Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"MMMPHHH!!"
Suara erangan tertahan lolos dari balik kain kusam saat Jeffry meronta kecil, berusaha mengulur waktu sementara gesekan pada sudut kayu yang tajam perlahan-lahan mulai mengikis serabut tambang di pergelangan tangannya.
Melihat reaksi Jeffry dan mengira pria itu mulai menyerah di bawah ancamannya, Ningrum bergidik ngeri dengan senyuman penuh kemenangan.
"Ah, kamu mau bicara, Mas? Kamu sadar kan kalau tidak ada pilihan lain?" racau Ningrum penuh histeria.
Dengan tangan kirinya yang masih menempelkan pecahan kaca tajam di lehernya sendiri, tangan kanannya maju dengan gemetar dan menyambar kain penutup mulut Jeffry, lalu menariknya kasar.
Srekk!
Kain itu terlepas. Jeffry langsung terbatuk-batuk kecil, mengambil napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang sesak, sementara rasa perih dan kaku masih mendera sekujur leher serta otot-ototnya.
Ningrum mendekatkan wajahnya, matanya melotot tajam namun menyiratkan permohonan yang gila.
Ujung pecahan kaca di lehernya bahkan sudah meninggalkan garis kemerahan dengan tetesan darah tipis yang mulai mengalir.
"Ayo, Mas! Bicaralah!" desak Ningrum dengan suara melengking penuh tekanan.
"Katakan kalau kamu menyerah! Katakan kalau cintamu sebenarnya hanya untukku, bukan untuk perempuan jalang itu!"
Di detik yang sama, sebuah bunyi krek yang samar terdengar di balik punggung kursi.
Lilitan tambang di pergelangan tangan Jeffry akhirnya putus sebagian, menyisakan sedikit tarikan lagi untuk membebaskan kedua tangannya.
Jeffry menatap lurus ke arah mata Ningrum yang kehilangan kewarasan.
Alih-alih menuruti permintaan gila wanita itu, rahang Jeffry justru mengeras.
Dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul di balik rasa sakitnya, Jeffry bersiap mengambil risiko terbesar dalam hidupnya.
Tatapan Jeffry tidak sedikit pun goyah. Meskipun pecahan kaca yang tajam itu sudah menggores kulit leher Ningrum hingga darah segar mulai menetes, pria itu memilih untuk menegakkan dagunya.
Ia tahu, tunduk pada ancaman seorang psikopat hanya akan membawa mereka pada kehancuran yang abadi.
Dengan suara serak namun penuh ketegasan yang menghujam langsung ke ulu hati, Jeffry menolak secara telak.
"Lakukan kalau itu mau kamu, Ningrum," ucap Jeffry dingin, tanpa setitik pun rasa takut atau ragu di maniknya.
"Sampai kapan pun, sampai nyawa saya melayang, hati dan cinta saya hanya untuk Puja. Tidak akan pernah ada ruang sedikit pun untuk kamu."
Mendengar penolakan mutlak yang diucapkan dengan begitu tenang namun mematikan itu, seketika dunia Ningrum runtuh.
Ekspresi kemenangan di wajahnya lenyap, digantikan oleh jeritan amarah dan keputusasaan yang teramat sangat.
"TIDAKKK!" teriak Ningrum histeris sejadi-jadinya.
Delusinya hancur berkeping-keping. Merasa dikhianati dan ditolak mentah-mentah di ambang puncak obsesinya, tangan Ningrum yang memegang pecahan kaca bergetar hebat.
Dalam kemarahan dan histeria yang sudah mencapai puncaknya, tekanan pada lehernya sendiri semakin ia kuatkan, siap mengakhiri segalanya.
Namun, di detik yang sama, saat perhatian Ningrum sepenuhnya tersita oleh kemarahannya...
Krek!
Serabut terakhir dari ikatan tambang yang kasar itu akhirnya benar-benar putus sepenuhnya.
Berkat gesekan gigih pada sudut kayu yang tajam, kedua tangan Jeffry terbebas dalam satu sentakan cepat.
Tanpa membuang waktu sepersekian detik pun, dengan sisa tenaga yang membara karena adrenalin, Jeffry langsung melompat maju menerjang ke depan—mengabaikan rasa sakit dan kaku di ototnya—untuk menghentikan tangan Ningrum sebelum pecahan kaca itu merobek nadinya lebih dalam.
Di tengah pergulatan sengit antara Jeffry dan Ningrum yang saling berebut pecahan kaca, dari kejauhan suara deru mesin mobil kepolisian dan kendaraan Andy mulai menderu keras, memecah keheningan hutan pinus yang sunyi.
Suara sirine yang meraung-raung semakin mendekat, menggetarkan udara di sekitar vila tua tersebut.
Mendengar suara gaduh itu, kepala Ningrum menoleh panik ke arah pintu depan.
Ekspresinya terdistorsi hebat antara rasa marah, ketakutan yang mencekam, dan kebingungan yang luar biasa.
Brak!
Pintu utama vila tua yang sudah lapuk itu didobrak paksa dari luar oleh Andy dan aparat kepolisian bersenjata lengkap, dibantu oleh tim penyelamat.
Puja, yang berlari paling depan mendahului yang lain, langsung menerobos masuk.
Matanya langsung menangkap pemandangan mengerikan: Jeffry yang baru saja terlepas dari ikatan tengah bergulat dengan Ningrum untuk menyelamatkan nyawa perempuan gila itu.
"Mas!" teriak Puja histeris, napasnya seolah berhenti melihat kondisi suaminya.
Melihat kedatangan Puja, alih-alih merasa takut pada polisi, gelombang kebencian yang sudah membusuk di dalam diri Ningrum meledak seketika.
Dalam kondisi kehilangan akal sehat sepenuhnya, Ningrum nekat melompat lepas dari cengkeraman Jeffry.
Dengan kilatan mata penuh amarah babi buta, ia menyambar pecahan kaca di tangannya dan langsung menerjang ke arah Puja, menusukkannya secara brutal.
Jleb!
"Puja!" jerit Jeffry histeris.
Ningrum langsung menarik tangannya, lalu mendongak menertawakan kekacauan itu dengan tawa terbahak-bahak yang menggema mengerikan di penjuru ruangan.
"Ha-ha-ha! Sekarang tidak ada lagi yang bisa merebutmu dariku, Mas! Ayo, kita menikah!" racau Ningrum histeris dengan seringai darah di bibirnya.
Namun, kemarahan Jeffry sudah mencapai puncaknya.
Didorong oleh rasa cinta yang mendalam dan kepanikan luar biasa melihat istrinya terluka, Jeffry mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dengan seluruh tenaga yang tersisa, ia melayangkan tinju telak ke arah wajah Ningrum.
Bugh!
Pukulan keras itu mendarat sempurna. Ningrum langsung terpelanting ke belakang dan jatuh tersungkur ke lantai dalam kondisi tak sadarkan diri.
Di sisi lain, Puja terhuyung mundur. Ia ambruk perlahan ke lantai yang berdebu, kedua tangan gemetarnya langsung mendekap perutnya yang seketika basah oleh darah segar yang mengalir deras.
Dengan air mata yang tumpah membasahi wajah pucatnya, Puja menatap sang suami yang merangkak mendekatinya dengan panik luar biasa.
"M-Mas," lirih Puja terbata-bata, sebelum kesadarannya perlahan-lahan runtuh di pelukan Jeffry yang berteriak histeris memanggil bantuan medis.
"Dek, sadar, Dek! Buka mata kamu, kumohon!" teriak Jeffry histeris, suaranya parau dibarengi cucuran air mata yang tumpah tak terbendung.
Ia mendekap erat tubuh Puja yang terkulai lemas di pangkuannya.
Telapak tangannya gemetar hebat saat berusaha menekan luka di perut sang istri, mencoba menahan laju darah segar yang terus merembes keluar membasahi pakaian mereka.
Wajah Puja tampak begitu pucat pasi, nyaris tanpa warna, dengan napas yang tersengal-sengal melemah di setiap detiknya.
Andy dan para sahabat Puja—Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, dan Dwi—yang baru saja tiba di ruang utama langsung tertegun ngeri menyaksikan pemandangan tersebut.
Tangisan histeris pecah dari mulut para sahabatnya, sementara Andy dengan sigap membantu pihak kepolisian melumpuhkan dan mengamankan Ningrum yang masih tergeletak pingsan.
"Cepat! Siapkan tandu darurat! Kita harus bawa beliau sekarang!" perintah salah seorang petugas kepolisian dengan nada panik, melihat kondisi Puja yang sudah sangat kritis.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Jeffry mengangkat tubuh Puja dengan hati-hati, membimbing langkah cepat para petugas medis yang membawa brankar menuju mobil ambulans dan kendaraan patroli yang terparkir di halaman vila.
Di dalam ambulans yang melaju kencang membelah jalanan hutan menuju rumah sakit terdekat, Jeffry terus menggenggam jemari Puja yang terasa semakin dingin.
Ia tak henti-hentinya membisikkan doa dan kata-kata penguatan di dekat telinga istrinya, memohon agar Puja tetap bertahan demi dirinya.
"Bertahanlah, Dek. Jangan tinggalkan Mas." rintih Jeffry hancur, menatap wajah pucat istrinya yang kini menutup mata, berpacu dengan waktu demi menyelamatkan nyawa wanita yang paling dicintainya.