Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Hujan Cuan dan Kartu Debit Hitam

Tujuh hari kemudian. Ruang trading VIP Departemen Keuangan Kekaisaran.

"NAIK! TERUS NAIK, SAYANGKU! AYO TEMBUS LIMIT ATAS! JANGAN KASIH KENDOR!"

Teriakan melengking Aura menggema di ruangan berlapis kedap suara itu. Ia berdiri di atas sofa beludru mahal, melompat-lompat kecil sambil memeluk sebuah bantal sofa dengan erat. Matanya yang membelalak terpaku pada layar hologram raksasa di tengah ruangan.

Garis grafik saham Perusahaan Perdagangan Maritim Wilmer, yang seminggu lalu berwarna merah darah dan menukik tajam, kini berubah menjadi hijau neon yang melesat lurus ke atas bak roket yang kehilangan gravitasi.

Di sudut ruangan, Lucas, sang asisten pribadi utama, tengah memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Kacamata tebalnya sudah merosot ke ujung hidung.

"Elara, demi Tuhan dan seluruh leluhur kekaisaran, turun dari sofa itu," erang Lucas dengan suara serak. "Sofa itu harganya setara dengan biaya hidupmu selama lima reinkarnasi. Kalau kau merusak pegasnya, gajimu tidak akan cukup untuk mencicilnya sampai kiamat!"

"Pak Kacamata, lo nggak lihat angkanya?!" Aura mengabaikan peringatan Lucas dan menuding layar dengan beringas. "Lima ratus persen! LIMA RATUS PERSEN, PAK! Badai topan Kategori 5 benar-benar menghantam Teluk Timur tadi malam. Semua kapal pesaing kandas! Wilmer memonopoli 100% rute pengiriman logistik hari ini!"

"Ya, aku melihatnya. Seluruh kekaisaran juga melihatnya di berita pagi ini," balas Lucas, menghela napas pasrah. "Tapi itu tidak berarti kau bisa bersikap seperti monyet liar di ruang kerja pribadi Yang Mulia Pangeran."

"Ini bukan monyet liar, ini selebrasi kapitalisme!" Aura melompat turun dari sofa, merapikan gaun pelayannya yang masih lusuh. "Mana Bos Tampan? Mana Yang Mulia Caden? Gue mau nagih janji! Uang gue cair hari ini, kan?!"

Pintu ganda berbahan kayu ek hitam terbuka perlahan tanpa suara. Suhu ruangan seketika turun secara drastis.

"Kau sangat berisik, Pelayan."

Pangeran Caden melangkah masuk dengan aura dingin yang mematikan, namun ada kilatan kepuasan di sepasang mata peraknya. Ia mengenakan kemeja sutra hitam tanpa dasi, kerahnya dibiarkan terbuka dua kancing, memancarkan pesona antagonis yang bisa membuat wanita mana pun rela menyeberangi lautan api.

Namun di mata Aura, Caden saat ini terlihat seperti malaikat pembawa mesin kasir.

"Yang Mulia! Bosku! Tuan Mudaku yang paling dermawan!" Aura langsung menyambutnya dengan senyum semanis madu, membungkuk 90 derajat dengan gaya teaterikal. "Bagaimana laporan portofolio pagi ini? Apakah hati Anda sedang berbahagia melihat angka hijau yang indah itu?"

Caden berjalan melewati Aura, duduk di kursi kebesarannya, dan menyilangkan kaki. Ia menatap gadis itu dengan seringai tipis.

"Kau beruntung, Elara. Ramalan cuaca anehmu itu tepat sasaran. Pesaing Wilmer lumpuh total. Kita meraup keuntungan lima kali lipat dari modal tiga puluh ribu emas yang kau gadaikan."

"Bukan cuma ramalan, Bos. Itu analisis data komprehensif dipadukan dengan insting bisnis tingkat dewa," koreksi Aura sambil menepuk dadanya bangga. "Jadi? Sesuai perjanjian kita minggu lalu. Mana bagian gue?"

Lucas mendelik. "Jaga nada bicaramu di depan Yang Mulia! Kau masih berstatus pelayan kebersihan!"

"Oh, ya? Seingat gue, perjanjiannya kalau gue menang taruhan, status gue naik jadi asisten keuangan. Benar kan, Bos?" Aura mengedipkan sebelah matanya ke arah Caden.

Caden terkekeh pelan. Ia membuka laci meja kerjanya yang dikunci dengan pemindai sidik jari.

"Lucas, siapkan surat pemindahan divisi untuk Elara. Mulai hari ini, dia bukan lagi pelayan kebersihan Sayap Barat. Dia adalah Asisten Analis Keuangan Pribadiku."

"T-tapi, Yang Mulia! Dia tidak punya latar belakang pendidikan ekonomi! Dia bahkan tidak bisa membaca bahasa kuno kekaisaran!" protes Lucas panik.

"Dia bisa mencetak uang. Itu satu-satunya bahasa yang perlu aku dengar di departemen ini," potong Caden mutlak. Matanya kembali menatap Aura. "Mendekatlah, Gadis Serakah."

Aura melangkah maju dengan mata berbinar.

Caden melemparkan sebuah benda kecil ke atas meja kaca. Benda itu berbunyi clack pelan. Sebuah kartu persegi panjang berwarna hitam pekat, dengan lambang naga emas kekaisaran di sudutnya.

"Apa ini? Kartu diskon minimarket istana?" tanya Aura polos, mengangkat kartu itu.

Lucas nyaris pingsan. "Itu Kartu Debit Imperial Black! Hanya ada lima puluh keping di seluruh dunia! Limitnya tidak terbatas!"

Mata Aura melebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Mulutnya menganga. Ia menatap kartu itu seolah menatap bayi pertamanya yang baru lahir.

"Limit... tidak terbatas?" bisik Aura, tangannya sedikit gemetar.

"Di dalam kartu itu sudah ada seratus lima puluh ribu koin emas murni hasil penjualan saham Wilmer bagianmu," jelas Caden, suaranya mengalun santai namun penuh godaan. "Serta tambahan lima puluh ribu koin emas sebagai 'bonus' pendaftaran signing contract menjadi asistenku."

"Dua... dua ratus ribu koin emas?" Napas Aura memburu. Ia segera memeluk kartu hitam itu ke dadanya, lalu menatap Caden dengan mata berkaca-kaca terharu. "Bos... Anda adalah pria paling tampan, paling gagah, dan paling sempurna di seluruh alam semesta ini. Pangeran Arthur si tokoh utama itu lewat! Anda adalah dewa!"

Caden mendengus, meski sudut bibirnya berkedut menahan senyum. Hatinya entah kenapa merasa puas melihat ekspresi memuja dari gadis bar-bar ini, meskipun ia tahu 100% pujaan itu ditujukan untuk kartunya, bukan untuknya.

"Simpan pujian murahanmu, Elara. Aku memberimu kartu itu bukan untuk kau pakai foya-foya membeli gaun atau perhiasan bodoh."

Caden mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke mata cokelat Aura.

"Kau sekarang asistenku. Uang di kartu itu adalah modalmu. Aku ingin melihat uang itu beranak pinak menjadi satu juta koin emas dalam waktu tiga bulan. Jika kau gagal, aku akan mencabut kartu itu, dan kepalamu akan berpisah dari lehermu. Mengerti?"

"Jangankan satu juta, Bos. Kasih gue waktu enam bulan, seluruh ekonomi Fraksi Selatan bakal berlutut di bawah kaki departemen kita!" seru Aura berapi-api.

"Bagus," Caden menyandarkan punggungnya kembali. "Lucas, urus seragam barunya. Aku tidak mau asisten keuanganku memakai kain pel bekas. Belikan dia baju rancangan desainer butik ibukota. Pakai uang departemen."

"Wah, benefit allowance wardrobe! Mantap!" Aura mencium kartu hitam itu. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Yang Mulia. Saya harus melunasi utang 5.000 koin perak saya ke lintah darat sebelum bunganya naik lagi sore ini!"

Aura berbalik dan berlari keluar ruangan dengan kecepatan kilat, mengabaikan teriakan Lucas yang menyuruhnya untuk berjalan anggun.

Setelah pintu tertutup, Caden menatap laci mejanya yang kini menyimpan koin naga pusaka milik Aura.

"Yang Mulia," panggil Lucas ragu-ragu. "Apakah Anda yakin mempercayakan akses Imperial Black pada pelayan itu? Dia sangat... eksentrik."

"Lucas," Caden tersenyum, matanya memancarkan kilatan obsesif yang berbahaya. "Selama ini, semua orang mendekatiku karena takut, atau karena menginginkan kekuasaan politik. Tapi gadis itu... dia hanya menginginkan uangku. Sangat jujur. Sangat transparan. Aku suka itu."

"Tapi sifatnya sangat kasar, Yang Mulia."

"Justru itu yang menarik. Dia merusak semua aturan. Pantau dia, Lucas. Pastikan tidak ada satu orang pun di istana ini yang menyentuhnya. Dia adalah asetku sekarang. Dan aku tidak pernah membiarkan asetku disentuh orang lain."

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!