SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: KEMBALI KE RUMAH YANG SEPI
Lampu-lampu jalanan kota besar yang membiaskan pendar kuning keemasan mulai menyala satu per satu saat sedan hitam Devan melaju tenang membelah sisa kemacetan Sabtu malam. Di dalam kabin mobil yang hangat dan harum aroma kayu cendana, keheningan terasa begitu pekat namun menenangkan. Musik instrumen ber-volume rendah berputar halus, menyamarkan desis pendingin udara yang berhembus konstan.
Aluna menyandarkan kepalanya di sandaran kursi penumpang. Gaun kasual warna pastel yang ia kenakan sedikit kusut setelah seharian menemaninya melangkah melintasi keramaian pusat perbelanjaan dan dinginnya studio bioskop. Jemari tangannya yang mungil masih tertaut erat dalam genggaman tangan kiri Devan di atas tuas transmisi.
Kebebasan sesaat yang mereka nikmati di luar sana terasa bagaikan mimpi manis yang teramat singkat. Namun kini, bayang-bayang kenyataan kembali merayap saat mobil Devan berbelok memasuki gerbang kompleks perumahan mereka yang tenang.
"Sudah sampai," bisik Devan pelan seraya memperlambat laju mobilnya saat berbelok masuk ke pelataran rumah.
Devan mematikan mesin mobil. Seketika, keheningan malam yang sunyi menyergap interior sedan tersebut. Rumah berlantai dua di hadapan mereka tampak gelap dan mati; hanya lampu teras dan area garasi yang menyala terang, menandakan bahwa Ayah Danu dan Ibu memang belum kembali dari perjalanan dinas mereka di Bandung.
Aluna memandangi fasad rumah yang tinggi itu dengan helaan napas berat. Ada rasa lega karena tidak perlu berhadapan dengan tatapan selidik Ibu malam ini, tetapi ada pula desiran cemas yang perlahan merayap naik saat menyadari hanya akan ada mereka berdua di dalam rumah seluas ini hingga esok sore.
"Kenapa melamun?" tanya Devan rendah. Pria itu melepaskan sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Aluna di dalam keremangan interior mobil.
Aluna menoleh, menatap iris mata cokelat gelap Devan yang selalu berhasil menyedot seluruh fokusnya. "Aku cuma... kepikiran besok waktu Ayah sama Ibu pulang, Kak. Rasanya capek harus pura-pura asing lagi di depan mereka."
Devan tidak langsung menjawab. Jemari tangannya terulur mengusap lembut pipi Aluna yang halus, menyusuri garis rahang adiknya dengan kelembutan yang teramat posesif.
"Malam ini tidak ada Ayah atau Ibu," bisik Devan serak, suaranya sarat akan intonasi berat yang seketika membuat detak jantung Aluna berakselerasi liar. "Malam ini cuma ada kita berdua, Aluna. Jangan pikirkan hal lain selain aku."
Sebelum Aluna sempat merespons, Devan menunduk dan membungkam bibirnya dengan ciuman yang mendalam dan hangat. Pagutan Devan kali ini terasa begitu lambat namun penuh penumpahan rasa lega—sebuah penumpahan atas dahaga keintiman yang selama seminggu ini terbelenggu oleh aturan dan pengawasan rumah.
Aluna mencengkeram kain kemeja santai Devan di bagian dada, membiarkan dirinya ditarik sepenuhnya ke dalam pusaran perasaan terlarang itu. Rasa takut, cemas, dan kelelahan yang membebani pikirannya sirna seketika di bawah kendali sang kakak tiri.
Ketika Devan akhirnya merenggangkan pagutan mereka, napas Aluna sudah memburu halus dengan bibir merona basah. Devan terkekeh rendah—sebuah kekehan menawan yang memancarkan dominasi mutlak. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar, lalu membukakan pintu untuk Aluna dan menggandeng tangan adiknya menyusuri pelataran menuju pintu utama.
Cklek.
Pintu kayu jati yang tebal itu terbuka dan terkunci kembali dari dalam. Di balik dinding rumah yang sunyi dan tanpa pengawasan siapa pun malam ini, Devan merengkuh pinggang Aluna rapat-rapat, siap menghabiskan sisa malam tanpa ada satu orang pun yang mampu menghalangi mereka.
Atmosfer rumah yang sepi tanpa orang tua makin bikin deg-degan ya! 😁