**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidakberdayaan
Sudah sangat lama Mario tidak bertemu dengan ayahnya. Nama pria itu bahkan nyaris tidak pernah lagi menjadi bagian dari percakapan mereka. Karena itulah pertanyaan Mario terasa begitu mengejutkan.
Haselyn memandang putranya dengan hati yang tiba-tiba dipenuhi berbagai kemungkinan. Apa yang membuat Mario tiba-tiba memikirkan ayahnya?
Mario menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, kebiasaannya setiap kali merasa gugup.
“Mario pikir… Mama mengajak kita pergi dari rumah itu karena Mama ingin tinggal sama Ayah,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Ia menundukkan pandangannya, takut jika perkataannya justru membuat mamanya terluka.
Mario memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah tadi. Sejak awal, Haselyn sengaja tidak membiarkannya ikut mendengarkan perdebatan dengan keluarga besarnya. Yang ia tahu hanyalah hubungan Mamanya dengan keluarga Arfasya tidak pernah benar-benar baik. Ia sering melihat Mamanya pulang dengan wajah lelah, diam lebih lama dari biasanya, atau menangis diam-diam ketika mengira dirinya sudah tertidur.
Karena itulah, di benak Mario yang masih polos, hanya ada satu kesimpulan yang bisa ia pahami.
Mereka meninggalkan rumah itu karena Mama ingin memulai hidup baru.
Dan hidup baru itu, menurut pikirannya, mungkin bersama Ayah.
Haselyn memandang putranya dalam diam. Hatinya terasa sesak, bukan karena pertanyaan itu salah, melainkan karena ia baru menyadari bahwa selama ini Mario menyimpan begitu banyak pertanyaan yang tidak pernah sempat ia jawab.
“Bukannya kita tinggal jauh dari Ayah karena Mama sayang sekali sama Kakek?” ucap Mario pelan. “Mama selalu menuruti semua permintaan Kakek, termasuk tidak bertemu Ayah. Padahal… Ayah itu suami Mama.”
Begitu kalimat itu keluar, mata Mario membelalak. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyadari bahwa ia telah mengucapkan sesuatu yang selama ini selalu disembunyikan Mamanya.
Haselyn menoleh dengan cepat. Tatapannya berubah tajam, dipenuhi keterkejutan yang tidak mampu ia sembunyikan.
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau Mama menikah dengan Ayahmu?” tanyanya, suaranya terdengar lebih pelan, tetapi justru terasa menekan.
Mario mengenal ayah kandungnya sejak kecil. Namun, selama ini ia percaya bahwa kedua orang tuanya tidak pernah menikah. Memang, ketika Mario lahir, Haselyn dan pria itu belum menjadi suami istri. Saat itu Haselyn masih menolak menikah karena ia belum sepenuhnya yakin pada kesungguhan pria tersebut untuk mencintainya dan bertanggung jawab atas hubungan mereka.
Baru tiga tahun yang lalu, Haselyn akhirnya menerima lamaran pria itu dan menikah secara diam-diam. Tidak ada pesta, tidak ada pengumuman, bahkan Mario pun tidak mengetahui pernikahan itu. Haselyn sengaja merahasiakannya demi menjaga keutuhan rumah tangganya dan menghindari amarah Ayah Mahendra yang sejak awal tidak pernah menyukai ayah kandung Mario.
Namun, serapat apa pun sebuah rahasia disimpan, pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk terungkap.
Satu minggu setelah pernikahan itu berlangsung, Ayah Mahendra mengetahui semuanya.
Amarahnya meledak.
Ia memaksa Haselyn menjauhi suaminya. Dengan ancaman yang masih membekas hingga kini, ia mengatakan bahwa selama Haselyn masih menganggapnya sebagai ayah dan menginginkannya tetap hidup, ia harus memutuskan hubungan dengan pria yang telah menjadi suaminya.
Haselyn tidak mampu melawan.
Rasa bersalah dan baktinya kepada sang ayah membuatnya menyerah pada permintaan yang menghancurkan hidupnya sendiri. Sejak saat itu, ia memilih tinggal terpisah dari suaminya.
Tiga tahun penuh.
Tiga tahun menjalani pernikahan yang hanya diikat oleh status, tetapi dipisahkan oleh jarak, pengorbanan, dan Luka yang terus dipendam dalam diam.
“Dari mana kamu tahu Mama sudah menikah dengan Ayahmu?!” suara Haselyn meninggi, tanpa mampu ia kendalikan.
Mario tersentak. Tubuh kecilnya menegang, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Ia jarang sekali mendengar mamanya membentak seperti itu.
“Maaf, Ma…” suaranya bergetar. “Mario nggak sengaja dengar waktu Kakek marah sama Mama.”
Haselyn terdiam, tetapi tatapannya masih tertuju pada putranya.
“Kakek melarang Mama melanjutkan pernikahan Mama sama Ayah… karena Mama menikah tanpa izin Kakek.”
Pengakuan itu membuat Haselyn memejamkan mata sejenak.
Jadi, Mario sudah mengetahui semuanya sejak tiga tahun yang lalu.
Ia mengembuskan napas panjang dengan kasar, mencoba meredakan gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Selama ini ia begitu berhati-hati menyembunyikan kenyataan itu, tetapi ternyata putranya telah menjadi saksi dari awal kehancuran rumah tangganya.
“Apalagi yang kamu dengar waktu itu?” tanyanya pelan, kali ini suaranya terdengar lebih lelah daripada marah.
Semuanya sudah terlanjur terbuka.
Haselyn tahu, tidak ada lagi gunanya mempertahankan kebohongan yang telah retak sejak lama. Yang paling ia takutkan bukanlah rahasianya terbongkar, melainkan kenyataan bahwa putranya harus memikul beban orang dewasa sejak usia yang begitu kecil.
“Yang membuat Kakek tidak setuju… karena Kakek tahu kalau dia adalah ayah kandung Mario.”
Suara Mario terdengar pelan, penuh keraguan.
Sejak kecil, Mario hanya mengenal pria itu sebagai ayahnya. Baginya, pria yang sering bermain, menggendong, dan menghabiskan waktu bersamanya adalah sosok ayah. Ia tidak pernah memahami apa arti ayah kandung atau mengapa keberadaan pria itu harus disembunyikan.
Baru setelah tanpa sengaja mendengar pertengkaran antara Mamanya dan Kakeknya tiga tahun lalu, Mario mengetahui kenyataan tentang kelahirannya.
Pengakuan itu menghantam Haselyn tanpa ampun.
Dadanya terasa sesak, seolah sebilah belati tajam menancap tepat di jantungnya. Ia menatap putranya yang kini mulai menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Selama ini Haselyn selalu menjaga agar kenyataan itu tidak pernah dibahas di hadapan Mario. Ia ingin putranya tumbuh tanpa dibebani konflik orang dewasa, tanpa dipaksa memahami rumitnya hubungan kedua orang tuanya, dan tanpa harus mempertanyakan mengapa ia tidak bisa hidup bersama ayahnya.
Namun, semua perlindungan yang ia bangun ternyata runtuh jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Yang paling menyakitkan bukanlah rahasianya terbongkar, melainkan kenyataan bahwa anak sekecil Mario harus mengetahui kebenaran itu dari sebuah pertengkaran, bukan dari pelukan dan penjelasan lembut seorang ibu.
Haselyn segera merengkuh Mario ke dalam pelukannya. Ia memeluk putranya erat-erat, seolah ingin melindungi anak itu dari semua luka yang selama ini tanpa sadar telah ia wariskan.
“Maafkan Mama ya, Nak,” bisiknya dengan suara yang bergetar.
Dadanya terasa sesak. Melihat Mario menangis karena kenyataan yang seharusnya tidak perlu ia tanggung di usia sekecil itu, membuat hati Haselyn hancur berkeping-keping.
“Maafkan Mama karena belum bisa memberikan kebahagiaan yang utuh untukmu,” lanjutnya lirih. “Mama yang membuatmu jauh dari Ayahmu. Mama yang mengambil semua keputusan itu tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya kamu inginkan.”
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Untuk pertama kalinya, Haselyn mengakui penyesalan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Ia terlalu sibuk menjadi anak yang berbakti kepada ayahnya, hingga lupa bahwa ada seorang anak yang juga berhak mendapatkan kehadiran kedua orang tuanya.
Mendengar ucapan itu, Mario perlahan melepaskan pelukan mereka. Tangisnya mereda. Ia menggeleng cepat sambil mengusap pipinya yang basah.
“Kenapa Mama minta maaf sama Mario?” tanyanya polos. “Mama nggak salah.”
Anak itu mengangkat kedua tangannya dan memegang wajah Haselyn dengan lembut.
“Mario nggak mau Mama merasa bersalah. Mario sayang sama Mama.”
Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Haselyn mengalir semakin deras. Di tengah segala luka yang ia alami, putranya masih memilih menghiburnya.