Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Malam semakin larut ketika kendaraan yang membawa Dominic dan Evangeline kembali melintasi terowongan bawah tanah Blackwood Manor. Dinding beton dingin gedung itu kini terasa menyerupai sarang serigala yang dipenuhi ranjau tak terlihat.

Di dalam kamar utama di lantai tiga, hening yang pekat menyambut mereka.

Dominic melepaskan jas hitamnya dengan satu sentakan cepat, melemparnya ke atas sofa kulit tanpa memedulikan kerapian yang biasanya ia jaga. Otot-otot bahunya menegang keras di bawah kemeja putihnya yang setengah terbuka.

Pria itu melangkah langsung ke meja bar kecil, memutar tutup botol whisky tua, dan menuangkannya ke dalam gelas kristal hingga penuh.

Eva berdiri di dekat perapian yang menyala temaram. Jemarinya masih bergetar tipis, bukan karena ketakutan buatan yang ia tunjukkan di gudang sektor empat, melainkan karena gejolak adrenalin yang belum mereda.

The Five Thorns.

Nama itu terus berputar di dalam kepalanya bagaikan gema yang memekakkan telinga. Selama bertahun-tahun Silas dan The Crow's Veil menanamkan doktrin ke dalam otaknya bahwa keluarga Blackwood adalah iblis murni yang mencabut nyawa ibunya.

Namun malam ini, secercah kenyataan pahit mulai tersingkap, bahwa ada faksi pengkhianat bernama The Five Thorns yang menggunakan lambang mawar berular lima duri, faksi yang diduga telah punah empat belas tahun lalu, tetapi kini merayap kembali dari dalam kegelapan.

Dominic menyesap minuman kerasnya dalam satu tegukan panjang. Pria itu berbalik, mengamati Eva dari kejauhan dengan tatapan mata kelam yang begitu intens hingga seolah mampu menembus pakaian sutra merah marun yang dikenakan wanita itu.

"Kau tampak sangat memikirkan pembunuhan di gudang tadi, Evie," suara Dominic bergaung rendah, memotong desis kayu bakar di perapian.

Eva melipat kedua tangannya di depan dada, memasang kembali topeng ketenangannya. "Siapa pun akan memikirkannya, Dominic. Seorang pria ditancapkan di rak arsip dengan belati berdarah bukanlah pemandangan umum bagi putri seorang dokter bedah, bukan?"

Dominic terkekeh sinis, sebuah tawa tanpa kehangatan yang membuat bulu kuduk berdiri. Pria itu melangkah perlahan menuju perapian, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma alkohol tajam bercampur cendana menyapu wajah Eva.

"Aku sudah memeriksa ulang catatan latar belakangmu jam empat sore tadi," kata Dominic, meletakkan gelas kristalnya di atas mantel perapian dengan ketukan pelan yang mengintimidasi.

"Dr. Thomas Thorne... dokter bedah di klinik distrik luar. Rekam medisnya sangat bersih. Terlalu bersih untuk ukuran seorang dokter yang beroperasi di wilayah tanpa hukum."

Mata hazel Eva menyempit. Ia tahu Silas telah menyiapkan dokumen penyamaran Evie Thorne dengan sangat hati-hati, termasuk memalsukan riwayat hidup seorang dokter tua yang telah meninggal beberapa tahun lalu di distrik luar. Namun intuisi Dominic bukanlah jenis yang mudah dikelabui oleh berkas di atas kertas.

"Apakah kau mencurigai almarhum ayahku juga, Blackwood?" tantang Eva, mendongakkan kepalanya seraya menatap lurus ke dalam pupil mata pria di depannya.

"Aku mencurigai semua hal yang bernapas di sekitar rumah ini," bisik Dominic rendah, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara bibir mereka tak sampai tiga sentimeter.

"Terutama seorang wanita yang melompat dari lemari bukuku dua hari lalu dengan pisau serat karbon, namun kini bertingkah seperti istri yang polos dan terguncang oleh sedikit tumpahan darah."

Eva menahan napasnya. Tangan kanannya secara tak sadar mengepal di balik gaunnya, mengencangkan cengkeraman pada jarum perak yang masih terikat di manset tangannya.

"Jika kau sangat membenciku dan mencurigaiku, kenapa tidak lempar saja aku kembali ke sel bawah tanah?" bisik Eva dingin. "Kenapa tunduk pada permainan pernikahan nenekmu?"

Dominic menyunggingkan senyum kejam. Jarinya yang kasar terulur, menyusuri garis rahang Eva hingga menyentuh denyut nadi di leher jenjang wanita itu.

"Karena di dalam kamar ini, aku bisa mengawasimu," kata Dominic pelan namun penuh dominasi.

"Di sel bawah tanah, kau hanyalah mata-mata yang menunggu dieksekusi. Tapi di atas ranjangku... kau adalah umpan terbaik untuk memancing siapa pun yang mengirimmu ke sini."

Eva merasakan denyut nadinya berpacu lebih cepat di bawah tekanan jari Dominic. Rasa benci dan keasingan aneh bertarung hebat di dalam dadanya. Pria ini sangat berbahaya, seorang predator alami yang dapat menghitung setiap pergerakan manusia sebagai papan catur.

Namun sebelum ketegangan di antara mereka meledak menjadi bentrokan fisik, suara ketukan pelan berirama khusus terdengar dari balik pintu kayu jati kamar utama.

Tok... tok...

Dua ketukan singkat yang diikuti oleh jeda satu detik, kode pengamanan internal dari Viktor.

Dominic melepaskan cengkeramannya dari rahang Eva tanpa mengalihkan pandangan kelamnya selama sepersekian detik, sebelum akhirnya berbalik menuju pintu. Ia membukanya sedikit, menyisakan celah sempit untuk berbicara dengan kepala eksekutornya.

"Bicaralah," perintah Dominic pendek.

Dari celah pintu, suara Viktor terdengar berbisik dengan nada yang sangat cemas. "Tuan Dominic, laporan awal analisis deskripsi dari terminal gudang sektor empat baru saja keluar. Pelaku tidak hanya mencuri map manifes St. Jude 2012."

Kening Dominic berkerut dalam. "Apa lagi?"

"Pelaku sempat meretas pelacak logistik privat milik almarhumah Lady Vivienne," jawab Viktor seraya menahan napas.

"Seseorang sedang mencoba mencari lokasi penyimpanan peti besi pribadi milik almarhumah Ibu Anda di ruang penyimpanan bawah tanah manor ini."

Eva yang berdiri tiga meter di belakang Dominic, memiliki pendengaran luar biasa yang diasah melalui pelatihan ketat The Crow's Veil. Ia menangkap setiap kata yang diucapkan Viktor dari balik pintu.

"Peti besi pribadi Lady Vivienne? Di bawah tanah manor ini?" ucap Eva membatin.

Mata hazel Eva berkilat tajam di dalam temaram ruangan.

Segalanya mulai merajut sebuah pola yang makin jelas. Pelaku pembunuhan yang menggunakan simbol lima duri itu tidak hanya mengincar dokumen operasi St. Jude tempat ibunya terbunuh, tetapi juga memburu peninggalan rahasia milik ibu Dominic yang tewas empat belas tahun lalu.

Dominic mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Perketat pengawasan di lorong vault tingkat tiga bawah tanah. Pasang tim pengintai yang tidak mencolok. Jangan sampai ada pimpinan faksi lain tahu tentang peretasan ini."

"Siap, Tuan," sahut Viktor sebelum langkah kakinya berderap menjauh di sepanjang koridor.

Dominic menutup pintu kamar kembali, memutar kunci ganda dengan suara yang berat. Saat ia berbalik, raut wajahnya tampak menggelap bagaikan langit malam sebelum badai besar bertiup.

"Tidur, Evie," perintah Dominic dingin tanpa memandang Eva lagi. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan, menyalakan lampu baca bundar, dan membuka laptop berenkripsi tinggi miliknya. "Malam ini aku punya banyak hal yang harus diselesaikan."

Eva tidak membantah. Ia mengerti bahwa memprovokasi Dominic saat pria itu sedang dalam kondisi siaga puncak adalah keputusan konyol.

Eva berjalan perlahan menuju sisi kiri tempat tidur berseprai sutra hitam. Ia melepaskan gaun merah marunnya, menggantinya dengan gaun tidur sutra longgar berwarna abu-abu yang telah disiapkan di lemari ganti. Kemudian, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.

Namun, alih-alih memejamkan mata untuk tidur, otak Eva bekerja ekstra keras.

Vault tingkat tiga bawah tanah, tempat penyimpanan rahasia Lady Vivienne.

Jika pelaku bertindak selangkah lebih cepat, peti besi milik ibu Dominic bisa jatuh ke tangan faksi pengkhianat sebelum Eva sempat mengetahui apa sebenarnya hubungan antara pembunuhan ibunya dan tragedi keluarga Blackwood.

Eva memutar tubuhnya memunggungi meja kerja Dominic. Di dalam kegelapan, jarum perak di mansetnya ia pindahkan secara perlahan ke dalam selipan lipatan gaun tidurnya.

"Aku harus turun ke vault itu sebelum orang lain menemukannya," bisik batin Eva dengan ketetapan hati yang membara.

Pukul tiga pagi.

Kayu bakar di perapian telah padam sepenuhnya, menyisakan bara abu-abu yang memancarkan hawa hangat yang makin memudar. Suara ketikan keyboard di meja sudut ruangan pun telah berhenti sejak setengah jam lalu.

Dominic berbaring di sisi kanan tempat tidur. Napas pria itu kini terdengar dalam dan teratur.

Di kegelapan kamar berdinding kaca tersebut, Eva membuka matanya perlahan. Kelereng hazelnya telah beradaptasi sepenuhnya dengan keremangan malam.

Dengan gerakan sehalus kucing liar, Eva menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit ke tepi kiri tempat tidur. Kain sutra gaun tidurnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat kakinya mulai melangkah di atas karpet tebal.

Eva berbalik menatap Dominic.

Dalam posisi tidur telentang, garis wajah pria itu tampak sedikit lebih melunak di bawah pendar sinar bulan yang menembus kaca antipeluru.

Namun Eva tahu persis, di balik selimut tebal itu, tangan kanan Dominic hanya berjarak beberapa senti dari gagang pistol berperedam suara yang tersimpan di balik bantalnya.

Eva menarik napas perlahan melalui hidungnya, mengontrol ritme jantungnya agar tetap di bawah 60 detak per menit untuk menghindari memicu sensor pemindai termal di sudut plafon kamar.

Ia merayap menuju lemari penyimpanan pakaian tambahan di dekat pintu kamar mandi. Dari sana, Eva mengambil sepasang celana kain hitam berpotongan fleksibel dan atasan berlenan panjang serba gelap, pakaian latihan yang sebelumnya disiapkan oleh staf rumah tangga atas perintah Lady Eleanor.

Dengan gerakan presisi yang terlatih, Eva berganti pakaian dalam waktu kurang dari dua puluh detik. Rambut cokelat gelapnya ia ikat ketat di belakang kepala menggunakan tali kain tipis. Jarum perak tajam diselipkan di lipatan kerah bajunya.

Sekarang, masalah terbesarnya adalah keluar dari kamar utama ini.

Pintu utama kamar dikunci ganda dari dalam oleh Dominic, dan sensor pengenal sidik jari terpaut langsung pada jam tangan serta retina mata pria itu. Jika Eva mencoba membongkar selot pintu utama, alarm sunyi di markas pengawal akan langsung menyala.

Mata Eva beralih pada dinding selatan, panel kaca antipeluru setinggi langit-langit yang memperlihatkan jurang tebing Blackwood Crest.

Di ujung sebelah kanan panel kaca tersebut, terdapat sebuah pintu angin peredam tekanan udara yang digunakan untuk sirkulasi manual. Pintu angin itu berukuran lebar lima puluh sentimeter, terhubung langsung dengan balok struktur luar dan pipa drainase beton yang menjuntai di sepanjang dinding batu bagian barat manor.

Jalur eksternal, analisis Eva cepat.

Menurun dinding luar Blackwood Manor di tengah malam saat hujan gerimis dan angin bukit berembus kencang adalah tindakan yang hampir gila. Satu pijakan yang salah pada batu licin akan melempar tubuhnya jatuh seratus meter ke dasar jurang berkarang.

Namun bagi seorang Ghost Rose yang dibesarkan di lembah latihan terisolasi The Crow's Veil, risiko mati di jurang jauh lebih berharga daripada hidup tanpa mengetahui kebenaran di balik kematian ibunya.

Eva melangkah tanpa suara menuju pintu angin di sudut dinding kaca. Jemarinya yang ramping menekan tuas pengunci manual dengan sangat pelan hingga berbunyi krik yang teredam oleh desis angin luar.

Pintu angin terkuak sedikit. Hawa dingin malam yang membekukan langsung menyergap masuk, membawa aroma basah daun pinus dan uap air laut dari bawah tebing.

Eva menoleh sekilas ke arah tempat tidur utama. Dominic masih tidak bergerak dari posisinya, napasnya tetap konstan.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Eva menyusupkan tubuhnya keluar dari celah pintu angin tersebut, membiarkan angin malam menyambut raganya saat kedua tangannya mencengkeram erat lipatan besi struktural di dinding luar kediaman sang penguasa mafia.

Dinding luar Blackwood Manor terbuat dari susunan batu granit hitam tua yang dipahat kasar memberikan celah pijakan yang sangat sempit bagi ujung jari dan sepatu Eva.

Di bawahnya, jurang kelam menganga bagaikan mulut monster yang siap menelan siapa saja yang tergelincir. Angin malam berembus kencang, menampar wajah dan menyibakkan pakaian hitam Eva yang basah oleh rintik hujan gerimis.

"Satu... dua... tiga..." hitung Eva di dalam hatinya seraya memindahkan cengkeraman jarinya pada kisi pipa drainase beton.

Dengan kelentukan tubuh yang luar biasa dan kekuatan otot inti yang teruji, Eva turun secara vertikal sejauh dua lantai. Gerakannya begitu teratur, mirip seperti seekor laba-laba hitam yang bergerak di atas permukaan dinding batu yang licin.

Ia berhenti di sebuah ambang jendela berjeruji besi di lantai dasar sayap timur, akses ventilasi lama yang menuju langsung ke saluran pembuangan pendingin udara di atas lorong vault bawah tanah.

Eva mengeluarkan jarum peraknya dari kerah baju. Ia menyelipkan jarum tipis itu ke dalam lubang pengunci engsel jendela ventilasi, memutarnya dengan sudut tekanan presisi 45 derajat.

Klek.

Mekanisme kait besi tua itu menyerah. Eva mendorong jendela kecil itu pelan, meluncurkan tubuhnya masuk ke dalam saluran ventilasi yang gelap dan sempit, lalu menutup jendela itu kembali dari dalam agar tidak meninggalkan bekas arus angin.

Di dalam saluran ventilasi, udara terasa jauh lebih hangat namun beraroma pelumas mesin dan debu tua. Eva merayap menggunakan siku dan lututnya, bergerak menyusuri denah bangunan yang sebelumnya sempat ia hafal dari peta evakuasi di ruang ganti.

Setelah lima menit merayap di dalam kegelapan, Eva mencapai sebuah jeruji kisi-kisi pembuangan udara yang mengarah ke lorong utama vault tingkat tiga bawah tanah.

Eva mengintip melalui celah kisi-kisi besi.

Di bawah sana, lorong beton tebal tersebut diterangi oleh lampu neon putih yang remang. Tempat ini berada jauh lebih dalam daripada sel penahanan tempat ia disiksa dua hari lalu.

Dinding-dindingnya dilapisi plat baja tebal dengan sistem pengamanan laser inframerah yang membentuk garis-garis merah tipis melintasi koridor.

Dua penjaga bersenjata lengkap dengan rompi antipeluru berdiri di depan pintu besi raksasa berdinding sandi diputar manual di ujung lorong.

Ruang penyimpanan pribadi keluarga Blackwood.

Namun, saat mata hazel Eva mengamati area sekitar pintu besi tersebut, intuisinya menangkap sesuatu yang tidak beres.

Salah satu penjaga di bawah sana... bergerak dengan ritme yang terlalu kaku. Postur tubuhnya tidak mencerminkan kesiapan bertarung seorang eksekutor kepercayaan Dominic, melainkan gestur gelisah seorang penyuplai internal yang sedang menunggu sesuatu.

Tiba-tiba, penjaga kedua melangkah mendekati panel pengunci pintu besi. Dari dalam sakunya, ia tidak mengeluarkan kartu akses resmi, melainkan sebuah perangkat peretas selular berbentuk kotak hitam kecil yang memancarkan pendar lampu biru.

Eva memicingkan matanya keras dari dalam saluran ventilasi.

Pengkhianat internal.

Orang yang membobol gudang sektor empat malam tadi bukanlah pihak luar yang memanjat benteng, melainkan salah satu penjaga yang berada di dalam daftar pengamanan utama manor ini.

Penjaga itu menempelkan alat peretas ke panel sandi manual pintu vault. Angka-angka di layar digital panel mulai berkedip cepat saat kode deskripsi meretas pertahanan elektronik pintu penyimpanan Lady Vivienne.

Beep...beep...beep.

Lampu hijau di panel menyala. Pintu baja seberat lima ton itu berderit terbuka sedikit, memperlihatkan kegelapan di dalam ruang penyimpanan rahasia tersebut.

Penjaga pengkhianat itu menyunggingkan senyum licik, lalu melangkah masuk ke dalam ruang vault seraya menarik sebuah belati dari balik rompi taktisnya.

Di atas bilah belati penjaga itu, terukir lambang mawar dengan ular bertakik lima duri yang berkilau di bawah lampu neon.

Darah Eva mendidih seketika. Pembunuh yang menggunakan simbol The Five Thorns berada persis sepuluh meter di bawah posisinya.

Tanpa membuang waktu lagi, Eva mendorong kisi-kisi besi ventilasi dengan bahunya hingga terlepas tanpa suara, lalu meluncur turun dari ketinggian empat meter menuju lantai beton koridor.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!