Indonesia
NovelToon NovelToon
Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Dari Skripsi Jadi Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Dosen
Popularitas:812.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: dtyas

Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.

Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.

Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.

"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”

Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"

“Mas, panggil saya mas Bara.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruby Vs Nilam

Bab 18

 

Meldy tertawa karena Ruby mengoceh kesal. Tidak dibangunkan meski belum terlambat juga.

“Rese lo!” ujar Ruby keluar dari lift.

“Gue penasaran, lo bisa ngurus bocah. Lo sendiri sering gue urusin.” Meldy masih berjalan di samping Ruby menuju parkiran.

“Masalah kerjaan doang lo urusin, hidup mah gue biasa mandiri.”

“Gue ikut lo ya, pengen lihat hubungan ibu sambung sama anak-anak instant.”

“Gak, gak ada. Kayak kurang kerjaan aja, sana cari peluang. Kalau nggak buat gue ya buat elo. Iya kali mau jadi manager terus, jadi artisnya dong.” Ruby menekan sensor di kunci dan membuka pintu mobil.

“Dasar pe4 pengen gue jambak aja rambut lo. Mending cepet lo service suami dosen lo itu, takutnya dia melirik cewek lain. Pelak0r,” cetus Meldy. “Nanti gue main ke rumah lo, share loc ya.”

“Bodo amat,” sahut Ruby dari dalam mobil

Tujuan pertama ke sekolah Adly. Tidak mau menunggu di dalam mobil, Ruby berdiri bersandar pada pintu mobil sambil bersedekap. Kacamata hitam membingkai wajahnya. Sudah mulai ramai siswa keluar dari sekolah. Wajar Adly lama, langkahnya kan tertatih, pikir Ruby. Alasan Adly duluan yang dijemput, tidak ingin membuat bocah itu menunggu dan menjadi perhatian karena kekurangannya.

Akhirnya bocah itu terlihat. Ruby tersenyum, kalau dilihat wajah Adly begitu mirip dengan Bara.

“Duplikat banget, udah besar plek ketiplek sama mas Bara. Moga aja gak turun nyebelinnya.”

Ruby melambaikan tangan. “Abang Adly!” tidak sabar menunggu ia menghampiri bocah itu lalu menaikan kaca mata ke atas kepala. “Cewek di arah jam 1, suka sama kamu ya. kok tadi kayak caper gitu?”

Adly mengedikan bahu.

“Jangan mau dia tipe cewek pick me.”

“Apa sih, bun.”

“Yang lagi ketawa-ketawa sambil melirik ke sini juga kamu jangan mau ya, feeling bunda dia nggak setia.”

“Bun, aku masih SMP. Nggak ngerti yang dibilang bunda.”

“Ck, ini ilmu. Kamu harus terbiasa dikagumi cewek-cewek. Apalagi nanti pas SMA atau kuliah. Percaya deh.”

Adly menggeleng lalu membuka pintu di samping kemudi. “Ayo, Jelita pasti udah nunggu.”

“Gak mau kasih tahu bunda, mana cewek yang menarik perhatian kamu.”

“Bunda….”

“Iya, iya.” Ruby memutar dan membuka pintu mobil.

Tidak lama akhirnya sampai di sekolah Jelita. “Jelita biasa tunggu di mana?” tanya Ruby fokus menepi.

“Di sebelah sana!” tunjuk Adly.

“Ah, iya, itu dia!” Ruby melepas seatbelt dan siap turun.

“Tante Nilam,” ucap Adly.

“Apa kue talam. Kamu mau kue talam? Beli di mana?”

Adly menghela nafas lalu ikut keluar dari mobil bersama Ruby. Sama halnya saat di sekolah Ruby, gadis itu melambaikan tangan dan berteriak heboh. Jelita bingung, Nilam ada di hadapannya dan Ruby juga baru tiba.

“Udah lama ya. Gimana hari ini, seru apa flat aja?”

Wajah Jelita tampak seperti sedang dilema, ada wanita disampingnya melangkah seolah menghalangi Ruby sambil bersedekap dan sinis.

“Jadi, kamu istrinya Mas Bara?”

“Iya, kamu siapa?”

Nilam tersenyum sinis. “Akting kamu kelihatan banget cari perhatian sama anak-anak. Mereka sudah dekat denganku.”

“gak ada yang akting di sini. Gue model bukan aktor. Jelita, sayang, pulang yuk!”

“Aku … pulang dengan tante Nilam.”

“Dia!” tunjuk Ruby dan Jelita mengangguk. “Dia siapa?”

“Tante Nilam, adiknya mamih.”

Ruby langsung beroh ria. “Bilang dong kalau kamu kerabat mereka. Adik ipar Mas Bara. Ya ampun, hampir aja aku semprot pake blambir. Kirain mau nyulik anak-anak.” Ruby terkekeh sedangkan Nilam malah emosi. “Adik ipar toh, kamu nggak kayak di film itu ‘kan? Adik ipar sungguh maut,” tutur Ruby lirih.

“Kamu!”

“Jadi gimana, anak-anak pulang sama Bunda atau ipar maut, eh, tante Nilam.”

“Jelas sama aku. Kamu siapanya mereka?” Nada suara Nilam mulai tinggi menjadikan mereka perhatian.

“Ya ampun Nila, bukannya tadi udah tau aku istrinya mas Bara. Bundanya anak-anak, kok mendadak amnesia.”

“Aku pulang dengan Bunda. Jelita, ayo,” panggil Adly.

“A-ku pulang sama tante Nilam.” Jelita bicara lirih sambil menatap Ruby dan Nilam bergantian.

“Ya gak pa-pa. Ayo, pulang. Lama-lama kering di sini. BUnda ikuti dari belakang ya,” ujar Ruby. Ia masih berdiri memastikan Jelita masuk ke mobil ipar Bara.

Tidak ada banyak percakapan di dalam mobil, meski Ruby ingin sekali mengumpat dan memaki Nilam. Sampai di rumah, ternyata ada mobil Bara terparkir di sana. Bahkan orangnya sudah berdiri di beranda, sepertinya menunggu kedatangan mereka pulang.

Nilam menggandeng Jelita menghampiri Bara, karena mobilnya tiba lebih dulu.  

“Kayak mau nyebrang aja pake digandeng, emangnya bawa balita,” gumam Ruby lalu membuka pintu mobil. “Adly, mau bunda gendong gak? Biar lebih menjiwai kayak itu.”

Adly berdecak dan menggeleng. Bibirnya tersenyum tipis menghadapi sikap ibu sambungnya yang absurd. 

Entah apa yang dibicarakan, Nilam mengusap kepala Jelita yang bermanja pada Bara.

“Siang mas suami, kok tumben udah pulang,” sama Ruby membuat senyum di wajah Nilam surut. “Pasti kangen aku, padahal masih siang tau.” Ruby terkekeh lalu mencolek dagu Bara.

Adly ikut tersenyum mendapati Bara menarik nafas. Nilam, dia terkejut karena ulah Ruby.

“Kalian masuk gih, ganti baju terus istirahat. Bunda juga mau ngadem di kamar, suasana panas sepanas anak krakatau. Mas, mau ikut nggak!”

Astaga, batin Bara.

 

 

1
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
bundaaaa.... adly mulai mecuuuum iiih🤣🤣🤣🤣
Ibrahim Ibrahim
aaaah jadi pengen muda lg🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Hey, hey, lha... mulai nakal ya Adly 😁😁😁
Novita Sari
lanjut thor..
Nani Rahayu
eh Adly..no..no ya
Nur Wakidah
tolong iyha jangan ngikutin jejak om Rama Sya , , , nikah gara2 digrebek 🤣🤣🤣
Herlambang Lutvi
ga sabar mau liat inces Aldy labrak si sari, pasti seru 🤭
mmh nengmuti
om bara anak nya udah mulai nakal nih🤣🤣
budak jambi
masuk kan aja tu sari ke penjara.ngp pula harus pake sangsi peraturan sekolah paling jg di skors apo kluar dr sekolh gak bakal Kapong tu.anjing sari berhati iblis
Shee_👚
papih ini anaknya nakal😂😂
Les Tary
ed dah Aldy lagi sakit juga ngegombal🤣🤣😍😍😍
Shee_👚
azzam ganggu aja orang lagi tersipu🤣
mery harwati
Meisya, aq kasih vote bwt kamu ya, agar kau tunjukkan taring keluarga Bimantara pada Sari setelah Adly pulang kembali ke Jakarta 💪
Shee_👚
tadi mie yang papasan di jalan, kamu gak liat ya jin dasim lewat😂
mery harwati
Waaahh Adly ternyata pengikut Rama 😜
Shee_👚
aduh abang adly dah pinter ngegombal kaya papih bara🤭
Sastri Dalila
🤭🤭🤭udh berani
Felycia Fernandez
suka bangeeeeet 👍👍👍👍
Ayusha
Bapak mu kan sukanya jalur express, Ampe bonyok sama om Mada 😆
Ayusha
bener² titisan Rama ini bocah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!