Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Cerai Di Malam Pertama

Janji Cerai Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Perpisahan

Kata-kata itu menghantam dada Adam bagaikan bogem mentah. Pria itu menatap Fitri tak percaya. Bukankah wanita mana pun akan histeris atau menuntut pertanggungjawaban jika diperlakukan demikian? Namun Fitri justru menyapu bersih kejadian itu, seolah keberadaan Adam dan sentuhannya semalam sama sekali tak berharga untuk diingat.

"Kamu... betul-betul tidak membenciku?" gumam Adam patah-patah.

Fitri menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Membenci butuh energi, Mas. Dan aku sudah tidak punya energi lagi untuk urusan kita. Aku cuma mau semuanya selesai sesuai kesepakatan awal."

Ponsel Fitri di atas meja berdering pendek, menampilkan notifikasi taksi online yang sudah menunggunya di depan pagar. Fitri meraih tas ranselnya, menyampingkannya di bahu dengan anggun.

"Aku berangkat dulu, Mas. Jaga kesehatanmu," pamit Fitri tenang.

Fitri melangkah pergi tanpa berpaling sedikit pun. Saat ia melintasi ambang pintu, jemarinya secara refleks mengelus lembut perut ratanya yang masih pipih. Ada desir aneh yang tak terelakkan di dalam dadanya, sebuah firasat halus yang belum mampu ia artikan. Sementara di balik pintu yang terbuka, Adam hanya bisa berdiri terpaku, dihantam kehampaan luar biasa saat menyadari bahwa hati wanita yang dulu begitu mencintainya kini telah benar-benar mati.

****

Tiga hari menuju genapnya satu tahun pernikahan, suasana rumah bergaya minimalis itu terasa semakin menggigit dingin. Tidak ada riuh pertengkaran, tak ada pula sapaan hangat. Setiap sudut ruangan hanya diisi oleh keheningan yang menyesakkan dada.

Di dalam kamar tamu, Fitri berlutut di samping koper hitam besar yang terbuka lebar. Dengan gerakan tenang dan teratur, ia melipat pakaian-pakaian sederhananya satu per satu. Tak banyak barang yang ia miliki. Hanya beberapa stel baju kurung, jilbab, buku-buku kuliah kedokteran, dan foto kenangan bersama almarhumah Bu Rahma. Segala barang mewah atau pemberian berharga dari Adam tak satu pun yang masuk ke dalam koper itu.

Adam berdiri terpaku di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit. Matanya menatap punggung Fitri yang tampak ringkih namun kokoh. Dilihatnya lemari pakaian yang kini perlahan kosong, menyisakan ruang hampa yang seolah menggambarkan isi dadanya sendiri.

"Kamu... betul-betul sudah siap meninggalkan rumah ini?" suara Adam memecah hening, terdengar serak dan ragu.

Fitri tidak terkejut. Tanpa menghentikan tangannya yang sedang merapikan jilbab, ia menjawab pelan, "Semua persiapan sudah selesai, Mas. Hari ini aku cuma merapikan sisa barang-barang kecilku."

Adam melangkah masuk, menyandarkan tubuhnya di tepi meja belajar. "Berkas sidang perceraian... sudah kamu cek lagi?"

"Sudah. Pengacara yang ku bantu mengurus kemarin bilang berkasnya sudah lengkap," tutur Fitri santai. Ia lalu mendongak, menatap Adam jernih. "Kamu tidak perlu khawatir, Mas. Gugatan dibuat atas kesepakatan bersama. Prosesnya akan cepat dan tidak akan mengganggu pekerjaanmu atau nama baik keluargamu."

***

Adam mengepalkan jemarinya di samping paha. Harusnya ia merasa lega. Bukankah ini tujuan utamanya sejak malam pertama? Bebas dari ikatan pernikahan formalitas ini dan bisa menikahi Rosa secara sah di mata hukum dan publik. Namun, kenapa dadanya justru terasa sesak luar biasa? Kenapa ada bagian dari dirinya yang menjerit, menolak kenyataan bahwa Fitri akan benar-benar pergi dari hidupnya?

"Fitri... soal uang ganti rugi atau rumah ini"

"Aku tidak butuh, Mas," pangkas Fitri cepat namun tetap sopan. "Sejak awal aku menikah denganmu bukan karena harta. Aku cuma mau menuntaskan baktiku pada almarhumah Ibu dan menjaga martabat keluargaku. Sekarang tugas itu sudah selesai."

Sikap Fitri yang sama sekali tak tergiur oleh harta membuat Adam merasa semakin kerdil. Di kepalanya, terngiang seketika bayangan Rosa yang kemarin lusa sibuk menuntut tas mewah dan merencanakan renovasi rumah. Perbedaan tajam antara kedua wanita itu menghantam kesadaran Adam dengan telak.

Ponsel Adam mendadak bergetar di dalam saku celananya. Nama 'Rosa' menyala terang di layar, disertai pesan singkat berisi daftar gaun pengantin yang ingin dibeli wanita itu untuk pernikahan mereka bulan depan. Adam mengabaikan panggilan itu begitu saja, mematikannya lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku.

Fitri menutup retsleting kopernya dengan ketukan keras yang mengakhiri percakapan. Ia berdiri, mengibaskan debu tipis di roknya, lalu menatap Adam penuh kedewasaan.

"Tinggal tiga hari lagi, Mas. Mari kita selesaikan ini dengan baik-baik, tanpa ada dendam," ucap Fitri lembut.

Adam menatap koper hitam di samping Fitri, lalu mengalihkan pandangan ke mata istrinya yang begitu tenang. Untuk pertama kalinya, Adam merasa ketakutan yang teramat sangat ketakutan akan sebuah kehilangan yang tak akan pernah bisa ia pulihkan kembali.

***

Gedung Pengadilan Agama pagi itu diselimuti kabut tipis dan udara dingin yang menusuk tulang. Di koridor luar ruang sidang, lalu lalang orang dengan wajah tegang dan sembap menjadi pemandangan biasa. Namun, di salah satu sudut bangku kayu, Fitri duduk begitu tenang sembari memangku map batik berisi berkas perceraiannya.

Fitri mengenakan gamis bersahaja berwarna abu-abu dengan pashmina senada. Wajahnya polos tanpa polesan makeup berlebih, tetapi ada keteguhan luar biasa yang memancar dari matanya. Di sampingnya, Adam duduk membisu. Pria itu mengenakan kemeja putih yang agak kusut di bagian lengan, menatap lantai marmer dengan pandangan kosong.

"Para pihak atas nama Adam dan Fitri, dipersilakan masuk ke Ruang Sidang Utama," panggil seorang petugas pengadilan dengan suara lantang.

Fitri langsung berdiri tanpa ragu, merapikan letak pakaiannya, lalu melangkah lebih dulu. Adam menyusul di belakangnya dengan langkah berat, seolah setiap pijakannya tertahan oleh ribuan ton beban yang mengimpit dadanya.

Di dalam ruangan berpendingin udara itu, Majelis Hakim menjalankan prosedur akhir. Pertanyaan demi pertanyaan formal diajukan mengenai kesepakatan kedua belah pihak. Tidak ada perdebatan, tidak ada perebutan harta gono-gini, dan tidak ada tuntutan apa pun yang diajukan oleh Fitri. Segalanya berjalan begitu mulus, seolah perceraian ini memang sudah dirancang dengan amat sempurna sejak hari pertama mereka mengucap akad.

"Karena kedua belah pihak telah sepakat dan tidak ada hal yang disengketakan, maka Majelis Hakim memutuskan untuk mengabulkan permohonan cerai ini," ucap Hakim Ketua dengan tegas, disusul oleh tiga kali ketukan palu yang bergema nyaring di seluruh ruangan.

Tok! Tok! Tok!

~Bersambung~

1
sunaryati jarum
Rasain Adam,kau kan sudah diberi kenikmatan selangkah Rosa jadi nikmati 😂😂
sunaryati jarum
Makin tidak tahu malu, Adam.Lihat dulu kelakuan kamu gimana pada Fitri, Adam,? Sekarang kau mengemis padanya.Segera resmikan kalian dr Danu dan dr Fitri agar dr Danu punya hak dan kewajiban melindungi kamu dan Aiden dengan penuh.Sepertinya Adam mulai tidak waras, kalian harus waspada, jangan sampai Adam berbuat nekat.
sunaryati jarum
Tidak sadar diri Adam,itu hanya akan menggali kuburan kamu sendiri.Kamu lihat dari jauh saja.Apa yang kau rasakan itu dulu juga dirasakan oleh Fitri.Ingat saat kamu selalu memberikan perhatian pada Rosa.Bagaimana kabar Rosa,ya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
sunaryati jarum
Tidak akan menang, sampai uangmu habis Adam.Selembar tes DNA yang kau gunakan sebagai senjata tidak akan mempan.Anak di bawah umur akan ada di bawah hak asuhnya apalagi riwayat Aiden dari kandungan sampai dua tahun ini tidak ada andil dari kamu, apalagi pekerjaan kami yang tidak akan mungkin bisa merawat Aiden.Sadar diri Adam!!
sunaryati jarum
Silahkan tes DNA toh tidak merubah apapun, seharusnya kamu terima kenyataan itu akibat kesombongan dan pengabaian,serta pengkhianatan kamu pada Fitri dan mendiang ibumu
sunaryati jarum
Adam tingkahmu menunjukkan rasa tidak bersalah, malah merasa jadi korban,lebih dewasa' dari dr Fitri tapi malah labil dan plin-plan
sunaryati jarum
Sekali , Fitri kamu jangan mau diajak balikan / rujuk sama Adam.Dia ingat kamu karena ekspektasinya pada Roda tidak sesuai harapan.Jika dia bahagia sama tidak akan ingat kamu.Kamu wanita berharga bukan barang,jika mau dipakai dicari sudah tidak dipakai dibuang.Emak suka cerita ini,tapi jika kamu rujuk sama Adam,emak berhenti mengikuti kisahmu
sunaryati jarum
Jangan sampai balikan ke Adam, berikan jodoh lain, jika Adam tahu ada anaknya jangan sampai ada perebutan hak asuh anak yang dimenangkan Adam
sunaryati jarum
Makan tuh Penyedalan, itulah jika mengabaikan amanah ALMH ibumu
sunaryati jarum
Ternyata banyak yang melindunginya ,Adam
sunaryati jarum
syukurin tuh makan sampah
sunaryati jarum
Baru mampir
Lee Mba Young
aku suka Fitri teges banget. 👍. keren
Lee Mba Young
bagus Fitri. jng smp kalah.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.
aku
aq salah baca ato apa. ahr bab sbelumnya bukane udh diusir, rosa bw koper gt ya 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!