Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN DI BALIK PINTU RAPAT

Sinar matahari pagi menyelinap perlahan melalui celah-celah gorden apartemen Ziva yang tertutup rapat, menyinari sisa-sisa kekacauan emosional yang masih pekat mengepung ruangan itu sejak malam tadi.

Gibran terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak dengan kepala yang terasa amat berat dan berdenyut nyeri.

Namun, begitu indra penciumannya menangkap aroma khas vanila dan bunga lili yang menyeruak di sekitarnya, kesadarannya langsung tertarik kembali ke kenyataan.

Ia sadar betul, ia tidak sedang berada di rumah besarnya yang dingin dan hampa di Menteng.

Ia kini berada di wilayah paling terlarang apartemen Ziva.

Ziva berdiri tegak di dekat jendela kaca besar, membelakangi posisinya.

Garis bahunya tampak kaku, menunjukkan betapa tegangnya ia saat ini.

"Om sudah bangun," ucap Ziva dengan nada suara yang terdengar datar, namun ada getaran halus yang tak mampu ia sembunyikan dari balik kalimatnya.

"Di atas meja ada obat sakit kepala dan segelas air putih.

Minum itu, lalu setelahnya... Om harus segera pergi dari sini."

Tanpa membuang waktu, Gibran bangkit dari sofa.

Pria itu tidak menuruti perintah Ziva untuk menjauh, melainkan melangkah mendekati gadis itu dengan langkah pelan namun pasti.

"Ziva, apa yang saya katakan semalam saat saya mabuk... itu sama sekali bukan sekadar racauan kosong.

Saya mengatakannya dengan kesadaran penuh.

Saya sungguh-sungguh," suara Gibran terdengar parau namun tegas.

Ziva spontan berbalik menghadapnya.

Manik mata cantiknya terlihat sembap dan memerah.

"Om sadar nggak sih sama apa yang Om lakuin dan omongin?!

Om itu adalah pamannya Aris!

Orang yang selama dua tahun belakangan ini mati-matian jagain aku di London saat aku hampir gila dan hancur karena ulah Om sendiri!

Tolong... jangan bikin semuanya jadi makin rumit dan menghancurkan banyak orang!"

Gibran seakan menutup telinga rapat-rapat.

Pria itu terus melangkah maju tanpa ragu, hingga akhirnya ia berhasil memerangkap tubuh Ziva di antara kedua lengannya, menempatkan gadis itu di antara tubuh tegapnya dan bingkai jendela kaca apartemen.

Aroma maskulin tubuh Gibran yang bercampur sisa alkohol malam tadi kini menyerbu indra penciuman Ziva, begitu mengintimidasi sekaligus meremukkan pertahanan batinnya.

"Tiga tahun lamanya saya mencoba menjadi pria yang benar menurut aturan kaku ayahmu dan ibuku, Ziva," bisik Gibran rendah tepat di dekat telinga gadis itu, napas hangatnya menerpa kulit leher Ziva.

"Dan apa hasil akhirnya?

Saya hancur lebur.

Pernikahan saya hancur berkeping-keping.

Sekarang... saya sudah tidak peduli lagi pada aturan apa pun di dunia ini."

Gibran menundukkan kepalanya perlahan, memberikan ciuman lembut namun sarat akan keposesan di leher jenjang Ziva.

Sentuhan itu bagaikan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi yang seketika meruntuhkan seluruh benteng pertahanan terakhir Ziva.

Sebuah desahan pasrah yang sarat akan kerinduan lolos dari bibir Ziva, sementara jemari lentiknya secara tanpa sadar mencengkeram erat kemeja Gibran, menarik tubuh pria itu semakin rapat ke dalam dekapannya.

Di tengah badai rasa bersalah yang menghimpit dada mereka hingga sesak, api cinta yang selama tiga tahun ini dipaksa padam dengan kejam kini justru kembali berkobar dengan dahsyat di pagi yang sunyi itu.

Namun, tepat ketika atmosfer di antara mereka mulai memanas dan hanyut dalam gairah yang tak terbendung, suara dering bel pintu apartemen berbunyi nyaring memecah kesunyian pagi.

Ding-dong!

Ding-dong!

Ziva tersentak kaget bukan kepalang.

Bola matanya membelalak lebar, dan dengan sisa tenaganya, ia mendorong kuat dada Gibran menjauh dengan wajah yang mendadak berubah pucat pasi bagai mayat hidup.

"Aris...!" bisik Ziva tertahan, napasnya tercekat ketakutan luar biasa.

"Itu pasti Aris..."

"Ziva?

Sayang, kamu di dalam, kan?

Aku bawain sarapan bubur ayam kesukaan kamu nih!" suara ceria Aris terdengar begitu jelas dari balik pintu luar apartemen.

Jantung Ziva seolah merosot jatuh ke lantai.

Ia menatap Gibran dengan horor; pria itu juga tampak menegang seketika, rahangnya mengeras.

Jika sampai Aris keponakan kandungnya sendiri melihat seorang Letnan Jenderal komando berdiri di dalam apartemen kekasihnya pagi-pagi buta dengan pakaian kusut masai akibat malam sebelumnya, maka segalanya benar-benar akan hancur seketika dalam skala bencana nasional.

"Om!

Masuk ke dalam kamar sekarang juga!

Cepat!" bisik Ziva panik sambil mendorong tubuh Gibran secara brutal ke arah koridor kamar tidur.

"Ziva, ini tindakan yang konyol—" protes Gibran dengan suara tertahan.

"CEPAT MASUK, OM!" teriak Ziva tertahan seraya mendorong Gibran masuk ke dalam kamar tidurnya.

Dengan gerakan kilat, Ziva menyambar baret hijau dan sepasang sepatu dinas Gibran yang tergeletak di lantai ruang tamu, melemparkan benda-benda itu ke dalam kamar, lalu membanting daun pintu kamar tidur tersebut rapat-rapat.

Ziva berdiri di tengah ruangan, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya yang nyaris copot.

Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan menarik kerah bajunya, sebelum akhirnya melangkah pelan menuju pintu depan dengan senyuman yang terpaksa ia simpulkan selebar mungkin.

Begitu pintu dibuka, sosok Aris berdiri dengan senyum cerah di sana.

"Hai, sayang...

Kok lama banget bukain pintu?

Tadi sempat mikir kamu masih tidur."

"Ah... hai, Aris...

Iya, aku tadi baru selesai cuci muka," jawab Ziva berusaha mengatur suaranya agar terdengar senormal mungkin, meski keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.

"Surprise!

Aku tahu kamu pasti belum sempat sarapan pagi ini," kata Aris riang sambil melangkah masuk membawa kantong plastik berlogo restoran bubur terkenal.

Tanpa curiga, ia langsung mengecup lembut dahi Ziva.

"Loh, Ziv?

Kamu kok pucat banget dan keringetan gini?

AC apartemen kamu rusak?

Panas banget rasanya."

"Eh, iya... benar!

Kayaknya freon AC di ruang tamu ini habis semalam.

Gerah banget rasanya," alibi Ziva terbata-bata, sementara sudut matanya tak henti melirik cemas ke arah pintu kamar tidur yang tertutup rapat di ujung lorong.

Aris berjalan menuju meja makan kecil yang posisinya berada tepat menghadap ke arah kamar tidur Ziva.

"Tadi malam aku sempat telepon Om Gibran beberapa kali tapi sama sekali nggak diangkat.

Padahal aku mau nanya soal detail acara makan malam keluarga minggu depan.

Tadi ajudannya bilang Om Gibran bahkan nggak pulang ke rumah semalam.

Agak khawatir juga sih, apalagi beliau kan baru saja resmi bercerai dari Tante Anindita."

Ziva menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering.

Tangannya gemetar hebat saat ia menuangkan segelas air putih untuk Aris ke atas meja.

"Mungkin... mungkin beliau lagi sibuk banget mengurus tugas-tugas penting di markas besar, Ris."

Sementara itu, di balik pintu kamar tidur yang tertutup rapat, Gibran berdiri terpaku tepat di baliknya.

Pria itu dapat mendengar dengan sangat jelas setiap patah kata yang diucapkan oleh keponakannya sendiri dari luar sana.

Matanya menyapu sekeliling kamar tidur Ziva sebuah ruangan pribadi yang selama tiga tahun ini hanya bisa ia bayangkan dalam igauan rindunya.

Pandangan Gibran mendadak menajam saat melihat sebuah bingkai foto ukuran sedang di atas meja nakas; foto Ziva dan Aris yang sedang tersenyum mesra berlibur bersama di luar negeri.

Rahang Gibran serta-merta mengeras kuat, urat-urat di lehernya menonjol.

Di dalam hatinya yang panas, ia merasa dirinya tidak lebih dari seorang pencuri hina yang menyelinap di wilayah miliknya sendiri.

Di luar kamar, pembicaraan masih berlanjut.

Tiba-tiba, Aris beranjak dari tempat duduknya.

"Eh, tangan aku agak lengket kena bumbu bubur.

Aku mau numpang cuci tangan dulu ya ke kamar mandi dalam kamar kamu, Ziv," ujar Aris santai sambil melangkah menuju pintu kamar tidur.

Ziva hampir saja menjerit keras.

"JANGAN, ARIS!" teriaknya spontan dengan nada panik yang melengking.

"Maksud aku... eh... kamar mandi di dalam kamarku lagi mampet total, Ris!

Salurannya rusak!

Pakai saja kamar mandi yang di luar, jauh lebih bersih dan lancar!"

Aris menghentikan langkahnya, mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil menatap Ziva dengan sorot mata curiga.

"Mampet?

Tumben banget saluran air apartemenmu bisa rusak begini.

Ya sudah deh, kalau gitu aku pakai kamar mandi yang di luar saja."

Ziva menghembuskan napas lega yang amat panjang, dadanya naik-turun menahan sisa ketakutan.

Namun, ketegangan itu belum sepenuhnya berakhir.

Aris kembali duduk di kursi meja makan dan mulai merobek pembungkus mangkuk buburnya.

"Oh iya, Ziv...

Nanti selesai makan ini, sepertinya aku mau numpang tidur sebentar ya di kamar kamu?

Semalam aku kurang tidur banget gara-gara harus lembur dan mikirin persiapan rencana pertunangan kita bulan depan."

Ziva mendadak mematung.

Darahnya terasa berhenti mengalir.

Jika Aris sampai memaksa masuk ke dalam kamar tidur itu, maka ledakan skandal besar yang menghancurkan segalanya tidak akan bisa dihindarkan lagi.

Dan di balik pintu kayu yang tipis itu, Gibran telah mengepalkan kedua tangan besarnya dengan buku-buku jari yang memutih, menyatakan kesiapannya untuk menghadapi kenyataan paling pahit jika pintu kamar tersebut pada akhirnya benar-benar terbuka lebar di hadapan keponakannya sendiri.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!