Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi itu sama seperti yang terjadi kepada Arkan, Sagara yang hendak berangkat bekerja lantas memilih jalan memutar demi menghindari kemacetan. Setelah perjamuan makan yang berhasil ia singkat, membuatnya mau tidak mau lantas malah terjebak dalam jam-jam rawan macet.
Sagara mendengus dengan kesal mengutuk ulah Kakeknya yang membuatnya harus datang ke kantor siang. Tapi setidaknya ia berhasil membuat Razan kesal, dimana Sagara berhasil merusak jamuan makan yang telah di rencanakan oleh Razan pagi itu.
Entah memang sebuah kebetulan atau memang sudah takdir, Sagara yang memilih jalan memutar malah menemukan pemandangan yang sama sekali tidak ingin ia lihat.
"Luna? Arkan? Apa yang keduanya lakukan di pinggir jalan begitu? Lagi pula bukanlah Luna harusnya sudah sampai rumah sedari tadi? Mengapa ia masih di sini?" ucap Sagara begitu banyak pertanyaan yang kini berputar di kepalanya.
Sagara yang melihat keduanya seperti sedang bertengkar memilih untuk melipir dan menghampiri keduanya. Entah Sagara lupa atau memang sengaja datang walau telah mencampakkan Luna sebelumnya. Tapi insting dan perasaan yang begitu kuat terhadap Luna, membuat memilih untuk menghampiri keduanya, meskipun sebenarnya harusnya setelah melakukan hal tersebut kepada Luna, yang harus Sagara lakukan adalah menjauh bukan malah sebaliknya.
"Lepaskan tangan mu!" pekik Sagara sambil menghempaskan tangan Arkan dengan keras, membuatnya sedikit terhuyung, namun berhasil menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Sagara?" ucap Luna yang terkejut akan kehadiran Sagara saat ini.
"Kau lagi kau lagi kau lagi! Berhenti ikut campur atau aku akan..." ucap Arkan dengan nada yang tak suka.
Mendengar hal tersebut Sagara maju dan mendorong tubuh Arkan beberapa senti, sepertinya kondisi saat ini mulai tidak kondusif di antara keduanya.
"Jaga cara bicara mu! Memangnya kau akan apa? Kau kira aku takut dengan mu?" ucap Sagara yang tak terima.
"Jangan belagu deh..." ucap Arkan sebelum akhirnya menghadiahi Sagara dengan bogeman yang mengenai tepat pipi sebelah kirinya.
Bughhh....
Sagara terhuyung beberapa senti namun langsung menyeimbangkan diri dan membalas Arkan dengan pukulan juga. Pada akhirnya keduanya lantas saling adu jotos tanpa berniat untuk berhenti. Luna yang mendapati hal itu tentu saja mulai bingung dan tak tahu harus berbuat apa.
"Sudah... sudah apa yang kalian berdua lakukan? Hentikan sekarang juga, semua orang tengah menatap ke arah kita sekarang! Sudah..." ucap Luna yang menyadari jika mereka bertiga saat ini tengah menjadi pusat tontonan warga sekitar.
Baik Arkan maupun Sagara sama sekali tak mengindahkan perkataan Luna barusan. Sementara beberapa orang nampak mulai berdatangan, yang mungkin hanya sekedar penasaran atau bahkan hendak melerai keduanya.
"Kau itu sama sekali tak berhak atas Luna! Apa kau kira kau sudah melakukan hal yang benar ha?" teriak Arkan sambil menindih tubuh Sagara dan melayangkan pukulan.
Mendapati hal tersebut tentu saja Sagara tak terima dan langsung menarik tubuh Arkan hingga terjerembab, kemudian gantian menindihnya dengan kuat sambil bersiap melayangkan pukulan.
"Setidaknya aku Pria yang tulus bukan mokondo seperti mu yang hidup dari biaya wanita yang kau pacari. Kau pikir kau hebat ha?" ucap Sagara kemudian sambil melayangkan pukulan kembali kepada Arkan.
Bugh... Bugh.... Bugh...
"Kau...." ucap Arkan dengan tatapan yang tajam.
"Sudah...sudah hentikan ku mohon... Pak tolong lerai keduanya.... Aku mohon siapapun tolong..." teriak Luna yang tak tahu lagi harus melakukan apa selain minta tolong kepada warga.
Mendengar teriakan Luna beberapa orang lantas datang dan melerai keduanya. Tiga orang memegangi Arkan dan tiga orang lagi memegangi Sagara. Wajah keduanya kini bahkan sudah penuh luka lebam, tapi mereka berdua sama sekali tidak perduli.
"Lepaskan tangan ku, biarkan aku menghajarnya!" teriak Arkan sambil terus meronta.
"Sini kalau berani... Kau kira aku takut ha?" ucap Sagara sambil tertawa mengejek.
"Kalian berdua hentikan! Sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan ha? Sama sekali tidak berfaedah...." teriak Luna yang mulai kesal akan keduanya.
"Lun aku..." ucap Sagara hendak mengatakan sesuatu namun langsung di potong oleh Luna.
"Sudah Sagara! Aku malas mendengar sanggahan...sebaiknya kamu pulang sekarang!" ucap Luna kemudian.
"Tuh dengerin pulang sana p3ng3cut!" teriak Arkan dengan tawa menggema.
"Kau pun diam Arkan!" teriak Luna kembali yang lantas membuat keadaan mendadak hening.
"Sagara sebaiknya kamu pergi dan jangan menghiraukan ku... sedangkan untuk mu Ar... Nanti malam kita ketemu dan bahas semuanya, aku janji aku akan datang... Jadi aku mohon untuk kalian berdua, berhenti bertengkar seperti anak kecil!" ucap Luna yang lantas membuat keduanya berhenti memberontak.
Pegangan warga pada keduanya perlahan melonggar begitu melihat keduanya sudah cukup tenang.
"Sudah lebih tenang mas?" ucap salah satu warga namun sama sekali tak di tanggapi oleh keduanya.
"Lain kali kalau urusan cinta jangan bertengkar di jalanan umum mas, terlalu menyusahkan orang... Apalagi kasihan kan pengendara lain jadi terganggu karena kalian berdua..." ucap yang lain lagi mencoba menasehati.
"Iya pak kami minta maaf sekali lagi...terima kasih banyak pak..." ucap Luna kemudian menimpali karena keduanya hanya diam tanpa menjawabi perkataan warga.
"Sudah...sudah bubar yuk..." ajak warga yang lainnya.
Dan pada akhirnya warga mulai bubar dan pergi dari kerumunan, kini hanya menyisakan Luna, Arkan dan juga Sagara yang masih berada di sini.
"Kamu mau kemana Lun, biar aku antar..." ucap Sagara yang lantas di cegah oleh Arkan begitu mendengarnya.
"Heii heiii heiii apaan lu.... Jangan coba-coba dekati Luna ya..." ucap Arkan tak terima.
"Sudah sudah cukup tak perlu berdebat lagi, aku pulang sendiri dan kalian berdua jangan ada yang mengikuti ku..." pekik Luna pada akhirnya dengan raut wajah kesal akan keduanya.
"Tapi Lun..." ucap Sagara hendak menyusul namun kembali di hadang oleh Arkan saat itu.
"Apaan sih lu!" ucap Sagara dengan kesal.
Sagara yang tau jika Luna tidak akan mau ikut bersamanya, lantas langsung kembali masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya berusaha untuk mengejar Luna.
***
Sementara itu setelah berhasil pergi dari keduanya, Luna memutuskan untuk memesan taxi. Suasana di dalam taxi terasa begitu hening dan hanya menyisakan sebuah lagu yang di putar oleh si pengemudi. Luna menghembuskan napasnya dengan kesal begitu mengingat kembali kejadian barusan, membuatnya tak habis pikir dengan Arkan maupun Sagara.
"Bagaimana mungkin ada kebetulan seperti ini? Akhhh aku bahkan tidak tahu menahu mengapa kita bertiga malah berkumpul dan membuat kegaduhan seperti tadi." ucap Luna pada diri sendiri dengan tatapan yang gelisah.
Disaat pikiran Luna terbang entah kemana, sebuah mobil mewah keluaran terbaru lantas langsung menikung laju taksi dan menghentikannya secara mendadak.
Ckittttttt....
Bersambunh