Sejak kematian ibunya, hidup Kayla berubah menjadi neraka. Diambil oleh keluarga paman yang serakah demi warisan yang menjadi haknya, gadis kecil itu tumbuh bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai budak, samsak tinju, dan sasaran hinaan selama bertahun-tahun. Dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.
Lalu takdir mengetuk lewat cara yang paling kejam. Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu menukar Kayla sebagai pengantin—menyerahkannya kepada Arkan Pratama, bos mafia paling ditakuti di kota, sebagai pengganti putri kandung mereka yang sesungguhnya. Malam pertama mereka mengungkap sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: gadis rapuh penuh luka ini bukanlah perempuan yang Arkan kira.
Lelaki yang datang untuk membalas dendam justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—seseorang yang ingin ia lindungi dengan segenap kegelapannya. Sementara Kayla perlahan belajar mengeja dunia, tertawa, dan mencintai, roda pembalasan mulai berputar. Dan mereka yang pernah memadamkan cahayanya… akan segera menuai ganjaran setimpal.
Bisakah cinta menyembuhkan jiwa yang telah remuk? Dan seberapa jauh seorang mafia rela melangkah demi perempuan yang menangis air mata jiwa untuk sampai kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Total
"Aku melihatnya di televisi," aku Kayla sambil tertawa geli.
Sungguh membahagiakan melihat gadis itu sedikit demi sedikit menemukan kembali dirinya sendiri. Lagi pula, Arkan perlahan berhasil memikat hatinya. Setiap hari Marni menyaksikan lelaki itu membawakan sesuatu untuk Kayla, dan ia menyadari betapa Kayla menyukai bunga.
Arkan pun tampak cekatan mengajak Kayla ke taman, sebab hal seperti itu pun tak pernah gadis itu miliki sebelumnya. Kebahagiaan Kayla saat menggenggam setangkai bunga tak luput dari perhatian seorang lelaki yang diam-diam menaruh hati. Kini, hari demi hari, Arkan mengunjunginya dengan setangkai mawar.
"Kau suka pada suamimu?" tanya Marni jenaka.
"Iya, dia sangat tampan, dan aku suka waktu dia menggandeng tanganku," Kayla mengakuinya sambil mengingat betapa dekat Arkan waktu itu—jantungnya sampai serasa mau melompat keluar.
Arkan tersenyum mendengar kata-kata itu dari balik pintu, tempat ia sengaja berhenti agar Kayla terus mengungkapkan isi hatinya.
KANTOR KASINO
"Tuan, yang saya katakan itu benar. Kita kehilangan banyak sekali investasi… saham anjlok, saya sendiri tak mengerti bagaimana bisa. Para rekan dan klien kita menarik diri. Bank menutup rekening mereka, rekening kita dibekukan, dan tak ada lagi yang mau berinvestasi."
"Tidak! Pasti ada kesalahan," seru Ferdinand, wajahnya kehilangan warna, napasnya seakan tercekat.
"Coba lagi," katanya, benar-benar putus asa.
"Tuan, kami sudah mencoba berkali-kali," jelas bawahannya penuh keputusasaan, ingin rasanya lari dari tempat itu.
"Tidak, ini tidak mungkin terjadi padaku. Ini pasti Arkan, aku tahu. Mafia keparat—padahal aku sudah menyerahkan apa yang dia tuntut."
Tapi kehancurannya belum usai. Justru baru saja dimulai.
Teleponnya berdering. Melihat panggilan itu dari kasino pertamanya, ia ingin tahu apa yang terjadi.
"Katakan," jawabnya, menanti kabar buruk berikutnya.
"Bos, kasino terbakar. Pemadam kebakaran sudah tiba, tapi sejujurnya saya rasa tak ada yang tersisa."
"Yah, setidaknya asuransi akan mengganti kerugian."
"Anda tidak mau memperpanjangnya. Setelah masa berlakunya habis, polis sudah tak menanggung apa-apa. Ini kerugian total."
Ferdinand terjatuh ke kursinya. Ia tamat. Ia bangkrut. Ia bahkan tak menghiraukan telepon dari istrinya, yang sedang bermain kartu bersama teman-temannya. Kartu Vera ditolak, dan perempuan itu histeris—ia baru saja menanggung rasa malu dan hinaan terburuk di hadapan teman-teman sosialitanya.
PROPERTI PRATAMA
Di sebuah sel berjeruji karat dalam ruangan sempit, seorang lelaki celingukan ke segala arah. Sejak pagi ia diculik dan dijebloskan ke kandang kumuh berukuran tak lebih dari empat kali empat meter itu. Ia tak tahu apa yang mereka inginkan darinya, apalagi siapa mereka.
Tapi ia takkan lama lagi mengetahuinya. Arkan sedang mengurus perkara lain yang lebih penting. Para tawanan telah diantar ke sebuah hotel transit, tempat empat lelaki yang ditemukan di terowongan itu dipindahkan.
Dua orang yang sakit dirawat di klinik swasta, sebab lebih dahulu Arkan ingin bertanya kenapa lelaki itu mengurung mereka. Di hotel itu ada seorang lelaki yang tak melewatkan satu detail pun.
"Aku membebaskan kalian untuk mencari tahu apa yang terjadi—kenapa lelaki itu mengurung kalian. Apa persoalan kalian dengannya?"
Yang pertama bicara seorang lelaki dengan tinju terkepal.
"Aku pasti membunuhnya, anjing terkutuk itu." Rahangnya bergemeletuk sebelum kebencian memancar dari matanya.
"Aku memergokinya hendak mencabuli istriku. Dia mengancam, kalau istriku tak menuruti kemauannya, dia akan merampas toko kelontongku. Waktu aku menantangnya, para gorila suruhannya menghajarku habis-habisan."
"Waktu aku sadar, aku sudah berada di sel gelap terkutuk bersama dua orang lain." Ia mengarahkan pandangannya kepada dua lelaki yang ia ingat.
"Aku sudah sekitar sebulan di sana," ujar salah satu yang ditunjuknya. "Bajingan itu menipu sepasang lansia, dan aku mengalami hal serupa waktu mengancam akan melaporkannya ke pihak berwajib."
Begitu seterusnya, satu demi satu, kasusnya sama saja. Sampai giliran Gunawan Masen. Ia bangkit, sedikit limbung karena tubuhnya lemah.
"Dulu aku datang dari Surabaya setiap bulan demi Kayla kecil, untuk membuat laporan tentang keadaan gadis itu." Ia mengangkat kepala. "Sejak bulan pertama, aku sudah melihat kesedihan tipis di wajahnya." Ia mengembuskan napas. "Aku tolol. Buktinya ada di depan mata, tapi kubiarkan berlalu—kukira itu wajar karena berpindah rumah." Ia meninju dinding. "Aku gagal sebagai agen pengawas," sesalnya.
"Sekarang aku tak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, yang tentu kini sudah dewasa."
"Dia istriku," ucap Arkan, membuat Gunawan tertegun. "Nanti kita bicarakan soal itu. Untuk saat ini, aku hanya ingin memastikan kalian akan mendapatkan keadilan."
"Kami ingin melihatnya di balik jeruji."
"Itu terlalu ringan untuk yang pantas diterima monster keparat itu," Arkan menggeram penuh benci. "Dia akan bebas dalam waktu singkat—hukum butuh bukti yang kuat, sedangkan tak ada satu pun laporan. Dia membunuh adikku, dan menghancurkan jiwa serta tubuh perempuan yang kini menjadi istriku." Ia berkata dengan senyum yang tak sampai ke matanya.
"Kau… akan mengambil keadilan dengan tanganmu sendiri?" Gunawan bertanya sambil berpikir.
"Aku akan menghancurkannya, sampai dia berharap lebih baik mati. Di penjara, dia takkan pernah membayar lunas semua kejahatannya."
Gunawan seorang penegak hukum, tapi kali ini ia setuju. Lelaki yang disebut sang bos itu adalah penyalahguna kuasa, dan segala kejahatannya takkan pernah terbayar cukup hanya dengan masuk penjara.
Arkan yakin tak ada lagi yang kurang, maka ia menyerahkan berkas foto yang diambil sebagai bukti luka-luka di tubuh Kayla. Ia tak ingin menunjukkan semuanya—ia tahu itu saja sudah cukup. Hanya lengan, kaki, dan punggung.
Mantan agen itu menutup mulutnya untuk menahan keterkejutannya.
"Bunuh dia dengan cara paling kejam," Gunawan geram. Lelaki itu binatang.
"Bukan hanya dia yang menyakitinya," Arkan mengaku sambil mengenang. Masih banyak yang harus ia lakukan.
"Putri dan istrinya juga ikut ambil bagian dengan tak kalah kejam. Putrinya sudah kutahan. Tinggal sedikit lagi untuk menuntaskan mereka semua."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Arkan mengangguk.
"Bagaimana kau bisa membuat mereka menyerahkan Kayla?"
Arkan mendengus.
"Si tolol itu mencoba mengakaliku. Sebagai balas dendam, kuminta putrinya untuk kunikahi—sebagai ganti tak kubunuh dia, setelah kutunjukkan bahwa aku tahu dia menyiksa dan membunuh adikku. Dia, karena curiga aku akan membalas dendam lewat putri kesayangannya, malah menukarnya dengan Kayla." Wajahnya menggelap saat mengingat perlakuannya sendiri terhadap gadis itu.
"Putri kandungnya ia kirim ke luar negeri, ke Paris, agar aman dariku." Ia tersenyum tanpa sadar. "Kini gadis itu sudah ada di sini, terkurung."