“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kebetulan
Aluna pulang ke rumah dengan perasaan kesal. Ia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Sayang, sini Mama lihat. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Kata Rafa semalam kamu nabrak?"
Pertanyaan Mamanya terdengar penuh kekhawatiran begitu melihat putri satu-satunya itu masuk ke dalam rumah. Dengan cepat ia menghampiri Aluna dan memeriksa kondisinya dari atas sampai bawah.
"Aluna nggak apa-apa, Ma. Aluna yang nggak sengaja nabrak orang."
"Terus gimana orangnya? Rafa udah jelasin semuanya tadi malam lewat telepon, tapi Mama nggak bisa tenang kalau nggak dengar langsung dari kamu."
"Orang yang Aluna tabrak juga baik-baik aja, Ma. Cuma kecelakaan kecil. Mobilnya Rafa sama mobil orang itu aja yang baret dan penyok sedikit."
"Beneran nggak apa-apa, kan? Mulai sekarang kamu nggak boleh deh keluar tanpa sopir, ya. Mama khawatir, Sayang."
"Ma... Aluna bukan anak kecil lagi."
"Nggak ada penolakan, Aluna. Kemarin Mama setuju kamu udah boleh bawa mobil sendiri, tapi lihat, kamu baru beberapa minggu bawa mobil sendiri malah jadi begini."
Wajah Aluna berubah menjadi kesal melihat bagaimana dirinya kembali diatur oleh Mamanya.
"Sedewasa ini masih harus diatur harus ini itu sama orangtua?"
Pikir Aluna kesal.
Ia menatap Mamanya dengan tatapan kecewa lalu berjalan melewatinya. Aluna tahu betul tidak akan ada gunanya jika ia terus berdebat dengan Mamanya.
***
Di kantor, Rafa baru saja keluar dari ruang meeting setelah selesai diperkenalkan sebagai wakil direktur yang baru.
Dengan proporsi tubuhnya yang atletis serta fitur wajah yang tegas, Rafa langsung menjadi pusat perhatian saat melangkah menuju ruangannya.
Suara bisik-bisik pun mulai terdengar samar saat ia melewati beberapa meja karyawan di sana.
"Jadi itu anaknya pemilik perusahaan?"
"Katanya dia baru aja pulang dari Singapura."
"Ganteng banget. Jadi semangat kerja deh kalau atasannya seganteng itu."
Dan masih banyak lagi perbincangan yang tidak bisa ditangkap oleh telinga Rafa.
Ia hanya terus berjalan menuju ruangannya dengan wajah tegas dan penuh wibawa.
***
Malam harinya di rumah Aluna, gadis itu masih betah mengurung dirinya di dalam kamar.
Ia masih merajuk karena izin menyetir sendirinya dicabut oleh Mamanya. Padahal ia sudah mati-matian memohon pada Papa dan Mamanya agar diizinkan menyetir sendiri.
Sangat risih baginya jika di luar rumah pun ia masih harus diikuti dan diperhatikan oleh orang lain.
Satu-satunya kebebasan yang ia rasakan hanyalah saat keluar dari rumah dan membawa mobilnya sendiri ke tempat-tempat yang ia inginkan.
Hanya dirinya sendiri.
Tidak ada orang lain di sekitarnya yang terus memperhatikan gerak-geriknya, mengaturnya, dan mengkhawatirkannya secara berlebihan.
Toktok.
"Alunaa, makan malam dulu, Sayang."
Suara ketukan pintu diiringi panggilan dari luar kamar membuat Aluna segera bangkit dari tempat tidurnya.
Dengan langkah malas, ia berjalan menuju pintu.
Saat kakak sulungnya lewat, Abraham langsung ditahan oleh Mamanya.
"Bang Abra, panggil adeknya turun makan malam, ya. Mama mau panggil Papa dulu."
Pinta Mamanya, tetapi Abraham langsung menggelengkan kepalanya.
"Mama aja. Teman aku udah sampai di depan." Kata Abraham sebelum berlalu begitu saja.
"Al..."
Baru saja Mamanya ingin mengetuk pintu kamar Aluna lagi, pintu itu sudah terbuka dan menampakkan Aluna dari dalam.
"Aluna nggak lapar, Ma. Kalian aja yang makan malam."
"Makan dulu. Siang tadi kamu juga nggak makan, loh."
Bujuk Mamanya, meski di telinga Aluna kalimat itu terdengar lebih seperti sebuah perintah.
"Ck. Ya udah, aku ganti baju dulu." Kesal Aluna sambil memutar bola matanya.
"Mama tunggu di bawah, ya."
Mamanya kemudian mencium pipi putri kesayangannya itu sebelum beranjak meninggalkan kamar.
***
Setelah mengganti bajunya, Aluna turun menyusul Mamanya untuk makan malam.
Namun kekesalannya yang sejak tadi belum hilang justru bertambah saat melihat Kai yang entah bagaimana bisa ada di rumahnya.
"Masuk, Kai. Gue kenalin sama keluarga gue, ya." Ajak Abraham dengan wajah antusias.
"Loh, lo..." Aluna langsung menunjuk Kai dengan tatapan sinis saat mereka berpapasan di bawah.
"Kamu kenal Kai?" tanya Abraham pada adiknya.
Namun Aluna tidak menjawab pertanyaan kakaknya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Kai yang tampak sama kagetnya.
"Gue yang harusnya nanya. Orang ini rumah gue." Jawab Aluna sewot, seolah langsung beralih ke mode perang saat melihat Kai tiba-tiba berada di rumahnya.
"Lo kenal sama adek gue?" Kali ini Abraham bertanya pada Kai.
"Adek lo?"
Kai seakan tidak percaya bahwa gadis yang berdebat dengannya sejak semalam ternyata adalah adik dari sahabatnya sendiri.
"Iya, adek gue. Aluna, kenalin." Abraham kembali memperkenalkan keduanya.
Namun Aluna dan Kai hanya saling menatap dengan tatapan penuh peperangan yang seolah hanya bisa dirasakan oleh mereka berdua.
"Teman Kak Abra?" Tanya Aluna masih tidak percaya.
"Iya, Al. Kai ini baru aja balik dari luar negeri kemarin, jadi Kakak undang ke rumah." Jawab Abraham memperkenalkan Kai pada adiknya.
"Sedekat itu sampai diundang ke rumah, Kak?"
Sangat jelas jika Aluna tidak menyukai laki-laki yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Seperti saudara malah."
Aluna menatap kakaknya dengan tidak percaya.
"Sama dia?"
Kali ini ia menatap Kai dengan tatapan meremehkan, seakan ingin menelan laki-laki itu hidup-hidup.
"Yang sopan, Aluna. Dia teman Kakak, loh. Artinya dia lebih tua juga dari kamu." Tegur Abraham karena tidak suka melihat sikap adiknya terhadap sahabatnya.
"Tuh denger. Yang sopan." Ejek Kai, berusaha terlihat tidak terusik dengan sikap Aluna.
"Ayo, Kai. Masuk, Mama udah nungguin."
Abraham berjalan lebih dahulu dan diikuti Kai dari belakang.
Namun sebelum masuk ke dalam, Kai sempat berbalik menatap Aluna.
Sebuah smirk menyebalkan muncul di wajahnya.
Aluna langsung memasang wajah kesal.
"Kok gue nggak tahu Kak Abra punya sahabat sedekat itu? Malah si tantrum Kai lagi sahabatannya." gumamnya lalu ikut menyusul keduanya ke meja makan.
***
Aluna, Abraham, Kai, dan kedua orangtuanya kini sudah duduk bersama di meja makan.
Kai disambut dengan begitu hangat oleh kedua orangtua Aluna sebagai sahabat putra sulung mereka.
"Makan yang banyak, ya, Kai. Anggap rumah sendiri. Abra selalu cerita banyak tentang kamu, loh."
Kai tersenyum saat mendapatkan keramahan dari Mama sahabatnya itu.
Entah kenapa, kehangatan yang diberikan keluarga Abraham membuat hatinya terasa nyaman.
"Aluna, makan, Sayang. Jangan diaduk-aduk aja makanannya." Tegur Mamanya saat melihat putrinya hampir tidak menyentuh makan malamnya.
"Tuan putrinya Papa lagi bad mood, ya?" Tanya Papanya yang menyadari Aluna terlihat tidak bersemangat.
Mendengar kata tuan putri, Kai refleks menahan senyumnya.
Namun Aluna tetap bisa melihat jika laki-laki itu sedang menertawainya.
"Ngapain senyum-senyum?" Tanya Aluna dengan tatapan sinis.
Kakak dan kedua orangtuanya langsung terkejut karena Aluna tiba-tiba membentak tamu mereka.
"Aluna." Tegur Abraham membuat Aluna kembali terdiam.
Ia lalu menatap Kai dengan tatapan tajam, sementara Kai justru membalasnya dengan senyum seolah sedang mengejek.
"Oh iya, kamu nggak apa-apa? Kata Rafa semalam kamu nabrak."
Aluna menatap Papanya yang juga ikut bertanya seperti Mamanya pagi tadi.
"Nggak apa-apa, Pa." Jawab Aluna malas karena terus ditanyakan tentang keadaannya.
"Dia nggak apa-apa. Mobil orang aja yang dibuat penyok sama dia." Celetuk Kai tiba-tiba.
Aluna langsung menatapnya tajam sedangkan yang lain menatap kai dengan tatapan heran karena ia yang menjawab pertanyaan Papanya Aluna.
"Terus kamu tanggung jawab, kan, sama orangnya?" Tanya Papanya lagi tanpa menyadari bahwa orang yang sedang dibicarakan duduk tepat di depan mereka.
"Kata orangnya nggak perlu."
"Terus orangnya gimana? Dia ada yang luka nggak?"
"Baik-baik aja, Pa. Tuh orangnya lagi makan sama kita."
"Hah?"
Pembicaraan mengenai kecelakaan kecil semalam itu langsung membuat semua orang yang ada di sana terkejut, kecuali Kai yang memang terlibat langsung dalam kejadian tersebut.
"Saya nggak apa-apa, Om. Kebetulan yang ditabrak sama adeknya Abra semalam itu... saya." Ucap Kai agar mereka semua merasa tenang.
"Ya ampun, Aluna... Maaf ya, Nak Kai. Anak Tante memang baru dikasih izin nyetir mobil sendiri."
Mendengar Mamanya begitu heboh setelah tahu bahwa Kai adalah orang yang ditabrak oleh putrinya membuat Aluna memutar bola matanya malas.
Diam-diam, Kai memperhatikan gerak-gerik Aluna yang tampak tidak suka setiap kali Papa atau Mamanya mengkhawatirkannya.
"Nggak apa-apa, Tante. Mobilnya juga udah dibawa ke bengkel kok." Jawab Kai sambil tersenyum meyakinkan.
"Bisa kalem juga dia bicaranya." Batin Aluna heran.
Karena yang ia tahu, sekali Kai membuka mulut, laki-laki itu selalu berhasil membuat moodnya turun.