Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Alesia melangkah ragu melewati pintu kayu raksasa rumah Dante. Desain interior rumah itu sangat menakjubkan langit-langit yang tinggi dengan lampu gantung kristal minimalis dan lantai marmer putih yang berkilau.

Namun, fokus Alesia terganggu karena pergelangan kaki kanannya semakin berdenyut nyeri. Ia berjalan tertatih-tatih, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya agar tidak terlihat menyedihkan.

"Duduk di sana," perintah Dante tanpa menoleh, menunjuk ke arah sofa beludru abu-abu yang luas di ruang tengah.

Alesia menurut saja karena kakinya benar-benar sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya.

Begitu ia duduk, Dante berjalan ke arah ruangan lain dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa sebuah kotak pertolongan pertama (P3K) dan sebaskom kecil air hangat lengkap dengan handuk kecil. Pria itu meletakkan baskom di lantai, lalu tanpa diduga, ia berlutut di hadapan Alesia.

Tangan besar Dante bergerak memegang pergelangan kaki Alesia, perlahan melepaskan sepatu hak tinggi milik Min-ji yang menyiksa itu.

"Eh... Pak! Tidak perlu, Pak! Saya... saya bisa sendiri!" ucap Alesia panik, wajahnya memerah karena terkejut melihat seorang CEO kaya raya berlutut di depannya.

Ia mencoba menarik kakinya, namun cengkeraman tangan Dante di pergelangan kakinya terasa kokoh namun lembut.

Dante tidak memedulikan protes gadis itu. Dengan telaten, ia mulai mengompres bagian kaki Alesia yang tampak sedikit memerah dengan handuk hangat, lalu mengoleskan krim pereda nyeri dengan pijatan yang sangat pas.

"Cara dansamu jelek sekali," ucap Dante tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara rendahnya yang datar.

Alesia mengerucutkan bibirnya kesal, melirik kepala Dante yang berada di bawahnya.

"Namanya juga pertama kali, Pak."

"Walaupun pertama kali, kalau partner-mu jago, hasilnya juga pasti lebih baik," sahut Dante lagi, jemarinya masih memijat lembut otot kaki Alesia yang kaku.

Alesia mengernyitkan keningnya bingung. "Maksud Bapak?" Apakah dia sedang mengejek Pak So-joon? batin Alesia bertanya-tanya.

Dante tidak menjawab pertanyaan itu. Setelah memastikan krim pereda nyeri meresap sempurna dan membungkus pergelangan kaki Alesia dengan perban elastis tipis, Dante berdiri.

Ia merapikan kotak P3K, lalu berbalik menghadapi Alesia. Tiba-tiba, ia mengulurkan tangan kanannya ke depan wajah Alesia.

Alesia menatap telapak tangan itu dengan pandangan bingung. "Pak?"

Dante tidak bersuara, matanya yang abu-abu menatap lekat-lekat mata bulat Alesia, memberi isyarat agar gadis itu menyambut tangannya.

Meskipun bingung dan ragu, Alesia akhirnya meletakkan jemari kecilnya di atas telapak tangan Dante. Pria itu menariknya lembut hingga Alesia berdiri tegak tepat di hadapannya.

"Injak kaki saya, Al," ucap Dante pelan, beralih memanggilnya dengan nama panggilan akrab, bukan lagi nama belakangnya.

"Ha??" Alesia melongo sempurna.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Alesia untuk mencerna perintahnya, Dante sedikit menunduk. Ia menuntun pergerakan kaki Alesia yang telanjang tanpa alas sepatu untuk melangkah ke atas, menginjak bagian atas sepatu pantofel mewah miliknya.

Begitu kaki Alesia terposisi sempurna di atas sepatunya, Dante melingkarkan lengan kokohnya di pinggang ramping Alesia, menarik tubuh gadis itu hingga merapat ke dadanya. Tangan satunya lagi menggenggam erat jemari Alesia, mengangkatnya setinggi bahu.

Alunan musik instrumental lembut entah dari mana perlahan terdengar, mengalun mengisi keheningan rumah mewah itu.

Dante mulai menggerakkan kakinya, membawa tubuh mereka berdua berputar perlahan melakukan gerakan dansa klasik yang sangat anggun.

Karena kaki Alesia menumpu sepenuhnya di atas kaki Dante, ia sama sekali tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk melangkah, dan pergelangan kakinya yang sakit tidak terasa terbebani.

Jarak mereka begitu dekat. Hidung Alesia nyaris menempel pada dada bidang Dante, menghirup aroma parfum maskulin bercampur aroma alkohol samar yang menguar dari tubuh sang CEO.

Alesia mendongak dengan pandangan sangsi, menatap wajah rupawan Dante dari jarak sedekat itu.

"Bapak... Bapak mabuk ya, Pak?" tanya Alesia curiga.

Dante menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam mata bulat Alesia dengan pandangan yang tidak lagi sedingin biasanya.

"Sedikit."

Alesia mengembuskan napas pendek, mengira kelakuan aneh bosnya malam ini adalah akibat pengaruh sampanye di pesta tadi.

"Kalau begitu, mending Bapak istirahat saja sekarang, Pak. Urusan berkas yang salah biar kita bahas besok saja di kantor."

Dante menghentikan pergerakan dansa mereka secara perlahan, namun ia tidak melepaskan dekapannya di pinggang Alesia. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Siapa bilang kita akan membahas berkas malam ini?"

"Loh? Tadi di parkiran Bapak bilang—"

"Itu hanya alasan agar kamu mau masuk ke mobil saya," potong Dante santai tanpa rasa bersalah. Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu mundur satu langkah.

"Malam ini, tiba saatnya kamu membayar sisa utangmu dengan cara lain."

Dante menunjuk ke arah koridor dalam yang menghubungkan ruangan tengah dengan sebuah dapur bersih berkonsep modern yang sangat mewah, lengkap dengan peralatan memasak kelas profesional dari marmer dan stainless steel.

"Tugas pelunasan utangmu malam ini adalah... kamu harus memasak makan malam untuk saya. Saya belum menyentuh makanan apa pun sejak sore karena sibuk dengan urusan perjamuan," ujar Dante tegas.

"Masak, Pak?!" pekik Alesia shock, matanya melebar menatap dapur raksasa yang tampak lebih mirip studio masak televisi itu.

"Iya."

"Tapi... tapi saya gak begitu bisa masak, Pak! Biasanya saya cuma masak makanan sederhana," ucap Alesia panik, membayangkan ia harus mengoperasikan alat-alat canggih di dapur itu.

"Coba saja dulu. Bahan makanan berlimpah ada di dalam kulkas," jawab Dante acuh tak acuh.

Pria itu kemudian memperhatikan gaun satin hitam milik Min-ji yang dikenakan Alesia. Gaun itu tampak sedikit membatasi pergerakannya.

"Dan satu lagi... kamu tidak mungkin memasak dengan gaun ketat seperti itu."

Dante melirik Rey yang rupanya sejak tadi berdiri sopan di dekat lorong masuk. Rey yang seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan langsung melangkah maju, menyerahkan sebuah tas kain berisi sepasang pakaian santai bersih.

"Nona Alesia, silakan gunakan kamar mandi di sebelah sana untuk mengganti pakaian Anda terlebih dahulu. Pak Dante menyuruh Anda untuk mengganti pakaian dengan baju santai milik beliau agar lebih nyaman saat memasak," ucap Rey sambil tersenyum ramah.

Alesia menerima tas kain itu dengan pasrah, membuang napas pendek yang terdengar lesu.

"Baik, Pak..."

Beberapa menit kemudian, Alesia keluar dari kamar mandi. Penampilannya kini berubah 180 derajat. Gaun satin hitamnya sudah berganti dengan sepotong baju tidur hitam polos berukuran oversized dan celana training hitam panjang milik Dante.

Karena postur tubuh Dante yang sangat tinggi dan tegap, baju santai itu tampak sangat kedodoran di tubuh kecil Alesia. Lengan kausnya harus digulung beberapa kali agar tangannya bisa bebas bergerak, sementara ujung kausnya menjuntai hingga hampir menyentuh lututnya.

Begitu Alesia melangkah memasuki area dapur, Dante yang kini sudah melepas tuksedonya dan hanya mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka sedang duduk di kursi bar dapur, memperhatikannya.

Melihat Alesia tenggelam di dalam pakaian santai miliknya, jantung Dante mendadak berdesir aneh. Pemandangan itu terlihat sangat menggemaskan, memberikan ilusi domestik yang manis seolah-olah Alesia adalah bagian dari rumahnya.

Alesia berjalan menuju kulkas dua pintu yang besar, membukanya, dan tertegun melihat deretan bahan makanan premium yang tertata rapi. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan ikat rambut cadangannya, lalu menoleh ke arah Dante dengan raut wajah menantang.

"Baik, Pak Singa. Karena Bapak lapar dan saya harus bayar utang, saya akan masakkan makanan spesial versi saya. Jangan protes kalau rasanya tidak sesuai dengan lidah kelas atas Bapak, ya!" ucap Alesia dengan nada berani, mulai mengeluarkan pisau dan beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.

Dante tidak menyahut. Ia hanya menopang dagunya dengan satu tangan, memperhatikan setiap pergerakan lincah Alesia di dapurnya dengan tatapan mata yang semakin dipenuhi oleh binar kehangatan.

Di tengah keheningan malam dan aroma dapur mewah yang mulai menghangat, permainan benci dan jengkel di antara sang bos kejam dan staf admin ceroboh itu perlahan-lahan mulai melebur menjadi babak baru yang manis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!