Indonesia
NovelToon NovelToon
ISTRI GILA SANG DUKE

ISTRI GILA SANG DUKE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Identitas Tersembunyi
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.

​Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!

​Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. HUKUMAN

Keributan yang luar biasa gaduh itu menggema keluar ruangan, menembus dinding tebal koridor sayap barat.

Tanpa disadari oleh Jane, pelayan wanita satunya, dan Ron, di balik dinding pembatas koridor yang agak gelap, sesosok pria tua berjas hitam rapi berdiri mematung dengan mata terbelalak lebar dan tangan bergetar hebat.

Dia adalah Tuan Alfred, kepala pelayan senior Kediaman Duke Dravenhart.

Alfred yang berniat mengantarkan laporan bulanan dapur pagi itu terkejut mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari mulut Martha dan Ron. Jantung Alfred berdegup kencang karena rasa amarah yang teramat sangat.

Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Dravenhart, ia diajarkan untuk menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan kepada majikan. Melihat dua pelayan rendahan memerlakukan seorang putri kerajaan, dengan kekerasan fisik, makian kotor, dan terburuknya, memfitnah Duke Kael sebagai dalang di balik penyiksaan itu, adalah sebuah bentuk pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan.

Alfred mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu karena tersinggung dan murka. Ia tahu betul karakter Duke Kael; majikannya itu adalah seorang ksatria berprinsip tinggi yang tidak mungkin menyuruh orang menyiksa seorang perempuan yang lemah.

Kalian telah mencoreng nama baik Kediaman Duke! batin Alfred bergetar hebat menahan geram.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Alfred membalikkan badannya dengan langkah tergesa-gesa. Ia berlari cepat meninggalkan sayap barat, menelusuri koridor panjang menuju ruang utama tempat Duke Kael sedang memimpin rapat tertutup bersama sanga ajudan, Julian, untuk membahas anggaran pertahanan perbatasan.

Sesampainya di depan pintu besar ruang rapat utama, Alfred tidak sabar mengetuk pelan. Ia langsung mendorong daun pintu kayu jati tersebut dengan napas tersengal-sengal di hadapan para perwira tinggi yang sedang berdiskusi.

"Y-Yang Mulia Duke?!" panggil Alfred dengan suara bergetar hebat, membungkuk dalam-dalam hingga kepalanya hampir menyentuh lantai marmer.

Kael Dravenhart, yang tengah membentangkan peta taktis di atas meja besar, mengangkat wajahnya. Alis tebal sang panglima perang bertaut tajam melihat gangguan di tengah rapat penting.

"Alfred? Aku sedang sibuk rapat penting. Kecuali puri ini terbakar, jangan ganggu aku." Suara Kael terdengar dingin dan berat.

Julian, yang berdiri di samping Kael dengan buku catatan di tangan, ikut mengerutkan kening.

"Kepala Pelayan Alfred, Anda tampak pucat. Ada masalah apa dengan logistik dapur?" tanya Julian.

"Yang Mulia, saya mohon ikuti saya ke sayap barat sekarang juga. Para pelayan melakukan kekerasan pada Tuan Putri atas nama Anda," ucap Alfred dengan suara lantang yang tegas, membuat seluruh perwira militer di ruangan itu terkejut.

Kael menyipitkan matanya. Aura dingin langsung menguar dari tubuh sang panglima perang. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kael bangkit dari kursinya, menyambar jubah militernya, dan memberi isyarat kepada Julian untuk mengikutinya.

"Pimpin jalannya, Alfred," perintah Kael.

Kembali situasi di kamar sayap barat.

Jane dan Ron yang baru saja berhasil melepaskan diri dari amukan Virelia kini berdiri mengatur napas dengan wajah penuh keringat dan darah. Jane memegang pelipisnya yang robek, sementara Ron mengelus pipinya yang tercakar.

Mereka menatap Virelia yang kini berdiri penuh ancaman dengan napas tersengal-sengal dan telapak tangan berdarah. Dan kini memegang pecahan kaca di tangannya sebagai senjata, dimana darah menetes dari telapak tangannya semakin jadi.

"Perempuan sialan! Lihat apa yang kau lakukan pada wajahku!" maki Ron kesal, mengangkat tangannya hendak menampar pipi Virelia untuk membalas perbuatan gadis itu.

"Akan kuberi pelajaran biar kau tahu rasa-"

BRAK!

Pintu kamar itu tiba-tiba ditendang dari luar dengan kekuatan yang begitu luar biasa hingga daun pintu hancur berkeping-keping dan terlepas dari engselnya.

Jane, Ron, dan pelayan wanita satunya, terlonjak kaget setengah mati. Mereka menoleh dengan tubuh bergetar hebat ke arah pintu yang terbuka lebar.

Di sana, berdiri Duke Kael Dravenhart dengan seragam militer lengkap yang memancarkan aura pembunuh paling mengerikan di seluruh penjuru negeri. Di belakangnya berdiri Julian dengan tatapan mata setajam pisau, serta Tuan Alfred yang menatap mereka berdua dengan pandangan penuh kebencian.

Suhu di dalam kamar mendadak drop drastis, membekukan darah siapapun yang ada di sana.

"Yang Mulia Duke!" cicit Ron ketakutan, lututnya langsung lemas seketika hingga ia terduduk di atas pecahan kaca.

"Y-Yang Mulia! Ampuni kami! Putri ... dia mengamuk! Dia menyerang kami lebih dulu!" Jane ikut menjatuhkan diri bersujud, menangis histeris sambil gemetar ketakutan.

Kael tidak melirik sedikit pun ke arah kedua pelayan itu. Sepasang mata birunya yang dingin langsung tertuju lurus ke sudut ruangan, pada sesosok wanita berambut pirang kusut yang sedang berdiri penuh ancaman dengan telapak tangan berdarah dan napas memburu.

Melihat kondisi Virelia yang sangat menyedihkan; pakaian kotor, penuh debu, tangan berdarah, dan tatapan mata yang menyiratkan ketakutan mendalam akibat diancam dan disiksa. Dada Kael terasa seperti dihantam palu godam raksasa. Amarah yang membakar di dalam dadanya mencapai titik didih tertinggi.

"Ulangi sekali lagi apa yang baru saja kalian katakan pada istriku?" suara Kael sangat rendah, berbisik namun mematikan, merambat perlahan menembus keheningan ruangan.

Ron menelan ludahnya susah payah, lidahnya kelu tidak bisa berbicara sepatah kata pun.

Alfred maju satu langkah ke depan, menunjuk wajah Ron dan Jane dengan jari yang bergetar karena geram.

"Yang Mulia! Saya mendengar dengan telinga kepala saya sendiri! Pelayan-pelayan kurang ajar ini tidak hanya memperlakukan Yang Mulia Putri dengan kekerasan fisik dan verbal, tetapi mereka juga berani memfitnah Anda! Mereka bilang bahwa segala perlakuan keji ini adalah perintah langsung dari Anda!" adu Alfred.

Mendengar kata-kata Alfred, seluruh perwira militer di belakang Kael menahan napas ngeri.

Kael melangkah maju perlahan. Langkah sepatu botnya menghantam lantai marmer dengan irama yang terdengar seperti ketukan lonceng kematian. Ia berhenti tepat di hadapan Ron yang kini gemetar hebat hingga giginya bergemeretuk.

"Jadi kalian menggunakan namaku untuk menutupi kebejatan kalian? Kalian menyiksa istriku, merendahkan martabatnya, dan membiarkannya terluka di rumahku sendiri?" Kael menatap Ron dari atas dengan sebelah alis terangkat, tatapannya menyiratkan kehausan akan darah.

"T-Tidak! Kami bersumpah, Yang Mulia, kami difitnah! Perempuan gila itu terus berulah!" teriak Ron histeris mencoba membela diri.

BUGH!

Kael menendang wajah Ron dengan sangat keras.

"Julian," potong Kael dingin tanpa mengedipkan mata.

"Siap, Yang Mulia," jawab Julian sigap, melangkah maju dengan buku catatan di tangannya.

"Seret tiga sampah ini ke ruang bawah tanah paling dalam. Pastikan mereka merasakan siksaan terburuk yang pernah tercatat dalam sejarah Valdoria sebelum mereka diadili atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap keluarga bangsawan. Dan periksa seluruh pelayan di puri ini; siapa pun yang terlibat dalam kekerasan terhadap istriku, pecat dan buang mereka ke tambang garam seumur hidup," perintah Kael.

"Laksanakan, Yang Mulia!" jawab Julian dengan suara tegas tanpa ampun.

Dua pengawal pribadi langsung menerobos masuk dan menyeret Jane, kaki tangannya, serta Ron yang menjerit histeris memohon ampun keluar dari ruangan.

Setelah ruangan sedikit tenang, Kael menarik napas panjang untuk meredam gemetar amarah di tangannya. Ia memalingkan wajahnya sepenuhnya kepada Virelia yang masih berdiri penuh ancaman.

Melihat Kael mendekat dengan seragam militer dan sisa-sisa aura pembunuh yang masih menguar, tubuh Virelia menegang hebat. Meskipun ia tahu Kael baru saja membelanya, insting bertahan hidup seorang pembunuh bayaran tetap menyuruhnya untuk waspada.

"Jangan mendekat, Keparat!" raung Virelia penuh kebencian.

Kael berhenti tepat satu langkah di hadapan Virelia. Pria bertubuh tegap itu tidak memedulikan pecahan kaca tajam yang berserakan di lantai. Berdiri di depan sang gadis.

Melihat telapak tangan kanan Virelia berdarah cukup deras akibat tertusuk pecahan kaca tadi, hati Kael terasa perih luar biasa. Selama ini ia sibuk memikirkan perang, strategi, dan politik istana, sementara di bawah atap rumahnya sendiri, perempuan yang dinikahinya disiksa secara keji oleh pelayan di kediamannya sendiri.

"Putri?" panggil Kael dengan suara paling lembut yang pernah ia keluarkan seumur hidupnya; suara yang begitu tenang, penuh penyesalan yang mendalam, dan sarat akan ketulusan.

Virelia menatap pria itu dari balik helaian rambut pirangnya yang kusut. Ia melihat bagaimana panglima perang yang ditakuti seluruh musuh di medan laga kini berdiri di hadapan sang gadis dengan ekspresi paling rapuh dan bersalah.

Kael mengulurkan tangan besarnya, lalu dengan sangat berhati-hati meraih tangan Virelia yang terluka. Jemari Kael menggenggam telapak tangan sang gadis dengan sentuhan yang sangat ringan, seolah takut menyakiti kulit mulus yang terluka itu lebih jauh.

"Lepaskan!" seru Virelia.

"Sssshh ... tenanglah, Putri. Aku di sini. Kau aman sekarang. Tidak ada seorang pun di rumah ini yang akan berani menyentuhmu lagi. Aku bersumpah demi kehormatanku sebagai ksatria Valdoria," ucap Kael lembut, suaranya bergetar tipis.

Kael mengeluarkan sapu tangan putih bersih dari saku seragamnya, lalu dengan telaten menyeka darah yang mengalir di telapak tangan Virelia.

Virelia tertegun. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap wajah Kael dari jarak yang sangat dekat. Di dalam mata biru sang panglima perang, tidak ada kilatan amarah terhadap dirinya. Yang ada hanya rasa bersalah yang teramat dalam dan kehangatan tulus yang mengalir melalui genggaman tangan mereka.

Seolah bisa membaca keraguan dan sisa ketakutan di mata sang istri, Kael merapatkan genggamannya, menyalurkan kehangatan yang menenangkan.

"Putri dengarkan aku. Pelayan-pelayan itu berbohong. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyuruh siapa pun untuk menyakiti seorang wanita. Sekalipun wanita itu sedang kehilangan akal sehatnya," ucap Kael dengan suara berat dan sungguh-sungguh.

Virelia terdiam.

"Kau adalah istriku, walau tidak ada upacara pernikahan tapi kita sah dalam hukum. Rumah ini adalah benteng pertahananmu. Tidak boleh ada lagi pelayan yang berani berbicara kasar padamu, tidak akan ada lagi yang merendahkanmu. Jika ada yang mencoba menyakitimu, aku akan membunuhmu mereka semua," lanjut Kael tegas.

Mendengar kalimat itu, seluruh pertahanan mental Virelia seolah runtuh seketika.

Bagi sang gadis, ketua pembunuh bayaran yang hidup di tengah dunia hitam penuh darah dan pengkhianatan, kalimat perlindungan seperti itu adalah hal paling tabu sekaligus paling indah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya. Ayahnya sendiri bahkan menjualnya ke dalam pernikahan paksa tanpa peduli nasibnya.

Di hadapan tatapan tulus Kael, tubuh Virelia yang tadinya tegang perlahan-lahan mengendur.

Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kediaman ini, Virelia berhenti berteriak. Ia tidak lagi meronta, tidak lagi melempar barang, dan membiarkan dirinya diam.

Gadis itu menunduk perlahan, menatap telapak tangannya yang kini dibalut rapi oleh sapu tangan putih milik Kael.

Dengan gerakan yang sangat sabar, Kael menarik tubuh kurus Virelia ke dalam dekapan dadanya, mendekap sang istri dengan erat namun penuh kelembutan, membiarkan kepala berambut pirang yang kusut itu bersandar di bahu bidangnya.

"Sudah, semuanya sudah berakhir," bisik Kael menenangkan, mengusap punggung Virelia perlahan.

Namun di balik rasa aman yang Kael berikan, sebuah perasaan asing mulai tumbuh dan menjalar, mengusik misi besar yang telah ia susun selama bertahun-tahun untuk menghancurkan istana.

Apa yang harus kulakukan sekarang, aku justru semakin terjebak di sini? batin Virelia bingung.

1
sweet escape
Waduuuh d kasih seneng2 eh sekrg d kasih tegangnya🫠🫠🫠🫠🥹duke dan duchess😱
sweet escape: 😱 oemji kak wkwkw
total 2 replies
sweet escape
Yang satu sembuh, eh pasien lain tumbuh kembang😂😱😱
Archiemorarty: Iya juga lagi lah 🤣
total 1 replies
Septi Wijaya
akak oThor nih... mereka lagi hangat hangatnya kok dikasi ulet bulu siiichh
Archiemorarty: soalnya ulet bulu ada dimana mana 🤣
total 1 replies
Eli Rahma
ujian cinta dataaanggg
Archiemorarty: Hahaha 🤣
total 1 replies
Eli Rahma
lanjuttt dong..
Eli Rahma
wahhh kemajuan nih ..siRatu awan kiss duluan..apa gk jumpalitan tuh si Kael..😅
Archiemorarty: Minta saru kerajaan langsung dikasih kayaknya sama Kael 🤭
total 1 replies
Eli Rahma
tapiiii senangkaaann...😅
Archiemorarty: Dalam hati mah aghhhh...dia 🤣
total 1 replies
Eli Rahma
kayak emak² ngomelin anaknya pergi kencan..😅
Archiemorarty: iya juga yak 🤣
total 1 replies
Ayu Padi
keren ..selalu di tunggu Up ny ...💪💪💪
Archiemorarty: Asiap kakak...makasih udah baca ceritanya kak, happy reading sampai akhir cerita ya 🥰
total 1 replies
mimief
pengalaman hidup yg pait
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
Archiemorarty: Benarrr...😭
total 1 replies
mimief
thats my girl 😍😍😍
mimief: wkwkwkwkw
bacanya langsung bernada yaaa
total 2 replies
mimief
aku...pernah baca sebuah komik yg Ampe sekarang berkesan bgt dialog nya
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
mimief: salah satu komik fav ku Thor
kisahnya luar biasa😍
total 2 replies
mimief
nah tu liat jul
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
mimief: kejang kejang ga dia
ratu awan nya bisa swaag🫣🤣😍
total 2 replies
mimief
ya ampuun
sweet banget si mereka😍😍
mimief
mulut mu jul..
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
mimief: masalahnya tapi bener🫣🤣🤣
total 2 replies
mimief
buahahahahaha..
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kata Varelia : bukan aku 🤣
total 1 replies
Eli Rahma
uluuhhh...srigala perang ini udah kecanduan pipi si Ratu awan..😅
Archiemorarty: ya kan 🤭
total 3 replies
mimief
hei...anda jangan cuci tangan
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Pinter kali emang mereka itu 🤣
total 1 replies
mimief
kan kan🫣🤣🤣.cuman Elaine doank yg berani nyela julian🥹🥹🥹
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
Archiemorarty: Bisa jadi ini 😎
total 1 replies
mimief
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🫣
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Jangan percaya sama isi puri Duke, terutama Duke nya sendiri 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!