Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Bertemu Nyi Weling Mestika
Bagaga Alam bangun dari meditasi nya ketika mencium aroma kopi yang wangi. Mungkin karena Ni Kirana menaruh kopi panas didekat Bagaga Alam.
Perlahan Pandeka Pedang Suling Kumala membuka matanya. Sosok cantik dan bohay persis berada di depannya dan merunduk kearah Bagaga Alam, menaruh semangkuk bubur.
"He...? Kamu membuat bubur Ni Kirana ?"
"Iya kang mas. Rasanya sudah sangat kangen makan pagi dengan semangkuk bubur." Jawab Ni Kirana dan tersenyum manis. Namun kemudian gadis itu tertegun, dan berucap.
"Maaf Kang mas Bagaga, apakah engkau tidak suka makan bubur ?"
"Tidak apa-apa, terimakasih. Kamu pagi sekali sudah repot."
"Aku senang melakukan semua ini untuk Kang mas."
"Dimana Danang Wesi ?"
"Dia sepertinya pergi membersihkan diri, setelah tadi berlatih."
"Hee...? Apakah kali ini aku bangun kesiangan ?"
Ni Kirana tidak menjawab, gadis cantik yang bohay itu tersenyum penuh pengertian.
Setelah mereka selesai makan pagi bersama. Danang Wesi berkata.
"Lewat siang nanti kita akan tiba didesa Rawang. Kita akan mencari penginapan. Besoknya kita menuju desa besar dan asri, desa Tirto Asri.
Kita akan singgah di pertapaan Ki Buyut Tirta Mulya."
"Kenapa kita harus bertemu dengan Ki Buyut Tirta Mulya ?"
"Oh maaf Tuan. Kita memang harus melewati desa Tirto Asri dalam perjalanan kita. Butuh waktu sekitar tiga hari untuk sampai di desa Tirto Asri dari desa Rawang.
Ki Buyut Tirta Mulya adalah panasepuh desa Tirto Asri. Ayahanda Ki Ageng, memang menyuruh kita menemui Ki Buyut Tirta Mulya."
Ketika matahari naik setinggi penggalan. Mereka meninggalkan pondok singgah. Seperti biasa, Danang Wesi memimpin jalan. Bagaga Alam dan Ni Kirana mengikuti dibelakang.
Dua hari telah terlewati dengan cepat. Tidak ada hal hal besar yang terjadi. Saat ini mereka memasuki hutan Kamojing yang sangat angker. Karena di kedalaman hutan Kamojing merupakan tempat tinggal siluman ular.
Begitu memasuki hutan Kamojing, Bagaga Alam merasakan perbedaan hawa. "Kenapa hutan ini terasa berbeda Kirana ?"
Gadis cantik dan bohay itu melirik sekilas kearah Bagaga Alam. "Ini adalah hutan Kamojing, Kang mas Bagaga. Hutan ini merupakan wilayah kekuasaan Nyi Weling Mestika."
"Siapa itu Nyi Weling Mestika ?"
"Sssssttt... Jangan keras-keras menyebut nama Nyi Weling Mestika."
Bagaga Alam melihat kepada Ni Kirana dan mengangkat kedua alis matanya. Ni Kirana mengangguk dan menjelaskan. Suara gadis itu terdengar lirih tiap menyebut Nyi Weling Mestika.
"Nyi Weling Mestika adalah siluman ular, penguasa hutan Kamojing ini kang mas."
Bagaga Alam mengangguk. Dia melihat wajah cantik Ni Kirana jadi gelisah. Pria muda tampan dan sakti itu tersenyum menenangkan.
"Tidak akan terjadi apapun pada kita disini Kirana. Tenangkan hati mu." Bagaga Alam berucap dengan santai.
Danang Wesi menjalankan kudanya dengan lebih berhati hati. Dia tidak memacu kuda seperti biasa. Bukan karena apa apa. Itu adalah wujud penghargaan kepada Nyi Weling Mestika sang penguasa hutan Kamojing.
Perjalanan menyusuri terasa lebih seram. Bagaga Alam menggeleng kecil. Dia menemukan hal baru. Penduduk Jawa Dwipa ini ternyata sangat mensangkralkan hal hal seperti itu.
Mereka terus berjalan dengan lebih pelan. Mereka tidak berhenti untuk beristirahat istirahat siang. Menjelang senja, mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah telaga kecil yang disebut Telogo warno. Dinamakan Telogo warno karena selalu ada bias pelangi dipermukaan telaga bila sinar matahari jatuh dipermukaan telaga.
Danang Wesi mengumpulkan berbagai buah-buahan hutan untuk makan malam. Bagaga Alam hanya melihat semua itu dalam diam. Kemudian pria muda tampan yang dipanggil sebagai Pendekar Super sakti oleh para pendekar puncak dari dataran Tionggoan memilih untuk melakukan meditasi.
Danang Wesi hanya membuat api unggun kecil untuk menerangi malam. Malam di hutan Kamojing amat sangat gelap. Tidak ada bulan ataupun bintang di langit.
"Kang Danang, kenapa tidak ada bulan ataupun bintang di langit. Apakah menurut kang Danang akan turun hujan malam ini ?"
"Bisa jadi yayi Kirana. Karena dari tadi langit memang agak mendung bukan."
"Wah jika sampai hujan tu...."
Blaaaaarrr....!!
Belum selesai Ni Kirana bicara. Terdengar bunyi petir yang sangat keras. Kilatan cahaya tajam melintas membelah kegelapan. Serasa langit hendak runtuh.
Tanpa sadar, Ni Kirana merapat kepada Bagaga Alam. Tangan gadis cantik yang bohay itu memegang paha Bagaga Alam yang tengah melakukan meditasi.
Hujan deras turun tiba-tiba dari langit. Sangat deras dan besar seperti ditumpahkan dari langit.
Danang Wesi langsung basah kuyup. Dia melihat kearah Bagaga Alam. Dia melihat tidak percaya. Bagaimana tidak kaget dan ternganga. Hujan yang begitu deras ternyata tidak menyentuh Bagaga Alam. Setetes pun tidak ada air hujan yang menyentuh tubuh Bagaga Alam. Bahkan Ni Kirana yang berada disebelah Bagaga Alam juga tidak tersentuh hujan. Mungkin karena tangan gadis itu masih berada di atas paha Bagaga Alam.
Bagaimana mungkin....??
Danang Wesi benar benar tidak habis pikir. Dia merasa malu sendiri. Ternyata meskipun dia telah merasa Bagaga Alam adalah seorang yang sangat sakti. Tapi rasa rasanya jauh lebih sakti dari yang dia bayangkan.
Bahkan kakek gurunya Maharesi Parwita masih terkena hujan. Pasti itu.
Tiba-tiba... Diantara derasnya suara hujan yang turun. Bagaga Alam mendengar suara desissan yang sangat halus. Juga pria muda itu mendengar pergerakan yang sangat halus dan ringan.
Bagaga Alam langsung waspada dan menyebar persepsi bathin nya yang sangat kuat. "Danang Wesi, mendekat lah kesini."
Danang Wesi mendekat kepada Bagaga Alam. Api unggun kecil yang dia buat telah padam diguyur hujan. Malam sangat gelap gulita. Namun Bagaga masih bisa melihat dengan jelas. Selain energi mendalam nya yang sangat besar. Kekuatan bathinnya juga berada ditingkat yang sangat tinggi. Perpaduan energi mendalam dan kekuatan bathin yang sangat tinggi. Membantu Bagaga untuk tetap bisa melihat dengan jelas dimalam gelap gulita.
Bagaga Alam telah melihat ratusan ular merayap menuju mereka. Dengan kemampuan dirinya yang sangat tinggi. Bagaga membuat dinding energi pelindung yang melindungi mereka sejauh lima belas tombak.
Ratusan ular yang datang tertahan. Mereka tidak bisa melewati dinding energi pembatas yang dibuat oleh Bagaga Alam.
Blaaaaarrr....!!
Ledakan keras kembali terdengar. Lintasan kilat membelah malam dan menerangi tempat itu sesaat.
Aaaahhhh....!!
Ni Kirana menjerit kaget melihat ratusan, bukan, mungkin ribuan ular telah mengelilingi mereka. Ular ular itu berukuran besar dan kecil namun dengan satu kesamaan. Semua adalah ular ular beracun.
Diiing... Diiing....
Terdengar suara bergema ketika ular itu menabrak dinding pembatas yang dibuat Bagaga Alam. Namun tidak satupun yang mampu menembus.
Dalam kegelapan itu. Tiba-tiba terdengar suara lembut.
"Siapakah kamu pemuda tampan. Apa yang kau lakukan di hutan yang menjadi wilayah kekuasaan ku ?"
Bagaga Alam dengan jelas melihat seekor ular besar bewarna hitam putih belang belang mengangkat tinggi kepalanya menatap Bagaga Alam.
"Malam Nyi Weling Mestika. Kami hanya kemalaman dan tertimpa hujan saat beristirahat."
Blaaaaarrr....!!
Sekali lagi terdengar ledakan ketika kilatan petir melintas. Pada saat itu Danang Wesi dan Ni Kirana melihat sosok wanita yang sangat cantik dengan penampilan yang sangat aduhai.
Bibir Danang Wesi dan Ni Kirana sama bergetar. Lirih dan agak serak terdengar suara mereka menyebut Nyi Weling Mestika....
"Tahukah kalian kesalahan yang telah kalian lakukan ?"
"Aku tidak mengerti apa maksud mu Nyi." Bagaga Alam berkata dengan suara yang tetap tenang.
"Kau telah menyakiti rakyat ku dengan membuat dinding energi pembatas ini."
"Oh itu. Ini hanyalah dinding pembatas yang paling lemah. Dinding pembatas ini tidak akan menyakiti atau melukai siapapun. Kecuali ada yang memaksa dan menabrak dinding pembatas ini dengan keras."
Nyi Weling Mestika mendesis agak keras mengungkapkan rasa tidak puas. Dia merasa direndahkan dengan ucapan Bagaga Alam. Bahwa dinding energi pembatas itu hanyalah dinding pembatas tingkat rendah.
\=\=\=\=\=***\=©