Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Genta sama sekali tidak merespons, matanya justru sibuk mengamati keindahan halaman rumah yang luasnya mengalahkan lapangan sepak bola.
Ada taman bunga mawar yang tertata rapi, air mancur marmer yang megah, dan deretan mobil mewah yang harganya pasti tidak masuk akal.
Genta kemudian dibawa masuk ke sebuah ruangan tunggu kecil di paviliun depan, terpisah dari kemegahan bangunan utama.
Dia duduk diam di atas kursi kayu berukir, membiarkan air hujan terus menetes dari celananya dan membuat genangan kecil di lantai marmer yang mengkilap.
Satu jam berlalu dalam kesunyian, tidak ada teh hangat atau sekadar handuk kering yang diberikan kepadanya.
Genta mulai merasakan perutnya berbunyi nyaring karena dia belum memasukkan sepeser makanan pun sejak kemarin sore.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi yang tergesa-gesa dari arah koridor penghubung.
Seorang wanita paruh baya dengan balutan gaun sutra dan kalung berlian mencolok masuk ke ruangan dengan wajah merah padam.
Dia adalah Nyonya Ratna, ibu kandung dari Kiara yang terkenal gila harta.
Di belakangnya, Kiara berjalan mengikuti dengan langkah elegan, wajahnya tetap beku seperti manekin.
"Jadi ini rupa gembel rendahan yang mengaku membawa pesan dari gunung itu?!" bentak Ratna seketika sambil menunjuk tepat ke hidung Genta.
Genta segera berdiri dari duduknya, mencoba menunjukkan rasa hormat dan sopan santun yang diajarkan gurunya.
"Benar Nyonya, namaku Genta, saya adalah murid tunggal dari..."
"Tutup mulut busukmu, aku tidak peduli siapa namamu dan dari lubang mana kau berasal!" teriak Ratna memotong ucapan Genta dengan suara melengking.
"Mana surat itu? Serahkan padaku sekarang juga!"
Genta menatap mata wanita arogan itu sejenak, menekan emosinya dalam-dalam sebelum menyerahkan amplop cokelat yang basah tersebut.
Ratna merampas amplop itu dengan gerakan kasar menggunakan dua ujung jarinya, seolah takut kulitnya akan tertular penyakit kusta.
Dia merobek ujung amplop dengan paksa dan menarik paksa secarik kertas usang yang berisi tulisan tangan pudar bercampur bercak darah kering.
Mata Ratna bergerak cepat membaca isi surat wasiat itu, dan urat-urat di lehernya perlahan bermunculan menahan amarah.
"Omong kosong macam apa ini!" jerit Ratna murka hingga suaranya bergema di ruangan.
"Orang tua bangka dari gunung itu benar-benar berniat menghancurkan masa depan putri kesayanganku!"
Ratna meremas surat peninggalan itu tanpa belas kasihan dan melemparkannya dengan keras tepat ke wajah Genta.
Genta terdiam kaku saat gumpalan kertas peninggalan orang yang paling disayanginya itu membentur pipinya dan jatuh berguling ke lantai.
Hatinya terasa diremas kuat, rasa nyeri bercampur amarah perlahan mendidih di dalam darahnya melihat wasiat terakhir gurunya diperlakukan seperti sampah.
"Nyonya, surat itu ditulis oleh Guruku dengan sisa darah dan napas terakhirnya di ranjang kematian," ucap Genta dengan nada suara rendah namun penuh penekanan.
"Tolong tunjukkan sedikit saja rasa hormat sebagai sesama manusia."
"Hormat?!" Ratna malah tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sangat mengejek dan merendahkan.
"Kenapa aku harus menghormati penipu tua yang telah membohongi ayah mertuaku belasan tahun lalu?"
"Dengar baik-baik ya, gembel kotor, perjanjian konyol antara Kakek Kiara dan gurumu itu tidak akan pernah menjadi kenyataan!"
"Keluarga Prameswari lebih baik hancur daripada harus menerima menantu seorang gelandangan miskin dan bodoh sepertimu!"
Kiara yang sejak tadi hanya diam menonton akhirnya melangkah maju mendekati Genta.
Aroma parfum mewahnya langsung menyerbak, seketika mengalahkan bau hujan dan keringat yang melekat di tubuh Genta.
"Genta, atau siapapun namamu itu," ucap Kiara memulai bicaranya dengan nada yang sangat merendahkan.
"Kakekku saat ini sedang koma di ruang ICU rumah sakit, hidupnya seratus persen bergantung pada mesin."
"Dia memang pernah membuat janji gila di masa lalu untuk menikahkan cucu perempuannya dengan murid dari tabib gunung yang pernah menyelamatkan nyawanya."
"Tapi coba kau lihat baik-baik pantulan dirimu di cermin."
Kiara memindai sosok Genta dari ujung rambut yang lepek hingga ke sandal jepitnya yang putus.
"Kau bahkan tidak terlihat seperti laki-laki yang bisa memberi makan dirimu sendiri."
"Bagaimana mungkin orang cacat sosial sepertimu bisa menjadi suami dari seorang CEO Prameswari Group?"
Genta balas menatap mata indah Kiara dengan sangat tenang, tidak ada sedikitpun rasa rendah diri di matanya.
"Aku datang jauh-jauh ke sini bukan untuk mengemis cinta apalagi menagih janji pernikahan denganmu, Nona Kiara."
"Aku murni hanya menjalankan amanat terakhir mendiang Guruku."
"Jika kalian berdua memang menolak janji itu, katakan saja secara resmi tertulis, dan aku akan angkat kaki dari rumah ini detik ini juga."
Ratna mendengus sinis layaknya ular yang sedang mendesis mendengar keberanian Genta.
"Angkat kaki katamu? Jangan mimpi kau bisa lari seenaknya!"
"Berita tentang Kakek Kiara yang mengirim surat panggilan untuk calon cucu menantunya dari kampung sudah bocor ke telinga seluruh keluarga besar."
"Paman-paman Kiara yang serakah itu sedang mencari celah untuk merebut kursi presiden direktur jika wasiat kakek tidak dijalankan sesuai aturan."
"Jadi kau tidak bisa pergi begitu saja dari sini, dasar gembel pembawa sial!"
Genta perlahan mengerutkan keningnya, otaknya yang cerdas mulai memahami situasi kotor politik internal keluarga ini.
"Lalu apa mau kalian sebenarnya dariku?" tanya Genta langsung pada intinya.
Kiara menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Genta layaknya menatap seekor semut.
"Kita akan tetap melangsungkan pernikahan ini di atas kertas secepatnya."
"Ini semua murni hanya alat untuk membungkam mulut keluarga besar dan mencegah pamanku merebut perusahaan."
"Tapi ingat ini baik-baik, jangan pernah berharap kau bisa menyentuhku, berbicara denganku di publik, apalagi tidur di kamar yang sama denganku."
"Kau di rumah ini hanyalah pion rendahan dalam permainanku."