Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pernikahan sang Mafia
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Minggu pagi, gereja Katedral St. Patrick di tengah kota New York yang sangat megah dan bersejarah itu dihias dengan sangat mewah. Ribuan bunga mawar putih dan merah menghiasi setiap sudut gereja. Karpet merah terbentang panjang dari pintu masuk sampai altar.
Di luar gereja, puluhan mobil Rolls Royce dan Lamborghini hitam berjejer rapi. Ratusan penjaga Mafia bersenjata lengkap dengan jas hitam menjaga setiap pintu masuk. Tidak ada satu pun wartawan yang boleh masuk, karena ini adalah pernikahan Mafia yang sangat rahasia dan sakral.
Di dalam gereja, 200 tamu undangan yang semuanya adalah bos-bos Mafia terbesar dari seluruh Amerika, Italia, dan Rusia sudah duduk dengan rapi. Mereka semua memakai jas mahal dan gaun mewah. Semua menahan napas menunggu kedatangan pengantin.
Di ruang belakang gereja, Elena duduk di depan cermin besar. Dia memakai gaun pengantin putih baru yang aman dari racun itu. Gaun dengan ekor panjang 3 meter bertabur berlian asli itu membuatnya terlihat seperti seorang ratu sejati. Rambut pirangnya ditata dengan sanggul elegan dengan mahkota berlian kecil. Wajahnya yang cantik dirias sangat natural tapi mempesona. Di lehernya ada kalung berlian hadiah dari Lorenzo.
Di sebelahnya ada Bi Inem, pelayan tua dari Indonesia yang sudah Elena anggap seperti ibunya sendiri.
"Nona Elena, cantik sekali... seperti bidadari..." kata Bi Inem sambil menangis terharu.
Elena tersenyum tapi tangannya gemetar hebat. "Bi, saya gugup sekali... bagaimana kalau nanti saya jatuh? Bagaimana kalau saya salah ngomong janji pernikahannya?"
Bi Inem memeluk Elena. "Tidak akan, Nona. Tuan Muda Lorenzo sangat mencintai Nona. Dia akan menuntun Nona. Percaya sama Bi."
Tiba-tiba pintu ruang belakang terbuka. Lorenzo masuk dengan jas tuxedo hitam yang sangat mahal dan gagah. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, tato naga di lehernya terlihat jelas dan justru menambah kegantengannya. Dia terlihat seperti pangeran Mafia dari dongeng.
Semua pelayan yang ada di ruangan langsung keluar memberi mereka berdua waktu berduaan.
Lorenzo berjalan mendekati Elena. Matanya tidak berkedip menatap Elena dari atas sampai bawah.
"Ya Tuhan... Elena..." kata Lorenzo dengan suara pelan dan sedikit bergetar. Untuk pertama kalinya, Tuan Muda Mafia yang terkenal dingin itu terlihat gugup dan terharu.
"Kamu... kamu cantik sekali... jauh lebih cantik dari bidadari mana pun yang pernah saya lihat..." kata Lorenzo.
Elena berdiri dengan malu. Pipi putihnya merah merona. "Tuan Lorenzo juga ganteng sekali hari ini... seperti pangeran..."
Lorenzo mengambil tangan Elena yang gemetar dan menciumnya dengan lembut.
"Kamu masih memanggil saya Tuan? Mulai hari ini, panggil saya suamimu. Atau Lorenzo saja," bisik Lorenzo.
Elena mengangguk malu. "Iya... Lorenzo..."
Lorenzo memeluk Elena dengan hati-hati supaya tidak merusak gaun pengantinnya.
"Jangan gugup, Elena. Hari ini adalah hari bahagia kita. Setelah hari ini, kamu resmi menjadi Nyonya De Luca. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita. Bahkan kematian sekalipun," kata Lorenzo.
Musik pernikahan mulai terdengar dari dalam gereja. Itu tandanya acara akan segera dimulai.
Thomas masuk dengan tergesa-gesa. "Tuan Muda, Nona Elena, sudah waktunya. Semua tamu sudah menunggu."
Lorenzo mengangguk dan menggandeng tangan Elena dengan erat. Mereka berjalan keluar dari ruang belakang menuju pintu besar gereja.
Begitu pintu besar gereja St. Patrick terbuka, semua mata tertuju pada mereka.
Elena berjalan di karpet merah dengan gaun pengantin berekor panjang yang dipegang oleh 4 anak kecil pembawa bunga. Di sampingnya, Lorenzo berjalan dengan gagah sambil menggandeng tangan Elena. Pasangan itu terlihat sangat serasi. Ganteng dan cantik, seperti pasangan di cover novel yang Mommy buat.
Semua tamu berbisik kagum.
"Cantik sekali pengantinnya!"
"Ganteng sekali Tuan Muda De Luca!"
"Mereka sangat serasi!"
Di altar, seorang Pastor tua sudah menunggu dengan buku suci.
Elena dan Lorenzo berdiri berhadapan di depan Pastor. Tangan mereka saling menggenggam.
Pastor memulai upacara pernikahan dengan bahasa Inggris dan sedikit bahasa Italia.
"Lorenzo De Luca, apakah kamu bersedia mengambil Elena Rossi sebagai istri sah kamu, untuk mencintai, melindungi, dan menjaganya dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan?" tanya Pastor.
Lorenzo menatap mata biru Elena dengan dalam. Mata hitamnya yang biasanya dingin sekarang penuh dengan cinta.
"Saya bersedia. Saya, Lorenzo De Luca, bersumpah di depan Tuhan dan di depan tato naga ini, saya akan mencintai dan melindungi Elena Rossi seumur hidup saya. Saya akan menjadi naga pelindungnya selamanya," kata Lorenzo dengan suara lantang dan tegas.
Semua tamu terharu mendengar sumpah Lorenzo yang tidak biasa itu.
Pastor kemudian menatap Elena.
"Elena Rossi, apakah kamu bersedia mengambil Lorenzo De Luca sebagai suami sah kamu, untuk mencintai, menemaninya, dan menjadi pendampingnya dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan?" tanya Pastor.
Elena menangis. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Dia menatap wajah ganteng Lorenzo yang ada di depannya, wajah yang sama seperti di cover novelnya.
"Saya bersedia. Saya, Elena Rossi, bersedia menjadi istri Lorenzo De Luca. Saya bersedia menjadi Pembantu Tawanan Tuan Muda Mafia seumur hidup saya. Saya akan mencintai Lorenzo selamanya," kata Elena dengan suara bergetar tapi penuh ketulusan.
Pastor tersenyum. "Dengan kuasa yang diberikan Tuhan kepada saya, saya nyatakan kalian berdua sekarang resmi menjadi suami dan istri! Lorenzo, kamu boleh mencium pengantinmu!"
Satu gereja langsung bersorak meriah.
Lorenzo mengangkat cadar pengantin Elena dengan perlahan. Dia menatap wajah cantik Elena yang menangis bahagia.
"Selamat datang di hidup saya, Nyonya De Luca," bisik Lorenzo.
Lorenzo mencium bibir Elena dengan lembut dan penuh cinta di depan 200 bos Mafia. Ciuman pertama mereka sebagai suami istri. Ciuman yang sangat romantis dan sakral.
Semua tamu bertepuk tangan dan bersorak.
"HIDUP PENGANTIN BARU! HIDUP TUAN DAN NYONYA DE LUCA!"
Setelah upacara di gereja, pesta pernikahan dilanjutkan di mansion De Luca yang sudah dihias seperti istana kerajaan. Ada kue pengantin 7 tingkat, ada band, ada kembang api.
Di tengah pesta, Lorenzo membawa Elena ke balkon lantai dua yang sepi. Dari balkon itu terlihat pemandangan kota New York di malam hari yang indah dengan lampu-lampu, persis seperti background di cover novel.
Lorenzo memeluk Elena dari belakang.
"Bagaimana perasaan Nyonya De Luca malam ini?" tanya Lorenzo sambil mencium rambut pirang Elena.
Elena bersandar di dada Lorenzo. "Bahagia sekali... saya tidak pernah membayangkan seorang pembantu seperti saya bisa menikah dengan Tuan Muda Mafia seganteng Tuan... eh, seganteng kamu, Lorenzo..."
Lorenzo tertawa kecil. Tawa bahagia yang jarang sekali dia keluarkan.
"Kamu bukan pembantu lagi, Elena. Kamu adalah istri saya. Ratu saya. Dan malam ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri," bisik Lorenzo dengan nada romantis dan sedikit nakal.
Wajah Elena langsung merah padam mendengar kata malam pertama.
"Lorenzo..."
Lorenzo menggendong Elena dengan gaya bridal style, seperti menggendong pengantin. Elena melingkarkan tangannya di leher Lorenzo yang bertato naga itu.
"Ayo, Nyonya De Luca, kita masuk ke kamar. Kamar pengantin kita sudah menunggu," kata Lorenzo sambil berjalan masuk ke kamar utama.
Di luar, kembang api New York meledak dengan indah di langit malam, merayakan pernikahan Mafia paling romantis tahun ini.
Tapi di kejauhan, di sebuah gedung tua yang menghadap ke mansion De Luca, terlihat bayangan seorang pria tua dengan cerutu. Itu adalah Don Roberto Moretti yang belum menyerah. Dia sedang menelepon seseorang dengan wajah penuh dendam.
"Pernikahan sudah selesai. Sekarang mulai rencana B. Culik Nyonya De Luca itu saat bulan madu mereka!" kata Don Roberto.
Bahaya belum berakhir untuk Elena dan Lorenzo.