Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran baru
Keesokan harinya...
Matahari baru saja menyingsing ketika Haruna melangkah menuju sekolah dengan seragam yang masih sedikit lusuh, karena semalam ia terlalu lelah untuk menyetrikanya. Wajahnya pucat, matanya sembap menahan kurang tidur, namun langkahnya tetap tegap menyusuri jalan setapak yang sudah begitu ia hafal.
Begitu memasuki gerbang sekolah, tatapan heran dari teman-teman sekelasnya langsung menyambutnya. Bisik-bisik kecil terdengar di sepanjang koridor, sebagian besar dari mereka sudah mendengar kabar duka yang menimpa Haruna semalam.
"Har, kamu... beneran masuk sekolah hari ini?" tanya salah seorang teman sekelasnya, terkejut bercampur khawatir begitu melihat Haruna melangkah masuk ke kelas. "Bukannya kemarin baru pemakaman Nenek kamu?"
Haruna mengangguk pelan, duduk di bangkunya dengan tenang meski matanya masih menyimpan kelelahan yang mendalam. "Iya. Tapi Haruna nggak mau ketinggalan pelajaran lebih jauh lagi. Lagian, di rumah juga cuma bikin Haruna makin sedih kalau terus-terusan diem aja."
Beberapa teman sekelasnya saling berpandangan, terharu dengan ketegaran yang ditunjukkan gadis itu. Satu per satu mereka mendekat, menepuk pundaknya, memberikan kata-kata semangat yang tulus.
"Kamu kuat banget, Har. Semangat, ya," ucap salah seorang dari mereka.
"Kalau butuh bantuan apa-apa, bilang aja ke kita," tambah yang lain, menyodorkan sekotak makanan ringan sebagai bentuk perhatian sederhana.
Haruna tersenyum tipis, mengucapkan terima kasih atas semua dukungan itu. Meski hatinya masih terasa begitu berat menahan duka yang belum sepenuhnya reda.
Begitu bel istirahat berbunyi, alih-alih menuju perpustakaan seperti biasa. Haruna melangkah mantap menuju ruang guru, mencari sosok Pak Broto yang selama ini menjadi salah satu pendukung terbesar dalam perjalanan akademiknya.
"Pak Broto," panggil Haruna begitu menemukan gurunya sedang memeriksa tumpukan tugas di mejanya.
Pak Broto menoleh, dan raut wajahnya langsung berubah menjadi campuran antara terkejut dan prihatin. "Haruna? Kamu udah masuk sekolah lagi? Bapak turut berduka cita banget atas kepergian Nenek kamu, Nak."
"Terima kasih, Pak," jawab Haruna, menahan getaran di suaranya. "Pak, Haruna ke sini mau ngomong sesuatu. Haruna udah putusin, Haruna mau lanjut kuliah."
Mata Pak Broto langsung membelalak penuh kegembiraan, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Beneran, Haruna? Kamu yakin?"
Haruna mengangguk mantap, meski matanya mulai berkaca-kaca mengingat alasan di balik keputusan itu. "Ini janji terakhir Haruna ke Nenek, Pak. Sebelum beliau meninggal, Nenek minta Haruna buat lanjutin sekolah, jadi sarjana, wujudkan semua cita-cita yang dulu Haruna impikan. Haruna nggak mau ingkari janji itu."
Pak Broto tampak begitu terharu mendengar penjelasan itu, matanya sendiri mulai berkaca-kaca. "Bapak bangga banget sama kamu, Haruna. Tenang aja, Bapak akan bantu semua proses pendaftaran kuliahnya. Kebetulan juga, batas waktu konfirmasi beasiswa masih ada beberapa minggu lagi. Nanti sore, kamu ke sini lagi, ya, kita urus semua berkasnya sama-sama."
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Haruna, membungkuk hormat, dadanya dipenuhi rasa syukur memiliki guru yang begitu peduli dan tulus membantunya.
Sepulang sekolah, Haruna tak langsung pulang ke gubuk yang kini tinggal menunggu waktu untuk ditinggalkan. Ia justru menyempatkan diri bertanya kepada beberapa teman sekelasnya, mencari informasi tentang rumah sewa murah yang bisa ia tempati sementara waktu sebelum keberangkatannya ke kota untuk kuliah.
"Har, kebetulan tetangga aku baru aja pindah rumah minggu lalu. Rumahnya kosong, kalau kamu mau, mungkin bisa disewa buat sementara," tawar salah seorang temannya, Dinda, yang duduk di bangku sebelah.
Mata Haruna langsung berbinar mendengar tawaran itu. "Beneran, Din? Boleh Haruna lihat rumahnya sekarang?"
"Boleh banget, rumahnya deket kok dari sini," jawab Dinda, langsung mengajak Haruna berjalan menuju rumah yang dimaksud.
Rumah kosong itu ternyata jauh lebih layak dari yang Haruna bayangkan, dindingnya masih kokoh terbuat dari batu bata, meski catnya sudah mulai memudar, dengan atap genteng yang tak lagi bocor seperti gubuk lamanya. Haruna menemui pemilik rumah yang ternyata masih kerabat jauh Dinda, menjelaskan situasinya dengan jujur.
"Jadi gini, Pak, saya butuh tempat tinggal sementara sampai nanti berangkat kuliah ke kota. Mungkin sekitar tiga bulan lagi," jelas Haruna sopan.
Pemilik rumah itu, seorang pria paruh baya yang dikenal baik hati di lingkungan itu, menatap Haruna dengan tatapan iba. Rupanya sudah mendengar sedikit cerita tentang kondisi gadis di hadapannya. "Nggak masalah, Nak. Kamu bisa sewa dengan harga murah aja, yang penting rumah ini ada yang jaga sementara kosong."
Setelah menyepakati harga sewa yang jauh lebih ringan dari perkiraan Haruna, ia pun berpamitan pulang dengan hati yang sedikit lebih lega. Meski masih menyisakan beban berat yang harus segera ia hadapi, meninggalkan gubuk yang menjadi saksi bisu seluruh kehidupannya bersama Nek Lasmi.
Sesampainya di gubuk, Haruna berdiri lama di ambang pintu. Menatap setiap sudut ruangan itu dengan pandangan yang begitu dalam. Dipan kayu tempat ia dan neneknya biasa tidur berdampingan, dapur sederhana tempat mereka menggoreng peyek setiap hari, dinding bambu yang dihiasi coretan krayon masa kecilnya. Semua itu seakan hidup kembali dalam ingatannya, memutar ulang setiap kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama.
"Ini istana Haruna," gumamnya pelan, mengusap dinding bambu yang mulai lapuk dimakan usia, air matanya nyaris tumpah namun ia tahan sekuat tenaga.
Bayangan wajah Nek Lasmi kembali muncul dalam benaknya, mengingatkannya pada nasihat yang selalu diucapkan wanita tua itu setiap kali Haruna merasa terpuruk. "Jangan nangis lagi, ya, Nak. Nenek nggak suka lihat Haruna nangis."
Mengingat kalimat itu, Haruna menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya sendiri. Ia tak ingin mengecewakan pesan terakhir neneknya, meski dadanya terasa begitu sesak menahan kepedihan yang mendalam.
Dengan tekad yang perlahan mulai pulih, Haruna melangkah mantap meninggalkan gubuk itu, membawa serta beberapa kardus berisi barang-barang sederhana miliknya dan mendiang neneknya.
Sebelum benar-benar beranjak pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah gubuk reyot itu, tersenyum tipis penuh haru.
"Terima kasih ya, udah jadi rumah paling hangat buat Haruna dan Nenek selama ini," bisiknya lirih, sebelum akhirnya berdoa dalam hati, "Suatu hari nanti, Haruna janji... Haruna akan punya rumah sendiri. Rumah yang jauh lebih besar, lebih bagus, seperti istana. Biar Nenek di surga bisa bangga lihat Haruna dari atas sana."
Ia lalu menghubungi salah seorang tetangga yang memiliki becak motor, meminta bantuan untuk mengangkut barang-barangnya menuju rumah sewa yang baru. Perjalanan singkat itu terasa begitu berat bagi Haruna, setiap detiknya membawa perasaan campur aduk antara kesedihan mendalam dan harapan baru yang perlahan mulai tumbuh di dalam dadanya.
Sesampainya di rumah sewa yang baru, Haruna mulai menata barang-barangnya satu per satu. Menyusun kembali kehidupan yang harus ia mulai dari nol tanpa kehadiran sosok yang selama ini menjadi penopang terbesar dalam hidupnya.
Ruangan itu masih terasa asing, jauh berbeda dari kehangatan gubuk lama yang penuh kenangan, namun Haruna tahu, inilah langkah pertama yang harus ia ambil untuk mewujudkan janji yang telah ia ucapkan di hadapan Nek Lasmi.
Malam itu, sambil duduk sendirian di ruangan barunya yang masih terasa sunyi dan asing, Haruna menatap langit-langit dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Namun kali ini ia tak membiarkan air mata itu jatuh. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menguatkan tekad yang telah lama tertanam dalam hatinya.
"Haruna siap, Nek," bisiknya pelan pada kesunyian malam, seolah kata-kata itu bisa didengar oleh wanita yang kini telah tenang di alam baka. "Haruna siap buka lembaran baru. Haruna akan buktikan, Haruna bisa jadi orang sukses seperti yang Nenek mau. Doain Haruna dari sana ya, Nek."
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,