Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Pelabuhan, Truk Ikan Asin, dan Markas Bayangan Gunung Salak

Kilatan api menyembur dari moncong dua senapan mesin ringan MP5 di tangan Siska, memotong kegelapan dry dock Pelabuhan Ujung dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Peluru-peluru berkaliber sembilan milimeter itu menghantam tiang-tiang besi dan dinding beton, memercikkan bunga api yang menerangi pertarungan brutal antara dua agen elit Vanguard.

Lilia—dengan refleks inhuman yang dipoles latihan bertahun-tahun—memutar tubuhnya di udara. Dua bilah pedang khukri di tangannya bergerak membentuk perisai logam. CRANG! CRANG! CRANG! Bilah baja melengkung itu secara ajaib sanggup menepis tiga butir peluru pertama yang mengarah ke dadanya, sementara sisanya bersarang di tumpukan peti kemas di belakangnya.

“Siska! Kau desertir tak berguna!” jerit Lilia histeris, suaranya melengking menembus raungan sirene darurat.

Lilia meluncur di atas lantai beton yang basah, mengayunkan pedang kanan ke arah leher Siska. Namun Siska tidak mundur. Dengan bahu kiri yang masih bersimbah darah, Siska melempar satu MP5-nya yang kehabisan peluru tepat ke wajah Lilia, lalu menarik Granat Magnesium (Flashbang) dari rompi taktisnya.

BZZZZ-FLASSSHHH!!

Cahaya putih berintensitas sejuta lilin meledak di tengah ruangan. Lilia dan tiga pengawal yang tersisa menjerit histeris saat pandangan mereka seketika dibutakan total.

“Gala! Senja! Jalan keluar pukul lima!” teriak Siska serak, suaranya tetap terdengar efisien di tengah kekacauan.

Gala merangkul koper titanium Protokol Broto yang masih memproyeksikan sinar peta holografik biru di dadanya, sementara Senja memimpin jalan menyusuri koridor samping yang dipenuhi pipa-pipa uap panas. Mereka bertiga melompati tumpukan rantai kapal berkarat, menerobos pintu darurat pelabuhan, dan keluar ke area dermaga luar yang dihantam hujan gerimis.

Suara sirine mobil patroli Vanguard dan raungan helikopter tempur makin mendekat dari jalan raya utama pelabuhan. Seluruh akses keluar-masuk telah ditutup rapat oleh barikade SUV hitam.

“Nja! Kita nggak bisa pakai mobil sedan lagi! Akses jalan dipasang barikade spike strip!” jerit Gala sambil menyipitkan mata menembus hujan.

Senja menyapu pandangannya ke area bongkar muat. Matanya tertuju pada sebuah truk engkel tua berterpal biru dengan tulisan cat semprot pudar di sampingnya: CV. SUMBER LAUT — DISTRIBUSI IKAN ASIN & SEAFOOD. Mesin truk itu masih menyala dalam posisi lansir, dan pengemudinya sedang melarikan diri ketakutan karena mendengar suara tembakan dari arah dok kering.

“Mobil itu!” Senja menarik tangan Gala dan Siska.

“Kamu bercanda?!” meringis Gala saat aroma amis menyengat dari muatan tiga ton ikan asin dan es batu menguar hebat dari balik terpal truk tersebut. “Baju gue ini udah kena bumbu rujak, sup kimlo, darah mafia, sekarang harus bau ikan asin?!”

“Masuk atau kepala lo bolong kena sniper!” bentak Senja tanpa toleransi.

Senja melempar Gala dan koper titanium itu ke dalam bak belakang truk di antara tumpukan keranjang ikan asin, disusul oleh Siska yang melompat masuk dengan gerakan lemas. Senja sendiri langsung melompati pintu kemudi, membanting gigi satu, dan menginjak pedal gas sekuat tenaga.

BRRRRRMMMM!!

Truk engkel tua itu meraung gahar. Asap hitam mengepul dari knalpotnya saat Senja menabrak palang pintu parkir otomotis hingga patah, lalu meluncur deras menerobos barikade dua SUV hitam Vanguard yang mencoba memotong jalan. Bumper besi truk menghantam moncong SUV pertama hingga terpelanting ke pinggir dermaga. Ribuan keranjang berisi ikan asin dan es batu di bak belakang bergoncang hebat, menyiram tubuh Gala dan Siska dengan air es beraroma amis yang luar biasa menyengat.

“Ugh! Asli, ini pengorbanan terburuk dalam hidup gue!” gerutu Gala sambil memeluk koper titanium agar tidak terkena lelehan air es ikan.

Di sudut bak truk, Siska bersandar di tumpukan karung garam. Wajahnya yang pucat pasi terlihat makin tragis dengan beberapa helai sisik ikan asin yang menempel di pipinya. Namun, dengan ketenangan mekanis yang gila, tangan kanan Siska tetap merogoh saku jasnya, mengeluarkan jarum bedah lengkung dan benang nilon untuk menjahit kembali robekan luka di bahunya sendiri tanpa menggunakan obat bius.

SREK. SREK.

Gala meringis ngilu melihat Siska menjahit kulitnya sendiri seperti menambal celana jeans. “Sis... lo beneran manusia, kan? Bukan cybor buatan Jerman?”

Siska tidak berkedip saat menarik benang di kulitnya. “Dua hal, Gala. Pertama, ambat histeria Anda karena itu membuang oksigen. Kedua, biaya kerusakan jas sutra saya, biaya trauma penciuman akibat bau ikan asin, dan jasa interception tahap dua ini akan saya akumulasikan ke dalam invoice akhir pernikahan kalian. Total sementara: seratus delapan puluh juta rupiah.”

Gala menepuk jidatnya. “Gue baru aja lolos dari bom waktu digital, dan lo masih sempat-sempatnya ngitung invoice?!”

Di kabin depan, Senja memutar lingkar kemudi sekuat tenaga, menembus rute-rute jalan tikus Pelabuhan Ujung menuju jalur tol interkoneksi Jawa Barat. Melalui spion tengah, Senja menatap layar holografik yang terus memancarkan koordinat GPS Gunung Salak.

Timer di atas koper titanium menunjukkan waktu yang makin krusial: 10:12:45... 10:12:44...

“Sis!” teriak Senja dari jendela kabin depan. “Koordinat ini mengarah ke kawasan hutan lindung Gunung Salak! Ada apa di sana? Kenapa bapak ditahan di tengah hutan?”

Siska memotong benang jahitnya dengan gigi, lalu membalut lukanya dengan perban elastis yang bersih. “Di sana tempatnya Bunker Alpha-Zero. Itu adalah fasilitas komando bawah tanah bekas era Perang Dingin yang dibeli oleh The Architect sepuluh tahun lalu. Tempat itu dibangun di dalam tebing batu vulkanik, dilindungi oleh sistem pertahanan otomatis, meriam otomatis berkendali AI, dan sensor termal yang mencakup radius dua kilometer.”

Gala merangkak mendekati kaca penghubung kabin. “Terus gimana caranya kita menerobos fasilitas kayak gitu cuma bermodalkan truk ikan asin dan raket nyamuk bengkok milik Senja?”

“Kita tidak menembus dinding depan,” jawab Siska datar. “Pak Broto yang merancang jalur ventilasi darurat bunker itu tiga puluh tahun lalu. Jika peta holografik itu aktif, artinya Pak Broto telah mengirimkan kode backdoor ke koper tersebut.”

Gala menatap koper titanium di pangkuannya. Jemari jurnalisnya mulai bekerja. Ia meneliti barisan kode numerik yang terus berkedip di samping peta tiga dimensi Gunung Salak.

“Tunggu...” kata Gala, matanya menyipit. “Ini bukan sekadar kode lokasi. Ini... ini catatan log harian. Bapak kamu sempat mengetik pesan rahasia sebelum ditangkap, Nja!”

Senja memperlambat laju truknya saat mereka mulai memasuki kawasan tanjakan berliku menuju lereng Gunung Salak. Udara malam yang asin perlahan berganti menjadi dingin menyengat bercampur bau tanah basah dan pinus.

“Bapak ngetik apa, Gal? Baca!” seru Senja, dadanya berdebar kencang.

Gala membacakan baris teks terenkripsi yang berhasil diterjemahkannya lewat tablet:

“Senja, Anakku... Jika kamu membaca pesan ini bersama Gala, artinya Siska berhasil melindungimu. Jangan percaya pada apa pun yang kamu lihat di Bunker Alpha-Zero. The Architect bukan sekadar manusia biasa yang menginginkan uang. Dia telah mengaktifkan 'Sistem Aset Eksekutif'. Jangan biarkan kotak itu tersentuh olehnya, meskipun dia mengancam akan membunuh Bapak.”

Senja mengepalkan tangannya di lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. “Maksud bapak apa? 'Jangan percaya pada apa pun yang kamu lihat'?”

“Kita bakal tahu dua puluh menit lagi,” potong Siska pelan. Ia mencabut senapan MP5 sisanya dan memeriksa sisa magazinenya. “Kita sudah memasuki batas radius zona merah The Architect.”

Truk engkel tua itu akhirnya berhenti di sebuah celah jurang yang tertutup semak belukar tebal di lereng selatan Gunung Salak. Kabut pegunungan yang pekat turun menyelimuti bumi, membatasi jarak pandang hanya hingga lima meter ke depan. Suara jangkrik dan gemericik air terjun menyamarkan kesunyian yang mencekam.

Gala, Senja, dan Siska melompat turun dari bak truk. Mereka meninggalkan bau ikan asin dan melangkah masuk menembus hutan pinus yang gelap gulita. Siska memimpin di depan, memanfaatkan sensor infra-merah portabel untuk mendeteksi posisi ranjau darat dan kamera pengintai yang tersembunyi di balik pepohonan.

“Di depan,” bisik Siska sambil menunjuk ke arah tebing batu raksasa yang tertutup lumut dan semak liar.

Di balik jalinan akar pohon beringin tua, terdapat sebuah pintu besi melengkung berukuran raksasa yang tertanam di dalam perut gunung. Pintu itu tampak seperti pintu masuk bunker militer tua, namun panel kuncinya telah diganti dengan scanner biometrik canggih bertuliskan logo VANGUARD CORP.

Gala mendekati pintu tersebut, lalu mensejajarkan koper titanium Protokol Broto ke arah scanner dinding.

BIP-BIP-BIP!

Sinar laser biru dari koper memancar, memindai panel kunci pintu. Kode backdoor yang ditinggalkan Pak Broto bekerja secara instan. Pintu besi setebal setengah meter itu berderit keras, terdorong terbuka secara perlahan, menghembuskan udara dingin berbau ozon dan besi dari dalam lorong bawah tanah yang temaram.

“Sistem pertahanan udara dan sensor gerak internal berhasil dinonaktifkan sementara oleh kode Pak Broto,” lapor Gala sambil melangkah masuk lebih dulu. “Kita punya waktu lima belas menit sebelum sistem otomatisnya melakukan reboot.”

Mereka bertiga menyusuri lorong beton yang panjang dan dingin. Lampu-lampu darurat berwarna merah berkedip di sepanjang langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Tidak ada pengawal yang terlihat di koridor utama. Keheningan di dalam bunker itu justru terasa ribuan kali lebih menakutkan daripada hujan peluru di pelabuhan.

Senja menggenggam erat tongkat baja bekas yang dibawanya. Langkah kakinya tidak bersuara sama sekali saat mereka mendekati sebuah pintu kaca ganda tebal bertuliskan: SEKTOR UTAMA — SEL ISOLASI ASET MASTER.

KLAK.

Gala menekan tombol pembuka pintu kaca tersebut. Pintu itu bergeser secara halus ke samping.

Di dalam ruangan laboratorium raksasa yang bersih, steril, dan megah itu, tidak ada adegan penyiksaan yang mengerikan. Tidak ada rantai besi, tidak ada ceceran darah, dan tidak ada pasukan elit bertopeng yang menodongkan senjata.

Ruangan itu didesain bagaikan ruang kerja presiden kelas atas dengan karpet tebal berwarna krem, meja kayu jati berukir, dan rak buku klasik yang berbaris rapi.

Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik kecokelatan yang rapi. Pria itu sedang menyesap secangkir teh hangat dari cangkir porselen mahal, sembari membaca koran pagi. Pria itu memiliki kumis tipis yang terawat dan garis wajah yang sangat ramah.

Pak Broto. Ayah Senja.

Namun, yang membuat darah Senja, Gala, dan Siska mendadak membeku adalah sosok yang duduk tepat di hadapan Pak Broto.

Pria itu berumur sekitar empat puluh tahun, mengenakan setelan jas abu-abu buatan penjahit Italia tanpa celat, berambut klimis yang disisir rapi ke belakang, dan memegang sebuah gelas kristal berisi scotch mahal. Wajah pria itu sangat tampan, karismatik, namun memiliki mata berwarna biru pucat yang dingin tanpa jiwa.

Victor. The Architect.

Mendengar pintu kaca terbuka, Pak Broto meletakkan cangkir tehnya dengan sangat tenang. Ia menoleh ke arah Senja, Gala, dan Siska yang berdiri memaku di ambang pintu dengan senjata terangkat.

Tidak ada raut wajah panik dari Pak Broto. Tidak ada tanda-tanda ketakutan atau bekas luka penyiksaan sedikit pun di tubuhnya.

"Bapak...?" suara Senja tercekat di tenggorokan, gemetar hebat oleh kebingungan yang luar biasa. "Bapak... nggak apa-apa?"

Victor "The Architect" tersenyum sangat menawan—sebuah senyuman elegan yang justru membuat bulu kuduk Gala berdiri merinding. Victor berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu melangkah ke samping Pak Broto.

"Selamat datang, Senja. Selamat datang, Gala," suara Victor berat, halus, dan sangat teratur. "Kalian terlambat lima menit dari kalkulasi probabilitas saya, tapi kedatangan kalian tetap memuaskan."

Gala melangkah maju, mengangkat koper titanium dan mengarahkan senapan peredam suara ke dada Victor. "Jauh-jauh dari pria itu, Pak Broto! Kami ke sini buat menyelamatkan Bapak!"

Namun, Pak Broto tidak berdiri. Ia justru menghela napas panjang, menatap Senja dengan pandangan mata yang sangat dalam, penuh penyesalan, sekaligus kesedihan yang amat pekat.

Pak Broto menggelengkan kepalanya pelan.

"Jangan arahkan senjatamu ke Victor, Gala..." kata Pak Broto, suaranya tenang namun meremukkan jantung Senja dalam satu detik. "Bapak tidak diculik. Bapak yang datang sendiri ke sini."

Senja membelalakkan matanya, mundur satu langkah seolah dihantam petir di siang bolong. "Bapak... ngomong apa? Bapak dijebak, kan? Dia mengancam Bapak, kan?!"

"Tidak, Senja," lanjut Pak Broto sambil mengelus cangkir tehnya. "Victor tidak pernah mengancam Bapak. Protokol Broto yang kalian bawa... koper titanium itu... bukan dibuat untuk menghancurkan Vanguard."

Pak Broto mendongak, menatap mata putrinya dengan ketegasan yang mematikan.

"Koper itu adalah kunci terakhir untuk menyerahkan seluruh kendali Vanguard secara legal kepada Victor... dan Bapak sengaja memancingmu ke sini untuk melengkapi rantai biometriknya."

Keheningan yang mematikan menyergap ruangan steril itu. Di belakang Gala dan Senja, Siska yang biasanya tak pernah beremosi, mendadak mencabut senjata sekundernya dengan gerak refleks cepat—menyadari bahwa jebakan terbesar dalam seluruh permainan ini bukanlah The Architect, melainkan sang ayah kandung yang paling dipercayai oleh Senja seumur hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!