Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Mereka memutuskan untuk pulang karena langit malam terlihat sangat gelap, menandakan hujan deras akan segera turun.

"Ayo, Kak, kita pulang," ajak Revangga.

"Tunggu sebentar, Kakak kunci kafenya dulu," ucap Tian sembari memutar kunci pintu.

"Ayo, Kak, cepat! Keburu hujan nih," desak Brian yang sudah tidak sabaran.

"Sudah, ayo masuk mobil."

Mereka pun segera berangkat. Namun, belum sempat mereka sampai di apartemen, titik-titik air hujan mulai membasahi bumi.

"Yaaah, hujan..." keluh Elvian menyandarkan kepalanya di kaca jendela.

"Pelan-pelan saja menyetirnya, Kak. Tidak usah mengebut," ucap Revangga mengingatkan dari kursi tengah.

Hujan yang turun semakin deras membuat jarak pandang ke jalanan di depan menjadi kurang jelas. Tiba-tiba saja...

Brak!

"Hyaaaaaaa!"

Mereka serentak berteriak saat mendengar suara benturan keras, disusul guncangan seolah-olah mobil mereka baru saja menabrak sesuatu.

"Apa yang kita tabrak tadi, Kak?" tanya Elvian panik dengan jantung berdebar kencang.

"Kakak lihat dulu ke luar. Kalian tetap di dalam mobil," instruksi Tian dengan wajah tegang.

Tian keluar dari mobil sambil menerobos derasnya hujan. Saat mengecek ke bagian depan mobil, Tian tersentak mundur karena terkejut. Dia melihat tubuh seorang pria tergeletak bersimbah darah di atas aspal.

"Astaga! Apa dia meninggal?!" gumam Tian dicekam ketakutan. "Rangga! El! Brian! Turun!" teriak Tian memanggil yang lain.

Mendengar teriakan Tian, mereka bertiga langsung turun dari mobil. Mereka ikut terbelalak ngeri melihat tubuh tragis yang terbaring lemas di depan mereka.

"Coba kamu cek nadinya, Brian! Dia sudah meninggal atau belum?" perintah Tian dengan suara bergetar.

"Hmm." Brian segera berlutut di tengah guyuran hujan. Dia menempelkan jarinya ke leher pria itu, mencoba mencari denyut nadi. Detak itu masih terasa, walau sangat samar. "Dia masih hidup, Kak! Tapi nadinya lemah sekali."

"Kalian cepat angkat dia ke dalam mobil! Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" seru Tian panik.

Brian, Elvian, dan Revangga langsung bergotong-royong menggotong tubuh kekar pria itu dan memasukannya ke kursi belakang. Tian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat karena melihat wajah pria misterius itu sudah sangat pucat pasi.

Hanya butuh waktu lima menit bagi mereka untuk sampai di lobi rumah sakit.

"Dokter! Suster! Tolong, ada orang sekarat di sini!" teriak Brian menggelegar di koridor rumah sakit.

Mendengar teriakan itu, dokter jaga dan beberapa perawat dengan sigap langsung mendorong sebuah brankar ke arah mereka.

"Tidurkan di sini," perintah sang dokter.

Dengan cepat, tim medis mendorong brankar itu masuk ke dalam ruang UGD.

"Kalian tolong urus bagian administrasi di depan terlebih dahulu," ucap dokter itu sebelum pintu UGD tertutup rapat.

"Biar Kakak saja yang mengurus administrasi. Kalian tunggu saja di sini," ucap Tian kepada adik-adiknya.

"Iya, Kak," sahut Revangga yang langsung duduk di kursi tunggu bersama Brian dan Elvian.

Lebih dari dua jam mereka menunggu dalam kecemasan, tetapi belum ada tanda-tanda lampu merah di atas pintu UGD berubah menjadi hijau. Sampai akhirnya...

Ceklek.

Pintu terbuka, dan sang dokter keluar dengan sisa-sisa peluh di dahinya. "Syukurlah, operasinya berjalan lancar. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap."

"Haaa... syukurlah," ucap Tian mengembuskan napas lega yang teramat sangat.

"Maaf, kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu hingga terluka separah itu?" tanya dokter penasaran.

"Kami kurang tahu pasti, Dok. Saat kami sedang jalan pulang di tengah hujan lebat, tiba-tiba pria itu sudah tergeletak di depan mobil kami dalam kondisi terluka," jelas Tian berusaha jujur.

"Hmm, begitu ya. Saya menemukan ada dua luka tembak di dada dan lengan pria itu. Sepertinya dia sudah terkena tembakan sebelum tidak sengaja tertabrak atau jatuh di depan mobil Anda," jelas sang dokter lagi.

Luka tembak?! Apa dia dikejar orang atau jangan-jangan dia buronan?" bisik Elvian ngeri.

"Saya tidak tahu pasti kalau soal itu. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter itu lalu melangkah pergi.

"Kak, kita pulang saja yuk? Aku takut kita malah kena masalah kalau seandainya pria itu benar-benar buronan polisi," bisik Revangga cemas.

"Kita tidak bisa pergi begitu saja, Rangga. Bagaimana kalau pria itu sebenarnya korban perampokan atau korban percobaan pembunuhan?" bantah Tian bijak.

"Kita juga tidak tahu mana yang benar," timpal Brian bingung.

Sementara itu, di dalam ruang rawat inap yang hening.

"Hmm... ssss... ini di mana?" Pria itu mengerang pelan sembari melirik ke sekeliling ruangan yang serba putih.

Ceklek.

Pintu kamar rawat terbuka. "Hah? Anda sudah bangun, Tuan?" ucap Elvian terkejut saat masuk membawa segelas air.

"Saya... ada di mana?" tanya pria itu dengan suara serak.

"Tuan sekarang ada di rumah sakit. Kami menemukan Tuan tergeletak bersimbah darah di jalanan," jawab Tian yang baru masuk di belakang Elvian.

Pria itu terdiam sejenak sebelum membalas, "Terima kasih sudah menolong saya."

Sama-sama, Tuan," sahut Elvian ramah.

Namun, setelah mengucapkan terima kasih, netra tajam pria itu terus tertuju pada wajah Elvian tanpa berkedip sedikit pun.

Merasa risi diperhatikan begitu intens, Elvian mengernyitkan dahi. "Tuan, kenapa melihat gue—maksudnya saya, seperti itu?"

"Kamu cantik," ucap pria itu dengan sangat jujur dan frontal.

"Sembarangan! Anda ini bagaimana sih, Tuan? Saya ini pria, harusnya tampan dong, masa dibilang cantik!" protes Elvian dengan pipi yang mengembung kesal.

"Saya berkata jujur. Kamu memang cantik untuk ukuran seorang pria," kekeh pria itu pelan.

"Haaa, tau ah!" Elvian langsung memalingkan wajahnya yang mendadak memerah.

"Hihihi..." Tian tidak bisa menahan tawa melihat tingkah Elvian.

"Nama Anda siapa, Tuan?" tanya Revangga yang baru saja masuk ke dalam kamar inap bersama Brian.

Nama saya Maxime," jawab pria itu singkat dan tegas.

"Maxime? Anda... pemilik perusahaan MX Company itu, kan?" tanya Tian memastikan dengan mata membelalak.

"Iya, saya pemiliknya," aku Maxime tenang.

"Kakak kenal?" bisik Elvian bingung.

"MX Company itu adalah salah satu perusahaan raksasa terbesar di dunia, masa kalian bertiga tidak tahu?" ucap Tian heran.

Mendengar itu, Elvian, Brian, dan Revangga kompak menggelengkan kepala bersamaan.

"Mana aku tahu. Kalau Kakak tanya soal tipe motor baru, aku pasti tahu. Iya kan, Bri? Ngga?" sahut Elvian mencari pembelaan.

"Yoi, Bro!" dukung Brian.

"Jangan tanya gue. Gue tidak tahu soal motor. Tapi kalau elo tanya soal bumbu masakan

Dan bahan-bahan untuk membuat kue, gue baru tahu," celetuk Revangga polos.

"Aneh elo mah, Ngga. Masa bisa ikutan balapan tapi tidak tahu apa-apa tentang mesin motor?" sindir Brian.

"Emangnya kalau elo suka makan roti, elo harus tahu seluruh bahan pembuatannya? Kan tidak juga," balas Revangga tidak mau kalah.

"Benar juga sih," angguk Elvian membenarkan ucapan Revangga.

"Kenapa kalian malah jadi ribut di sini? Tidak enak tahu, ada Tuan Max," tegur Tian merasa tidak enak pada pasien.

"Hehehe, maaf, Kak," ucap Revangga menyengir.

"Tidak apa-apa," sahut Maxime santai.

Jika boleh saya tahu, kenapa Tuan Max bisa terkena luka tembak?" tanya Tian dengan nada yang sangat sopan.

Tatapan Maxime seketika berubah dingin dan menusuk. "Saya ditembak oleh musuh saya saat sedang mengejar seorang pengkhianat."

"Elo... pasti seorang ketua mafia, ya?" tebak Elvian spontan tanpa saringan.

"Iya, benar. Kenapa? Apa kamu menyukainya?" tantang Maxime dengan seringai tipis.

"Kata siapa gue suka? Jadi mafia itu pasti hidupnya tidak pernah tenang, tidak bisa tidur nyenyak, dan punya banyak musuh di mana-mana," cerocos Elvian bergidik.

"Kamu benar. Jadi mafia itu memang tidak enak. Bahkan saudara sendiri pun bisa menjadi musuh," aku Maxime membenarkan.

Lalu kenapa tetap mau jadi mafia kalau sudah tahu rasanya tidak enak?" tanya Elvian bingung.

Maxime tidak langsung menjawab. Dia tiba-tiba memajukan tubuhnya, mendekat ke arah Elvian, lalu berbisik tepat di telinga pemuda manis itu.

"Karena... saya sangat suka menembak dan membunuh orang," bisik Maxime dengan senyum miring yang terlihat sangat mengerikan di mata Elvian.

Glek.

Elvian meneguk ludahnya dengan susah payah. Bulu kuduknya meremajang seketika karena ketakutan mendengar bisikan bernada psikopat itu.

"Gue... gue ke... keluar dulu, Kak!" Elvian langsung berbalik dan berlari kencang keluar dari ruangan. Dia mendudukkan dirinya di kursi koridor dengan napas yang tersengal-sengal.

"Gila tuh orang! Masa hobinya menembak dan membunuh orang? Harusnya hobi itu balapan atau main musik! Gila, gila!" racau Elvian merinding sendiri.

Tidak lama kemudian, Revangga dan Brian menyusul keluar karena heran melihat tingkah temannya.

"Kenapa elo kayak ketakutan setengah mati begitu, El?" tanya Revangga bingung.

"Apa yang dibisikkan pria tadi sampai elo langsung kabur ketakutan begini?" tanya Brian penasaran.

"Masa dia bilang dia suka menembak dan membunuh orang, makanya dia jadi mafia!" adu Elvian heboh.

"Hiiiy... seram juga ya," sahut Revangga ikut bergidik ngeri.

"Hati-hati lho, El. Sepertinya bos mafia itu suka sama elo," goda Brian sengaja menakut-nakuti Elvian.

"Iiiih! Jangan menakut-nakuti begitu dong!" seru Elvian panik.

"Lah, memang benar kok! Apa elo tidak lihat bagaimana tatapan pria itu ke elo tadi? Menatap elo tanpa berkedip sama sekali. Seolah-olah elo itu adalah mangsa empuk yang siap untuk dimakan hidup-hidup," kompor Brian lagi sambil tertawa jahat.

"Haaaa! Gue gak mau!" teriak Elvian frustrasi menutup kedua telinganya.

"Brian, sudah dong. Jangan menakut-nakutinya terus, nanti El beneran menangis loh," lerai Revangga, walau dia sendiri sedang mati-matian menahan tawa melihat wajah pucat Elvian.

"Gue sumpahi elo juga bakal disukai sama mafia yang paling kejam, Bri! Biar elo dijadikan objek obsesi dia selamanya!" kutuk Elvian kesal karena terus digoda.

"Huuu, takutnyaaa... Hahaha!" tawa Brian pecah begitu keras, tidak memedulikan kutukan Elvian.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!