Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:48.7k
Nilai: 5
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijenguk Jelangkung

Bab 25

“Gue turun di IGD, lo cari parkiran.”

“Bentar!”

Namun, Ruby tidak sabar. Mobil belum berhenti sepenuhnya ia sudah melepas seatbelt dan membuka pintu mobil, Meldy pun berhenti mendadak. Sedangkan pelakunya langsung keluar dan berlari.

“Heh, Ruby, bahaya tau,” pekik Meldy. “Segitunya lo sama anak-anak si duda. Udah cinta banget kayaknya sama itu keluarga. Jadi penasaran, gue.”

Di depan IGD ada beberapa deret kursi stainless. Sebagian sudah ditempati oleh keluarga pasien, mungkin. Hendak bertanya pada petugas, Ruby dihampiri seseorang.

“Ibu Ruby?” Wanita dengan setelan rapi, menghampirinya.

“Iya, saya Ruby.”

“Saya wali kelas Adly, kita sudah bicara di  telpon.”

“Ah, iya, kondisi Adly gimana bu?”

“Belum lama masuk bu, masih dalam pemeriksaan. Kita diminta menunggu.” Tatapan wanita itu agak heran dengan penampilan Ruby masih full make up, untungnya bukan pemotretan gaun malam.

“Mendadak kolaps bu? Dia sering begini?”

“Kami juga tidak paham, tidak ada keluhan kalau hari ini Adly sakit. Dia pamit mau ke UKS, tapi malah pingsan. Saya pegang, badannya panas. Sebelumnya tidak pernah, paling tidak masuk dan keluarga konfirmasi kalau Adly Sakit.”

“Tadi pagi, saya yang antar ke sekolah dan dia tidak mengeluh apa-apa. Sehat kok.”

Meldy tergopoh-gopoh menghampiri Ruby. “Beb, ganti dulu baju lo. Itu dokter sama perawat bisa nggak fokus lihat lo begini. Jadi pusat perhatian, ini bukan catwalk.”

“Nanti aja ….”

“Ganti sekarang.” Meldy menyerahkan paper bag berisi pakaian Ruby dan tas milik gadis itu.

“Tapi Adly?”

“Ada gue, ini juga bu gurunya di sini. Cepet!” Meski kesal, Ruby menerima tas dan paper bag menuju toilet. “Maaf ya bu, teman saya itu baru jadi ibu sambung. Masih belajar.”

Mencoba menghubungi Bara, tapi tidak aktif. Sepertinya kendala dengan jaringan. Lagi pula Ruby belum tahu kondisi Adly, yang ada malah membuat Bara panik. Kembali ke IGD, ia serahkan lagi tasnya pada Meldy karena dokter sudah selesai memeriksa Adly.

“Saya ibunya sus,” ujar Ruby. Perawat itu sempat heran dan menatap tidak percaya kalau Ruby ibu dari pasien lalu mengarahkan untuk bertemu dengan dokter.

“Pasien masuk dengan kondisi demam dan tidak sadar. Kami sudah lakukan pemeriksaan dan tadi sempat kejang.” 

“Kejang dok?”

“Iya. Kami sarankan untuk rawat inap, observasi lanjutan. Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut apakah penyebab kejang karena indikasi medis lainnya atau karena kondisi kaki pasien, tadi dia mengeluh nyeri di kakinya.”

“Oke, tidak masalah. Saya ikut apa saran dokter, lakukan semua pemeriksaan yang dibutuhkan.”

Sedang bicara dengan wali kelas Adly menyampaikan hasil observasi dokter dan mengucapkan terima kasih karena sudah sigap membawa Adly ke rumah sakit. Ada seseorang yang datang dan ….

“Ruby, lo di sini?’

Ruby mengernyitkan dahi mendapati Nilam datang.

“Pake nanya, Adly anak gue.”

“Ibu Nilam,” sapa guru Adly. “Maaf tadi saya hubungi Pak Barata tidak tersambung, kontak lain di data kami salah satunya Ibu Nilam.”

“Oh, gak masalah,” ujar Ruby.

“Mbak, panggil saya mbak. Emang keliatan kayak ibu-ibu. Adly kenapa bisa pingsan, kalian di sekolah kerjanya apa sih?” cecar Nilam. “Gue viralin tahu rasa lo.”

“Kalau mau cari ribut, di tempat lain. Ini Rumah sakit,” tegur Ruby.

“Tau ih, baru datang udah nyolot.” Meldy yang duduk di kursi tunggu sambil fokus dengan ponsel ikut bicara.

“Kamu pikir guru di sekolah Cuma ngurus Adly," ujar Ruby lagi.

“Iya, emang udah tugas mereka.”

“Guru itu mendidik siswanya bukan jagain anak-anak, emang babysitter. Udah bu, jangan diambil hati,” ungkap Ruby. “Terima kasih sudah diantar kemari, ibu boleh kembali ke sekolah.”

Nilam bersikap seolah ia paling tahu tentang Adly, saat Ruby mengisi identitas pasien.

“Kayak begini pengen jadi ibu, tau apa lo tentang anak-anak.” Nilam merebut formulir itu.

Ruby berdecak. “Gue udah hubungi bu Siti, Adly memang pasien di rumah sakit ini. Cukup kasih NIK dia, pasti terbaca.”

“Gue lebih tahu segalanya tentang Mas Bara juga anak-anak.”

“Oh, ya, lo tahu ukuran tongkat saktinya Mas Bara?”

Nilam mencibir, Meldy tergelak.

“Gak tahu ‘kan? Berarti lo belum tahu segalanya. Tuh sana urus kamar Adly.” Ruby menyerahkan lembaran untuk mengurus kamar rawat inap.

Nilam berdeham dan tampak bingung. Mengurus kamar, artinya ada yang harus dibayar.

“Siapa takut, gue bisa hubungi Mas Bara.”

“Mas Bara, Mas Bara, ngapain nelponin suami orang. Adly pake asuransi, katanya lo tau segalanya.” Ruby merebut kembali berkas milik Adly lalu menyerahkan pada Meldy. “Urus Mel. Nanti gue forward WA dari bu Siti, nomor asuransi Adly.”

“Awas kalian berantem di sini, nanti diusir satpam. Sana noh, di parkiran aja kalau mau berantem,” ujar Meldy.

***

Wajah Adly masih pucat, sedang nafasnya terdengar berat akibat demam yang belum reda. Ruby duduk di sisi ranjang, mengganti handuk kompresan.

"Minum dulu, ya,” bisik Ruby. Adly hanya mengangguk pelan. Mulutnya terlalu lemas untuk sekadar bersuara. Meski hanya beberapa teguk, setidaknya Adly masih bisa menerima asupan makanan. Tadi pun sudah disuapi bubur meski hanya beberapa suap.

“Kalau sakit nggak usah maksa mau sekolah, kenapa nggak bilang.”

Adly menggeleng.

“Maaf ya, bunda nggak peka. Nggak tahu kalau kamu sakit.”

“Aku nggak sakit, bun. Tadi itu … nggak tahu kenapa tiba-tiba aja badan aku nggak enak.”

“Ya udah, gak pa-pa.”

Pintu kamar terbuka, Nilam yang tadi menghilang datang lagi. Sudah mirip setan jailangkung.

“Adly, sayang, kamu oke?” tanya Nilam dengan suara lembut.

“Oke gimana,  dia sakit. Nggak lihat sampe di infus begitu,” cetus Ruby. Kenapa bisa wanita ini mendadak ramah, kejedot pintu di mana, pikir Ruby.

“Kamu tertekan ya,” ucap Nilam mengusap kepala Adly. “Apa sekarang rumah buat kamu nggak nyaman.” Nilam bicara sambil melirik Ruby.

Adly memejamkan mata makin rapat, dahinya berkerut menandakan rasa tidak nyaman. Ruby yang sadar akan hal itu mencoba menyela dengan suara sepelan mungkin.

"Nggak usah ditanya-tanya, bukan lagi ujian. Adly mau tidur, kamu banyak tanya yang ada makin pusing dia.”

Nilam mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "KOk,  kamu yang atur saya, Rub? Saya ini tantenya! Saya bicara begini karena peduli sama keponakan saya sendiri."

Belum sempat Ruby membalas, pintu kamar rawat terdorong kasar. Husnah yang datang bersama dengan wanita paruh baya yang asing di mata Ruby. Keduanya melangkah masuk dengan wajah tegang dan napas terengah-engah.

"Adly!" panggil Husnah menghampiri sisi ranjang. “Kamu sakit sayang. Kata dokter apa, Ruby?”

Belum sempat dijawab, wanita paruh baya tadi membuka suara.

"Kamu ini sebenarnya niat ngurus anak atau enggak sih?” bentak wanita, suaranya memenuhi setiap sudut ruangan. Ruby merespon dengan mengernyitkan dahi.

“Ruby, ini bu Sinta. Omanya Adly, ibunya Nilam.”

“Ah, begitu. Salam kenal, Bu.”

“Menikahi Bara itu bukan Cuma status istri saja, harus terima anak-anaknya. Kalau nggak bisa ya mundur, jangan memaksa,” seru Sinta lagi lalu mengusap dahi Adly. “Kalau sudah sembuh, ikut pulang sama nenda ya.”

Adly menggeleng. Husnah mengusap lengan Ruby dan mengangguk seolah mengatakan yang sabar ini rumah sakit.

“Kamu cuma mau enaknya aja kan, jadi istri Bara, tapi ngurus Adly nggak ngerti. Apalagi dia catat sampai masuk rumah sakit begini!"

“Bu Sinta,” tegur Husnah.

“Ibu mau marahin saya, mau ngomel terserah. Tapi jangan di sini, di luar aja. Biarkan Adly istirahat, ayo,” ajak Ruby.

“Kayak gitu Bu, nantangin terus. Sama aku juga berani, belagu karena udah jadi istrinya mas Bara.” Nilam membuat suasana makin panas.

Ruby menarik nafas, ingin sekali menyerang Nilam dan ibunya sekaligus. Adly yang mendengar perdebatan itu, menggerakan tangannya. "Bunda..." panggil Adly lirih, hampir berupa bisikan.

Semua orang di ruangan itu mendadak bungkam.

“Iya, sayang.”

Ruby mendekat ke ranjang. “Mau minum lagi?”

Adly menggeleng.

“Ke toilet?”

Adly menatap Sinta dan Nilam. “Aku mau istirahat, biarkan Bunda yang jaga aku.”

Husnah tersenyum. “Iya, istirahat ya. Mari bu Sinta, Nilam,” ajaknya.

"Kamu tidur ya, pasti kaget dijenguk sama jelangkung."

 

 

1
Nur Wakidah
adik bayi segera otewe 🤭🤭🤭
sikepang
sabar y jelita bahan y masih baru di cek out dikerangjang kuning, ntar di adon adek baby y sama daddy dan bunda 🤣
tiara
hayo Ruby Jelita minta adik tuh
mery harwati
Meldy aq padamu 😛❤️
Terus jadi kompor mleduk bwt Bara Meldy 💪
'Nchie
semoga ada ke ajaiban untuk adly😭😭
Melania Kiaa
ehh gak sooan🙄
'Nchie
awas aja kamu ruby kalo adly udah sembuh boleh pulang🤣🤣yg ada kamu yg di makan bara🤣🤣
'Nchie
spesial pake telor ya by🤣🤣🤣
'Nchie
🤣😀jaelangkung
Melania Kiaa
yang ada malah papamu yang ketuaan dek🤭
Anonim
Ruby .....emang sok berani
Anonim
Iih ada jaelsngkung keluyuran 🤭
Anonim
Jangan sampai kenapa "Adly
Anonim
Tuhkan Ruby....kamu sih ....sok"an tantang Mas Bara .....
Dozky 2 Crazy
mas duda bisa gak cara penyampaian jgn lempeng banget🥲🥲
Dozky 2 Crazy
jangan kan adly kita ajj yg baca selalu dibikin ketawa sama ruby😁😁😁
Anonim
Ruby ngapain kamu tantangin Bara
Awas ya kamu .....🤭
Dozky 2 Crazy
makasih bunda udh ada buat adly 🥲🩷🩷
Anonim
Benar .....Ipar adalah iblis
Iccha Risa
ngebangun rumahtangga bersama mas Bara apalagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!