Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Terbuka Sendiri
Bunyi pintu yang tertutup keras itu masih bergema di udara, membuat seluruh ruangan di rumah Bu Wiyati seketika hening. Lampu-lampu pencahayaan syuting yang temaram memantulkan bayangan wajah-wajah yang tiba-tiba menjadi pucat. Tidak ada satu pun orang yang bergerak. Semua mata tertuju pada pintu kayu di sudut ruangan itu
pintu yang sejak tadi sore sudah tertutup rapat, dan tidak ada satu pun orang yang mendekatinya. Angin malam memang bertiup kencang di luar, namun pintu itu tertutup rapat, tidak ada celah yang membiarkan angin masuk. Dan bunyi itu bukan bunyi pintu yang tertutup karena ditiup angin. Itu bunyi pintu yang didorong dari dalam, dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya berbunyi keras seperti itu.
"Siapa yang tadi ke sana?" tanya Raka, suaranya rendah namun tegas. Ia berjalan perlahan mendekati pintu itu, matanya meneliti setiap sudut ruangan, mencari siapa yang mungkin bersembunyi di sana atau sekadar bercanda di saat yang tidak tepat. Namun tidak ada yang menjawab. Tidak ada satu pun orang yang mengangkat tangan, tidak ada yang berani mengaku. Semua orang yang ada di ruangan itu saling bertatapan, dan dari tatapan mereka, Raka tahu tidak ada yang melakukannya. Semua orang ada di sini, di dalam lingkaran cahaya lampu, tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk.
Dimas berjalan mendekati pintu itu, tangannya perlahan menyentuh permukaan kayu yang kasar dan dingin. Ia merasakannya hawa dingin yang merambat dari pintu itu ke telapak tangannya, bukan hawa dingin dari angin luar, melainkan sesuatu yang berasal dari balik pintu itu sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan membukanya lebar-lebar. Di luar sana hanya ada kegelapan, dihiasi oleh cahaya remang bulan yang mulai naik perlahan di langit. Angin malam berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di halaman rumah itu, namun tidak ada siapa-siapa. Tidak ada jejak langkah, tidak ada suara, tidak ada tanda bahwa seseorang baru saja berdiri di sana.
"Kita lanjutkan," kata Raka akhirnya, meskipun hatinya tidak tenang. "Itu hanya... angin. Atau mungkin kayu yang mengembang karena kelembapan malam. Kita tidak boleh takut pada bayangan sendiri."
Namun kata-katanya itu terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri. Semua orang tahu itu bukan sekadar angin. Semua orang tahu ada sesuatu yang tidak beres sejak mereka menginjakkan kaki di kampung ini. Namun mereka tetap melanjutkan syuting karena itu pekerjaan mereka, karena mereka sudah di sini, dan karena tidak ada satu pun yang berani mengatakan bahwa mereka sebenarnya sedang diawasi.
Satu jam berlalu. Adegan demi adegan berhasil diambil, meskipun ketegangan terus menggantung di udara. Setiap kali ada bayangan bergerak di dinding, setiap kali ada suara halus dari luar, semua orang akan berhenti sejenak, menatap ke arah sumber suara, sebelum kembali melanjutkan pekerjaan dengan hati yang semakin berat. Laras yang sejak tadi diam di sudut ruangan, tiba-tiba berdiri dan berjalan mendekati Raka. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya, dan matanya menatap tajam ke arah pintu yang tadi tertutup itu.
"Raka," bisiknya pelan, hanya terdengar oleh mereka berdua. "Seseorang... atau sesuatu, baru saja naik ke atas sana. Aku merasakannya. Sejak pintu itu tertutup sendiri, ada satu kehadiran yang hilang dari ruangan ini. Bukan tubuhnya yang pergi, tapi... sesuatu yang lain. Dan sekarang, di atas sana... di rumah kedelapan itu... pintu utamanya baru saja terbuka. Aku mendengarnya. Sejelas aku mendengar suaramu sekarang."
Raka menatapnya tak percaya. "Tidak mungkin. Semua orang ada di sini. Kita hitung." Ia segera menghitung jumlah orang di ruangan itu satu per satu. Sutradara, penata kamera, penata cahaya, penata busana, asistennya, dua orang pemeran pendukung, Dimas, Laras, dan dirinya sendiri. Semuanya ada. Tidak ada yang hilang. Tidak ada yang pergi.
"Semua ada di sini, Laras," kata Raka, namun keraguannya mulai muncul kembali. "Kau pasti salah."
"Aku tidak salah," jawab Laras tegas. "Perasaan ini tidak pernah salah. Di atas sana, pintu itu terbuka. Dan sesuatu sedang menunggu di sana."
Raka terdiam. Ia tidak bisa menyangkal perasaan itu, karena ia sendiri mulai merasakannya ada sesuatu yang berubah di udara, sesuatu yang membuat napas terasa lebih berat, lebih sulit dihirup. "Kita berhenti dulu," katanya kepada seluruh kru. "Istirahat lima belas menit. Jangan ada yang keluar dari halaman rumah ini. Tetaplah bersama teman-teman lain."
Saat orang-orang mulai beristirahat, berbicara pelan di antara mereka sendiri, Raka berjalan mendekati Dimas dan menceritakan apa yang dikatakan Laras. Wajah Dimas seketika berubah pucat. Ia menatap ke arah jendela yang menghadap ke atas bukit, ke arah tempat rumah kedelapan itu berdiri dalam kegelapan malam.
"Kalau pintu itu benar-benar terbuka..." gumam Dimas, suaranya bergetar. "...berarti ada yang masuk. Atau ada yang keluar. Dan yang lebih menakutkan kalau pintu itu terbuka dari dalam, berarti di dalam rumah itu ada sesuatu yang sudah lama menunggu untuk keluar."
Mereka bertiga berdiri dalam keheningan yang panjang, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di tempat mereka, di rumah Bu Wiyati, kru masih beristirahat, belum menyadari sepenuhnya betapa dekatnya bahaya itu. Di atas mereka, di rumah kedelapan yang gelap itu, pintu utama yang sejak lama tertutup rapat kini terbuka lebar, menampakkan kegelapan pekat di dalamnya seakan mulut raksasa yang terbuka siap menyambut siapa saja yang berani mendekat.
Dan tiba-tiba, dari arah atas sana, terdengar suara pelan namun jelas, terdengar sampai ke bawah, menembus dinding rumah Bu Wiyati dan sampai ke telinga setiap orang yang ada di sana. Itu bukan suara angin, bukan suara hewan, bukan suara benda yang jatuh. Itu suara seseorang perempuan yang memanggil satu nama, diucapkan dengan lembut namun penuh kesedihan yang mendalam, seakan memanggil seseorang yang sudah lama hilang.
Suasana ruangan seketika membeku. Semua orang mendengarnya. Dan di sudut ruangan, Budi asisten penata cahaya yang sejak tadi tampak gelisah tiba-tiba berlutut di lantai, wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak penuh ketakutan.
"Itu..." suaranya bergetar hebat, tangannya menunjuk ke arah jendela. "Sebelum aku berangkat ke sini... aku penasaran. Aku mencari di internet tentang rumah itu. Aku membaca berita, melihat foto-foto keluarga Candra Wijaya yang sempat dipublikasikan. Ibu dari keluarga itu... Bu Isma... di foto itu ia tersenyum lembut, matanya teduh. Dan suara yang tadi kudengar... nada bicaranya, lembutnya... persis seperti yang aku bayangkan dari wajahnya. Seakan ia sedang memanggil anak perempuannya, Ardita."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara. Bukan karena Budi kenal mereka — tapi karena ia sudah melihat wajah mereka, sudah membaca kisah mereka, dan sekarang suara itu cocok dengan gambaran yang sudah terbentuk di pikirannya. Itu bukan kebetulan. Dan itu bukan imajinasi semata.
Dan di kejauhan, di atas bukit itu, suara itu terdengar lagi kali ini lebih jelas, lebih dekat, seakan pemilik suara itu sudah berjalan turun, mendekati rumah Bu Wiyati.