Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Kembali Disebut

"Kenapa?"

"Karena kau mudah kedinginan."

Jika Aurora tetap mengikuti perasaannya yang sedang rentan itu, mungkin Aurora akan mempercayai bahwa Rozen mulai menaruh hati padanya. Dan pada kenyataannya, Rozen belum melakukan hingga sejauh itu.

Syal biru langit yang lembut dipandang Aurora dengan sendu. Hadiah kedua berupa barang pemberian suaminya.

Aurora tidak tahu harus mengatakan apa. Namun Aurora tidak membatasi dirinya untuk memperlihatkan ekspresi bahagia itu disusul senyum kecil di wajahnya.

"Terima kasih," ungkapnya bersungguh-sungguh.

Rozen mengangguk.

Dari dalam kotak, Aurora mengeluarkan syal birunya. Pada sentuhan pertama, pada telapak tangannya yang halus, Aurora terpukau akan kelembutan kainnya. Dan ketika Aurora mengenakan syal tersebut, tatapan Rozen sempat berhenti beberapa detik pada penampilan Aurora setelah mengenakan syal pemberiannya.

Bukan karena rasa asing yang telah menyinggahi hatinya, melainkan warna biru itu. Jejak paling melekat di ingatan Rozen tentang sosok ibu kandungnya.

Dan untuk sesaat, Rozen kembali melihat sosok wanita yang telah lama tiada. Membangkitkan kembali kerinduan yang masih terjerat di hatinya tanpa bisa diungkapkan.

Rozen segera mengalihkan pandangan. Kerinduan itu mungkin menggebu-gebu, tapi ia tidak ingin mengakui bahwa ada sesuatu dari Aurora yang mulai terasa familiar.

Bukan cinta. Belum. Rozen belum sampai sejauh itu. Hanya perasaan samar yang belum mampu ia beri nama.

Aurora masih tersenyum kecil dengan balutan syal yang dikenakannya tanpa mengetahui bahwa perhatian sederhana dari suaminya perlahan mulai mengubah sesuatu di antara mereka.

...***...

"Istirahatlah." Rozen meninggalkan titah sebelum meninggalkan meja makan.

Pagi tadi mungkin terasa dingin namun percakapan di meja makan justru membuat Aurora merasa hangat. Tidak bermaksud melebihkan perilaku suaminya, hanya saja Aurora tidak bisa menepis begitu saja rasa syukurnya setiap kali perhatian kecil yang terlalu berterus terang itu ditujukan padanya.

Bahkan saat siang menyingsing, Mansion Salvadore terasa lebih tenang dari biasanya.

Setelah perpisahan mereka di meja makan, Aurora mengunjungi taman, salah satu tempat yang menjadi lokasi kesukaannya.

Aurora berada di taman belakang. Ada Bibi Rosa juga di sana. Keduanya duduk bersama disuguhi secangkir teh yang menjadi teman bersantai. Bahkan syal biru pemberian Rozen masih melingkar di leher Aurora meskipun udara siang tidak terlalu dingin.

Sesekali tangan lentik berkuku beningnya menyentuh kain lembut itu karena menganggap benda sederhana tersebut terasa begitu berarti. Sebenarnya semua yang Rozen lakukan sangat berarti. Namun untuk sesuatu yang memiliki wujud seperti syal dan gelang hadiah pernikahannya, menurut Aurora benda itu memiliki nilai yang jauh lebih spesial.

"Sepertinya Nona Aurora sangat menyukai syal itu." Suara Rosa membuat Aurora tersentak lantas segera melepaskan tangannya dari syal.

"Bukan begitu, Bibi Rosa," elaknya.

Rosa tertawa kecil menyadari tingkah majikannya yang menggemaskan. Bibi Rosa yang mulai mengenal Aurora sedikit demi sedikit mulai mengerti respon seperti apa yang Aurora perlihatkan ketika sedang merasa malu.

"Kalau bukan begitu, kenapa sejak tadi tidak berhenti menyentuhnya?"

Aurora memalingkan wajah yang telah diisi semburat merah yang kontras di kulit putihnya.

"Karena nyaman."

"Ah."

Lihatlah bagaimana Bibi Rosa tersenyum penuh arti setelah berbicara dengan nada centil khas ledekan yang tepat sasaran.

Aurora menghela napas. Bibi Rosa sedang menggodanya.

"Bibi sedang menggodaku?” selidik Aurora.

"Hm? Aku tidak mengatakan apa-apa," bantah Bibi Rosa.

Akhirnya mereka tertawa kecil bersama.

Gurauan kecil yang tercipta di antara Aurora dan Bibi Rosa semakin terasa natural. Perbincangan di antara mereka semakin terdengar akrab layaknya sebuah pertemanan yang sudah lama terjalin. Tawa mereka bahkan terdengar renyah ditelinga.

Aurora menikmatinya bagai tidak ada tembok yang membatasi walau hubungan mereka adalah seorang pelayan dan majikan.

Di tengah canda tawa hangat di taman, suasana santai itu tiba-tiba berubah. Aurora terusik oleh sapaan seorang pelayan yang datang menghampiri.

"Nona Aurora."

Aurora menoleh dengan sisa tawa yang masih tercipta di bibir tipisnya.

"Ya?"

"Maaf mengganggu. Tuan Rozen meminta Anda datang ke ruang kerjanya."

Aurora sedikit terkejut. Belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi Aurora tidak bertanya lebih jauh. Iya berdiri, berpamitan dengan Bibi Rosa lalu menyusul Rozen ke ruang kerjanya.

Aurora tampak mengatur sedikit napasnya sebelum benar-benar mengetuk pintu.

Tidak lama setelah ketukan terdengar, sebuah sapaan terdengar dari dalam. Itu suara Rozen yang meminta Aurora untuk masuk. Aurora menyentuh gagang pintu, memutar perlahan hingga pintu ruang kerja Rozen terbuka sedikit demi sedikit, menampilkan sosok Aurora berdiri di depan pintu ruang kerja tersebut.

Beberapa detik berlalu hanya dengan Rozen memandang istrinya yang melangkah masuk. Tanpa kata, tanpa ekspresi yang berlebih. Seperti Rozen yang biasa.

Rozen berdiri di dekat jendela dengan ponsel di tangannya sementara pandangan tertuju ke istrinya. Namun untuk kali ini Aurora merasa bahwa wajah suaminya tampak lebih serius dari biasanya.

Hingga Aurora berhenti beberapa langkah dari Rozen.

"Kamu memanggilku?" Aurora tidak ingin diam lebih lama.

Rozen mengangguk sekali sebelum mulai menyampaikan tujuannya memanggil Aurora. Sementara Aurora menunggu hingga Rozen melanjutkan kalimatnya.

"Besok kita akan menghadiri sebuah acara."

"Acara?"

"Pertemuan bisnis keluarga."

Aurora mengangguk dengan pelan. Acara keluarga yang artinya kembali berhadapan dengan keluarga besar suaminya lagi. Aurora mungkin belum siap jika harus kembali bertemu keluarga besar suaminya. Namun wanita itu juga tidak ingin terlihat mengecewakan di hadapan Rozen. Terlebih lagi Aurora tidak ingin mempermalukan reputasi Rozen sebagai seorang pewaris Salvadore yang terhormat dengan ketidakhadirannya.

"Baiklah," ucap Aurora pelan.

Namun Rozen masih belum selesai dengan perkataannya.

"Kemungkinan beberapa orang akan menyinggung tentang Isabella."

Isabella.

Nama itu membuat Aurora terdiam. Sudah beberapa hari ia berusaha tidak memikirkannya. Namun siapa sangka kalau nama itu justru terucap dari bibir suaminya. Entah kenapa, Aurora sedikit tidak menyukainya.

Sayangnya, sebesar apapun ketidaksukaan itu tumbuh, nama Isabella akan tetap menjadi bayangan yang tidak akan pernah benar-benar pergi.

Aurora menundukkan wajah. Kenyataan itu terlalu menamparnya kali ini. Di saat Aurora mulai menikmati status sebagai istri, bukan sebagai pengganti.

"Isabella... Dia akan datang?"

"Tidak," jawaban Rozen cepat.

"Lalu”

"Orang-orang akan bertanya." Rozen memandang istrinya tepat di sepasang mata bulat yang sedang tampak gundah tersebut. "Dan aku tidak ingin kau terkejut."

Aurora mengerjabkan mata karena ia tiba-tiba merasa bahwa ada sesuatu dengan cara Rozen mengatakannya. Hal itu yang membuat dada Aurora terasa ringan.

Aurora merasa bahwa Rozen memberitahunya bukan karena kewajiban semata. Walau mungkin hal itu hanya perasaan semu semata, setidaknya Aurora ingin mempercayai perasaannya kali ini. Meski dengan konsekuensi terburuknya bahwa Rozen memang tidak memiliki perasaan apapun.

"Aku akan baik-baik saja." Ucapan ini penuh keraguan tapi Aurora bersedia menerimanya.

"Baguslah."

Saat hendak pergi meninggalkan ruang kerja suaminya, setelah Aurora rasa percakapan mereka telah usai, Rozen kembali memanggilnya.

"Aurora."

Panggilan itu menghentikan langkah Aurora kemudian menoleh menghadap Rozen. Aurora tidak berkata, hanya memandang dan menanti apa yang hendak disampaikan suaminya.

"Jangan merasa harus menjelaskan apa pun kepada mereka," ucap Rozen dengan mimik serius. Rozen selalu terlihat datar ekspresinya setiap berbicara dengan Aurora. Tapi saat ia mengucapkan kalimat itu, Rozen tampak sedikit berbeda.

Aurora masih setia membisu bahkan tidak bereaksi saat Rozen sedang berjalan mendekat ke arahnya.

"Tidak perlu membuktikan bahwa kau pantas menjadi istriku."

Tatapan mereka bertemu dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Hanya ada space seluas satu meter saja yang memisahkan keduanya. Terlalu dekat dan terlalu sunyi.

Rozen telah berdiri sedekat itu dan Aurora menyadari setelah jantung kecilnya berdetak sedikit lebih cepat.

"Kenapa?"

Ada getar yang semakin sulit Aurora kendalikan di dalam dirinya. Bahkan ia mulai kesulitan membedakan mana perhatian yang lahir dari tanggung jawab dan mana perhatian yang mungkin datang dari perasaan.

Mungkin Aurora juga tidak menyadari bahwa kalimat yang Rozen ucap barusan ternyata menetap begitu dalam di hatinya. Hingga wanita berhati lembut itu terlalu mudah terbawa perasaan.

Sudah jelas bahwa Aurora tahu Rozen tidak pernah mengatakan pria itu mencintainya. Bahkan sejak awal pernikahan mereka terjadi. Tetapi perhatian itu yang menjadi dalangnya. Membuat hati Aurora mulai menafsirkan sesuatu yang sebenarnya belum tentu ada.

Aurora tidak pernah mencoba berharap. Namun Aurora juga tidak pantas disalahkan atas harapan yang tiba-tiba hadir dengan sendirinya.

***

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!