Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Ruang perawatan darurat di kediaman Baskoro kini terasa seperti kamar mayat yang sangat dingin.
Bau anyir darah bercampur dengan aroma obat-obatan kimia yang menyengat hidung.
Di atas ranjang, Baskoro terbaring dengan tubuh yang semakin kurus hanya dalam waktu setengah hari.
Kulitnya yang tadinya kemerahan kini berubah pucat pasi dengan urat-urat kehitaman yang menonjol di lehernya.
Tiiit! Tiiit! Tiiit!
Suara monitor pendeteksi detak jantung berbunyi sangat lemah dan lambat.
Dokter Satria, kepala Asosiasi Medis Pusat yang terkenal sombong itu, kini berdiri dengan wajah tegang.
Dia baru saja tiba setelah mendengar sayembara seratus miliar rupiah dan lima persen saham Grup Mahakarya.
Tawaran itu terlalu menggiurkan untuk dilewatkan, bahkan untuk dokter sekelas dirinya.
"Bagaimana Dokter Satria? Anda bisa menyembuhkan ayah mertuaku kan?" tanya Rizki penuh harap.
"Tentu saja, saya adalah ahli medis terbaik di negeri ini," jawab Dokter Satria dengan angkuh.
"Saya sudah memeriksa nadinya, ini hanya racun darah biasa yang menyumbat meridian jantung."
Dokter Satria membuka kotak kayu miliknya dan mengeluarkan deretan jarum emas yang berkilauan.
Hana yang berdiri di samping suaminya menatap jarum-jarum itu dengan mata berbinar.
"Cepat lakukan Dok, uang seratus miliar sudah kami siapkan di koper," ucap Hana tidak sabar.
Dokter Satria tersenyum penuh kemenangan dan mulai menusukkan jarum emas itu ke dada Baskoro.
Jleb! Jleb!
Dia menggunakan Teknik Jarum Emas Penolak Racun yang selama ini dibanggakannya.
"Dengan tiga jarum ini, racun di tubuh Tuan Baskoro akan keluar melalui keringat," jelas Dokter Satria percaya diri.
Namun, baru saja jarum ketiga ditancapkan, tubuh Baskoro tiba-tiba bereaksi sangat mengerikan.
Baskoro membuka matanya lebar-lebar hingga bola matanya nyaris keluar dari rongganya.
Garis-garis hitam di lehernya tiba-tiba bergerak merayap naik ke arah wajahnya seperti cacing hidup.
"A-apa yang terjadi?!" jerit Hana mundur ketakutan melihat wajah ayahnya menghitam.
Uhuk! Huek!
Baskoro memiringkan tubuhnya dan kembali memuntahkan darah hitam yang baunya sangat busuk.
Kali ini darahnya bahkan mengenai jas putih kebanggaan Dokter Satria.
Tiiiiitttttt!
Garis di monitor jantung seketika berubah menjadi lurus tanpa detak sama sekali.
Dokter Satria panik bukan main dan tangannya gemetar hebat.
"T-tidak mungkin! Teknik jarumku tidak pernah salah!" teriak Dokter Satria kebingungan.
"Ayah! Ayah bangun!" Hana menangis histeris mengguncang tubuh ayahnya.
Rizki langsung menarik kerah baju Dokter Satria dengan sangat kasar.
"Kau mau membunuh ayah mertuaku hah?! Dasar dokter gadungan!" bentak Rizki penuh amarah.
"B-bukan begitu Tuan Rizki! Racun ini sangat aneh, jarum emasku malah ditolaknya mentah-mentah!" bela Dokter Satria ketakutan.
Dokter Satria buru-buru mencabut ketiga jarum emas itu dari dada Baskoro.
Ajaibnya, begitu jarum dicabut, monitor jantung kembali berdetak meski sangat lemah.
Baskoro kembali bernafas putus-putus, nyawanya masih tertahan di ujung tanduk.
Rizki melempar tubuh Dokter Satria hingga menabrak dinding ruangan.
"Lalu siapa yang bisa menyembuhkannya kalau kau saja tidak bisa?!" raung Rizki frustrasi.
Dokter Satria mengusap keringat dingin di dahinya sambil membereskan kotak jarumnya.
"Hanya ada satu orang di Jakarta yang mungkin bisa menolong Tuan Baskoro saat ini," ucap Dokter Satria pelan.
"Siapa?! Katakan cepat!" desak Hana dengan mata sembab.
"Pemuda misterius yang semalam menyembuhkan Tuan Surya Liem dari ambang kematian," jawab Dokter Satria jujur.
"Pemuda itu menguasai Teknik Jarum Aura dan Teknik Jarum Maut yang sudah punah ratusan tahun lalu."
"Bahkan Asosiasi Medis Pusat pun menganggap teknik itu hanya mitos belaka."
Mendengar hal itu, Rizki langsung mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia sudah menyuruh preman bayarannya mencari dokter itu sejak pagi, tapi belum ada hasil.
Tiba-tiba, pintu ruangan diketuk dari luar dengan terburu-buru.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" perintah Rizki dengan nada tinggi.
Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria botak bertato yang tangan kanannya dibalut perban darurat.
Itu adalah preman botak yang tadi pagi dihajar oleh Arif di apotek Glodok.
"B-Bos Rizki, saya bawa laporan," ucap preman botak itu ketakutan melihat wajah bosnya yang garang.
"Kenapa tanganmu patah begitu? Mana informasi tentang Dokter Dewa itu?!" tuntut Rizki mendekati premannya.
Preman botak itu menelan ludah dengan susah payah.
"S-saya tidak berhasil menemukan Dokter Dewa itu Bos," jawab preman itu menunduk.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi preman botak itu hingga dia tersungkur ke lantai.
"Lalu untuk apa kau kembali ke sini dasar sampah?!" maki Rizki murka.
"T-tunggu Bos! Dengarkan saya dulu!" rintih preman itu memegangi pipinya.
"Saya tadi membuat keributan di Apotek Panjang Umur untuk mencari informasi."
"Tapi tiba-tiba ada seorang pemuda mengerikan yang menghajar saya dan dua teman saya hanya dalam tiga detik!"
Rizki mengerutkan keningnya mendengar laporan aneh tersebut.
"Lalu apa hubungannya pemuda itu dengan Dokter Dewa yang kucari?!"
Preman botak itu gemetar hebat saat mengingat wajah dingin pemuda di apotek tadi.
"Pemuda itu menitipkan pesan untuk Bos Rizki," ucap preman botak itu pelan.
"Pesan apa? Cepat katakan!"
"Pemuda itu bilang, Dokter Dewa tidak akan pernah sudi mengobati Keluarga Baskoro."
"Sekalipun kalian merangkak dan bersujud di hadapannya, dia tetap tidak akan peduli."
Hening seketika melanda ruangan tersebut.
Wajah Rizki langsung memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
"Berani-beraninya dia meremehkan Grup Mahakarya!" geram Rizki mengepalkan tangannya.
"Seperti apa ciri-ciri pemuda itu? Berani sekali dia menyampaikan pesan dari Dokter Dewa!"
Preman botak itu mencoba mengingat-ingat penampilan Arif.
"Dia memakai kemeja hitam polos dan celana kain yang terlihat sangat mahal."
"Tapi anehnya, dia memakai sandal jepit kulit yang agak kusam."
"Usianya sekitar dua puluhan, wajahnya datar, dan sorot matanya tajam seperti elang."
Mendengar ciri-ciri itu, Rizki merasa ada sesuatu yang janggal di kepalanya.
Sorot mata tajam seperti elang dan usia dua puluhan.
Rizki menoleh perlahan menatap istrinya yang juga sedang kebingungan.
"Hana, bukankah ciri-ciri itu mirip dengan si gembel yang mengacau di pernikahan kita kemarin?" tanya Rizki ragu.
Hana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak mungkin! Gembel itu kemarin pakai baju linen kusam, bukan kemeja mahal!" bantah Hana meremehkan.
"Lagi pula si udik itu cuma orang gunung, mana mungkin dia punya ilmu bela diri mengerikan seperti kata preman ini!"
Namun Rizki adalah pengusaha yang cerdik, otaknya langsung merangkai potongan teka-teki itu.
"Coba kau pikirkan baik-baik Hana," ucap Rizki mondar-mandir di ruangan.
"Gembel itu kemarin tahu kalau umur ayahmu sisa lima hari lagi."
"Lalu Nona Nana dari Keluarga Liem datang menjemputnya dan memanggilnya penyelamat."
"Dan semalam, Tuan Surya Liem sembuh dari kritis karena ditolong oleh Dokter Dewa misterius."
Langkah Rizki terhenti dan dia menatap Hana dengan mata terbelalak lebar.
"Gembel itu... jangan-jangan si gembel bau tanah itu adalah Dokter Dewa yang kita cari!" seru Rizki menemukan jawaban.
Hana terdiam membisu, mulutnya sedikit terbuka karena syok.