Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kicau burung terdengar merdu dari taman belakang kediaman utama keluarga Wegan.
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar tidur Luna yang sangat besar dan mewah.
Luna membuka matanya pelan-pelan dan menatap langit-langit kamar yang dilukis dengan gambar awan cerah.
"Aku masih di istana besar, ternyata ini bukan mimpi yang indah saja," gumam Luna sambil tersenyum lebar.
Gadis kecil itu bangkit duduk di atas kasur empuknya dan memeluk bantal guling erat-erat.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan Nabila masuk membawa sebuah nampan berisi segelas susu hangat dan biskuit.
"Selamat pagi, putri kesayangan Mama," sapa Nabila dengan wajah yang sangat cerah dan bahagia.
"Selamat pagi juga, Mama," jawab Luna dengan suara khas anak kecil yang baru bangun tidur.
Nabila berjalan mendekat dan meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping ranjang kereta labu.
"Ayo minum susunya dulu biar badanmu kuat dan cepat besar," bujuk Nabila menyodorkan gelas kaca itu.
Luna menerima gelas susu itu dengan kedua tangannya dan meminumnya sampai habis tidak tersisa setetes pun.
"Habis ini kita mandi yang bersih ya, Papa sudah menunggu di bawah untuk pergi jalan-jalan," ucap Nabila merapikan rambut anak kandungnya.
"Kita mau jalan-jalan ke mana, Mama? Apakah Luna harus pergi mencari uang setoran lagi?" tanya Luna dengan wajah mendadak panik.
Nabila langsung memeluk putrinya erat-erat untuk menghilangkan rasa takut yang masih tersisa dari masa lalu itu.
"Tidak sayang, kamu tidak perlu cari uang di jalanan lagi sampai kapan pun," jelas Nabila dengan sangat sabar.
"Kita mau pergi ke mall besar untuk beli baju, mainan, dan sepatu baru untukmu hari ini," tambah Nabila tersenyum.
"Beli baju baru lagi untuk Luna? Tapi lemari di sana sudah penuh baju bagus dari Mama semalam," tolak Luna menunjuk lemari besarnya.
"Baju di lemari itu masih kurang banyak sayang, Papa mau membelikan seluruh isi toko untuk putri kecilnya," jawab Nabila tertawa pelan.
Luna hanya bisa mengedipkan mata bulatnya karena dia sama sekali tidak mengerti konsep berbelanja orang super kaya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Luna turun ke lantai satu digandeng oleh ibunya.
Leon sudah berdiri di ruang tamu mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat sangat berwibawa dan tampan.
"Tuan putri Papa sudah cantik sekali pagi ini, ayo kita berangkat sekarang," sapa Leon langsung mengangkat tubuh Luna ke dalam gendongannya.
"Kita naik mobil besar yang kemarin lagi ya Papa?" tanya Luna mengalungkan lengannya di leher Leon.
"Tentu saja sayang, mobil paling besar dan paling aman khusus untuk menjagamu," jawab Leon mencium pipi tembam putrinya.
Leon menyetir mobil SUV mewahnya sendiri dengan Nabila duduk di kursi depan menemaninya.
Sementara Luna duduk di kursi belakang ditemani tumpukan bantal empuk dan sabuk pengaman khusus anak-anak.
Ngiung ngiung.
Suara sirine dari mobil pengawal mengikuti tepat di belakang mereka untuk memastikan keamanan keluarga konglomerat tersebut.
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan ibu kota menuju pusat perbelanjaan paling elit dan mahal di negara ini.
Mall ini adalah mall yang sama tempat mereka bertemu kemarin, tapi kali ini nasib Luna sudah sangat jauh berbeda.
Sampai di area parkir khusus VIP, para pelayan mall dan petugas keamanan langsung berbaris menunduk hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Leon dan Nyonya Nabila," sapa manajer mall itu dengan keringat dingin di dahinya.
Manajer itu sangat takut karena kemarin ada kejadian satpam membentak anak ini, namun satpam itu sudah dipecat semalam.
Ting.
Pintu lift khusus VIP terbuka di lantai tiga yang isinya hanya butik baju anak dari desainer terkenal luar negeri.
Leon melangkah keluar dari lift sambil terus menggendong Luna di lengan kirinya yang kuat.
Manajer butik langsung berlari menyambut kedatangan Leon dan Nabila dengan senyum yang sangat lebar.
"Selamat pagi Tuan Wegan, Nyonya Wegan. Kami sudah menutup butik ini khusus untuk keluarga Anda hari ini," lapor manajer itu membungkuk.
"Bagus pekerjaanku. Keluarkan semua koleksi terbaru kalian ukuran anak enam tahun ke depan sini," perintah Leon menurunkan Luna ke lantai karpet.
Luna menatap deretan gaun berkilau di depannya dengan mulut terbuka saking takjubnya.
"Papa, baju ini harganya berapa? Pasti lebih dari dua ratus ribu ya?" tanya Luna menunjuk sebuah gaun berenda emas di patung.
Manajer butik itu tersenyum canggung dan sedikit bingung mendengar pertanyaan polos Luna tentang harga yang sangat murah itu.
"Gaun itu harganya lima puluh juta rupiah, Nona Kecil," jawab manajer itu dengan sangat sopan menundukkan badan.
Mata Luna langsung membelalak sangat lebar seolah bola matanya mau melompat keluar dari tempatnya.
"Lima puluh juta?! Uang sebanyak itu bisa buat beli nasi telur dadar satu gerobak penuh!" jerit Luna menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Leon dan Nabila tertawa terbahak-bahak mendengar perbandingan polos dari putri kesayangan mereka.
"Kamu boleh beli gaun itu sayang, beli seratus potong juga Papa akan bayar lunas hari ini juga," ucap Leon mengusap kepala Luna.
"Tidak mau Papa! Baju ini harganya terlalu mahal, Luna takut merusaknya nanti kalau dipakai main lari-larian di rumah," tolak Luna menggeleng kuat.
"Kalau bajunya rusak tinggal dibuang ke tempat sampah dan kita beli yang baru besok," jelas Leon dengan sangat santai.
"Papa punya banyak uang yang tidak akan habis sampai kamu jadi nenek-nenek," tambah Leon meyakinkan putrinya.
"Bungkus semua baju di rak sebelah kanan dan kiri, aku beli semuanya tanpa terkecuali," perintah Nabila pada pelayan butik di dekatnya.
Pelayan butik itu langsung berlarian mengemas ratusan baju mahal tersebut tanpa banyak bertanya lagi.
"Mama, itu bajunya terlalu banyak! Luna badannya cuma satu tidak bisa pakai baju sebanyak itu setiap hari!" protes Luna menarik tangan Nabila.
"Nanti kamu bisa ganti baju tiga kali sehari sayang, biar kamu selalu wangi dan cantik seperti putri raja," jawab Nabila mencubit pipi putrinya dengan gemas.
Sementara Luna sedang sibuk mencoba berbagai macam sepatu kaca bersama ibunya, ponsel Leon tiba-tiba bergetar dari saku celananya.
Drrt drrt.
Leon mengangkat telepon dari Asisten Budi sambil berjalan menjauh sedikit dari istri dan anaknya agar obrolan mereka tidak terdengar.
"Bagaimana laporannya pagi ini Budi?" tanya Leon dengan nada suara yang kembali menjadi sangat dingin dan kejam.
"Tuan Besar, berita kebangkrutan perusahaan Nyonya Rosalina sudah masuk ke semua saluran berita pagi ini," lapor Asisten Budi dari seberang telepon.
"Semua bank sudah menyita rumah mewahnya dan membekukan semua rekening pribadinya satu jam yang lalu secara paksa," tambah Budi dengan nada puas.
"Lalu di mana wanita tua bangka itu sekarang?" tanya Leon menyeringai puas membayangkan penderitaan tantenya.
"Dia sedang mengamuk di depan bank cabang pusat karena diusir oleh satpam saat mencoba menarik uang tunainya," jawab Budi menahan tawa.
"Bagus sekali kinerjamu. Pastikan tidak ada satu pun stasiun televisi yang melewatkan berita memalukan itu hari ini," perintah Leon.
"Biar semua musuh bisnisku melihat dengan mata kepala mereka sendiri apa akibatnya kalau berani menyentuh keluarga Wegan," lanjutnya dengan aura mematikan yang kental.
Di saat yang sama, di gedung-gedung perkantoran mewah lainnya di seluruh penjuru ibu kota, para CEO sedang duduk gemetar ketakutan.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget