Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Menuju Kebebasan

Arsen menekan sebuah tombol kecil yang tersembunyi di balik rak. Perlahan, rak buku itu kembali bergeser dan menutup pintu rahasia yang baru saja dilewatinya.

Arsen mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Ruangan itu ternyata cukup nyaman. Ada sebuah sofa tunggal yang diletakkan menghadap meja kecil dengan vas bunga di atasnya. Di sisi lain terdapat rak-rak penuh buku, sementara sebuah etalase kaca memajang berbagai barang antik dan langka.

Arsen mengangkat alis.

“Siapa sebenarnya yang punya ruangan ini?”

Tatapannya beralih ke sekeliling.

“Papa atau Mama?”

Rasa penasarannya justru semakin besar.

Arsen kemudian berjalan mendekati rak buku. Jemarinya menyusuri deretan novel sebelum berhenti pada sebuah buku dengan sampul berwarna gelap.

Ia menariknya perlahan.

“The Blood...” gumam Arsen membaca judulnya.

Alisnya langsung berkerut.

Ilustrasi pada sampul buku itu cukup mengerikan—seorang perempuan paruh baya dengan ekspresi dingin memangku sesuatu yang membuat bulu kuduk Arsen berdiri.

“Gila...”

Arsen segera membalik buku itu dan membaca nama penulisnya. Ia pernah mendengar nama tersebut. Penulis yang dikenal dengan cerita-cerita psikologis gelap dan karakter-karakter yang tidak biasa.

“Pantas saja.”

Arsen menelan ludah.

“Kalau bukan Papa, berarti...”

Ia kembali memandangi buku itu.

“Mama?”

Arsen mengernyit heran.

“Sejak kapan Mama suka novel seperti ini? Bukannya Mama pernah bilang lebih suka romance?”

Ia terdiam beberapa saat.

Pikiran aneh mulai bermunculan.

“Jangan-jangan selama ini Mama cuma pura-pura suka romance?”

Arsen menggaruk kepalanya.

“Wah, Mama ternyata misterius juga.”

Merasa tidak nyaman, Arsen segera mengembalikan buku itu ke tempat semula.

Namun ketika hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu di sudut ruangan.

Sebuah brankas.

Langkah Arsen terhenti.

Ia mendekatinya dengan rasa penasaran yang semakin besar.

“Ini pasti punya Mama.”

Arsen menatap brankas itu beberapa detik.

Sebenarnya ia tahu dirinya tidak seharusnya berada di tempat ini. Jika benar ruangan tersebut milik Mamanya, pasti akan sangat marah jika mengetahui putranya menyelinap masuk tanpa izin.

Namun rasa penasaran Arsen jauh lebih kuat.

Ia berjongkok di depan brankas.

“Jangan-jangan isinya kepala manusia.”

Arsen terkekeh sendiri.

Bayangan sampul novel tadi masih terlintas di kepalanya.

“Kenapa gue malah kepikiran begitu, sih?”

Ia menggeleng cepat.

Lalu dengan wajah polos, Arsen menepuk-nepuk brankas tersebut.

“Ma, aku izin buka, ya.”

Ia berhenti sebentar.

“Kalau Mama marah, berarti Mama nggak dengar aku izin.”

Arsen terkekeh puas atas alasannya sendiri.

“Tapi... sandinya apa?”

Ia mulai berpikir.

Jika brankas ini milik Mamanya, kemungkinan besar ia menggunakan sesuatu yang mudah diingat.

“Tanggal lahir Mama?”

Arsen langsung mengangguk.

“Bisa jadi.”

Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah malu.

“Ya ampun... gue anak macam apa? Tanggal lahir emak sendiri hampir lupa.”

Arsen memejamkan mata, berusaha mengingat tanggal tersebut.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya teringat.

“Dapat!”

Enam digit angka segera dimasukkannya ke panel brankas.

Arsen menunggu dengan penuh harap.

Klik.

Namun bukan suara brankas terbuka yang terdengar.

Melainkan bunyi penolakan.

Wajah Arsen langsung berubah.

“Salah?”

Ia menatap angka yang sudah dimasukkannya.

“Kalau bukan tanggal lahir Mama...”

Arsen menoleh perlahan ke seluruh ruangan.

“Jangan-jangan ini punya Papa?”

Untuk pertama kalinya, rasa penasaran Arsen berubah menjadi kegelisahan.

Kalau brankas ini bukan milik Aretha, lalu siapa sebenarnya pemilik ruangan rahasia ini?

Dan yang lebih membuatnya bertanya-tanya, mengapa ruangan tersebut disembunyikan begitu rapat dari semua orang?

Sean masih belum menyerah.

Setelah kode ulang tahun Aretha gagal, ia mencoba memasukkan tanggal ulang tahun Abian. Namun hasilnya tetap sama.

Bunyi penolakan kembali terdengar.

Sean mengembuskan napas panjang.

“Terus sandinya apa?”

Ia berdiri di depan brankas sambil melipat kedua tangan di dada. Meski sempat mencoba tanggal lahir Abian, Sean masih yakin brankas tersebut lebih mungkin milik Aretha.

“Kalau memang punya Mama, apa yang paling berkaitan sama Mama?”

Sean memutar otak.

Ia mengingat kebiasaan, orang-orang yang dekat dengan Aretha, sampai hal-hal yang paling sering membuat ibunya tersenyum.

Tiba-tiba sebuah nama muncul di benaknya.

“Serly!”

Sean langsung menepuk dahinya.

“Selama ini Mama paling sayang sama Serly. Jangan-jangan...”

Ia segera memasukkan enam digit tanggal lahir Serly.

Sean menahan napas.

Klik.

Matanya langsung membesar ketika terdengar bunyi mekanis dari dalam brankas.

“Yess!”

Sean mengepalkan tangan.

“Gila, gue lebay banget. Kayak baru nemu harta karun.”

Ia tertawa kecil, kemudian menatap brankas yang menjulang hampir setinggi tubuhnya.

“Siapa tahu memang ada harta karun.”

Dengan penuh rasa penasaran, Sean membuka pintu brankas tersebut.

Sekilas, matanya langsung menyapu bagian dalamnya.

Brankas itu ternyata memiliki tiga kompartemen dengan ukuran hampir sama.

Sean membuka bagian paling bawah terlebih dahulu.

Begitu melihat isinya, mulutnya langsung menganga.

Tumpukan uang tunai tersusun rapi memenuhi ruangan tersebut.

“Wow...”

Sean sampai terdiam beberapa detik.

Kemudian ia terkekeh.

“Fix. Nggak mungkin salah lagi. Ruangan rahasia dan brankas ini pasti punya Mama.”

Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Papa nggak mungkin nyimpen uang sebanyak ini dalam bentuk cash. Setahuku Papa lebih suka memutar uangnya lewat investasi.”

Namun Sean sama sekali tidak tertarik mengambil uang tersebut.

Baginya, uang sebanyak itu bukan sesuatu yang membuatnya kehilangan akal.

Perhatiannya justru tertuju pada kompartemen bagian tengah.

Di sana tersusun berbagai berkas, map, dan beberapa amplop yang terlihat jauh lebih tua dibandingkan barang-barang lainnya.

Sean mengambil salah satu map.

“Ini apa?”

Ia membukanya perlahan.

Matanya bergerak membaca beberapa dokumen di dalamnya.

“Serius?”

Sean kembali membuka map lainnya.

“Berarti Mama punya aset lain?”

Satu per satu dokumen diperiksanya. Ada surat kepemilikan, berkas investasi, serta beberapa dokumen aset yang selama ini tidak pernah Sean dengar.

Sean mengangkat alis.

“Papa tahu nggak, ya?”

Ia terdiam.

“Sepertinya Papa bahkan nggak tahu kalau Mama punya semua ini.”

Rasa penasaran Sean semakin menjadi-jadi.

Jika hanya uang dan aset, mungkin semuanya masih bisa dijelaskan.

Tetapi mengapa Aretha sampai membutuhkan sebuah ruangan rahasia untuk menyimpannya?

Dan kenapa brankas itu menggunakan tanggal lahir Serly sebagai kode?

Sean menatap tumpukan dokumen tersebut dengan perasaan tidak enak.

“Ma... sebenarnya apa yang Mama sembunyikan di sini?”

Sean mengembalikan sertifikat-sertifikat tersebut ke tempat semula. Namun saat hendak menutup kompartemen, matanya menangkap selembar dokumen lain.

Ia mengambilnya.

Sebuah akta.

“Ayunda Elbarak...” Sean membaca nama yang tercantum di sana dengan kening berkerut.

“Siapa Ayunda ?”

Ia membolak-balik dokumen itu, berharap menemukan penjelasan. Namun tidak ada sesuatu yang membuatnya mengerti mengapa akta tersebut berada di brankas milik Aretha.

“Kenapa Mama menyimpan akta orang lain?”

Sean akhirnya meletakkannya kembali.

Perhatiannya kemudian beralih ke kompartemen paling atas.

Dan seketika matanya membesar.

Di sana tergeletak sebuah kalung berlian biru yang memantulkan cahaya lampu hingga membuat Sean terpaku.

“Indah banget...”

Sean mengambil kalung itu dengan hati-hati.

Namun ketika ia mengangkatnya, sesuatu terjatuh dari sela-selanya.

Sebuah foto.

Sean segera membungkuk dan mengambilnya.

“Siapa anak kecil ini?”

Ia memperhatikan foto tersebut lebih saksama. Terlihat seorang gadis kecil dengan wajah yang entah mengapa terasa familiar.

Sean mengernyit.

“Kayaknya ada hubungannya sama Mama.”

Ia kembali memeriksa kompartemen atas dan menemukan beberapa foto lainnya.

Salah satunya memperlihatkan dua anak kecil—seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.

Sean langsung mengenali mereka.

“Ini Mama sama Papa waktu kecil?”

Ia mengambil foto itu dan membandingkannya dengan foto yang baru saja ditemukan.

Kemudian Sean menyatukan kedua foto tersebut.

Wajahnya langsung berubah.

“Eh... cocok.”

Ia memperhatikan bagian foto yang terpotong.

“Jangan-jangan foto ini dulunya satu bagian dengan foto Mama dan Papa?”

Sean semakin penasaran.

“Berarti Mama sengaja menyimpan bagian ini?”

Ia terkekeh kecil.

“Ya ampun, Mama bikin penasaran aja.”

Sean memasukkan foto gadis kecil tersebut ke dalam saku jaketnya.

“Gue simpan dulu. Siapa tahu nanti Mama macam-macam sama gue, foto ini bisa jadi senjata.”

Ia mengangguk puas pada dirinya sendiri.

“Pasti ada rahasia besar di balik foto ini.”

Foto masa kecil Diandra dan Bastian ia kembalikan ke tempatnya.

Sean kemudian hendak menutup brankas.

Namun pandangannya kembali tertuju pada kalung berlian biru tadi.

Kilauannya membuat Sean kembali ragu.

“Kalau gue ambil, Mama bakal marah nggak, ya?”

Ia terdiam cukup lama.

Lalu sebuah ide jahil muncul di kepalanya.

Senyum lebar langsung menghiasi wajahnya.

“Otak gue memang luar biasa.”

Sean mengangkat kalung itu.

“Kalau kalung ini hilang, Mama pasti sibuk mencarinya. Dengan begitu Mama nggak punya waktu buat mengganggu Diandra... eh, maksud gue, nggak punya waktu mengganggu urusan yang lain.”

Ia terkekeh sendiri.

“Gila. Gue jenius.”

Tanpa pikir panjang, Sean memasukkan kalung tersebut ke dalam saku yang berbeda dari tempat foto.

Setelah memastikan tidak ada barang lain yang berubah posisi, ia menutup brankas dan meninggalkan ruangan rahasia itu.

Begitu rak kembali menutup, Sean mengembuskan napas lega.

“Gila... deg-degan juga.”

Ia menoleh ke arah pintu perpustakaan.

“Untung Mama sama Papa masih di rumah Bastian.”

Sean kemudian teringat alasan awal dirinya datang ke perpustakaan.

Ia seharusnya mengambil sebuah buku.

Namun karena terlalu bersemangat menemukan ruang rahasia dan brankas tersebut, ia sampai melupakan tujuan awalnya.

Sean menggaruk kepalanya.

“Bukunya nanti aja.”

Ia berjalan keluar dari perpustakaan.

“Kayaknya gue nggak jadi balik ke apartemen dulu. Kalau Mama tiba-tiba sadar kalungnya hilang, dia pasti langsung curiga.”

Sean tersenyum tipis.

“Lebih aman gue tetap di sini.”

Sementara itu, di ruang keluarga, Bastian masih terlihat gelisah.

Sejak tadi ia berjalan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas.

Azzam yang memperhatikannya akhirnya bertanya,

“Daddy lagi ngapain? Dari tadi mondar-mandir terus.”

Bastian berhenti sejenak.

“Daddy lagi pusing.”

“Kenapa?”

Bastian menghela napas.

“Mommy marah sama Daddy.”

Azzam langsung memasang wajah serius.

“Itu salah Daddy sendiri. Kenapa Daddy malah memilih Mama Serly?”

Bastian langsung berdecak.

“Daddy nggak pernah memilih Mama Serly.”

“Terus kenapa Daddy tetap menemani Mama Serly?”

“Karena Azzura menangis dan ingin sarapan bersama Mama Serly. Masa Daddy tega membiarkan Azzura menangis?”

Azzam menggeleng.

“Kalau Daddy belikan Azzura banyak boneka, Azzura pasti nggak akan menangis.”

Bastian menatap putranya dengan tatapan tidak percaya.

“Memangnya semua masalah bisa selesai dengan boneka?”

“Bisa.”

Jawaban Azzam begitu yakin sampai Bastian tidak mampu membalas.

Azzam kemudian melanjutkan,

“Tapi Daddy tetap membiarkan Mama Serly, Opa, dan Oma sarapan di sini.”

Wajahnya berubah murung.

“Apalagi Opa sudah memukul Mommy. Mommy pasti masih takut dan nggak mau dekat-dekat sama Opa.”

Ucapan polos itu membuat ekspresi Bastian seketika berubah.

Ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

Rasa bersalah kembali memenuhi dadanya.

Tanpa berkata apa-apa, Bastian akhirnya duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya pada pilar.

Azzam masih berdiri di hadapannya.

Ia memperhatikan ayahnya yang tampak begitu kacau.

“Daddy...”

Bastian membuka mata.

“Iya?”

“Daddy harus bujuk Mommy.”

Bastian terdiam.

Kemudian ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku tahu.”

“Tapi jangan bikin Mommy sedih lagi.”

Kali ini Bastian tidak menjawab.

Ia hanya menatap lantai, menyadari bahwa memperbaiki luka Diandra mungkin jauh lebih sulit daripada yang selama ini ia bayangkan.

“Daddy minta maaf saja sama Mommy,” saran Azzam.

Bastian menghela napas.

“Bagaimana Daddy mau minta maaf? Pintu kamar saja dikunci dari dalam.”

“Ya dibujuk, dong.”

Azzam mengangkat bahu dengan santai.

“Tapi terserah Daddy. Yang penting meskipun Daddy sama Mommy sedang marahan, Mommy tetap sayang sama Azzam.”

Ia menjulurkan lidah sambil terkekeh.

“Wleee!”

Setelah itu Azzam berlari meninggalkan ayahnya yang hanya bisa melotot kesal.

“Dasar anak durhaka,” gerutu Bastian. “Diajak kerja sama sama Daddy sendiri malah kabur.”

Bastian kembali menghela napas.

Hampir satu jam ia memikirkan berbagai cara untuk membujuk Diandra, tetapi tidak satu pun ide yang terasa cukup baik.

Pada akhirnya ia berdiri.

“Sudahlah. Yang penting Daddy usaha dulu.”

Bastian melangkah menuju kamar mereka.

Namun begitu pintu dibuka, ia langsung menyadari sesuatu.

Kamar itu kosong.

“Sayang?”

Tidak ada jawaban.

Bastian mengerutkan kening.

Ia memeriksa kamar mandi, balkon, ruang ganti, hingga sudut-sudut kamar lainnya.

Tetap tidak ada Diandra.

“Diandra?”

Bastian keluar dari kamar.

Perasaan tidak enak mulai muncul di dadanya.

Ia segera menuruni tangga dengan langkah cepat.

Jangan-jangan Diandra pergi meninggalkan rumah?

Pikiran buruk itu membuat Bastian semakin panik.

“Bi Lastri!”

Teriakannya menggema di seluruh rumah.

Tidak lama kemudian, Bi Lastri datang tergopoh-gopoh. Tiga pelayan lainnya ikut menyusul karena mendengar suara Bastian yang terdengar begitu mendesak.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Bi Lastri hati-hati.

Bastian langsung bertanya,

“Di mana Diandra?”

Bi Lastri tampak bingung.

“Non Diandra? Saya kurang tahu, Tuan.”

“Tidak tahu?”

Nada suara Bastian meninggi.

“Bagaimana Bibi bisa tidak tahu? Biasanya kalau ada apa-apa, Diandra selalu bersama Bibi.”

Bi Lastri menundukkan kepala.

“Maaf, Tuan. Kali ini saya benar-benar tidak tahu. Mungkin yang lain melihat Non Diandra.”

Bi Lastri memberi isyarat kepada tiga pelayan lainnya.

Mereka yang sejak tadi berdiri agak jauh akhirnya saling pandang sebelum memberanikan diri mendekati Bastian.

Salah seorang dari mereka mengangkat tangan perlahan.

“Tuan...”

“Apa?”

“Tadi saya melihat Non Diandra di kolam belakang.”

Bastian langsung menatapnya.

“Kolam belakang?”

“Iya, Tuan. Sebenarnya saya ingin menemani Non Diandra, tapi beliau bilang ingin sendirian.”

Ekspresi Bastian berubah.

Tanpa bertanya lebih jauh, ia langsung berlari menuju halaman belakang.

Pikirannya dipenuhi kekhawatiran.

Dulu, Bastian pernah mengajak Diandra berenang malam-malam di kolam belakang rumah.

Namun waktu itu Diandra menolak.

Katanya airnya terlalu dingin.

Bastian tahu betul Diandra tidak menyukai udara atau air yang dingin.

Karena itu, langkahnya semakin cepat.

“Kenapa sekarang dia malah pergi ke sana?”

Ada sesuatu yang membuat perasaannya semakin tidak tenang.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka, Bastian benar-benar takut terlambat menemukan istrinya.

Sepanjang perjalanan menuju kolam belakang, perasaan Bastian semakin tidak tenang.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

“Diandra...” gumamnya sambil mempercepat langkah.

Untuk pertama kalinya ia menyesali ukuran rumah mereka yang begitu luas. Jarak dari bagian depan hingga halaman belakang terasa sangat jauh saat ia sedang diliputi kepanikan.

Begitu tiba di kolam renang, Bastian tidak langsung melihat Diandra.

“Di mana kamu?”

Ia melangkah mendekati tepi kolam.

Jantungnya seketika serasa berhenti ketika melihat sosok Diandra berada di dalam air.

“Diandra!”

Tanpa berpikir panjang, Bastian langsung turun ke kolam dan meraih tubuh istrinya.

Ia membawa Diandra ke permukaan dan memastikan istrinya tetap sadar.

Diandra yang semula memejamkan mata akhirnya membuka mata. Ia tampak terkejut, lalu berusaha menjauh.

Namun Bastian tidak melepaskannya.

“Apa yang kamu lakukan?” Suara Bastian terdengar bergetar. “Kamu mau membuat aku mati ketakutan?”

Diandra hanya diam.

Tatapannya kosong, jauh berbeda dari biasanya.

Bastian memeluknya erat.

“Jangan seperti ini. Aku mohon.”

“Seperti apa, Mas?”

Suara Diandra terdengar lirih.

“Aku cuma ingin sendirian.”

Bastian menggeleng.

“Aku pikir kamu melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu.”

Diandra tertawa hambar.

“Bahkan untuk mengakhiri semuanya saja aku tidak punya keberanian.”

“Jangan bicara begitu.”

Bastian menatap wajah istrinya dengan cemas.

“Aku nggak mau dengar kamu mengatakan hal seperti itu lagi.”

Diandra terdiam cukup lama.

“Aku nggak akan melakukan apa-apa, Mas.”

Bastian mengembuskan napas lega, meski kecemasannya belum sepenuhnya hilang.

“Aku cuma ingin hidup,” lanjut Diandra pelan. “Tapi aku juga ingin merasakan bahagia.”

Bastian menatapnya tanpa mampu menjawab.

Di bawah cahaya rembulan dan lampu-lampu di sekitar kolam, wajah Diandra terlihat begitu pucat dan lelah.

“Kamu pasti kedinginan,” ujar Bastian akhirnya. “Ayo keluar. Kita bicara di tempat yang hangat.”

Ia mengusap rambut basah Diandra dengan lembut.

Namun Diandra tetap diam.

Diamnya justru membuat Bastian semakin takut.

Lebih baik Diandra marah, berteriak, atau memakinya daripada melihat istrinya tenggelam dalam kesedihan seperti sekarang.

“Kalau aku benar-benar pergi, kamu pasti bahagia, kan, Mas?”

“Jangan bicara begitu.”

“Kamu bisa hidup bersama perempuan yang kamu cintai.”

“Diandra, cukup.”

“Aku kadang berpikir...” Diandra menunduk. “Bagaimana rasanya menjadi Serly?”

Bastian terdiam.

“Mungkin menyenangkan dicintai dengan tulus. Memiliki keluarga yang utuh. Punya anak-anak yang menyayangi kita.”

Suara Diandra semakin lirih.

“Pasti rasanya bahagia sekali.”

“Diandra...”

Bastian menggenggam kedua tangannya.

“Aku tahu kamu sedang terluka. Tapi jangan bandingkan dirimu dengan siapa pun.”

Diandra menatapnya.

“Aku cuma ingin bahagia, Mas.”

Kalimat sederhana itu justru menghantam Bastian lebih keras daripada kemarahan atau tangisan.

Dadanya terasa sesak.

Selama ini ia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri sampai tidak menyadari betapa lama Diandra menanggung luka seorang diri.

“Aku cuma ingin bahagia,” ulang Diandra dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa rasanya begitu sulit?”

Bastian tidak mampu menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa permintaan istrinya bukanlah sesuatu yang rumit.

Diandra hanya ingin dicintai, dihargai, dan merasa aman di dalam rumah tangganya sendiri.

Dan Bastian telah gagal memberikannya.

“Seandainya aku nggak mencintai kamu sebesar ini, mungkin semua luka ini nggak akan terasa separah sekarang.”

Suara Diandra bergetar.

“Kenapa harus kamu, Mas? Dari begitu banyak orang di dunia ini, kenapa hati aku justru memilih kamu?”

Ia tersenyum pahit.

“Bodoh, ya?”

Bastian hanya terdiam.

“Meski berkali-kali terluka, hati aku tetap memilih kamu.”

Diandra menundukkan kepala.

“Aku bahkan membenci diriku sendiri karena masih mencintai kamu sedalam ini. Aku benci karena selama ini aku tetap bertahan, padahal aku tahu bertahan bersamamu sering kali membuatku hancur.”

Bastian menggeleng pelan.

“Diandra...”

Namun Diandra menggeleng.

“Mulai sekarang aku mau berhenti.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku berhenti mencintai kamu, Mas.”

Setiap kata keluar dengan susah payah.

“Aku... berhenti... mencintai kamu.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuh Diandra tiba-tiba kehilangan tenaga.

Bastian langsung menangkap tubuhnya.

“Diandra?”

Kepala Diandra bersandar di dada Bastian. Matanya perlahan terpejam.

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, bibirnya bergerak pelan.

“Aku membenci kamu, Mas...”

Bastian membeku.

“Sangat membenci kamu...”

“Diandra!”

Tidak ada jawaban.

“Sayang, buka mata kamu.”

Bastian menepuk pipinya dengan panik.

“Diandra, bangun!”

Ia segera membawa tubuh istrinya menuju tepi kolam. Begitu sampai, Bastian mengangkat Diandra dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.

“Sayang...”

Ia terus memanggil namanya.

Namun Diandra tetap tidak sadarkan diri.

Bastian segera mengganti pakaian Diandra dengan pakaian yang lebih hangat, membaringkannya di ranjang, lalu menghubungi dokter keluarga.

Tidak lama kemudian, dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Diandra.

Setelah beberapa pemeriksaan, dokter menghela napas.

“Denyut jantungnya melemah dan tekanan darahnya turun. Tubuhnya juga kekurangan cairan.”

Dokter segera memasang infus.

Bastian berdiri di sisi ranjang dengan wajah penuh kecemasan.

“Terima kasih, Dok.”

Dokter merapikan peralatannya.

“Pak Bastian, saya sarankan Bapak lebih memperhatikan kondisi istri Bapak. Saya mengerti Bapak memiliki banyak kesibukan, tetapi kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sepele.”

Bastian menunduk.

“Saya mengerti.”

“Bukan bermaksud menggurui, Pak. Saya sendiri pernah hampir kehilangan istri karena terlalu sibuk bekerja. Sejak saat itu saya belajar bahwa keluarga juga membutuhkan kehadiran kita.”

Bastian mengangguk.

“Saya tidak tersinggung, Dok. Justru saya sadar selama ini saya memang kurang memperhatikan istri saya.”

“Kalau begitu, pastikan beliau cukup beristirahat dan jangan dibiarkan sendirian dulu.”

“Baik, Dok.”

Setelah dokter pergi, Bastian kembali ke kamar.

Ia bahkan baru menyadari bahwa pakaiannya masih basah kuyup.

Tadi ia sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri.

Yang ada di kepalanya hanya satu—Diandra harus mendapatkan pertolongan.

Bastian segera masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya.

Setelah itu ia kembali ke sisi ranjang.

Ia berbaring di samping Diandra dan menatap wajah istrinya yang masih pucat.

Perlahan, Bastian merangkul tubuhnya dari samping.

Ia mendekatkan wajah ke rambut Diandra yang sudah mengering.

“Kamu boleh marah sama aku.”

Tangannya mencari tangan Diandra yang terasa dingin.

“Kamu boleh membenciku.”

Bastian menggenggamnya erat.

“Kamu bahkan boleh menuntut apa pun dariku.”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi jangan pergi.”

Bastian menatap jemari mereka yang saling bertaut.

“Aku nggak tahu apakah aku pantas meminta kamu tetap tinggal setelah semua kesalahan yang aku lakukan.”

Suaranya semakin lirih.

“Tapi aku belum siap kehilangan kamu.”

Ia kembali mengeratkan genggamannya.

“Selama kamu masih mau memberiku kesempatan, aku akan tetap berusaha memperbaiki semuanya.”

Bastian memejamkan mata.

Ia tahu sikapnya selama ini sering kali egois. Ia tahu banyak keputusan yang telah melukai Diandra.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya ia benar-benar takut kehilangan perempuan yang selama ini selalu ada di sisinya.

“Kamu yang sabar, ya, Sayang.”

Bastian mengecup punggung tangan istrinya.

“Aku akan belajar menjadi suami yang lebih baik untuk kamu.”

Brak!

Abian tersentak ketika vas bunga yang berada di dekatnya tanpa sengaja terjatuh dan pecah di lantai.

Ia mengusap dadanya.

Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdenyut nyeri. Bukan sakit yang terlalu kuat, tetapi cukup membuat napasnya terasa tidak nyaman.

Padahal selama ini Abian tidak pernah memiliki masalah dengan jantungnya.

“Kenapa tiba-tiba begini?”

Perasaan aneh menjalar di dalam dirinya.

Seolah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, meskipun ia sendiri tidak tahu apa.

“Pa?”

Sean yang kebetulan melintas langsung berhenti.

Ia mendekati ayahnya dan memegang lengannya.

“Kenapa, Pa?”

Abian menarik napas panjang.

“Jantung Papa tiba-tiba terasa sakit.”

Sean langsung terlihat khawatir.

“Duduk dulu, Pa.”

“Papa nggak apa-apa.”

“Jangan keras kepala.”

Sean mencoba membimbingnya, tetapi Abian menepis tangannya.

“Kamu nggak perlu sok perhatian sama Papa. Kemarin saja kamu berani membantah Papa.”

Sean menghela napas.

“Perhatian kok dibilang sok perhatian.”

Abian mendengus.

“Perhatikan saja Diandra-mu itu.”

Sean justru terkekeh.

“Oh, jadi Papa cemburu karena anak Papa yang paling ganteng ini lebih sering dekat sama orang lain?”

Abian melirik tajam.

“Papa sedih, ya, karena nggak bisa ngobrol lama sama Sean?”

Sean menepuk dada dengan bangga.

“Tenang saja, Pak. Mulai sekarang sampai Papa tua nanti, Sean bakal sering-sering tinggal di rumah ini.”

Abian langsung menyipitkan mata.

“Bisa nggak kamu mengganti kata ‘tua’ dengan sesuatu yang lebih sopan?”

Sean tertawa.

“Baik, Pak. Jangan marah.”

“Dasar anak tengil.”

Abian menggerutu sambil kembali berjalan.

Sean mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Pa, aku mau tanya.”

“Apa lagi?”

“Papa kenal seseorang bernama Ayunda ?”

Langkah Abian mendadak terhenti.

Tubuhnya kaku.

Wajah yang sebelumnya kesal seketika berubah serius.

Ia perlahan menoleh kepada Sean.

“Dari mana kamu tahu nama Ayunda ?”

Sean mengangkat alis.

“Kenapa Papa langsung kaget begitu?”

“Jawab dulu. Dari mana kamu tahu nama itu?”

Sean semakin curiga melihat perubahan sikap ayahnya.

“Memangnya kenapa? Aku cuma tanya.”

Abian terdiam beberapa saat.

Kemudian akhirnya berkata dengan suara rendah,

“Dia mantan istri Papa.”

Sean membelalakkan mata.

“Mantan istri?”

Abian tidak menjawab.

Sean mendekat.

“Papa pernah menikah sebelum Mama?”

Kali ini Sean benar-benar terkejut.

Selama ini ia tahu Aretha pernah memiliki kehidupan sebelum bersama Abian—termasuk Serly yang merupakan anak Aretha dari pernikahan sebelumnya.

Namun Sean sama sekali tidak pernah mengetahui bahwa Abian juga mempunyai masa lalu serupa.

Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada satu pun anggota keluarga yang membicarakan perempuan bernama Ayunda Barack.

Nama itu seolah sengaja dihapus dari sejarah keluarga.

Sean menatap ayahnya penuh tanda tanya.

“Kenapa aku nggak pernah tahu tentang ini, Pa?”

Abian mengalihkan pandangan.

Wajahnya tampak jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, Sean merasa bahwa rahasia yang baru saja ditemukannya bukanlah rahasia kecil.

Ada bagian dari masa lalu Abian yang selama ini sengaja disembunyikan dari keluarga.

“Kenapa Papa nggak pernah cerita kalau Papa pernah menikah?”

Sean menatap Abian penuh rasa ingin tahu.

“Papa bercerai sama Tante Ayunda, atau... Tante Ayunda sudah meninggal?”

Abian terdiam cukup lama.

Rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia mengembuskan napas berat.

“Ayunda diculik ketika sedang mengandung.”

Sean langsung terdiam.

“Diculik?”

Abian mengangguk pelan.

“Sampai sekarang Papa nggak pernah tahu di mana keberadaannya. Apakah dia masih hidup atau sudah tidak ada... Papa sendiri nggak tahu.”

Tatapan Abian menerawang jauh.

“Dulu, setelah Papa menikah dengan Aretha, hampir setiap hari Papa membicarakan Ayunda. Papa terlalu terobsesi mencari keberadaannya sampai lupa bahwa ada seorang istri yang juga membutuhkan Papa.”

Sean mendengarkan tanpa menyela.

“Waktu itu Aretha sedang mengandung kamu.”

Suara Abian terdengar semakin berat.

“Papa terlalu sibuk mencari Ayunda sampai tidak menyadari kondisi Aretha. Sampai suatu hari dia mengalami pendarahan hebat.”

Sean menahan napas.

“Kondisinya sangat kritis. Saat itu Papa benar-benar takut kehilangan kalian berdua.”

Abian menundukkan kepala.

“Syukurlah Aretha dan kamu berhasil diselamatkan.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Kalau saat itu sesuatu terjadi pada kalian, mungkin Papa nggak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri.”

Sean terdiam.

“Sejak kejadian itu, Papa memutuskan untuk berhenti mencari Ayunda.”

“Papa benar-benar melupakannya?”

“Bukan melupakan,” jawab Abian pelan. “Papa hanya memutuskan untuk mengubur masa lalu.”

Abian menatap putranya.

“Papa dan aretha juga sepakat untuk tidak pernah menceritakan tentang Ayunda kepadamu.”

Sean mengangguk perlahan.

“Oh...”

Kini semuanya mulai masuk akal.

Termasuk foto yang ia temukan di ruang rahasia.

Sean mulai memahami mengapa hanya bagian foto Ayunda yang terpisah.

Kalau cerita Abian benar, mungkin aretha memang menyimpan luka dan kebencian terhadap perempuan itu.

Namun ada satu hal yang masih membuat Sean penasaran.

Abian tiba-tiba bertanya,

“Sekarang jawab pertanyaan Papa. Dari mana kamu tahu tentang Ayunda Elbarak?”

Sean tersenyum kecil.

“Dari Mama.”

Abian langsung mengernyit.

“ Aretha pernah bicara tentang Ayunda?”

“Bukan begitu.”

Sean memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Mama memang nggak pernah cerita langsung sama aku.”

“Lalu?”

Sean tersenyum penuh arti.

“Tapi aku tahu dari Mama.”

Abian semakin bingung.

Sean kemudian berkata dengan nada misterius,

“Pa, hati-hati sama Mama.”

“Apa maksud kamu?”

“Ada rahasia besar.”

Abian menatap putranya tajam.

“Rahasia apa?”

Sean justru mundur beberapa langkah sambil mengangkat kedua tangannya.

“Clue-nya cuma satu.”

Ia menunjuk ke arah belakang dengan dagunya.

“Perpustakaan.”

Abian membeku.

“Perpustakaan?”

Sean tersenyum.

“Ingat, Pa... rahasia.”

“Apa maksudmu, Sean?”

Namun Sean hanya tertawa kecil.

Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Abian tetap berdiri di tempatnya.

Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan.

Apa sebenarnya yang disembunyikan Diandra di perpustakaan?

Dan mengapa nama Ayunda kembali muncul setelah bertahun-tahun dikubur dari kehidupan mereka?

Tiga hari berlalu.

Kondisi Diandra berangsur-angsur membaik. Bengkak di pipinya sudah menghilang, tubuhnya juga kembali pulih setelah sempat drop dua hari sebelumnya hingga harus mendapatkan cairan melalui infus.

Selama tiga hari itu, Bastian terus berada di sisinya.

Ia berusaha menjadi suami yang lebih perhatian. Menyiapkan kebutuhan Diandra, memastikan istrinya makan, dan tidak pernah membiarkannya sendirian terlalu lama.

Namun semua itu tidak mengubah keputusan Diandra.

Ia tetap ingin bercerai.

Sudah terlalu banyak kesempatan yang ia berikan kepada Bastian.

Terlalu banyak luka yang ia maafkan.

Baginya, terus bertahan dalam rumah tangga yang sama hanya akan membuat luka itu semakin dalam. Setiap hari terasa seperti perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Karena itu, kali ini Diandra tidak ingin mundur.

Hari ini ia berada di sebuah private room di salah satu pusat perbelanjaan bersama Sean dan seorang pengacara bernama Victor.

Laki-laki itu duduk di hadapannya dengan beberapa dokumen di atas meja.

“Saya Victor. Saya yang akan membantu Ibu Diandra menangani proses perceraian,” ujar Victor sambil mengulurkan tangan.

Diandra menjabat tangannya.

“Saya Diandra. Terima kasih sudah bersedia membantu saya.”

“Jangan lama-lama, Bang.”

Sean tiba-tiba menyela.

Ia menepuk tangan Victor, kemudian dengan santai menggenggam tangan Diandra.

“Setelah cerai nanti, Mbak Diandra bakal nikah sama gue.”

Victor menatap Sean dengan ekspresi bingung.

Sean malah menyeringai.

“Jadi jangan macam-macam. Fokus saja sama tugas Abang sebagai pengacara.”

“Sean!”

Diandra langsung melotot.

Ia mencubit lengan Sean dengan gemas.

“Maaf, Pak. Jangan salah paham.”

Diandra buru-buru menjelaskan.

“Saya dan Sean tidak memiliki hubungan seperti yang dia katakan. Kami hanya berteman.”

Sean memasang wajah kecewa.

“Teman dekat.”

Diandra mengabaikannya.

“Saya juga bercerai bukan karena ingin menikah dengan Sean. Ada masalah lain dalam rumah tangga saya yang sudah berlangsung cukup lama.”

Ia tidak ingin Victor salah memahami situasinya, apalagi sampai mengira dirinya memiliki hubungan dengan Sean selama masih menjadi istri Bastian.

Victor justru tertawa kecil.

“Saya mengerti. Sean sudah menjelaskan garis besarnya kepada saya.”

Victor membuka salah satu dokumen.

“Sebelum menangani perkara seperti ini, saya memang perlu memahami masalah yang dialami klien terlebih dahulu. Jadi Ibu tidak perlu khawatir.”

Ia menjelaskan dengan tenang,

“Untuk proses administrasi dan penyusunan gugatan, sebagian besar bisa saya bantu urus. Saya juga akan memberi tahu Ibu jika ada dokumen atau keperluan lain yang harus dipersiapkan.”

Diandra mengangguk.

“Baik, Pak.”

“Soal biaya, nggak perlu dipikirkan.”

Sean menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Biar gue yang tanggung semuanya.”

Ia kemudian menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya sok percaya diri.

“Jangan lihat gue begitu, Mbak. Gue memang sudah ganteng dan baik hati sejak lahir.”

Diandra memutar bola mata.

“Sean, sudah. Bisa nggak kita serius sebentar?”

Sean langsung mengangguk.

“Tentu bisa.”

Ia tersenyum lebar.

“Setelah cerai, kita langsung nikah.”

“Sean!”

Victor sampai tertawa melihat tingkahnya.

Sean mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

“Iya, iya. Gue diam.”

Ia kemudian duduk manis.

“Silakan dilanjutkan, Pak Victor.”

Diandra menghela napas panjang.

Meski sedang menghadapi keputusan besar dalam hidupnya, entah mengapa keberadaan Sean membuat suasana yang tegang sedikit lebih ringan.

Namun jauh di dalam hatinya, Diandra tahu satu hal.

Kali ini ia benar-benar sudah mengambil keputusan.

Ia akan mengakhiri pernikahannya dengan Bastian.

Victor kemudian mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada Diandra.

Dengan tenang, Diandra menjelaskan semua yang ia alami selama menjalani pernikahan bersama Bastian. Tidak ada yang ia lebih-lebihkan ataupun ia sembunyikan.

Victor mencatat setiap keterangan di tabletnya sambil merekam pembicaraan tersebut untuk keperluan dokumen perkara.

Setelah beberapa saat, ia mengangguk.

“Baik. Dari penjelasan Ibu, alasan yang disampaikan sudah cukup untuk menjadi dasar pengajuan gugatan cerai.”

Victor menggulir layar tabletnya.

“Sekarang kita masuk ke pembahasan mengenai harta bersama.”

Diandra menggeleng pelan.

“Saya tidak menuntut apa pun.”

Jari Victor yang semula sibuk mengetik langsung berhenti.

Ia mengangkat wajah dan menatap Diandra.

“Tidak menuntut harta bersama sama sekali?”

Diandra menggeleng.

Victor cukup terkejut.

Selama menangani perkara perceraian, ia sudah bertemu dengan banyak pasangan yang berpisah. Terutama ketika salah satu pihak memiliki kondisi ekonomi yang jauh lebih kuat, pembagian harta bersama sering menjadi salah satu hal yang diperdebatkan.

Namun Diandra justru tidak menginginkan apa pun.

“Saya tidak ingin memiliki urusan apa pun lagi dengan Bastian,” ujar Diandra lirih.

Ia menarik napas.

“Saya hanya ingin bebas dan memulai hidup saya sendiri.”

Victor mengangguk perlahan.

Ia tidak tahu seberapa dalam luka yang telah dialami perempuan di hadapannya.

Namun dari cara Diandra berbicara, ia bisa merasakan bahwa keputusan itu bukan keputusan yang dibuat secara impulsif.

“Baik. Saya akan mencatatnya.”

Tiba-tiba Sean berdeham.

“Ehem.”

Victor menoleh.

“Kalau boleh tahu, Bang... kenapa lihat Mbak Diandra lama banget?”

Victor berkedip.

Sean menyilangkan tangan di dada.

“Gue cemburu, nih.”

Victor tertawa canggung.

Ia baru menyadari bahwa sejak tadi pandangannya memang terlalu lama tertuju pada Diandra.

“Maaf. Saya hanya sedang memperhatikan klien.”

“Perhatiin seperlunya saja,” sahut Sean santai.

Diandra langsung menepuk lengannya.

“Sean, jangan mulai.”

Sean meringis.

“Gue cuma cemburu.”

“Ini urusan pekerjaan, bukan ajang PDKT.”

“Iya, iya.”

Sean mengangkat kedua tangannya.

“Tapi tetap nggak suka.”

Victor kembali fokus pada tabletnya.

“Mungkin untuk hari ini cukup. Untuk proses selanjutnya, saya membutuhkan nomor kontak Ibu agar lebih mudah menghubungi jika ada dokumen atau informasi yang diperlukan.”

Sean langsung menyela.

“Modus banget, Bang.”

Ia mengambil ponselnya.

“Sini kasih nomor gue saja. Kalau ada apa-apa, hubungi gue.”

“Sean.”

Diandra menatapnya dengan wajah gemas.

“Kamu ini benar-benar...”

Sean hanya tertawa.

“Aku bantu jaga-jaga.”

Diandra akhirnya memberikan nomor kontaknya kepada Victor demi mempermudah proses perceraian.

Setelah semuanya dicatat, Diandra kembali bertanya,

“Pak Victor, kira-kira kapan sidang perceraian pertama akan dilaksanakan?”

Victor memeriksa catatannya.

“Untuk tanggal pastinya, saya perlu memastikan jadwal dari pengadilan terlebih dahulu. Setelah gugatan terdaftar dan jadwal sudah ditetapkan, saya akan segera mengabari Ibu.”

Diandra mengangguk.

“Baik.”

Ia menatap meja di hadapannya.

Ada sedikit rasa takut menghadapi masa depan, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia juga merasakan sesuatu yang hampir terlupakan.

Kelegaan.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!