Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 "PAK, BU... AKU UDAH PULANG..."
Setelah menempuh perjalanan sebelas jam yang melelahkan namun penuh warna menggunakan Kereta Api Brantas bersama Nisa, disusul perjalanan darat membelah jalur utama Ngawi, Jawa Timur, Zaki akhirnya menginjakkan kaki di pelataran sebuah rumah di pelosok desa.
Bangunan yang kini berdiri diam di hadapannya itu adalah peninggalan mendiang kedua orang tuanya. Dahulu, di sinilah Zaki kecil merajut kebahagiaan.
Mereka hidup rukun dan normal, selayaknya potret keluarga sederhana di pelosok pedesaan Jawa Timur.
Namun, roda waktu membalikkan segalanya.
Sebuah insiden tragis di masa lalu merenggut nyawa ayah dan ibunya dengan paksa, menyisakan Zaki seorang diri di dunia.
Sejak saat itu, ia dipaksa keadaan untuk hidup mandiri, bertahan dengan bantuan seadanya dari beberapa kerabat mendiang orang tuanya.
Rumah itu jauh dari kata mewah, bahkan terlampau sederhana.
Dindingnya hanya berupa perpaduan setengah semen halus dan papan kayu yang mulai sedikit lapuk. Lantainya masih beralaskan lantai yang terbuat dari tanah liat tebal berwarna cokelat kemerahan, khas hunian lawas yang menyimpan banyak cerita.
Jendela-jendela krepyak dan daun pintu yang seluruhnya terbuat dari kayu jati tua itu seolah menjadi saksi bisu.
Benda-benda mati itulah yang menyimpan rapat-rapat segala memori—baik kepingan kenangan indah maupun sisa-sisa kengerian—yang kini membebani pundak Zaki.
Zaki mulai mengayunkan langkahnya perlahan. Ia menyusuri halaman rumah yang kini tampak terbengkalai. Rerumputan liar tumbuh tak beraturan, berbaur dengan tumpukan dedaunan kering yang gugur dari dahan pepohonan di sekitarnya.
Tatapannya menyapu ke kanan dan kiri, merekam lekat-lekat setiap sudut halaman hingga area teras depan. Tempat yang dulunya penuh kehangatan itu, kini telah sepenuhnya jatuh ke tangannya sebagai pewaris tunggal.
"Tap... tap... tap..."
Suara derap langkahnya bergesekan dengan tanah, seolah menjadi satu-satunya nada yang memecah keheningan pekarangan.
Langkahnya terhenti di depan sebuah meja bundar yang diapit dua buah kursi di sisi kanan dan kirinya. Permukaan perabotan usang itu telah terselimuti debu yang cukup tebal.
Zaki mengulurkan tangan, jemarinya perlahan mengusap permukaan meja dan sandaran kursi yang kotor itu.
Sentuhan tersebut bagai pelatuk yang menembakkan ribuan memori ke dalam kepalanya.
Zaki membeku sejenak.
Kedua matanya menatap lekat set kayu tersebut dengan sorot yang nanar—sebuah paduan rumit antara kerinduan yang mendalam dan kesedihan yang tak berujung.
Membuang napas pelan, Zaki kembali melangkah mendekati teras. Kini ia berbalik, menatap lurus ke arah halaman luas yang baru saja ia lewati.
Seketika, bayang-bayang masa lalu itu berputar bagai kaset pita di pelupuk matanya.
Ia seperti bisa melihat siluet sang Bapak yang baru saja pulang dari kebun, memikul sekarung penuh biji kopi merah yang memancarkan aroma khas. Ia juga seakan bisa mendengar senandung kecil sang Ibu saat sedang menjemur pakaian dan menebar biji kopi hasil panen bapaknya di bawah terik matahari.
Tak ketinggalan, riuh tawa dirinya sendiri semasa kecil, yang berlarian dengan riang gembira mengejar teman-teman sebayanya di hamparan tanah itu.
Zaki menarik napas panjang, rongga dadanya mendadak terasa sesak.
Helaan napas berat yang meluncur dari belah bibirnya seakan menjadi melodi pilu yang merangkum seluruh masa lalunya di tempat ini.
Terlalu lama tenggelam dalam pusaran kenangan membuat pertahanan Zaki akhirnya luruh. Ia memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi berselimut debu tadi. Ia sama sekali tak memedulikan celana dan bajunya yang kini ikut kotor.
Baginya, bisa kembali menduduki kursi yang menyimpan kehangatan keluarganya itu jauh lebih berharga daripada sekadar mengkhawatirkan pakaian yang ternoda.
Sejenak...
Zaki menyandarkan punggungnya yang letih. Ia memejamkan mata rapat-rapat.
Menarik napas dalam-dalam... lalu menghembuskannya perlahan dari sela-sela bibir.
Udara sejuk khas pedesaan, perpaduan sempurna antara aroma daun basah, getah pepohonan, dan pekatnya bau tanah, seketika merasuk bebas memenuhi relung paru-parunya.
Kemudian, Zaki membuka kedua matanya.
Dengan suara parau yang nyaris menyerupai bisikan, ia bergumam pelan.
"Pak, Bu... Aku udah pulang...."
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya