Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: EFEK DOMINO
Berbekal bukti yang dia kumpulkan, Bang Tua kembali menemui Pak Denny sore itu, menunjukkan hasil pencariannya bahwa tidak ada catatan resmi penelitian serupa atas nama Dr. Yosia. Pak Denny terkejut mendengar penjelasan itu, wajahnya berubah pucat menyadari dia hampir saja menjadi bagian dari sesuatu yang tidak benar tanpa dia sadari sepenuhnya, tangannya bahkan sempat gemetar memegang lembaran fotokopi yang disodorkan Bang Tua.
"Jadi, gimana, Pak? Saya harus bilang apa ke Pak Yosia kalau dia tanya lagi?" tanya Pak Denny, terlihat cemas membayangkan konsekuensi menolak permintaan atasan yang lebih senior, tangannya meremas ujung kemejanya sendiri tanpa sadar, matanya sesekali menatap pintu seolah takut ada yang tiba tiba masuk mendengar percakapan mereka.
"Bapak bilang aja, setelah dicek, nggak ada catatan resmi penelitian serupa, jadi topik Farel tetap dilanjutkan sesuai prosedur akademik yang berlaku. Kalau ada masalah lebih lanjut, Bapak bisa arahkan ke saya," jawab Bang Tua, mencoba memberikan perlindungan sebisa mungkin ke dosen muda yang jelas jelas berada di posisi lemah itu, suaranya penuh keyakinan supaya Pak Denny juga ikut merasa lebih tenang.
Pak Denny mengangguk, terlihat sedikit lebih tenang meski masih menyisakan kekhawatiran. "Makasih, Pak Sahat. Jujur saya nggak enak hati juga sebenarnya suruh Farel ganti topik tanpa alasan jelas, tapi posisi saya kan masih dosen baru, susah buat nolak permintaan senior."
Bang Tua menepuk pundaknya, mencoba memberi semangat. "Bapak ngerti, Pak Denny. Nggak apa apa, yang penting sekarang kita udah tau langkah yang benar. Anggap aja ini pelajaran, kadang kita harus berani, meski posisi kita nggak setinggi orang yang minta. Kalau kata orang bule, it's better to stand alone than to bow to the wrong crowd, kira kira gitu lah artinya."
Pak Denny tersenyum kecil mendengar kalimat Inggris itu, meski terlihat tidak sepenuhnya paham maksudnya, tapi tetap mengangguk sopan, "siap, Pak, saya coba lebih berani ke depannya".
"Sama sama, Pak Denny. Kalau ada apa apa lagi, kau kabarin bapak ya," kata Bang Tua sebelum akhirnya pamit, meninggalkan Pak Denny yang masih duduk termenung memikirkan keberaniannya sendiri untuk pertama kalinya menolak permintaan seorang senior demi membela mahasiswa yang bukan tanggung jawabnya secara struktural.
Sore itu juga, Bang Tua menghubungi Farel, memberi kabar baik bahwa topik penelitiannya tetap bisa dilanjutkan, tidak perlu diganti seperti yang sempat diminta. Farel yang menerima kabar itu lewat telepon, suaranya langsung berubah lega, bahkan sempat terdengar isak tangis kecil di ujung telepon, campuran antara syukur dan kelegaan yang begitu besar setelah berhari hari dilanda kepanikan.
Bang Tua bisa mendengar suara napas Farel yang mulai teratur kembali di seberang telepon, jauh berbeda dari suaranya semalam yang begitu panik dan terengah engah. Dalam hati dia merasa lega juga, setidaknya krisis besar pertama ini berhasil dia lewati bersama mahasiswanya itu.
"Makasih banyak, Pak. Saya nggak tau harus gimana kalau bapak nggak bantu," kata Farel, suaranya masih bergetar meski jelas jelas jauh lebih tenang dari malam sebelumnya.
"Sama sama, Farel. Tapi inget, soal DP jasa olah data itu, anggap aja itu uang kuliah tambahan buat pelajaran hidup, mahal emang, tapi setidaknya kau nggak jadi ikutan main curang. Anggap aja, no pain no gain, walau painnya kali ini lumayan bikin kantong kau nangis," canda Bang Tua, berhasil memancing tawa kecil dari Farel di tengah kelegaannya.
"Iya, Pak, untung bapak yang bantu, kalau nggak, kantong saya nangis, hati saya juga ikutan nangis," balas Farel, mulai berani ikut bercanda, tanda pikirannya sudah jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Sebelum menutup telepon, Bang Tua sempat berpesan sekali lagi, "Farel, besok besok kalau ada masalah lagi, jangan tunggu sampai tengah malam baru cerita ya. Bapak nggak keberatan direpotin kok, daripada kau nanggung sendirian sampai stres". Farel mengiyakan dengan suara yang jauh lebih lega dibanding semalam, sebelum akhirnya mereka menutup telepon dan Bang Tua kembali sendirian dengan pikirannya.
Malam harinya, di kos, Bang Tua duduk termenung memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ini pertama kalinya dia benar benar bertindak aktif menyelidiki dan mengintervensi sebuah kasus, bukan lagi sekadar menggerutu dalam hati dan berharap kekuatannya bekerja sendiri. Dia menyadari, kali ini keberhasilannya menyelamatkan Farel murni dari usaha dan keberaniannya sendiri, bukan dari kekuatan misteriusnya, sebuah kesadaran yang membuatnya merasa campur aduk, bangga sekaligus khawatir, karena ini artinya perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai, dan dia tidak selalu bisa mengandalkan kebetulan ajaib untuk menyelesaikan semua masalah.
Ada semacam kepuasan tersendiri yang dia rasakan malam itu, berbeda dari kepuasan yang dia rasakan saat menyaksikan kekuatannya bekerja secara ajaib. Kali ini, dia tahu betul setiap langkah yang membawa hasil itu murni dari pikirannya sendiri, dari keberaniannya sendiri, sesuatu yang terasa lebih nyata dan lebih miliknya dibanding kebetulan kebetulan ajaib yang selama ini sering membuatnya bertanya tanya apakah dia benar benar pantas mendapat pujian atas hasil hasil itu.
Dia membuka buku catatan kecilnya, menambahkan catatan baru, "Pak Yosia terbukti berbohong soal penelitian serupa demi gagalkan topik Farel, kemungkinan besar untuk menekan dia lebih jauh, entah untuk tujuan apa". Dalam hati dia bergumam, "kalau kata pepatah Inggris, the plot thickens, situasinya makin rumit aja nih, kayak sinetron yang episodenya nggak abis abis".
Dia menutup buku catatannya, meletakkannya di laci meja belajar seperti biasa, lalu berbaring memandangi langit langit kamar, membiarkan tubuhnya yang lelah setelah seharian penuh tekanan itu perlahan mulai rileks. Dalam hati dia bersyukur, setidaknya untuk malam ini, satu mahasiswanya sudah bisa tidur nyenyak tanpa dibayangi ketakutan, meski dia sendiri tahu perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Sebelum tidur, dia sempat mengirim pesan singkat ke Riko dan Dinda juga, sekadar memberi semangat tanpa membocorkan detail apa yang sedang dia hadapi, sebuah kebiasaan baru yang mulai terbentuk, memastikan ketiga mahasiswanya tetap merasa diperhatikan meski dia sendiri sedang sibuk menyelidiki jaringan yang jauh lebih besar di balik layar.
Dia juga sempat merenung sejenak, membandingkan dirinya yang sekarang dengan dirinya beberapa bulan lalu, sebelum semua kejadian aneh ini dimulai. Dulu, dia adalah dosen yang hanya bisa menggerutu dalam hati lalu berjalan pergi, membiarkan ketidakadilan berlalu begitu saja. Sekarang, dia sudah berani turun tangan langsung, mengumpulkan bukti, bahkan berhadapan dengan risiko yang jelas jelas mengintai. Dalam hati dia bergumam, "growth mindset, kata orang bule, ternyata bukan cuma buat murid sekolah, dosen tua kayak bapak juga bisa berkembang rupanya".