Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Baru yang Tenang
Berita penahanan Om Wisnu Handoko menghebohkan dunia bisnis selama beberapa hari, namun kali ini publik justru memberikan simpati besar pada keluarga Wirawan yang terbukti menjadi korban dari konspirasi bisnis yang terencana matang. Reputasi Wirawan Group, alih-alih hancur, justru semakin dihormati karena keberanian dan integritas mereka dalam mengungkap kebenaran, meski harus melalui proses panjang dan berat.
Kasus hukum Om Wisnu bergulir cepat setelah penahanannya, dengan semakin banyak korban lama yang akhirnya berani bersaksi setelah melihat keberanian Ibu Retno dan Diah. Keluarga Pak Hartono, pemilik lama PT Cahaya Abadi, akhirnya mendapatkan sedikit keadilan setelah bertahun-tahun menderita akibat kejahatan yang menimpa mereka, meski Pak Hartono sendiri sudah lama tiada.
Bagas resmi diterima sebagai bagian keluarga Wirawan, meski dia dengan rendah hati menolak sebagian besar hak warisnya, memilih untuk membangun kariernya sendiri sebagai konsultan bisnis independen, dengan dukungan penuh dari Raka dan keluarga besar Wirawan. Hubungannya dengan ibu Raka pun perlahan mencair, meski masih membutuhkan waktu untuk benar-benar akrab satu sama lain.
Aurora, di sisi lain, akhirnya bisa hidup lebih tenang bersama kekasihnya tanpa lagi dibayangi tekanan keluarga besar yang penuh perhitungan bisnis. Dia dan Alya menjadi lebih akrab, sering menghabiskan waktu bersama membahas rencana pengembangan yayasan kesehatan yang kini mulai menarik perhatian berbagai pihak untuk bekerja sama.
Suatu sore yang tenang, beberapa minggu setelah semua kekacauan itu mereda, Alya dan Raka duduk berdua di taman belakang rumah mereka, menikmati secangkir teh sambil menyaksikan matahari terbenam dengan damai ketenangan yang jarang mereka rasakan sejak pernikahan kontrak mereka dimulai berbulan-bulan lalu.
"Rasanya seperti sudah bertahun-tahun sejak hari itu, saat kau menyenggol payungku di tengah hujan," kata Alya sambil tersenyum, mengenang awal pertemuan mereka yang penuh kebetulan.
Raka tertawa kecil, menggenggam tangan Alya lembut. "Aku masih ingat jelas ekspresi kesalmu waktu itu. Aku tidak pernah menyangka pertemuan singkat itu akan membawaku pada kehidupan yang jauh lebih berarti dari apa pun yang pernah aku bayangkan sebelumnya."
Alya bersandar di bahu Raka, merasakan kedamaian yang begitu nyata setelah melalui begitu banyak badai bersama mulai dari pengkhianatan Bimo dan Vania, kontrak pernikahan yang penuh perhitungan, penolakan ibu Raka, skandal keluarga, hingga konspirasi besar Om Wisnu yang baru saja mereka lewati.
"Aku bersyukur untuk semuanya," kata Alya pelan, "bahkan untuk bagian tersulitnya sekalipun. Karena semua itu yang membawa kita ke titik ini."
Raka mengangguk setuju, mengecup puncak kepala Alya lembut. "Aku punya sesuatu untukmu," katanya tiba-tiba, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.
Alya menatapnya dengan mata membelalak, terkejut melihat kotak beludru kecil yang familiar bentuknya. "Raka, kita sudah menikah"
"Aku tahu," potong Raka, tersenyum lembut, membuka kotak itu menunjukkan cincin baru yang jauh lebih indah dari cincin formal yang mereka gunakan saat pernikahan kontrak dulu. "Tapi pernikahan pertama kita dimulai dari kontrak, bukan dari cinta yang sesungguhnya. Aku ingin memberimu cincin baru ini sebagai simbol pernikahan kita yang sesungguhnya bukan lagi berdasarkan kesepakatan bisnis, melainkan cinta yang tulus dan nyata."
Air mata bahagia menggenang di mata Alya, tangannya gemetar saat Raka menyematkan cincin baru itu di jarinya. "Aku mencintaimu, Raka. Sungguh-sungguh, dengan segala kerumitan dan keindahan perjalanan kita."
"Aku juga mencintaimu, Alya," jawab Raka, menatap matanya dalam-dalam. "Dan aku berjanji, apa pun badai yang mungkin datang di masa depan, kita akan selalu menghadapinya bersama, sebagai pasangan sejati, bukan lagi sekadar rekan kontrak."
Mereka berpelukan erat di bawah cahaya senja yang keemasan, merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang begitu pantas mereka dapatkan setelah perjalanan panjang yang penuh liku.
Namun jauh di sudut kota lain, di sebuah rumah sakit swasta kecil, seorang wanita duduk sendirian di ruang tunggu, matanya menatap kosong layar ponselnya yang menampilkan berita kebahagiaan terbaru keluarga Wirawan. Wajahnya yang dulu pernah begitu dikenal publik kini terlihat kurus dan lelah, bekas dari masa-masa sulit yang dia jalani sejak kejatuhannya.
Vania Kusuma, yang baru saja dibebaskan bersyarat setelah menjalani sebagian masa hukumannya, menatap layar ponsel itu dengan tatapan dingin yang menyimpan dendam yang belum sepenuhnya padam, sebuah bara kecil yang mungkin, suatu hari nanti, akan kembali menyala.