Kalau mereka tahu aku disekap di sini... kalau Ayah tahu apa bajingan yang Om lakukan padaku..."

Kalimat tertahan Ziva terputus seketika saat rahang Gibran mendadak mengeras kaku. Pria itu dengan gerakan kilat meraih kedua pergelangan tangan Ziva, mencengkeramnya dengan kuat namun tetap terukur, lalu menarik gadis itu untuk berdiri menghadapnya.

"Orang tuamu tidak akan pernah tahu di mana keberadaanmu, kecuali atas izin dari saya," ucap Gibran dingin, setiap kata meluncur penuh penekanan mutlak. "Dan ingat satu hal baik-baik, Ziva. Hubungan kita bukanlah konsumsi publik. Jika keluargamu mulai ikut campur dan mencoba melacak urusan ini, mereka hanya akan terseret masuk ke dalam pusaran badai yang tidak akan pernah sanggup mereka kendalikan."

"Om pria yang egois dan kejam!" air mata Ziva tumpah ruah membasahi pipinya. "Om menghancurkan hidup mantan istri Om, sekarang Om menghancurkan hidupku, dan Om memanipulasi Aris! Apa di dalam dada Om sudah tidak tersisa sedikit pun rasa bersalah?!"

Gibran tertegun sejenak. Mendengar rentetan nama-nama itu disebut bayang-bayang masa lalu yang kelam serta keponakan yang terpaksa ia singkirkan jauh tidak membuat cengkeramannya mengendur sedikit pun. Sebaliknya, Gibran justru semakin menarik tubuh Ziva mendekat, merengkuh pinggang gadis itu erat-erat hingga tak tersisa celah udara di antara dada bidang mereka.

"Rasa bersalah saya sudah mati sejak pertama kali saya memilih untuk tidak melepaskanmu untuk kedua kalinya," bisik Gibran tepat di daun telinga Ziva, suaranya berubah serak, pekat, dan sarat akan dahaga kepemilikan yang gelap. "Kamu boleh membenci saya separuh mati, Ziva. Kamu boleh terus memanggil saya monster setiap detik dalam tarikan napasmu. Tapi di dalam pelukan saya... sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa lari ke mana pun."

Ziva terisak tertahan dalam dekapan erat yang menyesakkan dada itu. Ia sadar sepenuhnya, pria di hadapannya ini sama sekali tidak sedang menggertak. Di balik dinding tinggi kediaman Dharmawangsa, sang Jenderal telah menegakkan hukumnya sendiri sebuah hukum mutlak di mana Ziva adalah satu-satunya tawanan jiwa yang takkan pernah diizinkan melihat pintu keluar.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!