Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Sang Antagonis
Ruang interogasi di Markas Kepolisian Metropolitan Jakarta Selatan pada sore hari itu berubah menjadi panggung sandiwara murahan yang penuh dengan teriakan melengking. Udara di dalam ruangan berukuran sempit itu terasa pengap, hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung sorot tunggal yang menyoroti meja kayu besi di tengah ruangan.
Viola Sanustika duduk di kursi interogasi dengan penampilan yang jauh dari kesan anggun. Mantel bulu mahalnya tampak kusut, rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajahnya yang dipenuhi keringat dan sisa make-up luntur akibat air mata kemarahan. Dua orang penyidik kepolisian duduk di seberangnya, menatap dokumen laporan resmi dari tim hukum Ma Group terkait insiden penyerangan di lobi kantor.
"Viola Sanustika, berdasarkan rekaman CCTV resmi dari gedung Ma Group dan laporan langsung dari korban atas nama Feng Zhi, Anda secara sah terbukti melakukan tindakan percobaan penganiayaan berat serta perusakan ketertiban umum," ucap penyidik senior berambut pelontos itu dengan nada datar dan tegas. "Apa ada hal yang ingin Anda sangkal terkait barang bukti ini?"
Mendengar tuduhan itu, mata Viola melotot tajam. Alih-alih menunjukkan rasa penyesalan, urat-urat leher wanita itu menegang hebat. Ia bangkit berdiri secara mendadak dari kursinya hingga kursi besi di belakangnya berderit keras.
Brak!
Viola menggebrak meja interogasi dengan kedua telapak tangannya sekuat tenaga, menciptakan suara dentuman keras yang memecah keheningan ruangan. Wajahnya memerah padam, menyeringai buas bak tokoh antagonis sinetron kolosal yang kehilangan akal sehat.
"Kalian gila, hah?! Kalian semua tidak tahu dengan siapa kalian sedang berurusan!" teriak Viola histeris, melengkingkan suaranya hingga nyaris memecahkan gendang telinga penyidik. "Aku tidak bersalah! Dengar itu, aku tidak bersalah! Sekretaris keparat bernama Feng Zhi itu yang memancing emosiku! Dia merendahkanku! Laporan itu palsu! Rekayasa! Aku adalah sosialita terpandang, bukan narapidana rendahan yang bisa kalian perlakukan seperti ini! Cepat lepaskan aku sekarang juga, atau aku pastikan karier kalian berdua hancur dalam satu malam!"
****
Kedua penyidik kepolisian itu sama sekali tidak bergeming menghadapi amukan histeris Viola. Mereka sudah menghadapi berbagai macam pelaku kejahatan dengan tingkat delusi dan kesombongan yang beragam, sehingga gertakan murahan Viola sama sekali tidak membuat mereka gentar.
Penyidik senior yang duduk di tengah menatap tajam ke arah Viola dengan tatapan penuh kejengkelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk meladeni teriakan wanita itu, sang penyidik mengangkat tangan kanannya, lalu mengepalkan tinjunya dan...
Brak!
Penyidik tersebut balik menggebrak meja interogasi jauh lebih keras daripada yang dilakukan Viola. Suara hantaman kayu yang pekat menggema nyari membahana ke seluruh sudut ruangan, menciptakan suasana yang riuh rendah dan langsung menciutkan nyali Viola seketika.
"Cukup, Viola Sanustika!" bentak sang penyidik dengan suara baritonnya yang menggelegar tegas, memotong langsung racauan histeris wanita itu. "Jangan coba-coba mengubah ruang interogasi ini menjadi panggung sirkus Anda! Anda sedang berada di kantor kepolisian, bukan di mal mewah tempat Anda bisa berteriak semaunya! Tindakan Anda menyerang staf eksekutif dengan kuku runcing dan membuat kekacauan di fasilitas umum adalah pelanggaran pidana nyata! Duduk kembali atau kami tambahkan pasal perlawanan terhadap petugas hukum!"
Bentakan keras berwibawa itu membuat nyali Viola mendadak ciut. Matanya mengerjap kaget, tubuhnya terhuyung mundur, lalu perlahan-lahan ia terduduk kembali di kursinya dengan napas tersengal-sengal. Bibirnya bergetar hebat, namun ia tidak lagi memiliki keberanian untuk membentak atau menggebrak meja. Air mata frustrasi dan rasa malu yang teramat sangat akhirnya tumpah membasahi pipinya—bukan karena menyesali perbuatannya, melainkan karena kesadaran pahit bahwa kali ini kekuasaan dan arogansinya tidak mampu melindunginya dari jeruji besi.
****
Jauh dari hiruk-pikuk ruang interogasi kepolisian tempat Viola meratapi nasib sialnya, pemandangan yang jauh lebih mengenaskan sedang menimpa mantan kekasih wanita iblis tersebut di belahan kota yang berbeda.
Di sebuah kafe sederhana beratap terbuka di kawasan Menteng, Xander Wiryawan duduk seorang diri di sudut paling sepi. Penampilannya hari ini benar-benar kontras dengan sosok CEO arogan yang biasa diagung-agungkan beberapa hari lalu. Ia mengenakan jas kusut yang belum disetrika, dasinya longgar tanpa simpul yang rapi, dan lingkaran hitam tebal menghiasi kedua matanya akibat tidak tidur selama beberapa malam.
Kerajaan bisnis Wiryawan Corporation telah resmi runtuh berkeping-keping. Berita kebangkrutan massal perusahaan menghiasi halaman utama seluruh surat kabar ekonomi nasional pagi ini. Satu per satu aset kekayaan pribadinya—mulai dari mobil sport mewah, vila peristirahatan di Puncak, hingga unit penthouse megah tempat ia biasa tinggal—telah disita secara resmi oleh pihak bank kreditor akibat gagal bayar pinjaman likuiditas besar-besaran yang ia gunakan untuk memborong saham Ma Group secara ceroboh.
Xander menatap kosong ke arah cangkir kopi hitam di hadapannya yang sudah dingin. Ia kehilangan segalanya: uang, kekuasaan, perusahaan, dan prestise sosial. Di tengah keputusasaan yang melilit lehernya, pikiran Xander tiba-tiba melayang pada satu-satunya orang yang pernah sangat ia remehkan namun memiliki ketulusan hati yang luar biasa: Evita Desniati.
****
Bagi Xander yang sedang jatuh miskin dan putus asa, Evita adalah satu-satunya pelabuhan sisa yang ia harapkan bisa memberinya simpati atau setidaknya tempat berlindung sementara, mengingat proses perceraian mereka belum resmi diketok palu putusan pengadilan.
Tak lama kemudian, pintu kafe berderit pelan. Sosok wanita berblus putih sederhana melangkah masuk ke dalam kafe untuk memenuhi janji pertemuan singkat yang diminta Xander pagi tadi melalui pesan singkat yang memohon-mohon.
Evita Desniati berjalan dengan kepala tegak, memancarkan aura ketenangan dan kedewasaan yang luar biasa. Ia berhenti tepat di depan meja Xander, lalu duduk perlahan tanpa menunjukkan sedikit pun rasa benci atau rasa iba yang berlebihan.
Xander mendongak. Melihat kehadiran mantan istrinya yang kini tampak begitu bercahaya dan anggun, dada Xander terasa sesak oleh penyesalan yang terlambat.
"Evita..." ucap Xander dengan suara parau bergetar, mencoba menampilkan senyuman memelas yang terlihat sangat menyedihkan. "Kamu... kamu akhirnya datang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemuiku di tengah situasi hancurku ini."
****
Evita menatap Xander dengan sorot mata yang tenang, dingin, namun menyimpan sejuta kepedihan masa lalu yang kini telah sembuh. "Aku datang bukan untuk bernostalgia, Xander. Aku datang untuk memastikan bahwa kamu tidak lagi mengganggu hidupku setelah sidang putusan minggu depan."
Mendengar kata-kata dingin Evita, Xander menelan ludahnya susah payah. Ia mengulurkan tangan kanannya yang gemetar, mencoba menyentuh jemari Evita di atas meja, namun Evita dengan sigap menarik tangannya menjauh.
Xander mendesah berat, lalu menatap Evita dengan tatapan memohon yang sangat putus asa.
"Evita, kumohon... maafkan aku," ratap Xander dengan nada suara memelas, nyaris menangis di hadapan umum. "Aku tahu aku adalah suami yang bajingan. Aku sudah dibutakan oleh ambisi gila dan pengaruh wanita iblis bernama Viola itu hingga aku tega memfitnahmu dan menghancurkan kariermu... Tapi percayalah, Evita, aku sudah membuang Viola! Perusahaanku hancur, hartaku disita bank, aku sekarang bukan siapa-siapa lagi... Tolonglah aku, Evita. Mari kita batalkan perceraian ini. Kita rujuk kembali, ya? Kita mulai semuanya dari nol berdua seperti dulu saat kita masih hidup sederhana."