"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Sindiran maut
"Mas Zidan!"
Panggilan bernada manja itu terdengar di lobi rumah sakit.
Melodi berjalan anggun menghampiri Zidan tepat saat jam makan siang tiba. Gaun elegan yang membalut tubuhnya serta riasan wajah yang sempurna membuat beberapa staf rumah sakit sempat menoleh mengaguminya.
Perfect!
Itulah julukan yang pantas untuk Melodi. Karena wanita itu memang sangat cantik, ditambah lagi dukungan dari kulitnya yang terawat. Bisa dikatakan dia bahkan jauh lebih cantik kalau dibandingkan dengan model-model berkelas.
Sangat jauh berbeda dengan Humaira yang tidak sebanding sama sekali, bagaikan langit dan bumi.
Zidan yang melihat kehadiran Melodi seketika menghentikan langkahnya. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya.
"Kamu dari mana?" tanya Zidan lembut seraya melangkah mendekat.
"Dari rumah, dari mana lagi?" sahut Melodi. Tanpa permisi, ia langsung merapat dan memeluk lengan Zidan dengan sangat erat, memamerkan kedekatan mereka di tengah lalu lalang koridor rumah sakit.
"Keluar makan siang, yuk? Aku kangen banget makan bareng Kamu," ajak Melodi menatap Zidan penuh cinta.
Zidan mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam yang melingkar di sana. Sebenarnya, tumpukan berkas pasien dan laporan bulanan di meja kerjanya masih menumpuk menanti tanda tangan.
Namun, wajah Melodi yang memohon, Zidan sama sekali tak bisa menolaknya.
"Hmm, baiklah. Kamu mau makan di mana?" tanya Zidan menuruti keinginan wanita itu.
"Di tempat biasa, dong," ujar Melodi girang, lalu menyandarkan kepalanya dengan penuh manja di lengan Zidan.
"Baiklah, aku ikut kamu saja,"
Mereka hendak melangkah. Tiba-tiba keduanya berpapasan dengan Humaira dari arah berlawanan.
Melihat Zidan dan Melodi yang berdiri bergandengan mesra, tak ada riak cemburu di wajah Humaira.
Wanita itu hanya menundukkan kepala. Berpura-pura tidak melihat keberadaan mereka dan ingin melangkah melewati pasangan itu.
Sikap dingin dan acuh Humaira ternyata memancing kekesalan Melodi.
Sebelum Humaira sempat melintasi mereka, dengan gerakan cepat Melodi mencengkeram dan menarik lengan Humaira sedikit kasar hingga langkah wanita hamil itu terhenti.
"Hei!" tegur Melodi dengan tatapan meneliti dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Humaira mengangkat wajahnya. Matanya menatap Melodi. "Ada apa, Tante?" tanya Humaira.
Melodi menyandingkan tangannya di dekat lengan Humaira, memperlihatkan kontras warna kulit mereka yang sangat jauh berbeda.
"Kok kamu dekil banget, sih? Kamu enggak pernah perawatan, ya? Masa baru umur 25 tahun kulit kamu udah kayak gini?" ejek Melodi dengan nada merendahkan.
Humaira hanya diam, berdiri membisu tanpa niat menanggapi celotehan itu sedikit pun.
"Katanya tadi kamu mau makan? Ayo pergi," sela Zidan, berusaha menghentikan Melodi agar tidak memperpanjang keributan di koridor.
"Ih, sebentar dulu, Sayang!" potong Melodi menepis pelan tangan Zidan, lalu melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh.
"Ayah kamu itu kan pejabat, uangnya banyak. Masa kamu enggak dikasih uang sedikit pun buat sekadar perawatan?"
Lagi-lagi, Humaira memilih bungkam. Sama sekali tak terpancing oleh sikap Melodi.
Melihat respon acuh tak acuh itu, emosi Melodi makin tersulut. "Kamu ini punya kuping nggak sih! Apa kau tidak mendengarku!" Melodi mulai terpancing emosi.
"Cukup, Melodi!" tegur Zidan tegas.
Namun Melodi yang berkarakter keras kepala tentu saja tidak peduli. "Nanti dulu, Mas! Aku lagi bicara sama keponakanku!" omel Melodi penuh amarah.
Humaira menatap Melodi datar, lalu bersuara pelan. "Tante sudah selesai bicaranya?"
Pertanyaan sederhana itu langsung memukul gengsi Melodi. Wajahnya yang putih karena perawatan kini memerah menahan amarah yang mendidih. "Berani kamu, ya?!" Seru Melodi.
"Kalau sudah selesai, saya mau masuk dulu," ujar Humaira tenang mulai melangkah.
Tapi baru dua langkah, Humaira mendadak menghentikan kakinya. Ia kembali menoleh ke arah Melodi.
"Umur Tante sekarang berapa?" tanya Humaira tanpa berkedip.
"Jangan sok tanya kamu! Urus saja tubuh dekil mu itu!" bentak Melodi terdengar sengit.
"Cuma penasaran saja. Soalnya muka Tante kelihatan sudah tua, tapi sayangnya, belum punya anak. Cantiknya cuma karena dempul," ujar Humaira pura-pura tersenyum polos seperti sedang meledek Melodi.
"Berani kau Humaira Zahara!!!" Pekik Melodi, membayangkan ingin mencincang-cincang tubuh keponakannya yang kurang ajar itu.
Humaira tak peduli dan terus melangkah pergi setelah puas membuat tantenya hampir mati karena kesal.
"Sudah kubilang, ayo kita pergi makan, tapi kamu malah sibuk ngeladenin Humaira. Ujung-ujungnya kamu sendiri kan yang sakit hati?" ujar Zidan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Melodi.
"Kau bela dia?!" seru Melodi geram, jarinya menunjuk tepat ke wajah Zidan. "Sekarang aku tanya sama kamu... mana yang lebih cantik, aku atau anak dekil itu?!"
"Kau terlalu kekanak-kanakan, Melodi," ucap Zidan, sudah tidak punya energi lagi untuk meladeni drama emosi Melodi yang tak bersudut itu.
Tanpa membuang waktu, pria itu berbalik dan langsung melangkah pergi meninggalkannya, berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
Kedua tangan Melodi mengepal erat di sisi tubuh dengan napas memburu.
Untuk pertama kalinya... kamu mengabaikan aku cuma gara-gara cewek itu! desis Melodi dalam hati, matanya nyalang menatap punggung Zidan yang semakin menjauh.
Mau tidak mau, dengan perasaan mengganjal, Melodi terpaksa menghentakkan kakinya dan melangkah cepat menyusul Zidan dari belakang.
_____
Melodi hanya menusuk-nusuk makanannya dengan garpu tanpa berniat untuk menyantapnya sedikit pun. Padahal, tadi dia yang paling bersemangat mengajak Zidan makan di luar.
"Kapan kau mau makan, Melodi? Kita sudah setengah jam di sini, tapi kau tidak menyentuh sedikitpun makananmu," tegur Zidan lagi-lagi melirik jam tangannya. "Aku masih punya pekerjaan di rumah sakit."
"Aku enggak selera makan gara-gara anak kurang ajar itu!" sungut Melodi berang. "Kok aku merasa dia semakin hari semakin berani, ya?"
Zidan menghela napas. "Sudahlah, Melodi. Kamu itu jauh lebih dewasa dari dia. Masa kamu mau kalah sama dia? Humaira yang masih sangat muda harusnya yang bersikap kekanak-kanakan, tapi kenapa malah kamu yang terlalu kekanak-kanakan?"
"Lagi-lagi kamu membelanya! Kamu sudah enggak sayang lagi kan sama aku, Mas?" tuduh Melodi dengan mata berkaca-kaca, benar-benar tidak terima dengan sudut pandang Zidan yang terkesan memihak Humaira.
Melihat mata Melodi yang mulai menggenang, Zidan meredam emosinya. Ia meletakkan garpunya, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Melodi di atas meja.
"Kamu terlalu banyak berpikir," ujar Zidan lembut, berusaha menenangkan hati wanita di hadapannya. "Aku minta maaf kalau kata-kataku ada yang menyakiti perasaanmu."
"Aku enggak mau dengar kata-kata seperti itu! Aku cuma pengin kamu segera ceraikan dia, Mas!" desak Melodi menatap Zidan.
"Kamu itu sama sekali enggak cocok sama dia. Berdiri di sampingnya saja seperti langit dan bumi. Dia terlalu dekil dan kampungan. Kamu enggak malu bersanding sama dia?"
Ada perasaan tidak senang disudut hati Zidan setiap kali hinaan yang dilontarkan oleh Melodi. Mungkin karena hati nuraninya tergerak dan berpikir kalau Humaira itu istri sahnya, dengan menghina Humaira sama saja menghinanya yang notabe adalah suami dari Humaira.
Namun Zidan menepis perasaan itu. Ia justru mengusap punggung tangan Melodi.
"Aku akan segera menceraikan Humaira seperti yang kamu minta. Jadi, kamu jangan sedih lagi."
Mendengar kepastian itu, raut wajah Melodi seketika berubah cerah. Senyum manis kembali merekah di bibirnya.
"Kamu beneran, Mas? Kamu enggak sekadar janji-janji manis, kan?"
"Iya, kamu tenang saja," janji Zidan.
Namun, tepat setelah kalimat itu terucap dari bibirnya, ingatan Zidan mendadak mengingat ekspresi Humaira saat meledek Melodi di koridor rumah sakit tadi.
Kenapa aku justru mengingat wajahnya? batin Zidan, buru-buru menepis bayangan Humaira dari benaknya.
_____
Jam 7 malam, Humaira baru tiba di kediaman mewah keluarga Zidan. Punggungnya terasa pegal semua usai seharian menjalani aktivitas di rumah sakit.
Sambil terus melangkah, ia menepuk-nepuk ringan bahunya untuk mengurangi rasa pegal.
Namun, begitu melintasi area ruang tengah, langkah Humaira terhenti. Di sana sudah berkumpul Siska—adik kandung Zidan—bersama suaminya dan kedua anak mereka.
Siska tampak sedang bermalas-malasan, berbaring santai seraya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami tanpa mempedulikan suasana sekitar.
"Kau baru pulang?" tanya Siska melirik Humaira dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai.
"Iya," jawab Humaira singkat.
"Aku baru sampai di sini dan ternyata pelayan di rumah ini lagi enggak ada," ujar Siska tanpa merasa bersalah. Ia mengubah posisi duduknya, menatap Humaira dengan tatapan memerintah. "Anak-anakku lapar. Tolong dong, kamu buatkan mereka makanan dulu."
Ternyata, kehadiran Siska di rumah itu bukan tanpa alasan. Siska seumuran dengan Melodi—sama-sama berusia 29 tahun—dan mereka berteman dekat. Siska datang ke sana atas perintah Melodi untuk sengaja membuat Humaira lelah demi bisa balas dendam karena dirumah sakit tadi Humaira sudah berani meledeknya.
"Tapi saya baru saja pulang," tolak Humaira berusaha menahan lelah. "Saya mau mandi dulu."
"Mandi nanti saja! Anak-anak itu dari tadi sudah kelaparan. Buatkan makanan dulu," tahan Siska tak mau tahu.
"Masakkan mereka makanan yang sehat. Pekerjaan kamu di rumah sakit kan perawat, masa mengurus makanan anak-anak saja tidak bisa? Jangan kebiasaan santai dong!" Lanjut Siska.
Mendengar ucapan wanita itu. Mau tidak mau, Humaira terpaksa menurut karena tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Dengan tubuh lelah, dia terpaksa melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makanan bagi kedua anak Siska yang masing-masing berusia 5 tahun dan 2 tahun.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂