Indonesia
NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

When Snow Starts To Fall

"Sayang, maaf. Aku nggak nemuin es krim rasa barbeque."

Bara masuk ke kamar Ara dengan tergesa-gesa sambil membawa satu kantong berisi beberapa es krim dengan berbagai macam rasa. Lagi pula, ia juga tidak tahu harus mencari es krim rasa barbeque di mana.

Biru yang sedang asyik rebahan di sofa sambil menonton televisi hanya bisa menahan tawa melihat adik iparnya yang tampak begitu panik.

"Dek, jangan aneh-aneh. Mana ada es krim rasa barbeque? Kalau mau, ya, buat sendiri. Abang jadi kasihan sama si Bara."

"Aku juga bingung kenapa tiba-tiba pengen makan es krim rasa barbeque, Bang. Aku aja bingung kenapa mood-ku naik turun kayak gini. Apa aku mau datang bulan?"

"Mustahil kalau datang bulan. Kamu itu lagi haㅡ"

"Sayang! Mau aku suapi es krimnya, hmm?"

Bara buru-buru menyela.

"Kebetulan aku beli banyak. Semua rasa yang ada aku beli buat kamu."

"Apa? Rasa yang dulu pernah ada?"

Bara menatap Biru dengan wajah datar, lalu melemparkan satu bungkus es krim kepadanya. Biru dengan senang hati menangkapnya.

"Terima kasih, adik iparku yang paling baik!"

Ia langsung membuka bungkus es krim tersebut dan memakannya.

"Abangku kenapa, sih?" Ara menatap Biru heran. "Kenapa dia jadi gila kayak gitu?"

"Aku juga nggak tahu. Soalnya kelakuannya memang makin aneh."

Bara menghela napas.

"Mungkin karena efek terlalu lama sendiri."

Ara hanya tertawa kecil. Tatapannya kemudian beralih kepada bungkusan es krim yang dibawa Bara. Entah kenapa, keinginannya untuk memakan es krim rasa barbeque tiba-tiba menghilang begitu melihat berbagai macam varian rasa di hadapannya.

Bara memang terbaik!

Ara mengambil es krim rasa stroberi, kemudian langsung menyantapnya. Bara terlihat lega karena Ara tidak lagi mempermasalahkan es krim rasa barbeque yang gagal ia temukan.

Ia hanya menatap istrinya yang sedang menikmati es krim. Sesekali, ia menyeka sudut bibir Ara yang terkena es krim menggunakan ibu jarinya.

"Habis ini kita pulang, ya, Bara. Aku udah ngerasa baik-baik aja."

Ara menatap sekeliling kamar rumah sakit dengan wajah tidak nyaman.

"Aku juga nggak tahan berada di sini. Tempat ini bikin aku trauma."

"Lho? Trauma kenapa?"

Bara mengernyitkan dahi.

"Apa nggak sebaiknya kita pulang besok aja? Kamu juga baru sadar dari koma hari ini."

"Trauma karena aku mimpi kalau kamu meninggal di sini."

Ara menggeleng kuat-kuat.

"Nggak mau! Intinya, aku mau pulang!"

Bara terdiam. Ia bingung harus merespons apa. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah karena selama ini Ara harus terus berada di rumah sakit. Bahkan, selama berhari-hari gadis itu hanya menghabiskan waktunya untuk menemaninya.

"Bara, kenapa diem aja?"

Ara mulai kesal.

"Intinya, aku mau pulang. Sekarang!"

Tanpa berpikir panjang, Ara mencabut jarum infus yang masih tertancap di pergelangan tangannya.

Bara langsung terkejut.

"Sayang!"

Ia buru-buru memegang pergelangan tangan Ara dan menekan bekas tusukan jarum agar darahnya tidak terus mengalir.

"Ya udah, kita pulang sekarang."

Bara menghela napas.

"Kamu jangan marah-marah kayak gini, dong, sayang."

"Oh, kamu nggak suka kalau aku marah-marah? Nggak boleh?"

Ara menarik tangannya.

"Ya udah! Aku juga bisa pulang sendiri!"

Ia berbalik hendak mencari pakaian ganti, tetapi langkahnya terhenti ketika Bara tiba-tiba mendekapnya dari belakang.

"Maaf."

Satu kata dari bibir Bara sukses membuat pertahanan Ara runtuh. Air matanya langsung jatuh. Ia sendiri bingung dengan perubahan suasana hatinya.

Rasanya ia tidak ingin memarahi atau membentak Bara. Namun, di saat yang sama, ada rasa kesal yang begitu kuat hanya karena Bara tidak segera menuruti keinginannya. Ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Dan Ara mulai menyadarinya.

"Kenapa malah nangis, hmm?"

Bara memeluknya lebih erat.

"Maaf. Aku minta maaf. Kalau begitu, kita pulang sekarang. Ke apartemen kita."

"Apartemen?"

"Iya."

Bara tersenyum kecil.

"Kebetulan kita memang udah tinggal berdua, sayang. Nanti aku jelasin semuanya kalau kita udah di rumah. Nggak enak kalau di sini."

Tatapannya melirik ke arah Biru.

"Soalnya Bang Biru nguping terus dari tadi."

"Ya, gue nguping karena gue punya dua buah kuping di sebelah kiri dan kanan!"

Biru langsung menyahut dari sofa.

"Suara kalian berdua juga kedengeran sampai sini. Terus gue harus pura-pura tuli, gitu?"

"Abang mendingan pergi ke psikiater aja, deh."

Ara mengusap air matanya.

"Kayaknya otak Abang sakit. Aku jadi nggak tega."

"Sialan!"

Biru mendelik.

"Jadi mau pulang sekarang, nggak? Abang juga udah bosan ada di sini."

"Ya jelas pulang."

Ara mendengus.

"Untung aja aku udah pindah dan tinggal bareng Bara. Mana tahan kalau aku masih serumah sama Abang."

"Durhaka banget jadi adik! Dasar laknat!"

Bara akhirnya menghela napas panjang. Ia harus menghentikan adu mulut antara kakak beradik itu sebelum kepalanya benar-benar ikut pusing.

Namun, di balik semua keributan tersebut, Bara justru merasa lega. Setidaknya, Ara sudah kembali menjadi Ara yang ia kenal.

Ara yang cerewet. Ara yang mudah marah. Ara yang suka mengomel. Dan Ara yang selalu membuat suasana di sekitarnya menjadi ramai.

...---...

"Sayang, kita udah sampai. Ayo turun."

Bara hendak membuka pintu mobil, tetapi gerakannya terhenti ketika menyadari Ara masih memandanginya.

Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju apartemen, pandangan Ara tidak pernah benar-benar terlepas darinya. Bahkan ketika Bara sedang fokus menyetir sekalipun.

"Sayang?"

Bara menoleh sebentar.

"Kamu ngelamun?"

"Oh?"

Ara tersadar.

"Eh? Loh, udah sampai?"

"Iya, kita memang udah sampai."

Bara terkekeh.

"Lagian, aku perhatiin sejak tadi kamu kelihatan bengong. Ada apa, hmm?"

"Baru pertama kali ini aku lihat kamu nyetir mobil."

Ara masih menatap Bara.

"Dan itu kelihatan keren. Kayak bukan Bara yang aku kenal."

Bara hanya tersenyum.

Aku aja baru belajar nyetir setelah sadar waktu itu. Aku masih ngerasa asing sama semua keadaan ini.

"Padahal kita kecelakaannya juga sewaktu aku bawa mobil."

Bara mulai menjelaskan.

"Kata Papa kamu, kita kecelakaan sehari setelah pernikahan kita. Sayangnya, kamu terluka parah sampai koma."

Ara terdiam.

"Terus... apa kamu terluka parah juga?"

"Untungnya nggak."

Bara menggeleng.

"Setelah kecelakaan itu, malam harinya aku langsung sadar. Tapi aku juga nggak ingat apa-apa kayak kamu sekarang."

Bara tersenyum tipis.

"Untung aja ada Mama, Papa, Bang Biru, teman-teman kamu, dan Kakakku yang bantu aku mengingat semuanya."

Ara menatap lurus ke depan.

Kalau begitu, kamu memang nggak kembali dari masa lalu seperti aku, ya?Jadi kamu pasti nggak ingat apa saja yang udah kita lalui bersama. Bahkan kamu mungkin nggak ingat pesta pernikahan kita yang sebenarnya. Ya udahlah. Yang penting kamu masih hidup. Itu aja udah cukup buat aku.

"Sayang?"

Bara menatapnya.

"Mau turun kapan, hmm?"

"Oh."

Ara tersenyum kecil.

"Ayo turun."

Keduanya kemudian memasuki apartemen yang selama dua minggu terakhir ditempati Bara. Meskipun awalnya Bara sendiri masih merasa asing dengan tempat itu, ia perlahan mulai terbiasa dengan kehidupannya di masa sekarang.

"Maaf ya, sayang. Masih agak berantakan."

Bara menutup pintu.

"Aku lebih sering nginep di rumah sakit buat nemenin kamu."

Ia kemudian menunjuk ke arah tangga.

"Oh, iya. Kamar kita ada di atas."

Bara menggandeng tangan Ara yang masih tertegun melihat apartemen tersebut. Tempat itu terlihat begitu nyaman dan mewah. Dan sekarang, tempat itu adalah rumah mereka.

"Kamu istirahat di sini dulu, ya?"

Bara mengantarnya menuju kamar.

"Apa kamu lapar? Kebetulan di kulkas masih ada makanan dari Mama kamu. Kamu mau?"

"Hmm, boleh."

"Ya udah, tunggu sebentar, ya, sayang."

Ara mengangguk. Untuk kali ini, ia membiarkan Bara memanjakannya. Selama ini, Ara yang selalu berusaha melakukan segala sesuatu untuk Bara. Jadi, tidak ada salahnya jika sekarang mereka bertukar peran.

Dengan perasaan senang, Ara mulai melihat-lihat isi kamar. Ia bahkan membuka satu per satu lemari dan laci karena penasaran dengan barang-barang yang ada di dalamnya. Hingga akhirnya, tangannya membuka sebuah laci paling bawah.

Ara membeku. Di dalamnya terdapat sebuah buku yang sangat ia kenal. Buku hariannya.

"Kenapa buku ini bisa ada di sini?"

Ara buru-buru mengambilnya.

"Bukannya waktu itu ada sama Bara di masa laluㅡ"

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Dengan tangan sedikit gemetar, Ara membuka halaman pertama.

Semuanya masih sama. Tulisan-tulisannya. Cerita-ceritanya. Kenangan yang ia tulis selama empat belas hari itu. Tidak ada satu pun yang berubah.

Namun, ketika Ara membuka halaman-halaman terakhir, napasnya seketika tertahan. Ada tulisan baru.

Tulisan yang sangat ia kenal. Tulisan Bara. Ara membaca halaman demi halaman dengan tangan gemetar. Semakin jauh ia membaca, semakin lebar matanya terbuka.

Ada beberapa bagian yang hanya bisa diketahui oleh seseorang yang benar-benar mengalami empat belas hari tersebut bersamanya.

Hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Hal-hal yang hanya mereka berdua ketahui. Dan pada akhirnya, sebuah kesimpulan muncul di kepalanya. Bara juga kembali dari masa lalu.

Ara menutup mulutnya sendiri. Air matanya perlahan menggenang.

Jadi selama ini... kamu tahu? Kenapa kamu nggak jujur sama aku? Kenapa kamu harus menyembunyikan semuanya?

Tatapan Ara turun ke arah perutnya.

Dan sekarang... aku tiba-tiba hamil?

Ara kembali membaca tulisan Bara dengan perasaan campur aduk.

Ada kebahagiaan. Ada kebingungan. Ada rasa lega. Namun, di antara semuanya, satu pertanyaan justru semakin kuat memenuhi pikirannya.

Bara, sebenarnya apa yang terjadi pada masa depan kita?

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, Ara menyadari satu hal yang jauh lebih besar daripada sekadar perubahan waktu.

Masa depan mereka bukan hanya berubah. Masa depan mereka sedang ditulis ulang.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!