Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keesokan paginya Tiyas membuka matanya perlahan-lahan.

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden membuat matanya terasa silau, menyengat kesadarannya yang baru kembali.

Bersamaan dengan itu, ia merasakan kepalanya

yang berdenyut di pelipisnya akibat efek alkohol semalam.

Tiyas mencoba menggerakkan tubuhnya, namun gerakannya terhenti saat menyadari suasana ruangan yang asing.

Ini bukan kamarnya.

Saat ia memutarkan pandangan, matanya menangkap sosok seorang pria.

Ia melihat Naren yang duduk di hadapannya, menyandarkan punggung di kursi kayu dengan kedua tangan bersedekap.

Tatapan matanya yang tajam mengunci Tiyas, sarat akan ketegasan namun menyimpan rasa cemas yang mendalam.

"Aku kecewa sama kamu, Tiyas," ucap Naren dengan suara bariton yang berat dan tenang, namun begitu menusuk.

Tiyas mematung, tenggorokannya mendadak kering.

Naren memajukan posisi duduknya, menatap lurus ke dalam iris mata Tiyas yang masih sayu.

"Kenapa kamu ada di tempat seperti itu? Kenapa? Hm?"

Mendengar pertanyaan bernada menuntut itu, ingatan semalam perlahan berputar kembali di kepala Tiyas—tentang deretan sloki yang ia teguk, rasa frustrasinya, hingga tindakan nekatnya di depan bar counter.

Tiyas menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemarinya mencengkeram ujung selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia merasa malu dengan Naren.

Rasa bersalah yang membuncah kini mengalahkan rasa sakit kepalanya.

Bagaimana bisa ia bersikap sesampah itu di hadapan pria yang selama ini selalu menghormati dan melindunginya?

Naren menghembuskan napas panjang, menatap wanita di hadapannya dengan campuran rasa iba dan amarah yang tertahan.

"Kalau semalam bartender itu nggak telepon aku," lanjut Naren, suaranya memelan namun sarat penekanan, "mungkin kamu sekarang sudah diculik atau dimanfaatkan orang jahat di sana. Kamu tahu betapa bahayanya tindakan kamu semalam, Tiyas?"

"M-maaf," bisik Tiyas lirih. Suaranya bergetar, tercekik oleh rasa malu dan penyesalan yang membakar dadanya.

Ia semakin menundukkan kepala, tak sanggup menatap manik mata Naren yang begitu menuntut.

Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan menetes, jatuh membasahi jemarinya yang masih mencengkeram erat ujung selimut.

Melihat lelehan air mata dan bahu Tiyas yang mulai berguncang pelan, ketegangan di wajah Naren perlahan melunak.

Emosi dan rasa kecewa yang semula membumbung tinggi seketika luntur, berganti menjadi rasa iba yang mendalam.

Naren menghela napas panjang—sebuah hembusan napas berat yang melepaskan sisa-sisa kemarahannya.

Pria itu bangkit dari duduknya, melangkah mendekati tepi tempat tidur, lalu berlutut di samping Tiyas agar pandangan mereka sejajar.

dengan perlahan, Naren mengulurkan tangannya dan menangkup kedua pipi Tiyas, memandu wajah wanita itu agar terangkat dan menatapnya.

"Aku marah bukan karena benci sama kamu, Tiyas," ucap Naren, suaranya kini melunak, hangat dan begitu lembut.

"Aku, marah karena aku cemas. Aku nggak bisa membayangkan kalau sampai terjadi hal buruk sama kamu semalam, di saat kamu baru saja berjuang keluar dari rasa sakit itu."

Tiyas memejamkan mata erat-erat, merasakan kehangatan telapak tangan Naren di pipinya yang dingin.

"Jangan pernah obati luka kamu dengan cara menghancurkan diri sendiri lagi," lanjut Naren tegas namun penuh perlindungan.

"Kamu punya aku. Kamu bisa bagi rasa sakit itu ke aku, bukan ke gelas-gelas alkohol di tempat laknat itu."

"Aku sebagai lelaki tidak pernah menyentuh gelas-gelas maksiat itu," tegas Narendra lagi, menatap lurus ke dalam iris mata Tiyas dengan kewibawaan yang tak tergoyahkan.

"Jangan ulangi lagi, Tiyas."

Tiyas menganggukkan kepalanya pasrah. Rasa bersalah yang teramat sangat menyelimuti dadanya, menyadarkan dirinya betapa berharganya perlindungan dari pria di hadapannya ini.

"Iya, Naren. Aku minta maaf," bisik Tiyas dengan suara serak.

"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Narendra menatap Tiyas sejenak, memastikan janji itu terukir tulus di mata Tiyas.

Senyum tipis yang hangat perlahan terbit di bibir pria itu, mengikis habis sisa-sisa ketegangan yang menggantung di dalam kamar.

Ia berdiri dari posisi berlututnya, mengusap puncak kepala Tiyas dengan lembut.

"Lekas mandi, setelah itu kita sarapan. Aku sudah masak nasi goreng," ucap Narendra seraya berbalik melangkah menuju pintu, meninggalkan Tiyas yang mulai merasakan kehangatan baru menyusup ke dalam hatinya yang sempat hancur.

Narendra sudah menyiapkan pakaian ganti miliknya—sebuah kemeja hem longgar berwarna biru pucat dan celana kolor kain yang bersih—lalu meletakkannya dengan rapi di atas tepi tempat tidur.

Tiyas segera menuju ke kamar mandi, membersihkan diri dan membiarkan kucuran air dingin mengikis sisa-sisa pusing di kepalanya.

Pakaian milik Narendra terasa amat besar di tubuhnya yang ramping, tetapi aroma wangi maskulin yang khas dari kain kemeja itu secara aneh memberikan rasa aman yang menenangkan.

Setelah lima belas menit, Tiyas keluar dari kamar dan berjalan canggung menuju ke ruang makan.

Di sana, Narendra sudah menunggu di balik meja makan yang tertata rapi.

Pria itu menoleh, menatap Tiyas sejenak dengan pendar mata yang hangat sebelum akhirnya memecah keheningan.

"Maaf, aku membawamu ke rumahku," ujar Narendra halus.

Tiyas menganggukkan kepalanya dengan senyum canggung yang terulas tipis di bibirnya.

"Nggak apa-apa, Naren. Justru aku yang harusnya terima kasih."

"Ayo, kita sarapan dulu," potong Narendra lembut.

Narendra mengambil piring kosong, lalu mengambilkan porsi nasi goreng yang masih mengepul hangat untuk Tiyas lengkap dengan piringnya, memanjakannya tanpa sedikit pun canggung.

Tiyas menerima piring itu dengan jemari yang sedikit gemetar.

Namun, saat Narendra duduk kembali tepat di hadapannya dan menatapnya lurus, kalimat berikutnya meluncur santai dari bibir pria itu.

"Kita seperti sepasang suami istri, ya," ucap Naren pelan.

Tiyas tersenyam tipis, menundukkan pandangannya berpura-pura sibuk memegang sendok.

Di balik sikap tenangnya, jantungnya berdetak kencang bagai derap langkah yang tak beraturan saat mendengar perkataan dari Narendra.

Ada kehangatan asing yang mendadak meledak di dalam dadanya, menggantikan puing-puing kepedihan yang semalam sempat menghancurkannya.

Tiyas mendongak, menghentikan denting sendoknya di atas piring.

"Setelah ini antarkan aku pulang, ya?"

Narendra menggelengkan kepalanya mantap, mengunyah nasi gorengnya santai sebelum menjawab.

"Aku akan mengajakmu ke tempat yang indah, jadi Bu CEO libur dulu ya," tutur Narendra dengan nada yang tak bisa dibantah namun terdengar begitu hangat.

"Mengingat semalam kamu mabuk dan harus rehat dari semua beban pekerjaanmu."

Tiyas menaikkan sebelah alisnya, rasa penasaran mulai mengikis rasa canggung di dadanya.

"Memang kita mau ke mana?" tanya Tiyas.

"Rahasia," jawab Narendra sambil menggigit kerupuknya hingga berbunyi renyah, mengedipkan sebelah matanya ke arah Tiyas dengan ulasan senyum misterius yang membuat degupan di dada Tiyas kian tak beraturan.

Setelah selesai makan, Tiyas membantu mencuci piring dan membersihkan meja makan.

Jemarinya yang terampil membilas peralatan makan dengan cermat, mencoba mengalihkan rasa gugup yang sejak tadi menggelitik dadanya.

Narendra yang berdiri di dekatnya hanya memperhatikan dengan ulasan senyum tipis di bibirnya.

"Ayo, sekarang ikut aku," ujar Narendra begitu Tiyas selesai mengeringkan tangannya dengan kain lap.

"Tapi," belum sempat Tiyas menyelesaikan kalimatnya, Narendra sudah melangkah mendahuluinya.

Narendra mengambil kain halus berwarna hitam dari laci lemari dan mendekat dari belakang.

Tanpa memberi ruang untuk protes, ia melingkarkan kain tersebut dan menutup mata Tiyas dengan sangat hati-hati.

"Naren, kenapa ditutup seperti ini?" tanya Tiyas reflex memegang jemari Narendra yang sedang mengikat simpul longgar di belakang kepalanya.

Aroma wangi parfum maskulin milik pria itu mendadak menguar sangat dekat, membuat napas Tiyas tercekat sejenak.

"Namanya juga rahasia," bisik Narendra di dekat telinganya, suaranya terdengar begitu dalam dan menggoda.

"Tapi aku nggak bisa lihat jalan, Naren."

"Ada aku," potong Narendra singkat namun sarat akan kepastian.

Naren menggenggam erat tangan Tiyas, menuntun langkah wanita itu dengan sangat protektif agar tidak tersandung saat keluar dari rumah.

Setiap kali Tiyas ragu melangkah, genggaman tangan Narendra semakin menguat, menyalurkan rasa aman yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Ia membimbing Tiyas masuk ke dalam mobil, mendudukkannya di kursi penumpang depan, dan memasangkan sabuk pengaman dengan lembut.

Setelah memastikan Tiyas nyaman, Narendra berputar mengitari kap mobil, lalu mengambil alih kemudi di kursi pengemudi.

Mesin mobil berderu halus. Setelah itu ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota, membawa Tiyas yang diliputi kehangatan dan rasa penasaran menuju tempat rahasia yang telah ia siapkan.

1
Noey Aprilia
Suami spupunya aja dia rbut,aws aja kl suami kknya jg d rebut....🙄🙄🙄....
Noey Aprilia
Gmana ga ngsih rstu....naren bnr2 clon suami plus clon mntu idaman...
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
Noey Aprilia
Stlh psah sm suami durjana,tiyas dptn clon suami idaman....sng mntan pst nysel krna akhrnya hdp mndrta..
sokooorrr.....😛😛😛
Noey Aprilia
Tuuhhh....
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
sunaryati jarum
Akhirnya dapat restu dari orang tua
Ariany Sudjana
Tyas masih juga memikirkan pekerjaan, yang penting kamu sehat dulu. dokter sudah minta kamu istirahat, patuhi nasehat dokter
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘
my name is pho: Terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
owh ternyata prank 🤣🤣😂😂
sunaryati jarum
so sweet banget Naren ngeprank kamu
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Emak suka ceritanya tidak muter dan bertele-tele
sunaryati jarum
Baru mampir
my name is pho: Selamat membaca kak 🥰🙏
total 1 replies
Heny
Bearti yg kaya Tyas dan Naren gio dan mia benalu
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
harusnya Tyas kasih jawaban tunggu sampai putusan pengadilan keluar, kalau pas baru mediasi sudah ada jawaban dari Tyas, bisa jadi senjata untuk gio dan Mia, mereka nanti berpikir Tyas dan Narendra juga selingkuh di belakang mereka
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai Mia, kan pilihan kamu sendiri untuk selingkuh dari Narendra demi seorang gio, jadi jalani saja yah 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
pertimbangkan baik-baik lamaran Narendra tadi Tyas,betul kamu masih terluka, tapi tetap kamu perlu seorang yang bisa melindungi kamu
Ariany Sudjana
bodoh kamu Tyas, sama saja kamu itu sampah seperti Mia, kamu menghancurkan diri kamu sendiri dengan mabuk alkohol
Ariany Sudjana
bagus Tyas dan Narendra, kalian berdua sudah tegas terhadap pasangan pengkhianat tersebut, dan tinggal tunggu sidang saja 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar suami bodoh kamu gio, kamu merasa insecure terhadap Tyas, terus apa itu bisa jadi alasan untuk kamu selingkuh ? dasar laki-laki pengecut kamu gio, kamu memilih mengkhianati perempuan hebat seperti Tyas, demi seorang pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
bagus Imelda ngomong gitu ke Tyas, biar sadar belum berjuang kok sudah tumbang, karena kesehatan tidak mendukung dan juga ga perlu sok kuat, kamu juga perlu orang untuk berbagi, dan sekarang kamu buat semua orang sibuk Tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!