Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak

Zevanna masih berdiri di lobby Verion Group setelah membaca pesan anonim.

Jangan mencari tahu tentang Zoyya kalau kamu masih ingin tetap aman di Verion Group.

Ia menatap layar ponselnya beberapa detik.

Tangannya masih menggenggam benda kecil milik Zoyya.

Zevanna akhirnya memasukkan benda kecil itu kembali ke dalam tas.

"Kalau orang ini tau gue lagi nyari tau tentang kak Zoyya..."

Ia menoleh ke belakang.

Lobby sudah hampir kosong. Beberapa staf kebersihan sedang membereskan area kantor.

Zevanna mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin pesan itu cuma ulah seseorang yang ingin menakut-nakutinya.

"Mungkin cuma orang iseng aja kali, ya?!" Gumamnya.

Namun sebelum pulang, ia membuka kembali pesan tersebut.

Ia memperhatikan nomor pengirim.

Tidak ada nama.

Tidak ada foto profil.

Tidak ada pesan lain.

Zevanna menghela napas panjang. "Gue harus ngapain sekarang?"

Ia akhirnya memasukkan ponselnya ke tas dan berjalan keluar dari gedung.

Namun tanpa disadarinya, dari lantai atas seorang staf masih berdiri di dekat jendela dan memperhatikan Zevanna yang pergi.

"Permainan baru saja dimulai, Zevanna."

Sosok itu kemudian menghilang dari balik jendela.

Di tengah jalan, Zevanna mengendarai mobilnya dengan perasaan yang masih penasaran.

"Sebenarnya siapa yang ngirim pesan itu ke gue, ya?" Katanya, jarinya mengetuk setir mobil dengan pelan.

"Nomornya juga beda-beda. Apa orangnya sama tapi ganti nomor lagi?" Zevanna menyandarkan punggungnya ke jok mobil.

"Tapi orang itu nyuruh gue jangan cari tau tentang kak Zoyya. Berarti ada yang ngawasin gue dari kemarin-kemarin!" Katanya.

"Tau, ah. Pusing banget kepala gue." Gerutu Zevanna kesal mengingat semua kejadian itu.

Sesampainya di rumah, Zevanna bergegas keluar dan menuju kamarnya.

"Zevanna, makan dulu." Kata Liona.

"Nggak laper, Ma." Jawabnya mengabaikan Liona, ia berjalan menuju kamarnya.

Zevanna menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Ia menatap langit-langit kamar, lalu menghela napas.

"Ini semakin rumit. Bikin gue gila lama-lama." Keluh Zevanna.

Saat Zevanna hendak bangkit dan menuju kamar mandi. Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi.

Ting!

Zevanna menoleh lalu meraih ponselnya dengan rasa malas.

Unknown: Kamu nggak bakal tau siapa yang menyebabkan Zoyya meninggal dunia.

Deg.

Zevanna melebarkan matanya, jantungnya berdegup kencang.

"I-ini... Maksudnya apa?" Zevanna menelpon nomor tersebut, namun nomor itu tidak bisa dihubungi.

"Ck, kenapa nggak bisa dihubungi sih?" Decak Zevanna.

Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi.

Ting!

Zevanna langsung membuka dan membaca pesan itu.

Tisha: Eh, Zevanna. Lo udah balik kan?

Zevanna mendecih. "Kirain siapa, ternyata si Tishol!"

Zevanna mengetik balasan ke Tisha.

Zevanna: Ngapain lo tiba-tiba ngechat? Gue udah balik.

Tisha: Eh buset galak banget lo, gue cuma nanya doang. Sewot mulu lo.

Zevanna: bodo amat. Kalau nggak penting jangan chat gue. Lama-lama gue blok juga lo.

Tisha: Mainnya langsung blok. Ngeri cuy.

Zevanna: Diem lo.

Tisha: Lo masih salting ya sama Pak CEO?

Zevanna tersentak membaca pesan dari Tisha.

Zevanna: MATAMU SALTING! KAMPRET LO!

Tisha: wkwkwk ngambek berarti salting.

Zevanna: DIEM ATAU GUE JUAL TANGAN LO?!

Tisha: Iya, maaf. Neng Zevanna, cuma becanda doang:)

Zevanna melempar ponselnya ke kasur dengan perasaan kesal.

Wajahnya memerah, entah karena kesal atau salah tingkah mengingat kejadian di ruangan Ravenzo.

"Arghhh, bikin kesel aja." Zevanna melempar bantal ke lantai kamarnya.

***

Sinar matahari pagi menerobos tipisnya tirai kamar, membiaskan garis keemasan di atas lantai. Udara masih terasa menggigit kulit, membawa kesegaran khas fajar yang baru terbit.

Zevanna perlahan membuka matanya.

Ia bergegas mandi dan bersiap-siap pergi kerja.

Setelah selesai mandi, ia keluar kamar. Melewati meja makan.

"Zevanna, sarapan dulu." Ucap Liona lembut.

Zevanna menoleh. "Aku makan disana aja, Ma."

"Kamu ini kebiasaan deh, selalu telat makan. Nanti kamu sakit gimana?" Kata Liona menahan amarahnya. "Makan dikit aja. Nanti kamu baru pergi kerja."

Zevanna menghela napas lalu berjalan mendekat dan mengambil roti.

"Kamu gimana kerja disana?" Tanya Yovandra menyeruput kopi hitamnya.

"Aman, Pak. Orang-orangnya pada baik disana." Jawab Zevanna sambil memakan rotinya. "Udah ya. Ma, Pa. Aku berangkat kerja dulu, takut telat."

Zevanna mencium punggung tangan kedua orang tuanya.

"Kamu hati-hati. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Kata Liona pelan.

"Iya, Ma. Byeee."

Zevanna berjalan keluar dari rumah dan menuju garasi.

Ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan rumah.

Di jalan raya yang dipenuhi asap knalpot, Zevanna menatap lurus ke aspal sambil sesekali mengetuk jemarinya di setir mobil. Ia melirik jam di dashboard, lalu kembali fokus menatap ke depan.

Mobil Zevanna akhirnya sampai di Verion Group, ia keluar dari mobil dengan pikiran masih tertuju pada pesan anonim semalam.

Jangan mencari tahu tentang Zoyya kalau kamu masih ingin tetap aman di Verion Group.

Ia mencoba menganggapnya sebagai lelucon, tetapi tetap merasa tidak nyaman.

"Jadi kepikiran siapa tuh orang yang ngirim gue pesan kayak gitu."

Saat sampai di meja kerjanya, ia diam menatap komputernya yang belum dinyalakan.

Tisha memperhatikan Zevanna yang lebih pendiam dari biasanya.

"Zev, lo kenapa? Sakit?" Tanya Tisha.

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak, gue cuma kecapean aja kemarin. Kurang tidur hehe."

"Beneran cuma kecapean?" Kata Tisha menatap wajah Zevanna.

"Iya, gue cuma kecapean. Kenapa sih lo nanya mulu?" Dengus Zevanna.

"Ya gue cuma nanya aja. Soalnya lo kayak banyak pikiran gitu." Ucap Tisha membuat Zevanna terdiam.

Tiba-tiba Elsa datang, menghampiri meja Zevanna.

"Zevanna, ini ada beberapa dokumen, tolong diperiksa, ya." Kata Elsa sambil menyerahkan beberapa dokumen pada Zevanna.

"Pokoknya harus selesai sebelum siang, ya. Zevanna," ucapnya.

Zevanna melihat tanggal pada salah satu dokumen dan menyadari tanggalnya berdekatan dengan periode ketika Zoyya masih bekerja.

Elsa langsung mengambil dokumen tersebut. "Yang ini biar aku yang periksa, kamu yang lainnya."

Zevanna menatap Elsa, ia mulai curiga. Lalu ia mengangguk.

"Iya, Mbak."

Elsa tersenyum kemudian pergi membawa beberapa dokumen lain.

Zevanna menatap punggung Elsa.

Lalu Meisya menghampiri meja Zevanna. "Zevanna!"

Zevanna menoleh ke arahnya dan tersentak melihat Meisya. "Ya?"

"Kamu tadi nemuin sesuatu yang aneh dalam arsip nggak?" Tanya Meisya.

Zevanna mengerutkan keningnya lalu menggeleng. "Nggak, Mbak."

Meisya menghembuskan napas lega, lalu buru-buru pergi menyusul Elsa.

Kok mereka berdua kayak takut gue nemu sesuatu? Batin Zevanna.

"Zev, kenapa?" Tanya Tisha.

Zevanna menoleh dan menggeleng. "Nggak papa kok, udah lo sana balik ke meja lo. Bosen gue liat muka lo."

"Dih, bosen. Gue ini cantik seperti artis, ya." Decih Tisha.

"Artis apaan? Artis sinting lo?!" Jawab Zevanna tertawa membuat Tisha mendecak.

"Sialan lo!" Tisha berjalan kembali ke meja kerjanya.

Zevanna menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Beberapa menit kemudian, Fika datang ke meja Zevanna membawa beberapa dokumen.

"Zev, ini tadi ada di meja aku. Kayaknya punya bagian administrasi."

Zevanna menoleh dan mengambilnya. "Oh, iya. Ini punya bagian arsip."

Fika melihat dokumen tersebut sekilas. "kalau gitu nanti aku taruh di meja Mbak Gista aja, ya?"

Zevanna mengangguk. "Boleh."

Namun sebelum pergi, Fika tiba-tiba bertanya.

"Eh, Zev. Ruang arsip sementara yang dekat lorong belakang itu masih dipakai?"

Zevanna mengerutkan kening. "Kayaknya masih, Mbak. Kenapa?"

Fika menggeleng. "Nggak apa-apa. Aku cuma tadi salah naruh berkas di sana."

Zevanna mengangguk. "Oh."

Fika kemudian pergi.

Zevanna menggaruk kepalanya. "Kok dia tiba-tiba nanya lorong belakang sih?"

Saat Zevanna sedang melamun, tiba-tiba Andrew datang sambil membawa makanan dan minuman.

"Zevanna." Panggil Andrew membuat Zevanna tersentak dan menatapnya.

"Eh? Iya?"

Andrew terkekeh kecil. "Ngelamun mulu kamu. Mikirin siapa sih?"

Zevanna tersenyum kecil. "Nggak mikirin apa-apa, Mas."

"Nih. Buat kamu jangan lupa dimakan, ya." Kata Andrew.

Zevanna langsung tertawa kecil. "Nggak usah repot-repot, Mas. Saya udah sarapan tadi dirumah."

"Nggak apa-apa. Buat kamu ngemil atau dimakan pas siang," jawab Andrew santai.

Zevanna mengangguk dan tersenyum. "Makasih, Mas Andrew."

"Iya, sama-sama."

Andrew hendak pergi, namun ia sempat melihat tas Zevanna. Ia kembali tersenyum tipis.

Kemudian pergi meninggalkan Zevanna.

Setelah Andrew pergi, Tisha kembali datang ke meja Zevanna.

"Cieee dikasih makanan lagi." Ledek Tisha.

Zevanna mendengus. "Apaan sih lo? Nggak jelas!"

Tisha menatap makanan di meja Zevanna. "Tapi gue curiga, Zev. Kok mas Andrew sering kasih lo makanan sih?"

"Dia cuma baik." Jawab Zevanna membela Andrew.

"Justru yang terlalu baik kadang bikin gue curiga, Zev." Kata Tisha.

Zevanna memukul lengan Tisha ringan. "Curiga mulu lo!"

Tisha hanya terkekeh kecil. "Becanda doang, marah-marah mulu lo! PMS lo?!"

"Nggak, datang bulan gue." Sentak Zevanna.

"Sama aja itu ege!"

Saat mereka bercanda, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan.

Meisya berdiri di dekat lorong dan menatap Zevanna.

Saat Zevanna menoleh, Meisya langsung pura-pura sibuk dengan dokumen.

Zevanna mengerutkan kening.

Perasaan tadi Mbak Meisya liatin gue. Batinnya.

Zevanna mengangkat bahu, tidak mempedulikannya.

Lalu Arvin datang membawa beberapa berkas dari ruangan Ravenzo.

"Zevanna, ini nanti kamu mengantarkan berkas ini ke salah satu ruangan arsip." Kata Arvin.

Zevanna menoleh dan menatapnya. "Mas Arvin, tau sesuatu tentang arsip lama nggak?"

Arvin langsung berubah serius. "Kenapa kamu tanya itu?"

"Aku cuma penasaran aja soalnya banyak arsip lama yang belum diperbaiki." Jawab Zevanna.

Arvin menatapnya datar. "Kalau kamu menemukan sesuatu yang berkaitan dengan arsip lama, jangan mengambil keputusan sendiri."

Zevanna terdiam sejenak.

Arvin kemudian pergi meninggalkan Zevanna karena dipanggil Ravenzo.

Zevanna menatap kepergian Arvin. "Kok gue ngerasa dia tau sesuatu ya?!"

***

Di ruangan Ravenzo, Arvin datang.

"Rav, beberapa arsip lama sedang diperiksa kembali." Ucap Arvin pelan.

Ravenzo menoleh dan mengangkat alisnya. "Siapa yang memeriksanya?"

"Zevanna." Jawab Arvin.

Ravenzo terlihat sedikit khawatir. "Pastikan dia nggak bekerja sendirian kalau berhubungan dengan arsip lama."

Arvin mengangguk. "Baik, nanti gue kasih tau dia." Lalu ia keluar dari ruangan Ravenzo.

Setelah itu Ravenzo kembali bekerja, tetapi pikirannya jelas terganggu.

***

Di ruangan lain, Elsa dan Meisya sedang membicarakan sesuatu.

"Dia mulai terlalu banyak bertanya." Kata Elsa.

"Kalau gitu kita harus lebih hati-hati, jangan sampai ketahuan." Jawab Meisya pelan.

"Kalau sampai dia tahu gimana?" Tanya Elsa merasa cemas.

Meisya menghela napas. "Dia nggak mungkin tau soal sebenarnya."

Fika tiba-tiba masuk dan membuat keduanya berhenti bicara.

"Kalian berdua lagi ngapain?" Tanya Fika.

"Nggak ada," jawab Elsa dan Meisya bersamaan, lalu kembali duduk di kursi dan mengerjakan pekerjaannya.

Fika mengerutkan keningnya, lalu keluar dari ruangan.

Elsa dan Meisya saling pandang lalu menghela napas.

"Untung dia nggak nanya lagi." Kata Elsa lega.

Meisya meliriknya. "Makanya gue bilang juga apa, lo tenang jangan Nervous mulu."

"Iya, ya. Bawel lo!" Decak Elsa.

Di sisi lain...

Fika datang membawa makanan dan minuman. Ia kemudian menghampiri Zevanna.

"Zev, ini buat kamu." Kata Fika sambil menyodorkan makanan dan minuman.

Zevanna bingung karena baru saja mendapatkan makanan dari Andrew.

"Loh, kenapa, Mbak?" Tanya Zevanna menatapnya.

"Iya tadi kelebihan, jadi aku kasih ke kamu aja siapa tau kamu belum makan gitu." Jawab Fika.

Zevanna mengangguk dan menerimanya. "Oh gitu, makasih ya, Mbak."

Fika tersenyum kecil. "Sama-sama, kalau gitu aku pergi dulu."

Zevanna menatap punggung Fika dengan dahi mengerut. "Tumben dia ngasih gue makanan dan minuman?"

Zevanna melihat makanan dari Andrew dan Fika berada di meja yang sama.

Tisha menghampiri meja dan dan melihat dua makanan tersebut. "Buset dah, lo sekarang punya fans makanan, Zev."

Zevanna mendengus. "Bukan fans! Mereka cuma ngasih makanan doang."

"Kalau gue jadi lo, gue malah takut." Kata Tisha.

Zevanna mengernyit kening. "Takut apa lo?"

Tisha terdiam sejenak lalu tersenyum. "Takut gila, Hahaha!"

Zevanna mengeplak lengannya. "Berisik lo! Pergi sana. Ganggu gue mulu lo kerjaannya."

Tisha terkekeh kecil lalu kembali ke mejanya.

Zevanna menghela napas, ia memutuskan menyimpan makanan dari Fika terlebih dahulu dan melanjutkan pekerjaan.

Saat memeriksa dokumen, Zevanna menemukan perbedaan tanggal antara arsip lama dan data administrasi.

Nama seorang karyawan lama muncul.

Namun bagian tanda tangannya sudah ditutupi atau tidak lengkap.

Zevanna mengerutkan kening. "Kok dokumen ini tanda tangannya ditutupi sih?"

Ia berdiri dan membawa map itu menuju ruang arsip sementara.

Lorong tersebut jauh lebih sepi daripada area administrasi.

Saat berjalan, ia melihat Elsa keluar dari salah satu ruangan.

Elsa terkejut melihatnya. "Zevanna? Kamu ngapain di sini?"

"Aku mau ke ruang arsip, nganterin map ini." Jawab Zevanna menunjukkan map yang dibawanya.

"Oh gitu," kata Elsa singkat lalu pergi meninggalkan Zevanna.

Zevanna menatap punggung Elsa. "Tiba-tiba pergi aja tuh orang."

Zevanna masuk ke ruang arsip sementara. Ia mencari dokumen.

Ia menemukan beberapa map yang posisinya tidak sesuai dengan label.

"Eh? Ini kok labelnya beda sih?" Gumamnya.

Saat ia hendak mengambil salah satu map, pintu di belakangnya tiba-tiba tertutup.

Klik.

Zevanna menoleh. "Hah?"

Ia mencoba membuka pintu. Tapi tidak bisa.

Zevanna mulai panik. Ia mengetuk pintu.

"Woi, buka! Jangan kurang ajar lo!" Sentak Zevanna kesal.

Tidak ada jawaban sama sekali.

Ponselnya ternyata tertinggal di meja kerja karena tadi ia terburu-buru.

Zevanna menghela napas. "Ya ampun... Kenapa gue selalu ceroboh dan kena sial sih?"

Zevanna mencoba mencari cara lain untuk keluar.

Saat mencari jalan keluar, Zevanna menemukan sesuatu di dalam ruangan.

Sebuah wadah makanan yang sama persis dengan makanan yang diberikan Fika.

Zevanna langsung terdiam sejenak. "Kok ini bisa ada di sini?"

Ia menatap wadah makanan tersebut dan mulai menghubungkan kejadian tadi pagi.

"Tadi mas Andrew ngasih gue makanan terus tiba-tiba Mbak Fika juga ngasih gue makanan..."

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, terdengar suara seseorang dari luar.

Ravenzo sedang melewati lorong bersama Arvin.

Ia mendengar suara ketukan pintu. "Ada orang di dalam?"

"Pak Ravenzo?! Tolongin saya, Pak!" Jawab Zevanna.

Ravenzo dan Arvin saling pandang.

Ravenzo segera mencoba membuka pintu.

Pintu akhirnya berhasil dibuka.

Zevanna langsung keluar dengan napas lega.

"Kamu kenapa bisa ada di dalam?" Tanya Ravenzo.

Zevanna menoleh ke arahnya. "Tadi saya mau ambil dokumen di dalam tapi tiba-tiba pintunya terkunci, Pak."

Ravenzo mengerutkan kening dan menatap wajah Zevanna yang terlihat panik. "Kamu nggak apa-apa?"

Zevanna mengangguk. "Saya aman, Pak. Makasih udah bantuin saya."

Ravenzo hanya berdehem kecil.

Saat Zevanna hendak berjalan, kakinya sedikit tersandung karena masih gugup.

Ravenzo refleks menahan lengannya.

Zevanna terkejut dan menatapnya.

Ravenzo juga menatap Zevanna.

Beberapa detik hening.

Ravenzo menatap manik mata Zevanna. Ia menelan ludahnya.

"Kamu benar-benar nggak bisa berhenti ceroboh, ya?"

Zevanna mendengus malu dan melepaskan tangan Ravenzo pelan. "Bapak juga nggak perlu selalu nangkepin saya."

"Kalau saya nggak tangkap, kamu jatuh." Jawab Ravenzo dingin dan memalingkan muka.

Zevanna terdiam dan menunduk.

Arvin yang melihat mereka cuma berdehem kecil. "Pak... Saya masih ada di sini."

Ravenzo menatap Arvin. "Periksa pintu itu."

"Baik, Pak." Arvin memeriksa pintu.

Ia menemukan sesuatu yang membuat ekspresinya berubah.

Ada bekas perubahan pada mekanisme penguncinya.

Arvin menatap Zevanna. "Tadi sebelum kamu masuk, siapa yang tau kamu dateng ke ruangan ini?"

Zevanna berpikir sebentar. "Tadi ada beberapa karyawan lain, termasuk Mbak Elsa dan Mbak Meisya."

Arvin mengerutkan kening. "Fika juga tau?"

Zevanna terdiam sejenak. "Tadi dia memang sempat datang ke meja saya."

Ravenzo memperhatikan percakapan tersebut.

"Udah jangan bahas di sini. Nanti tinggal cek CCTV aja." Kata Ravenzo.

Arvin menggaruk tengkuknya. "Tapi, Rav. Area lorong ini nggak ada CCTV."

Ravenzo menoleh dan menatapnya tajam. "Kok nggak ada?"

Arvin terdiam, merasa ciut ketika melihat tatapan mata Ravenzo. "Bukan gitu, Rav. Tapi belum di pasang CCTV di area sini."

Ravenzo menghela napas panjang. "Yaudah nanti suruh petugas buat pasang CCTV di area sini. Biar nggak ada lagi yang mengunci pintu sembarangan."

Arvin mengangguk. "Oke, siap. Rav."

Ravenzo kembali menatap Zevanna. "Kamu balik ke meja kamu."

Zevanna mengangguk sambil menunduk. "Baik, Pak."

Zevanna bergegas pergi meninggalkan Ravenzo dan Arvin.

Ravenzo menatap punggung Zevanna dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

Di akhir jam kerja, Zevanna kembali ke meja kerjanya.

Ia mulai menulis nama-nama yang menurutnya mencurigakan di catatan pribadi.

Elsa.

Meisya.

Fika.

Di bawahnya ia menulis.

Siapa yang ngunci gue di ruangan tadi?

Namun kemudian Zevanna teringat sesuatu.

Makanan yang diberikan Fika.

Ia membuka tas dan menemukan bungkus makanan yang tadi diberikan Fika.

Kode produksinya membuat Zevanna mengerutkan kening.

Kode tersebut ternyata sama dengan tanggal pada salah satu dokumen lama Zoyya.

Zevanna terdiam sejenak. "Kode ini… kok angkanya sama…?”

***

Gelap malam benar-benar telah mengambil alih. Pendar lampu jalanan mulai menyala terang di luar jendela. Tepat pukul tujuh malam, Zevanna akhirnya membereskan meja kerjanya.

Ia memasukkan tasnya, lalu menemukan secarik kertas kecil terselip di antara dokumen miliknya.

"Eh? Apa ini?" Ia membuka kertas itu.

Hanya ada satu kalimat: Kamu seharusnya tidak membuka pintu itu.

Zevanna langsung membeku.

Ia melihat sekeliling lobby yang sudah hampir kosong.

Kemudian ponselnya berbunyi.

Ting!

Pesan baru dari nomor yang sama masuk.

Unknown: Besok, jangan datang ke lantai enam.

Zevanna menatap layar dengan wajah pucat. Ia perlahan mengangkat kepala.

Di ujung lobby, seseorang sedang berdiri memperhatikannya.

Lampu di sekitar sosok itu mati.

Zevanna berkedip.

Saat lampu menyala kembali—

Sosok itu sudah tidak ada di tempatnya lagi.

Zevanna terdiam sejenak. "Siapa dia? Apa jangan-jangan dia... orang yang kemarin?"

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!