“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Mobil hitam berlapis baja itu meluncur membelah kegelapan malam pinggiran kota Napoli, meninggalkan jejak kekacauan di klub malam sebelumnya.
Kendaraan itu akhirnya berhenti di pelataran sebuah mansion megah bergaya klasik Italia yang dikelilingi pohon cypress menjulang tinggi.
Vincent turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang dan menarik Lucia keluar.
“Turun. Berdiri di sini, jangan menyentuh apapun dan demi kewarasanku, jangan membuat masalah. Aku akan membawamu ke dapur pelayan lewat pintu belakang.”
Lucia tidak merespons peringatan itu. Ia berdiri kaku, menatap bangunan raksasa dari batu marmer putih di hadapannya dengan mulut menganga lebar.
“Paman, ini istana raja, ya?” tanya Lucia takjub, menoleh pada Vincent sambil menarik-narik ujung jas pria itu.
“Rumah ini besar sekali! Pasti butuh sepuluh ribu domba untuk menukarnya, kan? Dan lihat, pasti lampu minyak di dalam sana ada sejuta. Siapa yang bertugas menyalakannya satu-satu setiap malam?”
Vincent memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri.
“Dengar, Gadis Udik. Pertama, berhenti memanggilku Paman. Umurku baru dua puluh delapan tahun. Kedua, tidak ada yang menukar rumah ini dengan domba. Ketiga, ini pakai listrik, bukan lampu minyak,” rutuk Vincent kehabisan kesabaran.
“Tapi, Paman. Di desaku–”
“Sudah, diam dan ikut aku!”
Saat mereka melangkah menaiki undakan teras utama, mata Lucia tertuju pada deretan patung pahlawan Romawi kuno yang menghiasi pilar.
“Paman, kenapa orang-orang batu itu tidak pakai baju? Paman tuan rumah pasti sangat pelit sampai tidak membelikan mereka celana, ya? Kasihan, mereka pasti kedinginan di malam hari.”
“Itu seni, astaga! Seni era renaissance. Kecilkan suaramu sekarang juga atau aku akan benar-benar membungkam mulutmu.”
Lucia langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan dan mengangguk patuh, membuat Vincent akhirnya bisa membuang napas lega.
Mereka memasuki ruang utama. Tidak ada satu pun pelayan yang terlihat berlalu-lalang.
Tiba-tiba, dari arah ruang kerja utama di lantai dua, terdengar suara erangan menahan sakit yang teramat dalam, disusul suara barang-barang yang dibanting ke lantai.
Langkah Vincent terhenti seketika. Raut wajahnya yang tadi kesal mendadak pucat pasi.
“Tuan Alessandro!” Vincent bergumam panik.
Tanpa memedulikan Lucia lagi, pria berjas hitam itu langsung berlari kencang menaiki tangga. Lucia yang ketakutan setengah mati ditinggal sendirian di tempat asing, refleks berlari terbirit-birit membuntuti di belakang Vincent.
“Paman! Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku dengan patung-patung telan-jang ini!” rengek gadis itu sambil mengangkat ujung gaunnya yang kepanjangan agar tidak tersandung.
Di dalam ruangan bernuansa gelap yang pintunya sedikit terbuka, kekacauan terjadi. Berkas dokumen berserakan di atas karpet. Seorang pria berbadan tegap dengan kemeja putih yang kini bersimbah darah tampak bersandar lemas di balik meja kerjanya.
“Tuan, luka tembak anda terbuka lagi?” tanya Vincent cemas.
Namun, Vincent langsung mengerem langkahnya, berhenti tepat pada jarak aman dua meter dari sang bos. Vincent sangat paham aturan mutlak di mansion ini, tidak ada yang boleh mendekati atau menyentuh Alessandro.
Bukan tanpa alasan, Alessandro mengidap haphephobia parah sekaligus reaksi psikosomatis ekstrem terhadap sentuhan manusia. Sentuhan sekecil apa pun akan memicu reaksi alergi mengerikan. Kulit melepuh, sesak napas, hingga syok anafilaktik.
“Panggil dokter pribadiku!” titah Alessandro. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Tangannya yang gemetar memegangi perut bagian kanannya yang terus mengeluarkan darah segar.
“B-baik, Tuan! Saya akan segera memangil dokter!”
Saat Vincent hendak berbalik untuk meraih telepon darurat, sebuah siluet kecil tiba-tiba melangkah maju melewatinya.
Melihat ada seseorang yang merintih kesakitan dan bersimbah darah, jiwa penolong Lucia murni mengambil alih.
Lucia lupa pada rasa takutnya, lupa pada tembakan di klub malam dan lupa pada teguran Vincent.
Yang Lucia lihat hanyalah seorang manusia yang sedang terluka parah.
“Paman Tampan, Paman berdarah!” seru Lucia berlari mendekati meja kerja.
“Jangan mendekat, Gadis Udik! Mundur! Berhenti di sana!” teriak Vincent panik, tangannya terulur hendak menggapai kerah baju Lucia.
Tapi semuanya terlambat. Lucia sudah lebih dulu berlutut tepat di samping kursi kebesaran Alessandro.
Mendengar suara asing, mata Alessandro menajam. Insting mafianya bereaksi lebih cepat dari rasa sakitnya. Tangan kanannya bergerak kiat meraih pistol di atas meja dan bersiap menarik pelatuk ke arah penyusup yang berani mendekatinya.
Namun, sebelum moncong senjata itu terangkat sempurna, jemari mungil Lucia yang halus dan hangat sudah lebih dulu melingkar erat di pergelangan tangan Alessandro.
Vincent menahan napas dan memejamkan matanya rapat-rapat. Bersiap mendengar jeritan murka bosnya atau lebih buruknya lagi, melihat kepala gadis desa itu ditembus peluru.
Lima detik berlalu.
Tidak ada jeritan kesakitan, tidak ada ruam merah yang muncul di kulit Alessandro dan tidak ada suara tembakan. Napas Alessandro yang tadi memburu, entah bagaimana perlahan-lahan mulai berangsur stabil.
Alessandro membelalakkan mata. Pistol di tangannya terlepas. Ia menatap ke bawah, melihat pergelangan tangannya yang sedang digenggam erat oleh seorang gadis bergaun lusuh di hadapannya.
Sensasi yang Alessandro rasakan bukanlah rasa terbakar seperti tertusuk ribuan jarum api yang menyiksa seperti biasanya. Melainkan sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
“Tangan Paman dingin sekali, seperti balok es di musim salju. Pasti Paman kesakitan sekali, ya?”
Mata Lucia yang jernih menatap lurus ke dalam netra biru Alessandro.
“Jangan bergerak dulu, Paman. Darahnya bisa keluar lebih banyak,” tegur Lucia layaknya seorang ibu memarahi anak kecil yang nakal.
Alessandro membeku. Suara dinginnya yang sanggup membuat seluruh petinggi mafia berlutut, kini mendadak goyah.
“Kau siapa?” tanya Alessandro tak berkedip menatap wajah polos di dekatnya.
“Namaku Lucia, Paman. Paman jangan takut dan jangan menangis, ya. Aku pandai mengobati luka. Kalau domba peliharaan bibiku terluka karena serigala, aku selalu menempelkan daun jarak yang ditumbuk. Lukanya langsung cepat kering,” oceh Lucia bangga sembari mengusap lengan Alessandro dengan lembut.
Melihat itu, rahang Vincent seolah akan jatuh ke lantai. Manusia berdarah dingin yang selama dua puluh delapan tahun ini sama sekali tidak bisa disentuh oleh siapapun, kini membiarkan tangannya diusap dan diajak bicara soal domba serta daun jarak oleh seorang gadis udik. Yang bahkan tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis nomor satu paling ditakuti di seluruh daratan Italia.
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,