Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Penyesalan di Ujung Malam
Jarum jam dinding bergaya vintage di dalam penthouse mewah Julian Thorne telah menunjukkan pukul dua belas malam, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan yang normal di tempat itu. Hujan rintik-rintik kembali mengguyur kota, menetes perlahan di kaca jendela raksasa yang menyajikan pemandangan kelap-kelip lampu metropolis sebuah kota yang baru pagi tadi terasa berada di dalam genggaman Julian, namun kini telah berubah menjadi neraka.
Kondisi penthouse itu sangat berantakan. Botol-botol wine mahal berserakan di lantai karpet Persia, beberapa di antaranya pecah menyisakan noda merah pekat yang terlihat seperti darah. Di tengah kekacauan itu, Julian Thorne duduk meringkuk di sudut sofa. Kemeja sutranya kusut masai, dasinya sudah ditarik lepas, dan rambutnya yang selalu tertata rapi kini acak-acakan. Matanya merah, menatap kosong ke arah layar ponselnya yang mati.
Sejak sore tadi, semua akses keuangannya telah dibekukan. Ayahnya sedang diinterogasi oleh pihak berwenang atas puluhan tuduhan pencucian uang dan penipuan pajak. Para pengawal elit yang ia sewa siang tadi telah melarikan diri begitu mendengar bahwa aset Yayasan Thorne disita oleh konsorsium Drake Tucker. Pewaris yang dulunya sangat arogan itu kini tidak lebih dari seekor tikus yang menunggu giliran untuk dibantai.
Dari arah kamar tidur utama, Elena melangkah keluar dengan perlahan. Ia mengenakan jubah tidur berbahan sutra, merapatkan kerahnya karena udara malam yang tiba-tiba terasa sangat menggigit. Wajah cantik dekan fakultas seni itu terlihat sangat kuyu dan pucat. Kantung matanya menghitam akibat tangisan dan teror yang tak berkesudahan sejak ia melihat Arthur di ruang kelas pagi tadi.
Elena mendekati sofa dan duduk di jarak yang aman dari Julian. Ia mencoba menyentuh bahu pria itu dengan tangan gemetar.
"Julian..." panggil Elena lirih. "Tolong berhentilah minum. Kita harus memikirkan jalan keluar. P-pasti ada teman ayahmu atau politisi yang bisa kita hubungi untuk membantu kita keluar dari negara ini. Kita bisa memulai semuanya dari awal."
Alih-alih mendapatkan pelukan hangat atau kata-kata penenang, respons Julian justru sebaliknya. Tubuh pria itu menegang. Saat menatap wajah Elena, gelombang amarah seketika muncul dan langsung memenuhi dadanya. Namun, ini bukanlah amarah seorang ksatria yang melindungi wanitanya; ini adalah amarah seorang pengecut yang mencari kambing hitam atas kehancurannya.
Dengan kasar, Julian menepis tangan Elena hingga wanita itu tersentak mundur.
"Memulai dari awal?!" raung Julian, suaranya serak dan pecah. Ia berdiri, melempar gelas kristalnya ke perapian hingga hancur berkeping-keping. "Dengan apa kita memulai dari awal, hah?! Seluruh hartaku habis! Yayasan keluargaku dirampas! Teman-teman ayahku memblokir nomorku seolah aku ini menderita kusta mematikan!"
Elena memundurkan tubuhnya, ketakutan melihat kilat kebencian di mata pria yang selama ini selalu memanjakannya dengan barang mewah. "J-Julian, tenangkan dirimu... Aku ada di sini bersamamu—"
"TUTUP MULUTMU, JALANG!" bentak Julian dengan urat leher yang menonjol. Ia melangkah maju, mencengkeram kerah jubah Elena dan menarik wanita itu hingga berdiri. Napasnya yang bau alkohol menerpa wajah Elena. "Ini semua salahmu! Jika kau tidak menikah dengan iblis itu, jika kau tidak membawanya kembali ke kehidupanku, aku masih akan menjadi pangeran di kota ini! Kau bilang dia hanya gembel! Kau bilang dia hanya pecundang miskin! Tapi karena dirimu, aku telah mengusik seorang dewa kematian!"
Air mata Elena tumpah seketika. "Aku tidak tahu, Julian! Aku bersumpah aku tidak tahu siapa dia sebenarnya! Tolong, jangan lakukan ini padaku. Aku telah mengorbankan pernikahanku demi dirimu!"
Julian tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa sumbang yang dipenuhi keputusasaan dan kekejaman. Ia mendorong Elena dengan kasar hingga wanita itu terjatuh ke atas karpet.
"Mengorbankan pernikahanmu demi aku? Jangan munafik, Elena. Kau mengkhianati suamimu karena kau gila harta. Kau hanyalah mainan mahal yang kugunakan untuk menghabiskan waktuku di kampus," cibir Julian dengan bibir melengkung jijik. "Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Di mataku, kau sama tidak bergunanya dengan debu di sepatuku. Sekarang setelah aku tidak punya apa-apa, keberadaanmu hanya mengundang petaka bagiku!"
Kata-kata itu menghantam dada Elena lebih keras dari pukulan fisik mana pun. Matanya terbelalak menatap monster pengecut yang bersembunyi di balik jas mahal pria itu.
"Keluar dari tempatku," desis Julian sambil menunjuk ke arah pintu depan penthouse. "Pergi ke neraka, Elena. Jangan pernah memunculkan wajah pembawa sialmu itu di depanku lagi. Jika Arthur Summers datang mencariku, aku akan menyerahkanmu padanya agar dia mencabik-cabikmu terlebih dahulu!"
"Julian, di luar sedang hujan... aku tidak punya tempat untuk pergi," isak Elena memohon, harga dirinya telah hancur sepenuhnya.
"KELUAR!"
Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang telah hancur berkeping-keping, Elena merangkak bangun. Sambil menangis tersedu-sedu, ia mengambil mantel tipisnya dan berjalan terseok-seok keluar dari penthouse, diiringi bantingan pintu yang sangat keras dari belakangnya.
Lorong apartemen mewah itu terasa sangat dingin. Elena berjalan tanpa arah, air matanya tak berhenti mengalir membasahi wajah cantiknya. Ia menekan tombol lift dan turun ke lantai dasar. Ketika ia melangkah keluar dari lobi gedung, angin malam dan rintik hujan langsung menyapu tubuh rapuhnya. Ia berdiri di bawah kanopi gedung, memeluk dirinya sendiri yang menggigil kedinginan.
Di bawah temaram lampu jalan, pikiran Elena melayang kembali pada rentetan peristiwa dalam dua puluh empat jam terakhir.
Malam sebelumnya, ia masih berada di puncak keangkuhan, tertawa di dalam pelukan Julian, meremehkan pria yang telah berjanji mencintainya seumur hidup. Saat itu, ketika Arthur mendobrak pintu dan memergokinya, Elena teringat jelas sorot mata suaminya. Perasaan pria itu sangat hancur melihat wanita yang dirindukannya justru mementingkan dirinya sendiri.
Elena kini menyadari betapa dalam luka yang ia torehkan. Arthur baru saja kembali dari neraka perbatasan hanya untuknya, namun Arthur justru harus dihadapkan pada kenyataan pahit. Suaminya pasti bertanya-tanya, apakah selama ini Elena hanya memanfaatkannya dan lebih memilih bersenang-senang dengan para pria bejat di belakangnya? Saat melihat pengkhianatan itu, Arthur pasti mempertanyakan isi hatinya; mungkinkah selama ini dia telah salah menilai wanita itu?
Kini, karma itu berbalik menghantam Elena dengan telak. Mungkinkah selama ini Elena yang salah menilai suaminya?
Ya. Sangat salah.
Arthur bukanlah pria rendahan yang tidak bisa memberikannya masa depan. Arthur adalah seorang raja, seorang Jenderal yang memiliki kekuatan untuk menenggelamkan kekaisaran konglomerat hanya dalam hitungan jam. Dan yang paling menyakitkan bagi Elena bukanlah fakta bahwa Arthur kaya raya atau berkuasa, melainkan fakta bahwa pria sekuat dan sesempurna itu pernah tunduk merendah, menutupi identitasnya, dan rela hidup sederhana murni hanya karena ia mencintai Elena.
Dulu, ketika mereka pertama kali menikah di sebuah rumah kecil sebelum Arthur pergi bertugas, pria itu pernah memegang tangannya di tengah hujan deras. Arthur menutupi tubuh Elena dengan jaketnya agar wanita itu tidak kedinginan. Arthur berjanji akan memberikan seluruh dunia untuknya.
Dan malam ini, di tengah hujan yang sama, pria yang Elena pilih untuk menggantikan Arthur justru mengusirnya seperti anjing kurus.
Kaki Elena akhirnya melemas. Ia merosot jatuh ke aspal basah di depan gedung apartemen itu, membiarkan gaun sutranya kotor oleh lumpur. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan berteriak, menangis sejadi-jadinya, meratapi kebodohannya sendiri. Ia telah menukar sebuah berlian abadi yang tak ternilai harganya dengan sekeping kaca murahan yang kini melukai tangannya sendiri hingga berdarah.
"Maafkan aku, Arthur... Aku sangat menyesal..." rintih Elena di sela-sela tangisnya yang memilukan. Namun sayangnya, di dunia yang dipimpin oleh sang Jenderal, penyesalan adalah sebuah mata uang yang tidak ada harganya.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...