Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Area Kerja
"Iya! Demi apa pun, aku tadi ketemuan sama Pak Nakula di lantai puncak," bisik Siska dengan mata berbinar-binar.
"Biasanya kan Pak Alvaro itu mukanya dingin banget kayak es abadi, kalau melirik orang aja bisa bikin merinding. Tapi tadi pagi, waktu beliau masuk ruangan, ekspresi wajahnya kelihatan jauh lebih teduh! Malah tadi sempat-sempatnya beliau membalas sapaan staf dengan anggukan kepala yang ramah!" lanjut Siska dengan semangatnya menceritakan tentang Alvaro.
Karen menghela napas mengagumi. "Ya ampun... Pak Alvaro itu memang sempurna banget ya. Sudah tampan, kaya raya, penguasa tunggal Adhitama Group lagi. Kira-kira wanita beruntung mana ya yang nanti bisa meluluhkan hati dinginnya bos kita itu?"
"Entahlah! Yang pasti bukan cewek-cewek biasa kayak kita," kekeh Siska. "Pasti cuma anak konglomerat atau model papan atas yang sepadan sama kasta beliau." balas Siska.
Kedua wanita itu terus berjalan melintasi lorong, suara tawa elegan mereka perlahan-lahan menjauh dan menghilang di balik pintu kaca ruang rapat.
Hana perlahan mendongakkan kepalanya kembali. Ia menatap ke arah lorong kosong tempat kedua sekretaris itu baru saja melintas, lalu memandangi pantulan dirinya di kaca jendela besar lorong lantai 19.
Di dalam pantulan kaca itu, berdiri seorang gadis kecil berpakaian seragam biru dongker kusam dengan ember dan kain pel di tangannya.
Hana tersenyum tipis yaitu sebuah senyuman samar yang dipenuhi irony. Dua wanita cantik tadi sedang membayangkan sosok putri raja atau model papan atas yang pantas mendampingi sang CEO teragung di gedung ini.
Mereka sama sekali tidak akan pernah membayangkan, bahwa wanita yang telah mengikat janji suci di hadapan Allah dan menyandang nama Adhitama di belakang namanya... adalah gadis yang saat ini sedang memegang kain pel berbau pembersih pinus, berdiri menunduk di sudut lorong kotor yang baru saja mereka lewati.
Di lantai empat puluh delapan, suasana di dalam ruangan kerja CEO Adhitama Group terasa begitu menekan. Dinding kaca tebal berukuran raksasa yang menyajikan lanskap megah pencakar langit Jakarta tak mampu mengusir hawa dingin yang memancar dari balik meja kayu mahoni.
Alvaro Adhitama duduk bersandar di kursi kulitnya. Laptop di hadapannya menampilkan laporan keuangan kuartal ketiga yang krusial, namun sudah sepuluh menit berlalu dan pandangan mata Alvaro sama sekali tak bergeser dari baris angka yang sama. Jemari tangannya ketukan monoton yang gelisah di atas permukaan meja.
Pikirannya melayang jauh ke lantai sembilan belas.
'Apakah dia baik-baik saja? Apakah kakinya yang memar masih terasa sakit saat memeras kain pel? Bagaimana kalau ada staf kurang ajar yang memakinya karena lantai basah?'
Berbagai pertanyaan itu berputar hebat di dalam kepala Alvaro, memicu rasa tak tenang yang kian membakar ulu hatinya.
Ia terbiasa mengendalikan segala hal di dalam hidupnya mulai dari perusahaan, saham, hingga keputusan hukum ratusan miliar rupiah. Namun kini, fakta bahwa istrinya berada di gedung yang sama, bekerja melakukan pekerjaan fisik yang berat tanpa berada di bawah pengawasan matanya sendiri, membuat fokus Alvaro hancur berantakan.
Alvaro menghembuskan napas keras, melepas kacamatanya, lalu menekan tombol intercom di mejanya.
"Nakula. Masuk ke ruanganku sekarang," perintah Alvaro dingin.
Hanya dalam hitungan detik, pintu kayu tebal itu terbuka. Nakula melangkah masuk dengan dokumen di tangan dan sikap siaga seperti biasa.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Alvaro?" tanya Nakula dengan sopan.
Alvaro menegakkan posisi duduknya, menatap asisten kepercayaannya itu dengan pandangan tajam yang dipenuhi ketegasan mutlak.
"Pindahkan area kerja Hana hari ini juga," ujar Alvaro tanpa basa-basi.
Nakula sedikit menaikkan sebelah alisnya, kejutan samar melintas di matanya.
"Memindahkan Nyonya Hana? Ke lantai berapa, Pak? Bukankah beliau baru saja ditempatkan di lantai delapan belas sampai dua puluh oleh penyelianya?" ujar Nakula pelan.
"Pindahkan dia ke lantai ini. Lantai empat puluh delapan," pangkas Alvaro cepat, suaranya tak menyisakan ruang untuk perdebatan.
"Mulai hari ini dan seterusnya, tugas Hana hanya membersihkan area koridor eksekutif, ruang rapat direksi utama, dan ruang kerjaku." utas Alvaro tidak ingin dibantah.
Nakula terpaku sejenak. Lantai empat puluh delapan adalah area paling terisolasi dan paling ketat di seluruh gedung Adhitama Group.
Area khusus ini hanya diakses oleh Alvaro sendiri, Nakula sebagai asisten pribadi, dan Mbak Bella yaitu sekretaris senior kepercayaan yang sudah puluhan tahun mengabdi pada keluarga Adhitama dan dikenal sangat menjaga kerahasiaan.
"Pak Alvaro..." ujar Nakula pelan, mencoba menganalisis situasi.
"Jika Nyonya Hana dipindahkan ke lantai ini secara khusus, Mbak Hana mungkin akan merasa risih. Lagi pula, area lantai empat puluh delapan biasanya dibersihkan oleh tim cleaning service khusus yang berpengalaman."
"Atur dengan supervisor outsourcing itu, Nakula!" tegak Alvaro, nadanya memuncak oleh rasa frustrasi yang coba ia tutupi.
"Katakan pada mereka bahwa ini instruksi langsung dari manajemen puncak untuk peremajaan standar kebersihan area CEO. Kosongkan jadwal Hana di lantai bawah. Aku ingin dia berada di lantai ini sebelum jam makan siang!"
Nakula menatap atasannya lekat-lekat, menyadari gejolak emosi di balik wajah dingin sang CEO.
"Baik, Pak. Akan saya urus sekarang. Namun... boleh saya tahu alasan pastinya? Apakah Bapak merasa khawatir dengan kondisi Nyonya Hana di bawah?"
Pertanyaan Nakula menghantam gengsi Alvaro. Pria itu menegang, merapikan kembali kerah kemejanya dengan gerakan kaku, lalu mengumbar tatapan dingin yang tajam.
"Khawatir? Jangan konyol, Nakula," tangkis Alvaro cepat, menyembunyikan getaran di dadanya di balik nada suara yang angkuh.
"Aku tidak memindahkannya karena peduli padanya. Aku melakukan ini murni demi efisiensi dan keamanan."
"Keamanan, Pak?"
"Dia memegang rahasia besar soal status pernikahan ini," dalih Alvaro dengan alasan yang dirancangnya seketika.
"Kalau dia dibiarkan berkeliaran di lantai bawah, berinteraksi dengan puluhan staf yang suka bergosip, bisa saja dia ketahuan atau tidak sengaja melepaskan informasi itu. Di lantai ini, di bawah pengawasanku, Nakula, dan Bella, risiko kebocoran informasi itu nol. Aku hanya memastikan reputasi dan privasiku tetap terjaga. Bukan karena aku peduli padanya."
Nakula tidak membantah. Asisten bertangan dingin itu cukup cerdas untuk tahu kapan bosnya sedang berbohong pada diri sendiri.
"Dimengerti, Pak. Saya akan menghubungi Mbak Bella untuk mengkondisikan Nyonya Hana begitu beliau tiba di lantai ini," sahut Nakula sopan, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan.
Alvaro menyandarkan tubuhnya kembali, menghembuskan napas panjang. Ia menatap ke arah pintu ruang kerjanya dengan sudut bibir yang sedikit mengetat.
"Aku cuma mengamankan keadaan," bisiknya pada ruangan yang hampa, mencoba meyakinkan hatinya sendiri.
.
.
Cerita Belum Selesai.....