Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Studio siaran televisi SBS dipenuhi oleh cahaya lampu sorot yang menyilaukan dan aroma hairspray yang tajam. Kim Seokjin duduk di kursi tamu utama, mengenakan setelan jas biru dongker yang membuatnya terlihat elegan namun berwibawa. Di hadapannya, kamera merah merekam setiap detil ekspresinya.

Ini adalah momen penentu. Siaran langsung "Truth & Transparency" yang disiarkan ke seluruh negeri.

"Dan sekarang, Tuan Kim Seokjin," kata pembawa acara dengan nada serius. "Banyak spekulasi beredar mengenai tuduhan korupsi dan manipulasi saham terhadap Kim Corp. Bagaimana tanggapan Anda?"

Jin menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit di pelipisnya berdenyut kencang, sisa dari insiden sebelumnya yang ia tutupi dengan make-up tebal. Tubuhnya terasa lemas, demam tinggi yang ia tahan sejak kemarin malam membuat pandangannya sedikit kabur. Namun, ia tidak boleh goyah. Ia memikirkan Taehyung. Ia memikirkan Chanyeol yang sedang menjaga adiknya. Tae aman, bisik hatinya. Fokuslah.

Dengan suara yang tenang, jernih, dan penuh keyakinan, Jin mulai berbicara. Ia tidak hanya membantah. Ia menyajikan fakta.

"Tuduhan tersebut adalah rekayasa digital yang canggih," kata Jin, matanya menatap lurus ke lensa kamera, seolah menatap jiwa para penonton. "Kami telah menyerahkan bukti audit forensik independen kepada kepolisian dan OJK pagi ini. Dokumen yang beredar di media sosial adalah palsu, dibuat menggunakan deepfake tanda tangan saya. Dan terkait kesehatan mental yang dituduhkan... itu adalah fitnah keji untuk mendiskreditkan kepemimpinan saya."

Ia melanjutkan, menunjukkan grafik transparansi keuangan dan video CCTV yang membuktikan sabotase internal oleh pihak yang berseberangan dengannya-tanpa menyebut nama Xiumin secara eksplisit, namun cukup jelas bagi mereka yang paham politik korporat.

"Saya mencintai perusahaan ini. Saya mencintai karyawan kami. Dan saya akan melindungi integritas keluarga Kim dengan segala cara hukum yang ada. Kebenaran tidak bisa dibungkam oleh kebohongan yang terorganisir."

Suara Jin tegas. Tidak ada keraguan. Tidak ada kegugupan. Selama dua puluh menit, ia membalikkan narasi publik. Komentar di media sosial berubah drastis dari hujatan menjadi dukungan. Saham Kim Corp yang sempat anjlok, mulai merayap naik kembali di papan bursa elektronik di latar belakang studio.

Pembawa acara tampak terkesan. "Terima kasih atas kejelasan Anda, Tuan Kim. Semoga kebenaran segera terbukti sepenuhnya."

"Siaran selesai!" teriak sutradara. Lampu sorot padam.

Begitu mikrofon dilepas, topeng ketenangan Jin runtuh seketika.

Wajahnya yang pucat mendadak menjadi abu-abu. Kakinya gemetar hebat hingga hampir ambruk. Namjoon, yang menunggu di sisi panggung, segera menangkap tubuh Jin sebelum jatuh.

"Hyung! Kau baik-baik saja?" tanya Namjoon panik, mendukung berat badan Jin.

Jin mengabaikan pertanyaan itu. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membanjiri dahinya. Rasa sakit yang ia tahan selama dua jam terakhir meledak seperti bom waktu. Kepalanya berputar, perutnya mual. Tapi ada satu hal yang lebih kuat dari rasa sakit fisik itu: kecemasan.

"Dimana... dimana mobilku?" rintih Jin, suaranya parau.

"Hyung, kau harus ke dokter dulu! Tekanan darahmu pasti-"

"Tidak!" potong Jin kasar, mendorong tangan Namjoon lemah. Matanya liar mencari kunci mobilnya yang ia letakkan di meja rias. "Tae... Aku harus jemput Tae. Sekarang."

Namjoon tahu argumen apa pun akan sia-sia. Jin sudah dalam mode panik adik yang kehilangan. "Baiklah. Yoongi, ambilkan kunci Hyung. Hoseok, siapkan obat pereda nyeri cepat di tas."

Yoongi melemparkan kunci mobil sport Jin. Jin menyambarnya dengan tangan yang masih gemetar. Tanpa peduli pada protokol keamanan atau saran timnya, Jin berlari kecil menuju lift, lalu turun ke parkiran bawah tanah.

Ia masuk ke dalam mobilnya, sebuah sedan hitam mewah yang dimodifikasi untuk kecepatan. Tangannya sulit memasukkan kunci karena gemetar, tapi akhirnya mesin menyala. Jin menginjak gas dalam-dalam. Ban mobil berdecit keras saat melesat keluar dari gedung parkir, menerobos hujan yang masih turun deras.

Di jalan tol menuju Gangnam, Jin mengemudi seperti orang kesetanan. Jarum speedometer menyentuh angka berbahaya. Wiper mobil bekerja keras melawan derasnya hujan, tetapi pandangan Jin tetap fokus pada satu tujuan: Safe House Park Chanyeol.

Setiap tikungan diambil dengan agresif. Klakson mobil lain terdengar marah, tapi Jin tidak mendengar. Di kepalanya hanya ada satu gambar: Taehyung, sendirian, takut, mungkin terluka. Ancaman Xiumin bergema lagi. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja.

"Aku datang, Tae... Tunggu Hyung..." gumam Jin, air mata bercampur dengan keringat di wajahnya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, membuatnya hampir muntah, tapi ia menggigit bibirnya hingga berdarah untuk tetap sadar.

Dua puluh menit perjalanan yang biasanya memakan waktu empat puluh lima menit, ditempuh Jin dalam rekor waktu yang gila. Mobilnya berhenti mendadak di gerbang besi besar rumah mewah milik keluarga Park di distrik elit Gangnam. Penjaga keamanan mengenali mobil Jin dan segera membuka gerbang.

Jin tidak menunggu mobil diparkir sempurna. Ia membanting pintu, kakinya goyah saat menyentuh aspal basah. Hujan langsung membasahi jas mahalnya, tetapi ia tidak peduli.

"Chanyeol! Taehyung!" teriak Jin, suaranya pecah tertahan angin dan hujan.

Chanyeol muncul dari teras rumah, memegang payung, wajahnya tenang namun waspada. "Jin-ah? Kau terlihat buruk. Masuklah dulu-"

"Dimana dia?!" raung Jin, mengabaikan Chanyeol dan menerobos masuk ke ruang tengah yang luas dan hangat.

Matanya menyapu ruangan dengan cepat. Jungkook dan Jihoon duduk di sofa, tampak kaget melihat kedatangan Jin yang basah kuyup dan berwajah pucat pasi. Tapi Jin tidak melihat mereka. Pandangannya terkunci pada sosok yang duduk di sudut ruangan, memegang secangkir teh hangat dengan tangan yang gemetar.

Taehyung.

Adik satu-satunya yang paling berharga baginya. Masih utuh. Masih bernapas. Masih hidup.

Rasa lega yang begitu dahsyat menghantam Jin hingga lututnya menyerah. Ia hampir jatuh, tapi ia memaksakan tubuhnya untuk bergerak maju.

"Taetae..." bisik Jin, suaranya bergetar hebat.

Taehyung menoleh, matanya membelalak kaget melihat kondisi kakaknya. "Hyung? Apa yang-"

Sebelum Taehyung bisa menyelesaikan kalimatnya, Jin sudah menerjangnya. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan pelukan erat yang hampir meremukkan tulang rusuk Taehyung. Jin membenamkan wajahnya di leher Taehyung, tubuhnya bergetar tak terkendali.

"Hyung... Hyung, kau sakit?" tanya Taehyung panik, mencoba melepaskan diri untuk memeriksa kondisi Jin, tapi pelukan Jin terlalu kuat.

Jin tidak menjawab. Ia justru mengangkat wajah Taehyung dengan kedua tangannya yang dingin dan basah. Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah tampan adiknya lekat-lekat, memastikan bahwa ini nyata. Bukan mimpi. Bukan ilusi akibat demam.

Lalu, dengan gerakan yang penuh kasih sayang dan keputusasaan, Jin mencium kening Taehyung. Panjang. Dalam. Lalu pipinya. Lalu ujung hidungnya. Seperti seorang ibu yang menemukan anaknya yang hilang setelah bertahun-tahun. Seperti orang yang baru saja kembali dari neraka dan menemukan surga.

"Maafkan Hyung..." isak Jin, air matanya akhirnya tumpah deras, bercampur dengan air hujan di wajahnya. "Maafkan Hyung membuatmu takut. Maafkan Hyung terlambat. Kau aman... Kau aman, taetae. Hyung di sini. Hyung tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

Taehyung terpaku. Ia belum pernah melihat Jinie Hyungnya seberantakan ini. Pria yang selalu sempurna, selalu tenang, kini hancur lebur di depannya karena cinta yang begitu besar. Rasa bersalah dan haru menyergap dada Taehyung. Ia membalas pelukan itu, memeluk pinggang Jin erat-erat, mengabaikan basah kuyupnya jas kakaknya.

"Aku baik-baik saja, Hyung," bisik Taehyung, suaranya serak menahan tangis. "Aku aman. Chanyeol-hyung menjagaku. Aku di sini, Hyung. Jangan menangis."

Namun Jin tidak berhenti. Ia terus menciumi wajah Taehyung, seolah ingin menghapus setiap detik ketakutan yang mungkin dirasakan adiknya melalui sentuhan fisiknya. Bagi Jin, Taehyung bukan sekadar adik. Ia adalah alasan Jin bertahan hidup di tengah badai korupsi dan pengkhianatan ini.

Di sudut ruangan, Jungkook, Jihoon, dan Chanyeol menonton dengan hening. Jihoon mengusap matanya yang ikut berkaca-kaca. Jungkook menunduk, menghormati momen privat antara dua saudara itu. Chanyeol hanya menghela napas, menyadari betapa dalamnya luka yang ditimbulkan oleh Xiumin dan Chen terhadap keluarga ini.

Setelah beberapa menit, energi Jin habis. Kaki jin lemas, dan ia mulai merosot.

"Hyung!" teriak Taehyung, menahan tubuh Jin agar tidak jatuh ke lantai.

Chanyeol dan Jungkook segera bergerak cepat, membantu menopang tubuh Jin yang kini setengah sadar karena kelelahan ekstrem dan demam yang memuncak.

"Bawa dia ke kamar tamu," perintah Chanyeol tegas pada anak buahnya yang sudah siap siaga. "Segera panggil dokter pribadi. Sekarang!"

Saat Jin digendong menuju tangga, tangannya masih terjulur lemah, berusaha meraih ujung jari Taehyung.

"Jangan... pergi..." gumam Jin samar.

Taehyung menggenggam tangan Jin erat-erat, berjalan di sampingnya. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Hyung. Aku di sini. Selalu."

...Di luar, hujan masih deras. Tapi di dalam rumah itu, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada kehangatan yang nyata. Meskipun badai di dunia luar belum berakhir, setidaknya, dua jiwa yang paling saling mencintai itu telah bersatu kembali dalam pelukan yang menyembuhkan....

...*...

...*...

...*...

...*...

...Kamar tamu utama di rumah keluarga Park telah diubah menjadi ruang perawatan sementara. Aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan wangi dupa herbal Cina yang menenangkan, menciptakan suasana yang aneh namun menenangkan....

...Kim Seokjin terbaring di atas kasur empuk berukuran king size, wajahnya pucat pasi dan berkeringat dingin. Selimut tebal menutupi tubuhnya hingga dada, namun ia tetap menggigil hebat. Di samping tempat tidurnya, seorang pria paruh baya dengan kacamata bulat tipis sedang memeriksa denyut nadi Jin dengan teliti....

...Itu adalah Dokter Wang Do....

...Dokter Wang bukan dokter biasa. Ia adalah ahli medis tradisional dan modern dari Tiongkok yang telah mengabdi pada keluarga Kim sejak orang tua Jin dan Taehyung masih hidup. Ia menetap di Korea selama dua puluh tahun, menjadi penjaga kesehatan diam-diam bagi generasi kedua keluarga Kim. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi, namun matanya menyimpan kebijaksanaan dan ketajaman diagnosa yang tak tertandingi....

...Di sudut ruangan, Taehyung duduk di kursi kayu, tangannya mencengkeram ujung selimut Jin erat-erat. Matanya tidak berkedip, menatap setiap gerakan Dokter Wang dengan kecemasan yang mencekik. Jungkook dan Jihoon berdiri di ambang pintu, menjaga jarak agar tidak mengganggu, wajah mereka penuh kekhawatiran....

..."Dokter..." bisik Taehyung, suaranya serak. "Bagaimana kondisi Hyung?"...

...Dokter Wang Do tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan pemeriksaan tekanan darah, lalu membuka tas obat kulitnya yang usang. Dengan gerakan lambat dan presisi, ia mengambil sebuah botol kecil berisi pil merah dan segelas air hangat....

..."Stres akut, kelelahan fisik ekstrem, dan demam tinggi akibat sistem imun yang drop," kata Dokter Wang dengan aksen Mandarin-Korea yang khas, suaranya datar namun berwibawa. "Tubuhnya sudah mencapai batas maksimal. Jika dia memaksakan diri satu jam lagi tadi, dia bisa mengalami stroke atau henti jantung."...

...Taehyung merasa dadanya sesak. Stroke? Kata itu terdengar seperti vonis mati bagi seseorang sekuat Jin....

...Dokter Wang mendekati Jin, yang mulai gelisah dalam tidurnya. Dengan lembut namun tegas, ia membantu Jin menelan obat tersebut. "Ini akan menurunkan demamnya dalam satu jam. Tapi penyembuhan mentalnya... itu bukan tugas saya."...

...Setelah memberikan instruksi singkat kepada Chanyeol yang menunggu di luar tentang jadwal pemberian obat, Dokter Wang Do mengangguk hormat pada Taehyung sebelum meninggalkan ruangan, memberi mereka privasi....

...Ruangan menjadi hening, hanya terdengar suara napas Jin yang berat dan tidak teratur....

...Tiba-tiba, Jin menggeliat. Alisnya berkerut, seolah sedang bermimpi buruk yang mengerikan. Bibirnya bergerak-gerak, mengeluarkan suara-suara tak jelas....

...Taehyung segera mendekat, duduk di tepi kasur. Ia memegang tangan Jin yang dingin. "Hyung? Aku di sini, Hyung."...

...Jin tidak merespons panggilan sadar. Matanya masih tertutup rapat, tetapi air mata mengalir deras dari sudut matanya....

..."Tae... Tae-tae..." racau Jin, suaranya lemah dan pecah. "Jangan lari... Hyung di sini..."...

...Jantung Taehyung remuk mendengar panggilan masa kecil itu. Tae-tae. Nama panggilan yang hanya digunakan Jin ketika mereka masih sangat kecil, sebelum kematian orang tua mereka, sebelum Jin harus menjadi kuat, sebelum Jin menjadi CEO yang dingin dan tak tersentuh....

..."Hyung..." isak Taehyung, air matanya tumpah tanpa ia sadari....

..."Maafkan Hyung..." lanjut Jin, tangannya meraih udara kosong, mencari keberadaan adiknya. "Hyung janji... Hyung akan lindungi kamu. Jangan takut pada Xiumin... Jangan takut... Hyung akan bunuh mereka jika mereka menyentuhmu..."...

...Kalimat terakhir diucapkan dengan nada geraman rendah, penuh amarah meskipun dalam keadaan setengah sadar. Itu menunjukkan betapa dalamnya trauma dan rasa protektif Jin. Bahkan dalam delirium demamnya, musuh terbesar mereka tetap menjadi fokus kemarahannya....

...Taehyung merasakan sakit yang menusuk di dadanya, bersamaan dengan sesak napas yang membuatnya sulit bernapas. Selama ini, ia selalu melihat Kim Seokjin sebagai benteng. Pria yang selalu tegak, selalu tersenyum tipis meski dunia runtuh, selalu tegas mengambil keputusan bisnis yang kejam demi menyelamatkan perusahaan. Jin adalah sosok yang tak terkalahkan....

...Tapi hari ini? Hari ini Taehyung melihat retakan besar di benteng itu....

...Ia melihat Jin yang rapuh. Jin yang ketakutan. Jin yang rela menghancurkan dirinya sendiri hanya untuk memastikan adiknya selamat. Kekuatan Jin bukanlah berasal dari ketiadaan rasa takut, melainkan dari keberanian untuk terus maju meski takut setengah mati. Dan pengorbanan itu... itu terlalu berat untuk dipikul sendirian....

..."Aku tidak takut, Hyung," bisik Taehyung, mengusap keringat di dahi Jin dengan handuk basah yang disediakan Chanyeol sebelumnya. "Aku di sini. Aku kuat. Kita kuat bersama."...

...Jin tampak sedikit tenang mendengar suara itu, meski ia tidak benar-benar sadar. Napasnya menjadi lebih teratur. Tangannya yang tadi meraih udara, kini secara refleks menggenggam jari-jari Taehyung dengan lemah....

..."Tae-tae... pintar..." gumam Jin lagi, kali ini dengan senyuman tipis yang menyedihkan di bibirnya. "Hyung bangga... pada kamu..."...

...Taehyung menunduk, menempelkan dahinya pada punggung tangan Jin. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang pelan. Rasa bersalah karena menjadi beban, rasa haru karena cinta tanpa syarat, dan rasa marah pada dunia yang memaksa kakaknya menderita begitu saja, semuanya bercampur aduk menjadi satu emosi yang menghancurkan....

...Di ambang pintu, Jungkook mengusap matanya yang memerah. Jihoon menunduk, merasa hina karena keluarganya sendiri (Xiumin dan Chen) adalah penyebab penderitaan pria mulia yang sedang terbaring lemah itu....

...Chanyeol masuk perlahan, membawa selimut tambahan. Ia meletakkannya di bahu Taehyung tanpa berkata apa-apa, hanya memberikan dukungan diam....

..."Malam ini akan panjang," kata Chanyeol pelan. "Demamnya mungkin akan naik turun. Kau harus istirahat juga, Tae. Jika kau jatuh sakit, Jin akan lebih hancur lagi."...

...Taehyung menggeleng, tidak melepaskan genggaman tangannya dari Jin. "Tidak. Aku tidak akan tidur. Aku akan menjaganya. Seperti dia menjagaku."...

...Chanyeol menghela napas, tahu bahwa argumen apa pun akan sia-sia. Ia mengangguk, lalu keluar ruangan kembali, menutup pintu pelan-pelan....

...Di dalam keheningan kamar itu, hanya ada dua saudara. Satu terbaring lemah, bertarung melawan demon internalnya dalam mimpi. Satunya lagi terjaga, menahan sakit di hatinya, bersumpah dalam hati untuk tidak pernah lagi membiarkan Jin berjuang sendirian....

...Hujan di luar mulai reda, menyisakan gerimis halus. Fajar akan segera tiba, membawa serta tantangan baru. Tapi untuk saat ini, di ruangan kecil itu, waktu seolah berhenti, hanya untuk menyembuhkan luka lama yang baru saja terbuka kembali....

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!