Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Malam mencekam setelah peristiwa di Dermaga. Sebuah sedan hitam tanpa plat nomor berhenti mendadak di halaman belakang kediaman mewah keluarga Ophelia.

Liam Vance melompat keluar dari mobil dengan napas yang memburu ketakutan. Wajahnya pucat pasi, sementara jemarinya yang gemetar cemas memegang erat tas kulit kusam milik Evander Diovanni.

Pria itu berlari menaiki tangga belakang menuju ruang kerja pribadi ibunya, Claudia Ophelia.

Brak!

Pintu ruang kerja terdorong kasar. Claudia yang sedang berdiri memegang segelas anggur merah tersentak kaget.

"Liam, ada apa denganmu?!" bentak Claudia tajam seraya memperhatikan penampilan putranya yang berantakan dengan noda darah kering yang memercik di lengan jaket kulitnya.

"I-Ibu... aku sudah membereskannya..." bisik Liam dengan suara bergetar hebat. Ia mencampakkan tas kulit tua milik Evander ke atas meja mahoni ibunya.

"Fotografer tua sialan itu... dia memeras kita lagi. Jadi... aku menembaknya di dermaga."

Iris mata Claudia membelalak lebar. "Kau... kau membunuh Evander?"

"Dia tidak mau memberikan kaset rekaman master aslinya jika tidak diberi jaminan tambahan!" Liam berteriak panik, memegang kepalanya yang serasa mau pecah.

"Aku tidak punya pilihan, Bu. Tapi aku berhasil mengambil kaset video mini-DV dan flashdisk berisi rekaman pembunuhan Christina Vance sebelas tahun lalu dari tasnya."

Liam merogoh tas tersebut, mengeluarkan kaset mini-DV tua berkulit hitam dan sebuah flashdisk perak, lalu meletakkannya di atas meja.

Claudia menatap dua benda kecil itu dengan tatapan beracun. Benda-benda inilah yang selama sebelas tahun terakhir mengintai lehernya bagaikan pedang algojo, bukti otentik yang memperlihatkan bagaimana tangannya sendiri yang menarik pelatuk pistol ke arah Christina Vance dan Hans Sinclair.

"Kau melakukan hal yang benar, Liam," bisik Claudia, suaranya berubah dingin dan tenang secara mengerikan. "Saksi hidup bisa berbicara, tapi barang mati tidak akan pernah membuka mulutnya."

Claudia melangkah menuju perapian batu alam yang menyala hangat di sudut ruangan. Tanpa ragu sedikit pun, wanita itu melempar kaset video mini-DV tua dan flashdisk perak itu tepat ke tengah bara api yang membara merah.

CZZZZT!

Plastik kaset meleleh seketika dalam cengkeraman lidah api, memusnahkan pita rekaman dan komponen elektronik flashdisk hingga menjadi abu hitam yang tak tersisa.

Claudia mengulas senyum kemenangan yang kejam seraya menatap abu yang membara di perapian. "Selesai. Bukti pembunuhan Christina Vance sudah lenyap selamanya. Besok di pengadilan, Nicolas Vance tidak akan punya senjata apa pun untuk menjatuhkan kita."

"Bagaimana dengan mayat si tua Evander itu Bu?"

"Tenang saja Liam, Ibu akan mengirimkan orang untuk membereskannya."

"Ibu memang yang terbaik."

"Tapi, kamu yakin kan tidak ada saksi mata?" tanya Claudia.

"Tidak ada Bu," jawab Liam yakin.

...****************...

Keesokan paginya.

Kompleks Pengadilan pusat kota dikerumuni oleh ratusan wartawan dan kamera televisi dari berbagai stasiun berita nasional.

Pagar besi pembatas dijaga ketat oleh belasan personel kepolisian berpakaian dinas lengkap, berusaha menahan desakan kerumunan jurnalis yang saling bersahutan memanggil nama besar keluarga Vance.

Persidangan pembekuan aset pidana terhadap Liam Vance hari ini menjadi sorotan utama seluruh negeri. Sebuah pertarungan sengit di balik layar antara Nicolas Vance calon pimpinan tunggal Vance Group, dengan Claudia Ophelia, istri kedua Sebastian Vance yang berusaha mempertahankan sisa-sisa kejayaan finansial putranya di bawah bayang-bayang kekuasaan Sebastian yang masih berpengaruh.

Di dalam kabin belakang sedan hitam yang terparkir di area khusus VIP gedung pengadilan, keheningan terasa begitu dingin dan mencekat.

Sienna duduk di sudut kiri jok kulit. Gadis itu mengenakan gaun terusan kain katun hitam berlengan panjang yang dipadukan dengan selendang abu-abu tipis yang melilit bahunya, pakaian yang dipilihkan khusus oleh perawat atas perintah Nico.

Wajah Sienna masih tampak pucat dan tirus, namun sepasang mata cokelatnya tidak lagi memancarkan keputusasaan murni, melainkan sebuah keteguhan yang tersembunyi rapat di balik ketakutannya.

Di sampingnya, Nicolas Vance duduk tegap dalam setelan jas tiga lapis berwarna hitam buatan penjahit Italia. Wajahnya yang tampan tampak dingin tanpa cacat, bagaikan patung marmer yang tak tersentuh oleh emosi manusia. Pria itu sibuk meneliti beberapa berkas dokumen hukum di tangannya sebelum menyusunnya rapi ke dalam tas kulit.

"Tua-tuan Vance..." cicit Sienna pelan, memecah keheningan yang membekukan. "Kenapa... kenapa Anda membawa saya ke tempat ini?"

Nico memalingkan pandangannya perlahan, menatap Sienna dengan sepasang mata kelabu yang menyipit tajam.

"Aku sudah memberitahumu kemarin Sienna," sahut Nico dengan suara yang begitu rendah dan penuh intimidasi.

"Kau adalah piala penderitaan yang kubawa untuk ditunjukkan pada Claudia Ophelia. Aku ingin wanita itu melihat bahwa anak dari kurir miskin yang menghancurkan keluargaku kini berdiri di bawah cengkeramanku, tak berdaya."

Sienna menatap mata kelabu itu tanpa berkedip. Ada rasa sakit yang terbiasa menyengat dadanya, namun Sienna memilih untuk bertahan. "Jika suatu hari nanti Anda tahu bahwa orang yang sebenarnya menghancurkan keluarga Anda berdiri sangat dekat dengan Anda... apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"

Pendar mata Nico meredup seketika. Pria itu mencondongkan tubuhnya secara mendadak, mencengkeram dagu Sienna dengan jarinya yang kokoh, mengunci pandangan gadis itu dalam jarak hanya beberapa sentimeter.

"Jangan pernah mencoba memainkan permainan pikiran denganku, Sienna," desis Nico kaku, napasnya yang hangat berembus di kulit wajah Sienna.

"Iblis yang membunuh ibuku sudah mati bersimbah darah di halaman belakang sebelas tahun lalu. Dan kau... kau adalah penebus dosanya yang tersisa. Ingat posisimu."

Nico melepaskan cengkeramannya dengan sentakan pelan, membuang pandangannya ke luar jendela seraya memberi isyarat pada James yang duduk di kursi kemudi.

Nico melemparkan sebuah kacamata dan masker pada Sienna, sebelum keluar mobil.

"Buka pintunya, James."

Langkah kaki Nicolas Vance yang lebar dan tegap membelah serbuan kilatan lampu kilat kamera di ruang lobi utama pengadilan. Puluhan mikrofon disodorkan ke arahnya, namun Nico berjalan lurus dengan dikawal rapat oleh enam pengawal bertubuh tinggi besar.

Di belakangnya, Sienna melangkah perlahan seraya menahan rasa ngilu di dadanya. Punggungnya tegap meski lututnya terasa lemas. Tatapan-tatapan asing dan kilatan kamera membuatnya teringat pada hari ketika ia diseret keluar dari tahanan anak sebelas tahun lalu.

Namun kini, ia berdiri di sini bukan lagi sebagai bocah tiga belas tahun yang hanya bisa menangis pasrah.

Ruang sidang utama Pengadilan Negeri telah dipenuhi oleh jajaran majelis hakim, jaksa penuntut umum, serta tim kuasa hukum ternama.

Di kursi barisan depan sebelah kanan, duduk Claudia Ophelia. Wanita berumur empat puluhan itu tampil begitu anggun dengan gaun blazer biru tua mahal dan perhiasan mutiara yang melilit lehernya.

Di sampingnya, Liam Vance duduk dengan wajah tegap yang dipaksakan, merasa tenang karena meyakini seluruh bukti penembakan masa lalu sudah lenyap di perapian tadi malam.

Saat pintu kayu ruang sidang dibuka dan Nico masuk bersama Sienna, atmosfer di dalam ruangan berpendingin udara itu seketika merosot drastis.

Pandangan mata Claudia tertuju pada Sienna. Iris matanya membelalak kecil, memancarkan kilatan kaget dan kecemasan tersembunyi yang dengan cepat disembunyikannya di balik senyuman anggun yang dingin. Claudia menyiku lengan Liam, berbisik kaku di telinga putranya.

Nico mengambil tempat duduk di kursi barisan paling depan sebelah kiri, tempat khusus untuk pihak pelapor dan saksi utama. Ia mendudukkan Sienna tepat di sampingnya.

Sienna dapat merasakan tatapan tajam dan penuh kejahatan yang dilayangkan oleh Claudia Ophelia dari seberang ruangan. Sienna membalas tatapan itu sejenak, sebuah tatapan lurus yang membuat Claudia mengerutkan alisnya penuh kejengkolan.

Di dalam benak Sienna, kepastian bahwa wanita berhias mutiara di seberang sana adalah dalang di balik pembunuhan ayahnya dan Christina Vance makin mengkristal rapat.

Gavel kayu majelis hakim diketukkan tiga kali, menggemakan suara nyaring yang membungkam seluruh riuh rendah pengunjung sidang.

TAK! TAK! TAK!

"Sidang perkara pidana pembekuan aset dan dugaan pencucian uang atas nama Terdakwa Liam Vance dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," seru Hakim Ketua dengan suara berat yang memenuhi ruangan.

Jalannya persidangan berlangsung sangat tegang selama satu jam pertama. Tim kuasa hukum Liam yang disewa dengan bayaran miliaran rupiah dari dana alokasi Sebastian Vance berusaha keras menyanggah seluruh tuntutan jaksa, menyatakan bahwa tuduhan pencucian uang dari rekening yayasan almarhumah Christina Vance adalah rekayasa hukum yang tidak memiliki landasan bukti autentik.

"Yang Mulia Majelis Hakim!" seru pengacara utama Liam seraya berdiri tegap. "Seluruh transaksi yang dituduhkan kepada Klien kami, Liam Vance, adalah transaksi bisnis sah atas nama anak perusahaan cangkang yang didirikan secara legal. Pihak Nicolas Vance hanya menggunakan asumsi sepihak untuk menghancurkan reputasi Klien kami."

Claudia mengulas senyum tipis kemenangan di kursinya. Bukti kaset tua sudah menjadi abu, dan pengacara mereka menguasai jalannya sidang.

Namun, senyuman Claudia seketika membeku tatkala Nicolas Vance perlahan berdiri dari tempat duduknya.

Nico tidak memandang tim pengacara Liam. Pria itu mengancingkan jas hitamnya, lalu menoleh ke arah Hakim Ketua dengan ketenangan yang mematikan.

"Yang Mulia Majelis Hakim," ujar Nico dengan suara berat dan bergema penuh otoritas di seluruh penjuru ruang sidang. "Pihak kami memohon izin untuk mengajukan bukti tambahan dan saksi baru yang berhubungan langsung dengan tindakan kriminal Terdakwa Liam Vance yang terjadi kurang dari dua belas jam yang lalu."

Bisik-bisik keterkejutan langsung membahana di antara para pengunjung sidang dan awak media di barisan belakang.

Hakim Ketua mengerutkan dahi, meneliti berkas di mejanya. "Bukti tambahan apa yang dimaksud oleh Saudara Nicolas Vance?"

Pengacara Liam langsung berdiri histeris. "Keberatan, Yang Mulia! Ini adalah persidangan pembekuan aset, bukan persidangan tindak pidana baru. Pihak Pelapor tidak bisa seenaknya memasukkan bukti di luar agenda persidangan."

"Keberatan ditolak," tegas Hakim Ketua seraya mengetukkan palunya sekali. "Pihak Pelapor dipersilakan menunjukkan bukti tambahan tersebut untuk mempertimbangkan integritas Terdakwa."

Nico memberi isyarat pelan pada Matteo.

Matteo melangkah maju membawa sebuah flashdisk hitam dan menyerahkannya kepada petugas panitera sidang untuk diproyeksikan langsung ke layar proyektor besar di dinding utama ruang sidang.

Wajah Liam Vance seketika memucat pasi bagaikan mayat. Seluruh darah di dalam tubuhnya seakan tersedot habis tatkala layar proyektor besar di depan hakim mulai menyala dan menampilkan rekaman video berkualitas tinggi dari jarak jauh.

Layar proyektor menampilkan pemandangan Dermaga yang gelap pada pukul satu malam. Video tersebut tidak memiliki suara karena diambil dari balik celah kontainer dari jarak jauh oleh mata-mata Nico, namun visual gambarnya sangat jernih.

Di dalam rekaman bisu tersebut, terlihat sosok Liam Vance yang mengenakan jaket kulit hitam sedang berdiri berhadapan dengan Evander Diovanni.

Mereka tampak bersitegang selama beberapa detik, sebelum akhirnya Liam menarik pistol berperedam suara dari dalam jaketnya dan menembak dada serta perut Evander secara jarak dekat.

SERB

Seluruh pengunjung ruang sidang membelalak lebar dalam guncangan histeris yang luar biasa! Para wartawan di barisan belakang langsung riuh bersahutan, mengambil foto layar proyektor tanpa henti.

Video terus bergulir, memperlihatkan Liam yang memungut tas milik Evander dari lantai beton, lalu melarikan diri ke dalam kegelapan dermaga.

"TIDAK! ITU PALSU! ITU REKAYASA DIGITAL!" teriak Liam histeris seraya bangkit berdiri dari kursinya, napasnya memburu penuh kepanikan liar.

Claudia Ophelia berdiri dari tempat duduknya, wajah cantiknya yang tadi anggun kini berubah pucat pasi dan dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat.

Ia mengutuk kebodohan Liam yang tidak menyadari bahwa pertemuannya dengan Evander semalam telah diintai oleh orang-orang Nico.

TAK! TAK! TAK!

"Harap tenang! Harap tenang di dalam ruang sidang!" bentak Hakim Ketua seraya mengetukkan palunya berkali-kali dengan wajah yang sangat tegang.

Nico berdiri di tengah ruangan, menatap Liam dan Claudia dengan senyuman miring yang begitu dingin dan mematikan.

"Pria yang dibunuh oleh Terdakwa Liam Vance semalam adalah Evander Diovanni," tutur Nico dengan nada tenang yang justru terasa bagaikan eksekusi mati.

"Rekaman ini diambil langsung oleh tim intelijen privat saya di lokasi kejadian. Dan jasad Evander telah ditemukan oleh pihak kepolisian satu jam lalu tak jauh di hutan dekat dermaga bersama selongsong peluru yang identik dengan senjata milik Terdakwa."

Pintu belakang ruang sidang mendadak didorong terbuka secara kasar.

Enam personel kepolisian berseragam penyidik tindak pidana umum melangkah masuk ke dalam ruang sidang dengan surat perintah penangkapan di tangan mereka.

"Liam Vance!" seru Perwira Polisi memimpin di depan. "Atas nama hukum dan berdasarkan bukti rekaman pembunuhan berencana terhadap korban Evander Diovanni, Anda secara resmi ditahan."

"Ibu Tolong aku, Bu! Ini rekayasa Nicolas, panggil ayah ke sini Bu!" jerit Liam histeris saat dua polisi memiting kedua tangannya ke belakang dan memasang borgol besi di pergelangan tangannya.

"Lepaskan anakku, lepaskan dia!" teriak Claudia penuh kepanikan, berusaha menerobos barisan polisi namun ditahan oleh petugas pengaman sidang.

Ruang sidang berubah menjadi kekacauan total. Kilatan kamera media membakar seluruh sudut ruangan, mengabadikan momen kehancuran putra kesayangan Claudia Ophelia di hadapan hukum.

Di tengah hiruk-piruk kekacauan itu, Nico berdiri tegap di depan meja majelis hakim. Pria itu memutar tubuhnya perlahan, menatap Claudia Ophelia yang kini gemetar hebat seraya menatapnya dengan kebencian yang meluap-luap.

"Ini baru permulaan, Claudia," bisik Nico dengan suara yang hanya bisa didengar oleh wanita itu saat melintas di dekatnya.

"Bahkan jika ayahku mencoba melindungimu dengan sisa pengaruhnya, kau adalah target berikutnya yang akan kubawa masuk ke dalam penjara."

Claudia mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun oleh amarah yang membakar. Matanya beralih menatap Sienna yang masih duduk kaku di barisan depan.

Meskipun bukti rekaman penembakan masa lalu sudah hangus terbakar di perapian rumahnya, Claudia sadar posisi hukumnya kian terancam jika polisi terus mengorek hubungan antara Liam dan Evander. Claudia menatap Sienna dengan kilatan mata pembunuh yang teramat sangat pekat.

"Gadis itu... gadis Sinclair itu tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi," batin Claudia penuh bisa keji.

...****************...

Satu jam kemudian.

Suhu udara siang di luar gedung pengadilan terasa hangat, namun di dalam unit penthouse Nico, atmosfer terasa dipenuhi oleh kemenangan dingin.

Nico duduk di kursi kerja mahoninya, menatap layar monitor komputer yang menayangkan berita utama seluruh stasiun televisi nasional tentang penangkapan Liam Vance atas kasus pembunuhan Evander Diovanni.

Ponsel kerja Nico di atas meja berdering nyaring.

Nico mengangkatnya datar. "Bicara, Matteo."

"Tuan Nicolas," suara Matteo dari balik telepon terdengar melapor. "Penyidik kepolisian telah menggeledah kendaraan dan kediaman Liam Vance. Mereka menemukan tas milik korban Evander Diovanni, namun isi di dalamnya sudah kosong. Diduga barang-barang milik korban telah dimusnahkan oleh pihak Claudia."

Nico menyipitkan matanya. "Tidak masalah. Video eksekusi dari tim kita sudah lebih dari cukup untuk mengunci Liam di dalam sel seumur hidup."

"Baik, Tuan Nicolas. Kami akan terus memantau pergerakan Claudia dan Sebastian Vance."

Nico mematikan sambungan teleponnya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

Pria itu berdiri dan berjalan perlahan menuju rak penyimpanan minuman, menuangkan whisky amber ke dalam gelas kristalnya. Nico menyesap minuman keras itu perlahan, menatap pemandangan kota dari balik jendela kaca raksasa.

Bagi Nico, catur permainan ini berjalan sesuai rencananya. Liam sudah tumbang, dan kekuasaan keluarga Ophelia berada di ambang kehancuran. Pria itu meyakini bahwa sebentar lagi dendam kematian ibunya akan terbalas tuntas.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!