Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Suara bisikan lirih Mira yang menyebut bros perak itu seketika menggantung di udara, menciptakan keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada tumpukan debu di dalam gudang balai desa. Cahaya putih dari senter yang dipegang Raka menyorot tajam ke dalam kotak kayu tua, memantulkan kilap samar dari permukaan bros bulan sabit yang terbaring di atas kain beludru merah kusam.
Bayu meneguk ludahnya dengan kasar, merasakan bulu kuduk di tengkuknya meremang hebat. Ia melirik Raka, lalu melirik ke arah Mira yang berdiri membeku di sebelah meja.
"Eh, Mir... Lu kenal sama benda itu?" tanya Bayu dengan nada suara yang sengaja dikecilkan, mencoba mencairkan suasana tegang yang mendadak melingkupi ruangan sempit tersebut. "Jangan-jangan bros itu barang berharga yang disembunyikan orang desa zaman dulu?"
Mira tidak segera menjawab. Tatapannya tidak lepas dari bros perak tersebut.
Perlahan, perempuan bergaun ungu itu mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh benda kecil itu, namun ia menariknya kembali ragu-ragu di udara.
Napasnya sedikit memburu, kontras dengan sikap tenangnya yang biasa.
Raka yang melihat perubahan ekspresi di wajah Mira langsung menutup perlahan kotak kayu tersebut. Ia menoleh menatap sang putri jin dengan kening berkerut dalam.
"Mira? Ada apa? Bros ini kelihatan nggak asing buat kamu?"
Mendengar pertanyaan langsung dari Raka, Mira mengerjap cepat. Ia buru-buru menarik tangannya, menegakkan dagunya tinggi-tinggi, dan berusaha memasang kembali ekspresi angkuh untuk menutupi keterkejutannya.
"Bukan apa-apa!" sanggah Mira dengan nada tinggi yang sengaja dibuat ketus, membuang muka ke arah dinding gudang. "Jangan bersikap berlebihan, manusia praktis! Di duniaku, bentuk perhiasan seperti bulan sabit adalah hal yang biasa dipakai oleh siapa saja. Untuk apa aku terkejut melihat benda kuno berkarat seperti itu?"
Dimas, yang sejak tadi berdiri diam mengamati gerak-gerik Mira, menyipitkan matanya tipis. "Cara ngomong lu barusan nggak sinkron sama muka lu yang pucat pas pertama kali lihat benda itu, Mir."
"Dimas! Jaga ucapanmu!" seru Mira semakin kesal, melotot tajam ke arah pemuda berkacamata itu. "Mana ada bangsawan istana gaib yang merasa pucat karena benda manusia! Kalian bertiga saja yang terlalu banyak berimajinasi di tempat berdebu ini!"
Meskipun Mira menyangkal setengah mati, Raka tahu betul ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang putri jin. Namun, Raka memilih untuk tidak mendesaknya lebih jauh saat ini. Ia sadar, memaksa Mira bercerita di tengah ruangan pengap dan malam yang semakin larut bukanlah keputusan yang bijak.
"Udah, kita selesaikan dulu pekerjaan kita di sini," lerai Raka menengahi perdebatan kecil itu. Ia mengangkat kotak kayu berukir tersebut dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja bersama surat tua tahun 1987 di sampingnya. "Kotak ini dan isinya kita simpan dulu. Nanti setelah urusan bersih-bersih gudang ini beres dan kita terima upah dua ratus ribu dari Pak RT, kita bisa periksa suratnya bareng-bareng."
Bayu mengembuskan napas lega, kembali menyapu lantai sambil menggerutu pelan.
"Nah, itu baru ide cemerlang. Fokus utama kita malam ini adalah lembaran merah dua ratus ribu, bukan penemuan benda masa lalu."
Pekerjaan membersihkan gudang balai desa itu pun dilanjutkan. Suasana di dalam ruangan kembali diisi oleh suara sapu lidi yang bergesekan dengan lantai semen dan bunyi kardus-kardus yang dipindahkan.
Namun, energi di antara mereka terasa sedikit berbeda. Sesekali, mata Mira melirik ke arah meja kayu tempat kotak itu diletakkan dengan sorot mata penuh tanda tanya yang berusaha ia sembunyikan.
Pukul sepuluh malam lewat sepuluh menit, pintu gudang balai desa akhirnya ditutup rapat kembali.
Raka memutar anak gembok besi hingga terkunci sempurna dengan bunyi klotok yang nyaring. Karung plastik besar berisi sampah kardus dan rumput kering diletakkan rapi di samping pintu luar, siap diangkut oleh petugas kebersihan desa keesokan paginya.
Di tangan Raka, kotak kayu tua berisi surat tahun 1987 dan bros bulan sabit perak itu sudah aman tersimpan di dalam ranselnya.
Tiga pemuda itu berjalan beriringan meninggalkan halaman belakang balai desa yang sunyi, ditemani cahaya lampu senter yang membelah kegelapan jalan gang.
Di samping mereka, Mira berjalan dalam keheningan yang tidak biasa perempuan itu tidak banyak berkomentar seperti biasanya, larut dalam pikirannya sendiri sepanjang perjalanan pulang menuju kos Bu Ratna.
Sesampainya di kamar nomor empat, Raka langsung merebahkan ranselnya di lantai, lalu mengeluarkan kotak kayu tersebut dan menaruhnya di atas meja kecil.
Bayu menjatuhkan diri ke atas kasur busa tipis dengan napas terengah-engah. "Wah... punggung saya rasanya mau copot. Tapi nggak apa-apa, pengorbanan malam ini sepadan sama hasil besok."
Dimas duduk di tepi kasur sambil membuka selembar kertas surat tua yang tersimpan di dalam kotak kayu. Ia menatap tulisan tangan yang mulai memudar di atas kertas ber-kop kantor desa tersebut.
"Coba kita baca isi suratnya," ujar Dimas menarik perhatian Raka, Bayu, dan Mira.
"Mungkin surat ini bisa ngasih tahu kita kenapa kotak itu disembunyikan di balik lemari arsip."
Raka mendekati meja, membungkuk untuk membaca surat bertanggal 12 Oktober 1987 itu bersama Dimas. Mira yang tadinya berdiri di sudut ruangan perlahan-lahan melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Raka, ikut menunduk membaca bait demi bait tulisan tangan yang tertera di atas kertas menguning tersebut.
Kepada Kepala Desa Kertajaya, Barang siapa yang menemukan kotak ini di balai desa, ketahuilah bahwa bros kecil di dalamnya dititipkan oleh seorang perempuan asing yang datang dari batas hutan desa pada suatu malam di tahun delapan puluh lima. Ia berpesan agar benda ini disimpan dengan baik...
Kalimat di surat itu terhenti sampai di situ. Baris-baris berikutnya tampak terpotong karena kertasnya sudah robek termakan usia, meninggalkan noda kecokelatan di bagian pinggirnya.
Suasana di dalam kamar nomor empat mendadak menjadi sangat senyap. Bayu yang tadinya merebahkan diri di kasur langsung bangkit duduk, menatap Raka dan Dimas dengan mata membelalak.
"Perempuan asing dari batas hutan desa tahun delapan puluh lima?" ulang Bayu bergidik ngeri. "Jangan-jangan dari dulu memang ada orang-orang aneh yang datang ke desa ini."
Mira menatap surat tua itu dengan napas yang tertahan. Manik matanya melebar, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Desa Kertajaya, ekspresi angkuhnya benar-benar runtuh digantikan oleh keheningan yang penuh makna.