Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Malam ke-30 di Puncak Pedang Utama dinaungi langit gelap yang bertabur ribuan bintang perak.

Di dalam kamar utama Paviliun Awan Mengambang, Gu Ran duduk bersila santai di atas kasur sutra. Angin malam berhembus lembut melewati jendela kayu yang terbuka lebar, menggerakkan ujung pita ungu yang mengikat rambut putihnya.

Seusai aksi tidur siang di Tebing Angin Puyuh dan kepatuhan penuh para petinggi sekte selama sepekan terakhir, pundi-pundi energi takdir sistem telah terisi penuh.

Gu Ran memanggil antarmuka sistem di depan pandangan batinnya.

[Saldo Poin Penebusan Karma: 15.000 Poin.]

[Katalog Toko Tingkat 3: Beli Pil Pemurni Jiwa Kosmik (15.000 Poin)?]

“Beli,” putus Gu Ran singkat dalam benaknya.

TINGGG!

Denting lonceng sistem bergema pelan.

[Transaksi Berhasil. Pil Pemurni Jiwa Kosmik telah dikirimkan ke tangan pengguna.]

Pendar cahaya abu-abu keperakan muncul di telapak tangan kanan Gu Ran. Sebutir pil bulat bertekstur kristal transparan terbaring di sana.

Pil itu tidak mengepulkan aroma herbal menyengat layaknya tanaman obat bumi. Permukaannya tampak tenang bagai cermin air sumur purba, memancarkan getaran kehampaan yang menolak hukum elemen api, air, dan angin.

Gu Ran memasukkan pil kristal itu ke dalam mulutnya.

Pil tersebut tidak meleleh menjadi cairan panas. Begitu menyentuh pangkal lidah, pil itu lenyap seketika menjadi gumpalan kabut abu-abu dingin yang meluncur turun menembus rongga dada, lalu berkumpul tepat di titik pusat dantian pusarnya.

DEG!

Di dalam perut Gu Ran, kabut abu-abu dingin itu berputar membentuk pusaran badai hening.

Energi dari Meridian Kausalitas Purba miliknya mengalir masuk menyatu ke dalam pusaran tersebut. Kabut kelabu itu perlahan memadat, mengkristal menjadi sebuah bola bulat sempurna berwarna abu-abu kehampaan dengan ukiran corak emas purba yang melingkari intinya.

Inti Emas Hampa telah terbentuk seutuhnya di dalam raga Gu Ran.

Biasanya, ketika seorang kultivator menerobos dari ranah fana menuju Alam Inti Emas, langit akan bergemuruh hebat. Awan petir hitam bergulung sejauh puluhan li, melepaskan sambaran petir penghancur demi menguji ketahanan sukma sang pendekar.

Namun malam ini di atas Puncak Pedang Utama, langit tetap sunyi senyap.

Bintang-bintang di langit angkasa tetap bersinar tenang. Tidak ada kilatan petir ungu, tidak ada deru angin ribut, dan tidak ada gelombang kejut energi yang meledak keluar dari dinding kamar Gu Ran.

Sistem Tali Gantung Jiwa menyamarkan seluruh riak energi fana, membuat eksistensi Inti Emas Gu Ran seolah tidak terdaftar dalam catatan radar hukum alam semesta.

Gu Ran membuka kedua matanya perlahan.

Iris matanya yang berwarna kelabu kehampaan kini berputar tenang dengan pendar pupil ganda keemasan yang sangat tipis. Di dalam tubuhnya, aliran energi Inti Emas mengalir hening bagai lautan tenang tanpa dasar.

Di saat yang sama, jauh di dalam Gua Larangan Tebing Hitam.

Song Pojun yang sedang duduk bermeditasi tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar.

Leluhur berusia tujuh ratus tahun itu meraba dadanya dengan tangan gemetar. Kesadaran spiritualnya yang tajam melacak getaran energi asing yang baru saja beresonansi di tubuhnya sendiri melalui benang takdir tersembunyi.

Pandangan batin sang Leluhur menembus jurang kabut, mengarah lurus ke kamar tidur Gu Ran.

Saat melihat sebongkah Inti Emas abu-abu yang berputar tenang di dalam perut pemuda berambut putih itu, Song Pojun terlonjak kaget hingga kepalanya hampir membentur langit-langit gua batu.

“I-Inti Emas…?” Suara Song Pojun tercekat parau di tenggorokan, matanya membelalak liar penuh kengerian. “Sebulan lalu dia masih budak ber-meridian cacat… sekarang dia sudah memadatkan Inti Emas?!”

Sang Leluhur menengadahkan kepalanya menatap celah tebing, memandang langit malam yang tenang tanpa sebutir pun awan petir.

“Ke mana perginya Bencana Petir Langit…?” bisik Song Pojun terbata-bata sambil mengacak-acak janggut putihnya dengan ekspresi linglung. “Apakah Langit Tertinggi sedang tertidur… atau anak ini anak kandung Dao Langit?!”

Leluhur agung itu duduk bersandar di dinding gua dengan napas tersengal, merasa seluruh pemahaman ilmu kultivasi yang ia pelajari selama tujuh ratus tahun telah hancur menjadi serbuk abu tak berguna.

Di luar jajaran pegunungan sekte, jauh di kegelapan langit perbatasan selatan.

Seekor burung elang pengintai bermata merah mengepakkan sayapnya menembus kabut malam, membawa tabung bambu rahasia menuju perkemahan sekte rival yang sedang berkumpul di balik bukit.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!