Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25 : ular yang terjepit dan rencana darurat
Suasana di halaman Paviliun Teratai Biru mendadak mencekam setelah barang bukti boneka santet itu dibongkar. Selir Agung Li merangkak di lantai marmer, tangannya mencoba menggapai ujung jubah hitam Kaisar Yan sambil meraung-raung histeris.
"Kaisar! Demi Dewa Langit, ini bukan milik hamba! Hamba difitnah! Ini pasti jebakan dari Permaisuri!" teriak Selir Agung Li dengan air mata yang membuat bedak tebal di wajahnya luntur berantakan. Komuknya yang biasa sok suci kini benar-benar hancur.
Kaisar Yan menarik jubahnya dengan kasar, menatap dingin ke arah wanita yang sempat menjadi selir kesayangannya itu. Tatapannya penuh kejijikan. "Barang bukti ditemukan di dalam lemarimu sendiri, Li-er. Masih berani kau mengelak di depanku?"
"Kaisar...."
"Cukup!" potong Kaisar Yan dingin. Suaranya yang berat menggelegar penuh otoritas mutlak. "Kurung Selir Li di Paviliun Dingin. Cabut seluruh gelar kebangbangsawanan nya dan sita semua asetnya. Sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut mengenai keterlibatan keluarganya, jangan biarkan ada seorang pun yang menjenguknya!"
Dua pengawal kekaisaran langsung menyeret Selir Li yang terkulai lemas tanpa tenaga. Dia benar-benar kena mental dan tidak berdaya, menyadari posisinya di istana belakang telah runtuh seutuhnya.
Ara yang menyaksikan pemandangan itu hanya bersendawa kecil tanpa dosa setelah menghabiskan sisa apelnya. Dia menoleh ke arah Kaisar Yan sambil menepuk pundak sang penguasa dengan akrab. "Gokil, Mas Bro. Eksekusinya cepet juga kayak kilat. Gak pake drama bertele-tele."
Kaisar Yan hanya menaikan sebelah alisnya, membiarkan kelakuan barbar Permaisurinya yang melanggar tata krama itu. "Trik mengembalikan barang bukti darimu semalam juga tidak kalah licik, Xia Ruo." Pria itu kemudian merendahkan suaranya, matanya berkilat serius. "Namun permainan baru saja dimulai. Dengan dijebloskannya Li-er ke Paviliun Dingin, ayah dan pamannya pasti akan langsung mengambil tindakan ekstrem."
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah di luar tembok istana utama.
Brakkk!
Menteri Wang menggebrak meja gioknya hingga retak menjadi dua bagian setelah mendengar laporan dari kasim mata-matanya. Wajah tuanya yang penuh keriput memerah padam menahan amarah yang luar biasa. Di sampingnya, Pejabat Wang dari Biro Keuangan juga duduk dengan tubuh gemetaran.
"Sialan! Bagaimana bisa rencana Li-er gagal total dan justru berbalik menghancurkan dirinya sendiri?!" raung Menteri Wang, napasnya memburu tua. "Wanita jalang Xia Ruo itu... sejak kapan dia menjadi secerdik dan selicik itu?!"
"Kakak, posisi kita sudah di ujung tanduk!" Pejabat Wang menimpali dengan panik. "Kaisar pasti akan menggunakan skandal ilmu hitam ini untuk menggeledah kediaman kita dan mengaitkannya dengan insiden pembunuh bayaran di Hutan Larangan kemarin. Jika borok korupsi dan aliansi militer kita terbongkar... habislah kita!"
Menteri Wang menyipitkan matanya yang licik, aura membunuh terpancar pekat dari tubuh ringkihnya. Dia mengepalkan tangan tuanya erat-erat.
"Kaisar Yan yang memaksaku untuk bertindak lebih awal," desis Menteri Wang kejam. "Pemberontakan yang awalnya kita jadwalkan dua bulan lagi... terpaksa harus dipercepat. Hubungi Jenderal Lin di perbatasan barat sekarang juga! Suruh dia menggerakkan pasukan bayaran kita secara sembunyi-sembunyi memasuki ibu kota malam ini!"
Menteri Wang menarik napas panjang, lalu menyeringai mengerikan. "Kita akan menyerang istana saat festival bulan purnama besok malam. Aku akan memastikan kepala Kaisar Yan dan Permaisuri barbar itu menggelinding di atas lantai ruang takhta!"
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣