JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Badai di Bawah Guyuran Hujan
Kilatan petir yang menyambar dengan sangat dahsyat di langit malam sesaat menerangi wajah tegas Eksan yang sedang berdiri membeku di balik kaca jendela kamar atas markasnya. Sorot mata elangnya yang pekat terkunci rapat tanpa berkedip pada belasan siluet pria berjaket serigala merah yang mulai bergerak menyebar di kegelapan. Mereka tampak sedang pengepungan setiap sudut pagar besi luar dari markas utama Black Cobra. Deru air hujan yang kian menderu lebat di luar sana seolah menjadi musik latar yang sangat pas bagi sebuah pertumpahan darah besar yang sebentar lagi dipastikan akan pecah di kawasan industri tua yang terisolasi ini.
Eksan membalikkan tubuh tegapnya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara bising, lalu melirik ke arah kasur empuk tempat Nasya saat ini sedang tertidur dengan sangat pulas. Gadis sekolah yang polos itu tampak begitu damai di balik balutan selimut kain hitam tebal miliknya, sama sekali tidak menyadari bahwa maut dan bahaya besar sedang mengintai tajam di balik dinding gudang kontainer ini. Eksan berjalan mendekati kasur tanpa suara, lalu jemari tangannya yang besar dan kasar bergerak mengusap lembut pucuk kepala Nasya untuk terakhir kalinya sebelum ia melangkah turun menuju medan pertempuran jalanan yang kejam.
"Tetaplah tertidur dengan nyenyak, Gadis Kecil. Begitu kau membuka kedua matamu besok pagi, badai berdarah ini dipastikan sudah selesai aku bereskan," bisik Eksan dengan suara rendah yang teramat serak, namun dipenuhi oleh ketetapan tekad yang sangat absolut dan posesif.
Eksan melangkah keluar dari kamar atas dengan langkah mantap, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat lalu menguncinya dari luar menggunakan kunci slot ganda demi memastikan tidak akan ada satu pun musuh yang bisa menjangkau area persembunyian Nasya. Begitu sepasang kakinya menapaki satu per satu anak tangga besi menuju lantai bawah, suasana di dalam gudang utama ternyata sudah berubah total menjadi sangat tegang dan mencekam. Raka dan belasan anggota inti faksi Black Cobra lainnya sudah berdiri siaga dengan berbagai jenis senjata di tangan mereka masing-masing—mulai dari rantai motor tebal, balok kayu besar, hingga pipa besi yang berkilau tajam.
"Bos Eksan!" seru Raka dengan nada suara yang berbisik panik saat melihat kedatangan pemimpin tertinggi mereka dari lantai atas. Pemuda berambut gondrong itu langsung berlari maju menyambut Eksan di ujung anak tangga besi. "Jumlah pasukan mereka yang ada di luar pagar luar benar-benar sangat tidak waras, Bos! Red Wolf sengaja membawa seluruh pasukan aliansi inti mereka dari distrik barat. Mereka semua benar-benar nekat melakukan pengepungan total pada markas kita sendiri demi merebut paksa gadis sekolah yang kau bawa di atas!"
Eksan menerima sebilah balok kayu tebal dan berat yang disodorkan oleh salah satu anak buahnya dengan santai, lalu mengayunkannya beberapa kali di udara untuk menguji berat senjatanya. Sebuah seringai dingin nan mengerikan perlahan-lahan terukir di sudut bibirnya yang masih menyisakan noda luka perkelahian kemarin. Aura haus darah yang luar biasa pekat mendadak kembali memancar kuat dari tubuh tegap Eksan, seketika menekan seluruh atmosfer udara di dalam ruangan gudang kontainer tersebut hingga anak buahnya merinding ketakutan.
"Baguslah kalau mereka nekat membawa seluruh sisa pasukan intinya ke tempat ini malam-malam begini," ucap Eksan dengan nada suara yang sangat tenang, datar, namun sarat akan getaran intimidasi pekat yang menindas batin siapa saja yang mendengarnya. "Artinya, kita semua tidak perlu repot-repot lagi mendatangi distrik barat mereka hanya untuk meratakan kepala mereka satu per satu di jalanan. Malam ini, di bawah guyuran hujan ini, kita habisi seluruh silsilah nama geng Red Wolf dari sejarah jalanan kota ini sampai ke akar-akarnya."
Eksan berjalan dengan langkah mantap memimpin di barisan paling depan, melangkah keluar menembus pintu gerbang gudang kontainer yang besar. Begitu tubuh tegapnya berdiri tegak di bawah siraman air hujan yang sangat deras, sebuah suara tawa beringas yang melengking tinggi langsung menyambut kehadirannya dengan penuh nada ejekan dari seberang halaman markas yang luas.
Pagar besi tinggi yang menjadi benteng luar markas rupanya telah hancur lebur didobrak paksa oleh moncong sebuah mobil van hitam milik musuh. Di hadapan Eksan saat ini, puluhan pria berjaket serigala merah berdiri berbaris rapat dengan berbagai senjata yang terhunus tegak di bawah siraman air hujan malam yang dingin. Di barisan paling depan pasukan musuh, tampak berdiri sang ketua tertinggi klan geng Red Wolf—seorang pria dewasa bertubuh raksasa seperti monster dengan bekas luka bakar yang mengerikan menjalar di sepanjang leher hingga rahang bawahnya.
"Akhirnya kau berani keluar juga dari lubang persembunyianmu yang sempit, Eksan Prasetya!" teriak sang ketua tertinggi Red Wolf dengan suara yang menggelegar dahsyat, memotong deru suara angin malam dan hujan lebat. "Serahkan jalang kecil yang kau sembunyikan di dalam gudang kontainer itu sekarang juga ke tanganku, atau malam ini aku bersumpah demi darah akan membakar habis markas Black Cobra ini bersama dengan seluruh mayat anak buah kesayanganmu!"
Eksan melangkah maju tiga langkah tanpa ada rasa gentar sedikit pun di matanya, membiarkan air hujan basah mengguyur habis kaos seragam sekolah putihnya yang kini perlahan kembali merembeskan warna kemerahan pekat akibat jahitan perban di perutnya yang koyak. Ia mengangkat tinggi balok kayu tebal di tangan kanannya, lalu menunjuk langsung tepat ke arah wajah ketua musuh yang bertubuh raksasa itu dengan tatapan mata elang yang menyipit tajam, memancarkan nafsu membunuh yang amat sangat mengerikan di bawah kegelapan malam.
"Kau sudah salah besar dalam memilih lawan bertarung, Tua Bangka," balas Eksan dengan suara rendah yang berat namun menggelegar pekat, seketika memecah keheningan yang sempat tercipta di antara kedua kubu geng jalanan tersebut. "Gadis sekolah yang ada di kamar atas Itu adalah harga diriku yang paling sakral. Dan siapa pun orang jalanan dari geng mana pun yang berani mengusik harga diri seorang Eksan... mereka semua hanya memiliki satu jalur tunggal untuk pulang malam ini, yaitu di dalam keranda mayat."
"KURANG AJAR! SERBU SEKARANG JUGA SEBELUM FAJAR!!!" raung ketua tertinggi Red Wolf yang langsung tersulut amarah besarnya mendengarkan tantangan sombong dari Eksan.
*BRUUAAAKKK!*
Pertempuran akbar dan paling berdarah antar-geng motor terbesar di pinggiran kota itu akhirnya resmi pecah secara brutal di bawah guyuran hujan lebat yang kian menderu. Puluhan orang dari kedua belah kubu saling menerjang dan berhantam secara beringas di tengah halaman markas yang luas. Suara dentuman keras dari balok kayu yang menghantam tulang, gemerincing logam besi yang saling beradu, dan teriakan amarah penuh dendam saling bersahutan memecah keheningan malam yang mencekam.
Eksan bergerak menerjang maju layaknya seekor monster jalanan yang kelaparan di tengah kegelapan malam. Di balik rasa perih luar biasa yang membakar ulu hati dan perut kirinya yang robek, gerakan fisik bertarungnya sama sekali tidak melambat seujung kuku pun. Ia mengayunkan balok kayunya dengan sangat brutal dan tanpa rasa ampun sedikit pun, langsung menumbangkan tiga anak buah Red Wolf yang mencoba mengepungnya sekaligus dalam hitungan detik hingga mereka semua terkapar tak berdaya di atas aspal yang bersimbah genangan air hujan bercampur darah segar.
Eksan menyeka cipratan darah musuh yang menempel di pipi tegasnya dengan punggung tangan, lalu perlahan-lahan mengalihkan pandangan matanya yang pekat kembali ke arah ketua tertinggi Red Wolf yang saat ini sedang berjalan beringas mendekatinya sembari memegang erat sebilah celurit panjang yang berkilau tajam di bawah kegelapan malam.
"Malam ini, aku sendiri yang akan mencabuti semua taring serigala sialan kalian dari jalanan kota ini tanpa sisa!" raung Eksan sembari mencengkeram erat-erat balok kayu di tangannya, bersiap untuk menerjang maju melakukan duel maut satu lawan satu yang akan menentukan hidup dan mati jalannya kekuasaan tertinggi di dalam gang kota tersebut.